APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melodi Curian, Cinta Dikhianati

Melodi Curian, Cinta Dikhianati

Karya musik yang kutulis selama tiga tahun dicuri oleh tunanganku, Bima, dan adikku, Bianca. Pengkhianatan mereka direstui oleh orang tuaku sendiri demi ambisi keluarga. Bakatku diperas, perasaanku diabaikan, bahkan janin di rahimku dianggap alat untuk mengendalikanku. Di tengah kepura-puraan kasih sayang Bima, aku akhirnya memilih mengambil langkah drastis untuk mengakhiri semua penderitaan ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tunanganku, Bima, dan adikku, Bianca, mencuri lagu yang kutulis dengan seluruh jiwa ragaku selama tiga tahun. Itu adalah mahakaryaku, lagu yang seharusnya meroketkan karier kami bersama.

Aku mendengar seluruh rencana busuk mereka dari balik pintu studio rekaman yang setengah terbuka.

"Ini satu-satunya cara kamu bisa menang Penghargaan Pelopor Musik, Bianca," Bima mendesak. "Ini kesempatan emasmu."

Keluargaku sendiri terlibat di dalamnya. "Dia memang berbakat, aku tahu, tapi mentalnya lemah," kata Bianca, mengutip kata-kata orang tua kami. "Ini jalan terbaik, demi keluarga."

Mereka melihatku sebagai mesin, sebagai alat, bukan sebagai seorang putri atau wanita yang seharusnya dinikahi Bima tiga bulan lagi.

Kenyataan itu meresap seperti racun dingin yang membekukan. Pria yang kucintai, keluarga yang membesarkanku—mereka telah menggerogoti bakatku sejak aku lahir. Dan bayi yang kukandung? Itu bukanlah simbol masa depan kami; itu hanyalah gembok terakhir pada sangkar yang mereka bangun di sekelilingku.

Kemudian, Bima menemukanku gemetar di lantai apartemen kami, berpura-pura khawatir. Dia menarikku ke dalam pelukannya, berbisik di rambutku, "Masa depan kita sangat cerah. Kita harus memikirkan bayi kita."

Saat itulah aku tahu persis apa yang harus kulakukan. Keesokan harinya, aku menelepon. Saat Bima ikut mendengarkan dari telepon lain, suaranya pecah oleh kepanikan yang akhirnya nyata, aku berbicara dengan tenang ke telepon.

"Ya, halo. Saya mau konfirmasi janji temu untuk besok."

"Yang untuk... prosedur itu."

Bab 1

Anara Larasati POV:

Melodi yang kutuangkan dengan segenap jiwa selama tiga tahun menjadi lagu pengiring pengkhianatan terbesar dalam hidupku, dan aku mendengar semuanya dari balik pintu studio rekaman yang sudah seperti rumah keduaku.

"Kamu benar-benar yakin dia tidak akan curiga?" Suara Bianca terdengar gugup, tipis dan melengking, sangat berbeda dari nada kuat dan penuh emosi yang seharusnya ia proyeksikan saat bernyanyi.

Hening sejenak. Aku bisa membayangkan Bima, tunanganku, menyisir rambut hitamnya yang ditata sempurna, keningnya berkerut dengan ekspresi penuh perhatian yang selalu ia tunjukkan untuk menenangkan kecemasan Bianca.

"Aku yakin," katanya, suaranya rendah dan penuh percaya diri, suara yang dulu membuat hatiku merasa aman. "Anara percaya padaku. Dan dia percaya padamu."

"Tapi ini mahakaryanya, Bima. Semua orang tahu itu. Bagaimana jika seseorang di label mempertanyakannya?"

"Mereka tidak akan," desaknya, kini dengan nada yang lebih keras. "Kita hanya butuh master track finalnya. Begitu kita dapatkan, aku akan urus sisanya. Aku akan pastikan orang-orang yang tepat tahu lagu ini berasal darimu. Ini satu-satunya cara kamu bisa menang Penghargaan Pelopor Musik, Bianca. Ini kesempatan emasmu."

Sahabatku, Rania, sang sound engineer, mengirimiku pesan sejam yang lalu. "Bima dan Bianca di sini. Sikapnya aneh. Dia terus menanyakan mixing final 'Gema Kisah Kita'. Katanya kamu sudah setuju. Benarkah?"

Aku belum menyetujuinya.

Aku bilang padanya aku sedang dalam perjalanan. Aku ingin melihat sendiri apa yang begitu mendesak.

"Dia itu... rapuh sekali," gumam Bianca, suaranya diwarnai rasa kasihan yang aneh dan memuakkan. "Dia memang berbakat, aku tahu, tapi mentalnya lemah. Ini jalan terbaik, demi keluarga. Papa dan Mama juga berpikir begitu."

"Tepat sekali," Bima setuju, suaranya melembut lagi, membujuk. "Dia mesinnya, tapi kamu bintangnya, Bianca. Kamu punya kecantikan, pesona. Dia tidak pernah ditakdirkan untuk sorotan panggung. Lagu ini akan diluncurkan olehmu, dan dia akan puas karena tahu telah membantu adiknya. Dia akan melupakannya."

Dia menjadikan suaraku sebagai batu loncatan. Sebuah alat. Bukan seorang adik, bukan seorang pasangan, bukan wanita yang seharusnya ia nikahi tiga bulan lagi.

Kebenaran konspirasi mereka tidak menghantamku seperti ombak. Kebenaran itu meresap, racun dingin yang merayap perlahan, dimulai dari perutku dan menyebar ke seluruh pembuluh darahku hingga seluruh tubuhku terasa seperti balok es.

Aku berdiri di lorong yang remang-remang, tanganku masih bertumpu pada kusen pintu logam yang dingin. Buku-buku jariku memutih. Tepi tajam kusen itu menekan telapak tanganku, sebuah rasa sakit kecil yang menyadarkanku di tengah dunia yang baru saja hancur berkeping-keping.

Dadaku tidak sakit. Hanya saja... kosong. Sebuah ruang hampa di mana seharusnya jantungku berada.

Aku datang ke sini untuk memberinya kejutan. Aku membelikan kopi susu gula aren kesukaannya dan sebuah croissant dari kedai kopi dekat apartemen kami, sebuah gestur kecil untuk merayakan hampir selesainya lagu yang kupikir akan menentukan karier kami bersama. Kopi itu kini mendingin di tanganku.

Udara musim gugur di luar terasa sejuk. Tapi sekarang, rasa dingin yang kurasakan tidak ada hubungannya dengan cuaca.

Seharusnya aku khawatir Bianca masuk angin di gedung yang penuh angin ini. Seharusnya aku memikirkan bagian bridge terakhir dari lagu itu, yang kubuat semalaman suntuk untuk menyempurnakannya.

Sebaliknya, satu pemahaman brutal merobek rasa kebas di hatiku.

Pengkhianatan.

Bukan sengatan yang tajam. Melainkan beban berat yang menekan, meremukkan udara dari paru-paruku. Rasanya seperti abu di mulutku. Wajah ibuku, ayahku, adikku, dan pria yang kucintai, semuanya melebur menjadi satu entitas mengerikan yang telah memangsa bakatku, harapanku, dan cintaku sejak aku lahir.

Aku tidak ingat bagaimana aku pulang. Perjalanan itu kabur, hanya lampu-lampu jalan yang berlesatan menembus hujan yang mulai turun. Kakiku melangkah satu demi satu, sebuah gerakan mekanis yang terputus dari pikiranku.

Aku tidak menyadari kunci yang bergetar di lubang kunci atau beratnya mantelku yang basah kuyup saat aku melepaskannya di dalam apartemen yang kutinggali bersama Bima.

Tubuhku menyerah sebelum pikiranku sempat mencerna semuanya. Aku merosot di dinding, punggungku menggesek plester yang dingin, dan jatuh terkulai di lantai kayu.

Aku meringkuk seperti bola, lenganku memeluk lutut, dan mulai gemetar hebat. Dingin dari lantai meresap melalui celana jinsku, hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Perutku mual dengan rasa asam yang menyakitkan. Kopi yang kupegang tadi pasti sudah kubuang di suatu tempat selama perjalanan, tapi rasa pahitnya masih tertinggal di lidahku.

Air mata mulai mengalir tanpa suara di wajahku, jejak panas di kulitku yang sedingin es. Aku tidak punya tenaga untuk menyekanya. Air mata itu jatuh begitu saja, menetes dari daguku ke celana jinsku, menciptakan noda-noda gelap di kain denim.

Bunyi kenop pintu yang berputar membuat seluruh tubuhku menegang.

Suara sepatu kulit mahalnya menggema di lantai, semakin dekat.

Dia berlutut di sampingku, gerakannya lambat dan lembut. "Anara? Sayang, kamu kenapa di lantai?"

Suaranya adalah sebuah mahakarya kepura-puraan.

"Kamu kedinginan? Kamu basah kuyup." Aku merasakan tangannya di bahuku, hangat dan berat. Rania pasti meneleponnya. Dia pulang kerja lebih awal, bilang merasa tidak enak badan.

"Kamu sakit?" tanyanya, ibu jarinya mengelus lenganku dengan cara menenangkan yang ia tahu selalu berhasil membuatku tenang.

Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya saat dia bergeser lebih dekat, aroma cendana dan linen bersih yang familiar memenuhi inderaku. Dia menyingkirkan sehelai rambut basah dari wajahku.

Matanya, yang berwarna cokelat hangat yang dulu membuatku terhanyut, dipenuhi kekhawatiran yang dibuat-buat dengan cermat. "Anara, ada apa? Bicaralah padaku."

Dia begitu dekat hingga aku bisa melihat bintik-bintik emas kecil di iris matanya. Dia menangkup wajahku dengan tangannya, sentuhannya lembut.

"Kamu harus hati-hati," bisiknya, suaranya selembut beludru. "Terutama sekarang."

Aku menatap matanya, dan untuk pertama kalinya, aku melihat semuanya dengan kejelasan yang mengerikan.

Penipuan ini bukanlah hal baru. Inilah fondasi hubungan kami.

Lima tahun lalu, sebuah skandal rekayasa hampir menghancurkan karierku yang baru mulai bersemi. Seorang musisi saingan, yang putus asa untuk mendapatkan kontrak rekaman, menuduhku melakukan plagiarisme. Kegilaan media tak henti-hentinya. Sifatku yang pendiam dan introvert dipelintir menjadi pengakuan bersalah.

Keluargaku, alih-alih melindungiku, melihat sebuah peluang. Mereka mendesakku untuk mundur, untuk menghilang ke latar belakang, "demi nama baik keluarga." Mereka bilang Bianca, yang menawan dan siap di depan kamera, lebih cocok untuk tampil di depan publik.

Bima-lah, produsernya dan pacarku saat itu, yang memberikan solusi. Dia mengumumkan kepada dunia bahwa lagu-lagu itu adalah hasil kolaborasi, bahwa aku adalah komposer pemalu, dan dia adalah wajah dari kemitraan kami. Dia menyelamatkan reputasiku, tapi dengan sebuah harga: aku menjadi penulis hantu dalam hidupku sendiri.

Lalu datanglah lamaran di depan umum, sebuah gestur romantis yang megah di sebuah acara penghargaan industri yang mengukuhkan citra kami sebagai pasangan kuat. Rasanya seperti penyelamatan. Aku percaya dia adalah penyelamatku, satu-satunya yang benar-benar melihat nilaiku.

Kupikir dia sedang membangun kembali duniaku. Kenyataannya, dia hanya membangun sangkar yang lebih mewah.

Di tahun-tahun berikutnya, aku mencurahkan setiap ons bakatku ke perusahaan produksinya. Aku menulis, aku menggubah, aku mengaransemen. Musikku, yang disaring melalui nama dan mereknya, menjadikannya bintang yang sedang naik daun di industri ini. Perusahaannya tumbuh dari label indie kecil menjadi pemain besar, merekrut artis baru dan memenangkan penghargaan.

Kami adalah sebuah tim. Aku percaya itu. Kami membeli apartemen indah yang menghadap ke kota ini. Kami berbicara tentang masa depan, tentang anak-anak, tentang menua bersama.

Kupikir kami memiliki kehidupan yang sempurna.

Sekarang, menatapnya, aku tahu. Aku hanyalah aset paling berharga yang ia miliki.

Dia menarikku ke dalam pelukannya, lengannya melingkari bahuku yang gemetar. Dia menyandarkan dagunya di atas kepalaku.

"Apapun itu, kita akan melewatinya," gumamnya di rambutku. "Masa depan kita sangat cerah. Sebentar lagi bukan hanya kita berdua. Kita harus memikirkan bayi kita."

Senyumnya, senyum yang dulu membuat lututku lemas, adalah kebohongan yang sempurna dan indah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derita Istri Penurut
9.7
Arini selalu patuh pada Bagas, suaminya, walau kerap mendapat perlakuan kasar. Demi melindungi orang tua, ia memendam penderitaan itu rapat-rapat. Namun, batas kesabaran Arini akhirnya habis, mendorongnya melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Di tengah kemarahan Bagas yang meluap, mampukah ia meluluhkan hati sang istri? Ataukah kepedihan batin yang terlanjur mengendap lama membuat tekad Arini untuk berpisah tidak bisa digoyahkan lagi?
Sampul Novel Gapai Mimpi di Usia Senja
9.5
Di hari ulang tahun Ryan yang ke-70, Elita pulang dalam kondisi basah kuyup hanya untuk mendapati rumahnya terkunci. Kabar mengejutkan datang dari tetangga yang menyebut Ryan telah menikah lagi dan sedang berada di hotel bersama istri barunya. Sebulan lalu, Elita menyetujui perceraian formal demi menyelamatkan diri dari klaim utang saham Ryan, bahkan putranya sendiri yang mengasingkannya ke rumah lama. Kini, Elita menyadari bahwa semua alasan itu hanyalah kebohongan besar untuk menyingkirkannya.
Sampul Novel IPAR ADALAH BIRAHI
9.4
Kisah romansa modern khusus dewasa ini menyajikan dinamika hubungan yang rumit dan provokatif. Dirancang bagi pembaca bermental kuat, alurnya mengeksplorasi tema-tema sensitif yang penuh gejolak emosional yang intens sekaligus menantang. Pastikan kesiapan psikologis dan kedewasaan Anda sebelum menyelami lika-liku kehidupan yang penuh konflik batin dalam narasi ini.
Sampul Novel Kekasih Bayaran
8.1
Demi melunasi utang sang ibu, Tiara terpaksa menjadi kekasih bayaran Adrian Wiratama. Namun, Adrian justru mencampakkannya demi menikahi tunangan pilihannya. Terluka karena hanya dianggap wanita simpanan, Tiara pergi dalam keadaan mengandung. Ia lalu menikahi pria lain demi ketenangan, tetapi hidupnya tetap sengsara karena suami barunya membenci anak tersebut. Penderitaan Tiara memuncak saat Adrian kembali dan merebut paksa putranya hingga ia nyaris gila.
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.4
Devan Atmadja berulang kali mengkhianati Viona dengan dalih kesetiaan pada mendiang sahabatnya. Mulai dari pernikahan rahasia dengan Keira Maheswari, menjadikannya nyonya besar demi aliansi mafia, hingga kehamilan yang diklaim sebagai kecelakaan. Setelah berkali-kali mengalah dan memaafkan janji manis Devan, Viona akhirnya tersadar bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Di tengah jaringan intrik dan dusta ini, Viona memilih untuk melepaskan diri dan pergi selamanya.
Sampul Novel Naluri Lelaki
8.5
Eric Damian sukses besar dalam karier berkat kerja kerasnya, tetapi kehidupan asmaranya justru berjalan rumit. Di balik gelimang harta dan pencapaiannya, hati Eric telah tertutup rapat bagi perempuan lain. Naluri cinta dan ketertarikan mendalamnya hanya tertuju pada satu sosok wanita, yakni Dewi Bela. Kisah ini mengikuti perjuangan gigih Eric demi menaklukkan hati sang pujaan dan meraih kebahagiaan sejati bersamanya.