APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melisa (Cinta Pertama)

Melisa (Cinta Pertama)

Melisa Aurelie kesulitan lepas dari bayang-bayang cinta pertamanya, Dion. Saat Dion pindah untuk merawat sang ibu, Melisa berjuang menjaga hubungan jarak jauh mereka. Sayang, Dion lenyap tanpa kabar dan menyisakan luka mendalam. Di masa sulit ini, Bagas yang merupakan sahabat kecilnya datang membawa kenyamanan. Namun, tepat ketika Melisa mulai menerima kehadiran Bagas, Dion mendadak muncul lagi. Melisa kini dihadapkan pada pilihan sulit antara masa lalu atau lembaran baru.
Bab
Bagikan

Bab 1

Cuaca cerah seakan kelabu, aku masih berdiri dengan kedua mata yang sembab. 

Hari ini tepatnya ... aku akan berpisah dengan Dion. 

Pria yang menjadi cinta pertamaku. 

"Mel, maafkan aku ya, aku harus pergi ...." Ucapnya sambil mengelus rambutku dengan lembut. Dion juga tampak bersedih karena harus berpisah denganku. 

Aku pun menangis sesenggukan, dengan suara berat tertahan, aku mengutarakan perasaanku yang teramat rapuh. 

"... Dion jujur aku belum rela harus berpisah denganmu. Tapi Ibumu, lebih membutuhkanmu ... aku harap kamu baik-baik saja di sana, tolong jangan lupakan aku ...," tukasku dengan suara bergetar. 

Dion memeluku dengan erat dia pun seolah tak ingin meninggalkan aku, tapi di sisi lain dia harus pindah keluar kota karena harus mengurus ibunya yang sedang sakit keras, ditambah lagi, sang ayah sudah menikah dan memiliki keluarga baru di Jakarta, tentu dia tak ingin membiarkan ibunya terlunta-lunta menahan rasa sakit sendirian. Begitu pun aku, yang juga tak ingin menjadi orang yang egois dan mengabaikan kesusahan orang lainya demi kebahagiaan cinta anak SMA, yang bisa dibilang hanya sekedar cinta monyet.

***

Aku mengenal Dion saat pertama kali masuk sekolah.

Kala itu kami sedang mengikuti kegiatan MOS (masa orientasi siswa) 

dan aku tak sengaja bertemu Dion saat kami sama-sama dihukum. 

"Ayo pokoknya yang telat datang hari ini akan mendapat hukuman ya!" kata kak Dela selaku ketua OSIS. 

"Oh my God! Mati deh gue," gumamku panik. 

"Tenang kamu gak sendiri kok, aku juga telat, " sahut seorang anak lelaki yang juga baru datang dan sekarang ada di sampingku.

"Wah untung ada teman, kalau egak pasti gue bakal malu banget nih," ujarku sambil menarik nafas lega. 

"Oiya kenalin aku Dion, nama kamu siapa?"

tukasnya sambil mengulurkan tangan. 

"Ah gue Melisa, seneng deh gue punya teman baru," sahutku seraya menjabat tangan pria itu. 

Saat kami sedang asyik mengobrol dan berkenalan tiba-tiba terdengar suara yang melengking dari kejauhan 

"WOY! kalian ini malah pacaran disini sih!" teriak Kak Dela dengan lantang, "berhubung kalian telat, jadi kalian dihukum bersihin toilet sekolah sekarang juga!" perintahnya. 

Suara Kak Dela memang terkenal sangat cempreng. 

Kadang kalau dia berteriak semua orang sampai menutup telinga. 

Lalu aku dan Dion pun membersihkan toilet. Menuruti perintah Kak Dela. 

'Hoek! Hoek!' Suara mulutku sambil menyikat WC sekolah. Aku tak tahan dengan baunya, terlebih aku jarang sekali membersihkan  WC, di rumahku sudah ada ART yang selalu siaga membersihkan toilet dan mengerjakan tugas-tugas yang lainnya.

"Kamu kenapa Mel, kamu hamil ya?" tanya Dion dengan wajah polosnya. 

Aku pun menyahuti ucapan Dion dengan nada murka. 

"Woy enak aja punya mulut asal njeplak, emang gue cewek apaan main bunting-bunting aja! Gue muntah karna gak tahan tuh sama WC nomer 3 gak disiram! Iyuh ... mana bau banget!" keluhku jijik. 

Sementara Dion malah tertawa geli melihat ekspresiku yang mungkin terlihat lucu di matanya. 

"Iya maaf, eh ... Mel, mulai sekarang ngomongnya 'aku-kamu' aja ya, biar kelihatan imut gitu jangan 'lo-gue' kesanya kayak Abang-abang Preman Tanah Abang, yang lagi malak!" ucap Dion dengan nada bercanda. 

Saat Dion berbicara seperti itu, entah mengapa aku jadi deg-degkan padahal hanya bercandaan Dion yang super-duper garing, tapi aku  merasa bahagia dan mulai merasa nyaman dengan keberadaan Dion. Mulai dari situ kami pun semakin akrab. 

Aku dan Dion selalu bersama-sama bahkan kami juga duduk dalam satu bangku di kelas 10 A.

Dion adalah teman pertamaku saat SMA dan siapa sangka dia pun juga menjadi cinta pertamaku.  

***

Di dalam kelas yang sepi di jam istirahat, semua siswa dan siswi sedang berada di kantin, tapi tidak denganku saat itu. 

Karna aku sedang tidak enak badan jadi nafsu makan pun berkurang, lalu aku memutuskan untuk diam dikelas dan memilih tidur dengan menaruh kepalaku di atas bangku. 

Tak lama Dion menghampiriku. 

"Mel kamu sakit ya? Badan kamu panas nih," Dia menyentuh keningku. 

"Hm ... iya ni gue sakit, Dion, eh 'aku' maksudnya," jawabku yang hampir saja memanggi diriku sendiri dengan sebutan 'gue' kata  yang tak disukai oleh Dion. 

"Apa yang kamu rasakan?" tanya Dion. 

"Badan aku gak enak, aku mual, kepalaku juga pusing," jawabku. 

"Hah kamu hamil?"  

Sahut Dion sambil ngegas dengan nada sopran.

Astaghfirullah! Lagi-lagi mulutnya asal njeplak dan menuduhku hamil! 

"Woy! Enak aja lu kalau ngomong jangan asal nyerocos dong! Nanti kalau kedengeran orang disangka beneran lagi!" ocehku. 

"Hehe bercanda Mel, marah mulu kayak orang darah tinggi aja, yaudah kita ke klinik yuk!" ajaknya. 

"Ah enggak ah ... aku tidur aja," jawabku

"Terus kamukan belum makan, aku beli makan dulu ya buat kamu!" ucap Dion sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Ah gak usah, aku gak papa kok," ujarku lemas, karna aku memang benar-benar sedang tidak ingin makan apapun untuk saat ini. 

"Udah kamu diem aja ya!" teriak Dion yang tetap ngeyel. 

Aku pun pasrah, dan kembali menaruh wajahku di atas meja. 

Beberapa menit kemudian dia membawa banyak makanan dari kantin beserta obat masuk angin cair dicampur dengan teh hangat. 

Sambil menepuk pelan pundaku yang sedang tidur menunduk dibangku, dia memanggil namaku. 

"Mel, ini kamu makan dulu ... aku suapin ya?"

Mendengarnya aku langsung mengangkat kepalaku pelan-pelan. 

"Hah ... buset banyak amat  ni makanan lu ngegondol dari mana?!" teriakku dengan bahasa nyablak, kalau kata orang Betawi.  Aku berbicara dengan logat ala orang Betawi, padahal aku adalah gadis berdarah Jawa. Hanya saja karna lahir dan dibesarkan di Jakarta, membuatku menjadi ikut membaur dengan penduduk asli sini. 

"Sembarangan aja 'ngegondol' emang aku kucing gondol ikan! Aku mah Pangeran yang ngegondol hati kamu, tau ...." Ucap Dion dengan senyum sok imutnya. 

"Iyuh, gombal lu!" ujarku dengan nada sewot seolah tak suka dengan gombalan  Dion, padahal dalam hatiku, aku sangat menyukainya dan bahagia dengan gombalan-gombalan norak itu.

"By the way, anyway, busway, ngomongnya jangan 'lu-gue' dong  aku gak suka ah entar aku ngambek lo," Dion kembali memang wajah sok imutnya  kali ini dengan ekspresi cemberut. 

Aku pun juga tak mau kalah imut darinya. 

"Yaelah lebay banget sieh kamuh ...!" Nada suaraku sengaja kubuat agak bindeng. 

Dion malah menertawakanku. Lalu dia menyodorkan teh hangat untukku. 

"Dah ni minum aja gak usah ngambek mulu entar cepet tua tambah jelek lo!" ujarnya. 

*****

Kami pun pulang dengan mengendari angkutan umum. Lalu berhenti di perempatan jalan gang masuk, kami memang searah, dan rumah Dion pun tak begitu jauh dari rumahku.

Saat kami berjalan kaki, tiba-tiba kepalaku mendadak pusing, lalu aku tak sadarkan diri. 

Beberapa saat kemudian ... entah apa yang terjadi tiba-tiba aku sudah bangun dan berada diatas sofa rumahku. 

"Loh kok aku tau-tau ada disini sih?" tanyaku pada Dion heran. 

"Iya Mel, kamu tadi pingsan jadi aku bawa kerumah aja," tegas Dion

"Oh makasi ya Dion kamu udah gendong aku sampek sini, untungnya aku gak gendut, jadi kamu gak keberatan, gendongnya," ujarku dengan nada bercanda. 

"Ye gak berat apaan! Kamu emang kurus tapi badan kamu tetap berat! Soalnya kebanyakan dosa sih!" celetuk Dion meledek. 

"Ah apaan si lu!" sengutku kesal. 

"Udah jangan marah yang penting kamu makan dulu abis itu minum obat, tadi aku panggil Bidan yang tinggal di samping rumah kamu itu, untuk memeriksa keadaanmu," pungkas Dion. 

Aku sampai kaget mendengarnya, karna mengapa harus panggil Bidan? Padahal aku ini tidak hamil? 

"Dion! Kamu sampai panggil Bidan?" teriakku heboh. Dan Dion malah tampak bengong.

"Pasti kamu masih mikir kalau aku ini hamil ya?" 

Sambil menghela nafas kesal, Dion menjawab pertanyaanku. 

"Duh kamu tu seuzon mulu, emang periksa bidan kusus buat orang hamil doang?" ucapnya. 

sejenak aku diam dan bicara dalam hati 'Oiya ya, 'kan bidan juga bisa ngobatin orang sakit gak cuman orang lahiran aja, aduh malunya ...!' Aku menepuk kening sendiri. 

Setelah itu Dion tak langsung pulang ke rumahnya, justru dia malah menemaniku yang sedang sakit sendirian, karena waktu itu ayah dan ibu sedang diluar kota, si Embak yang bekerja dirumahku juga sedang pulang kampung.

jadilah apa saja kulakukan sendiri. Mungkin Dion tak tega untuk meninggalkanku. 

Saat aku sedang meringkuk di sofa, Dion mengambilkan selimut untukku. 

Terasa begitu nyaman, karena memang kala itu tubuhku sedang menggigil kedinginan. 

Aku mulai memejamkan mata, tiba-tiba Dion, menggengam tanganku dengan pelan, tapi semakin lama genggaman itu semakin erat. Mendadak suasana menjadi senyap. Dan jantungku seolah ingin loncat. Karena aku berfikir pasti Dion akan menyatakan perasannya kepadaku .... 

Ternyata dugaanku memang benar, Dion menyatakan perasaannya kepadaku. Atau dalam bahasa gaulnya 'nembak'

"Mel, sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau enggak jadi pacar aku?"

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat Liar Istri Salihah
8.1
Lima tahun menikah, seorang istri salihah rupanya menyimpan rahasia besar. Di balik status pernikahan yang sudah berjalan lama, ia ternyata masih mempertahankan kesucian dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan intim mereka? Kisah romansa dewasa ini mengupas tuntas gejolak hasrat yang terpendam, serta alasan mengejutkan di balik dinginnya hubungan suami istri yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Ibuku Memilih Murid dan Mengorbankanku
8.5
Lahir dari ketidaksengajaan membuat tokoh utama novel remaja ini dibenci ibu kandungnya. Sang ibu lebih menyayangi muridnya, namun murka dan menampar anaknya saat murid kesayangan menyatakan cinta. Bahkan ketika mengidap Alzheimer, sang ibu melupakan darah dagingnya sendiri dan hanya mengingat sang murid. Sayangnya, tidak ada satu pun murid yang datang menjenguk di masa tuanya. Mereka semua menyimpan kebencian mendalam yang sama seperti yang dirasakan sang anak selama ini.
Sampul Novel Ketika Suami Tak Peduli
8.9
Selina Arista menjalani kehidupan pernikahan tanpa kehangatan bersama Nathaniel Astor, seorang pengusaha yang terobsesi pada nama baik. Di tengah kesepiannya, ia kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya, Dr. Adrian Vaughn. Walau Adrian telah beristrikan Katherine, pertemuan ini menyalakan kembali perasaan masa lalu mereka. Terjebak dalam rahasia dan pengkhianatan, mereka kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengejar cinta terlarang atau terus terkunci dalam duka.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Sampul Novel Luka Abadi, Cinta Tak Berarti
9.3
Dunia sang protagonis hancur saat mengetahui anak angkatnya adalah hasil perselingkuhan suaminya, Yobel, dengan adiknya sendiri, bahkan didukung orang tuanya. Di tengah pengkhianatan ini, Yobel justru menolak cerai dan memohon ampun. Berpura-pura percaya, ia memberi Yobel waktu tujuh hari untuk membuktikan cinta. Namun, semua orang tidak menyadari bahwa sang istri sebenarnya telah meninggal tujuh hari lalu. Malaikat kematian hanya memberinya waktu singkat untuk kembali sebelum polisi meminta mereka mengidentifikasi jasadnya.
Sampul Novel Malaikat Cinta: Jadilah Mamaku yang Baru
7.8
Pernikahan Daryl selama lima tahun hancur saat suaminya tega menyerahkannya pada pria lain. Di tengah kepedihan, kehadiran bocah lima tahun mengembalikan senyumnya. Konflik memuncak ketika tes DNA membuktikan anak itu adalah darah dagingnya bersama Zack, CEO dingin dari masa lalunya. Kini, Daryl harus menghadapi takdir baru yang membalikkan hidupnya yang kelam.