APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melisa (Cinta Pertama)

Melisa (Cinta Pertama)

Melisa Aurelie kesulitan lepas dari bayang-bayang cinta pertamanya, Dion. Saat Dion pindah untuk merawat sang ibu, Melisa berjuang menjaga hubungan jarak jauh mereka. Sayang, Dion lenyap tanpa kabar dan menyisakan luka mendalam. Di masa sulit ini, Bagas yang merupakan sahabat kecilnya datang membawa kenyamanan. Namun, tepat ketika Melisa mulai menerima kehadiran Bagas, Dion mendadak muncul lagi. Melisa kini dihadapkan pada pilihan sulit antara masa lalu atau lembaran baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hembusan angin pagi begitu lembut dengan percikan sinar mentari dari balik pohon rindang.

Aku baru saja terbangun.

Kokok ayam tetangga dan kicauan burung liar menandakan, jika sudah saatnya tersadar dari mimpi serta meninggalkan selimut tebal dan kasur empuk.

Tapi sayangnya aku masih belum siap membuka mata, walau aku sadar jika ini sudah pagi.

Rasa kantuk mengalahkan segalanya ... aku pura-pura tidur lagi saja. Masih terlalu malas....

Ring...!

Suara jam weaker yang memekik telinga, membuatku terbangun dari rasa kantuk yang teramat berat. 'terpaksa'

"Hoam... udah pagi aja ni," Aku duduk di atas kasur dengan raut wajah yang masih malas, rambut acak-acakan, serta berkali-kali terus menguap. Tak sengaja aku menoleh kearah foto pria yang terpajang di atas meja kamarku. Terlihat senyuman yang khas dari Dion, membuatku rindu.

"Dion hari ini lagi ngapain ya?"

Sekejap kuraih ponsel yang selalu kutaruh di dekat bantal, kemudian aku menelpon Dion.

beberapa detik kemudian video call tersambung.

"Hallo, Dion! Selamat pagi!" sapaku dengan ceria.

Dion pun tersenyum sepertinya dia juga baru bangun tidur.

"Halo, Pacarku, tumben pagi-pagi udah telepon kangen ya?"

"Ah tau aja udah kayak Dukun, hehe," godaku kepada Dion.

"Ih masa dibilang Dukun, sih? Aku ini bukan Dukun, tapi aku adalah Cenayan, di hatimu! Ciye...!" Lagi-lagi Dion menggodaku dangan gombalannya yang super garing, tapi entah mengapa gombalan itu yang selalu kunantikan.

"Gombal ah!" sengutku.

"Tapi suka,' kan?" Dion meledeku.

"Ih apaan sih!"

***

Hari ini tepat satu bulan sudah, aku berpacaran jarak jauh dengan Dion, meskipun begitu kami tetap saling berhubungan lewat dunia maya, aku sibuk dengan urusan sekolah di sini, dan Dion juga sibuk dengan urusannya di sana. Hidupnya lumayan berat, harus sekolah sembari menjaga sang ibu yang sedang sakit.

"Dion gimana kabar ibumu?"

"Yah begitulah, Mel, aku tidak yakin akan kesembuhan Ibuku," keluh Dion dengan wajah penuh putus asa.

"Dion, kamu yang sabar ya ... liburan semester ini aku janji akan ke Semarang, untuk menjenguk ibumu," ujarku.

Seketika tatapan Dion yang awalnya lemas berubah menjadi semangat.

"Serius, kamu akan ke Semarang!?" tanya Dion antusias.

"Iya, Dion. Sekalian aku mau jenguk Nenek,"

Dion tersenyum kepadaku, "Makasi ya, Mel, aku menunggu kedatanganmu," tukasnya sambil tersenyum bahagia, lalu kami mengakhiri obrolan kami, karna sebentar lagi harus bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

***

Tak terasa liburan semester pertama telah tiba.

Aku memenuhi janjiku kepada Dion.

Aku sudah bersiap untuk pergi ke Semarang bersama dengan Tante Diani, dia adalah Adik dari Papaku.

Tante Diani, ingin berkunjung ke rumah Nenek, sehingga aku pun memutuskam untuk pergi bersamanya. Lagi pula Nenek tinggal satu kelurahan dengan Ibu-nya Dion, hanya berbeda desa saja. Aku juga baru tahu akan hal ini, Dion baru bercerita.

Tentu saja aku sempat terkejut, dan timbul keinginan untuk pergi kesana. lagi pula sudah cukup lama aku tidak berjumpa dengan Nenek, sejak aku masih kecil dulu.

***

Kami berangkat dengan menumpangi bus jurusan Jakarta-Semarang. Terpaksa kami menaiki angkutan umum, karna Tante Diani, belum berani mengendarai mobil sendirian apa lagi perjalanan jauh begini.

****

Singkat cerita kami sudah sampai di salah satu terminal kota Semarang. Kami berhenti di sana dan melanjutkan perjalanan dengan menumpangi ojek.

Karna letak rumah Nenek tak jauh dari terminal.

***

"Akhirnya sampai juga di kampungku," Tante Diani menghela nafas lega, "itu rumah yang warna catnya hijau, rumah Nenek-mu lo, Mel!" kata Tante Diany sambil menunjuk kearah rumah sederhana.

"Wah beda banget ya, Tante! Perasaan dulu waktu Mel, masih kecil rumahnya gak kayak gitu deh! Kalau gak salah masih pakai bilik bambu!" ujarku yang masih pangling.

Lalu Tante Diani membalas ucapanku.

"Ya kali, Mel! Itu tahun kapan!?" sengutnya. "Makanya sering-sering main kerumah, Nenek, dong!" ujar Tante Diani memarahiku.

"Hehe... iya, Tante, tapi Mel, 'kan gak berani pergi sendirian, lagian rumah Nenek, 'kan jauh, kalau dekat pasti Mel, samperin!" tukasku sambil nyengir tak berdosa .

"Ah, alasan aja! Sekarang aja kalau bukan karna Dion, pasti juga gak bakal ikut Tante kesini!"

"Ih, Tante, kok Mel malah digalakin sih?" keluhku sambil cemberut, dan Tante Diani mendengus kesal.

"Tau ah!"

***

Tok! Tok!

"Assalamu'alaikum" Tante Diani mengetuk pintu sembari mengucap salam.

Lalu terdengar suara orang membukakan pintu.

Ceklek!

"Walaikumsalam," Seorang wanita tua menyapa kami dengan ramah.

"Eh Diani! Eh... yang satu ini siapa ya?" Wanita tua itu tak menyadari jika aku adalah cucunya.

"Ih, Nenek jahat masa lupa sih sama, Mel," ucapku dengan wajah cemberut

"Hoho, Nenek bercanda, Mel! Masa iya, Nenek lupa sama cucu Nenek yang paling cantik ini!" ujarnya dengan tertawaan khas.

"Makasih, Nek! Udah bilang Mel, cantik!" sahutku agak narsis.

"Iya dong cucu Nenek memang cantik, wajahnya sama persis dengan wajah Nenek yang masih muda dulu!" ucap Nenek dengan penuh percaya diri.

"Asataga!" Aku dan Tante Diani tertawa lantang, "Nenek-nya, siapa sih ini?" ledekku.

Kucubit manja pipinya yang sudah keriput, "udah tua masih narsis aja ya,"

"Ya sudah ayo masuk Kakek-mu, sudah menunggu di dalam," ajak Nenek.

Lalu kami masuk kedalam rumah, dan disambut oleh Kakek dengan ramah. Kemudian kami mengobrol sambil minum teh hangat ditemani camilan khas kampung.

Sejenak aku teringat dengan Dion, karna tujuan awalku kemari memang ingin bertemu dengannya. Sambil menyeruput teh hangat buatan Nenek, aku berfikir dalam hati, setelah lelahku hilang, mungkin aku akan pergi ke rumah Dion. Tapi sekarang aku nikmati dulu kebersamaanku bersama Kenek dan Kakek. Aku tahu beliau sangat merindukanku.

"Mel, gimana nilai sekolahmu semester ini?" tanya Kakek.

"Alhamdulillah, Mel, dapat peringkat satu, Kek!" jawabku.

"Wah, bagus itu, Kakek bangga sama kamu. Terus tingkatkan prestasi ya, Mel! Nanti kalau kenaikan kelas kamu dapat peringkat satu lagi, Kakek akan memberimu hadiah," ujar Kakek menyemangatiku.

"Wah, beneran nih, Kek?!" tanyaku antusias.

"Yah benar dong!"

"Dengerin tuh, Mel! Pikirin prestasi juga, jangan malah mikirin cowok terus!" ledek Tante Diani.

"Apa? Cowok? Mel, udah punya pacar ya?" tanya Nenek yang penasaran.

"Ih, Nenek, kepo deh! Jangan dengerin, Tante Diani, dia itu suka hoax!" jawabku sambil melirik Tante dengan sinis.

"Emmm, hoax ya?" dungus Tante Diani dengan lirikan menyindir.

"Hoax, itu apa ya?" tanya Nenek dengan polosnya.

"Hoax itu, Nek, yang suka dibikin dodol, kalau di Jogja," jawab si Kakek ngasal.

"Ih, Kakek, ini ngacok deh! Itu mah salak, Kek! Bukan hoax!" sahut Nenek, lalu kami semua tertawa dengan lantang.

Kakek dan Nenekku ini memang senang bercanda, sehingga siapapun yang dekat dengan mereka pasti akan tertawa, karna ada saja hal, yang menjadi topik bercandaan mereka.

Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda
9.2
Demi melunasi utang sang ayah, Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett. Gadis remaja ini kini hidup bergelimang kemewahan dan bersekolah di tempat elit, meski ia membenci takdirnya. Di balik itu semua, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan situasi ini karena sudah lama memendam rasa pada Syaqila. Ia terus memanjakannya, namun usahanya diuji oleh kehadiran para pria muda lain yang lebih tampan. Akankah Aditya berhasil memikat hati Syaqila?
Sampul Novel Kim Nana
9.7
Demi sang adik, Kim Nana rela membuang masa mudanya setelah ditinggalkan begitu saja oleh orang tua mereka. Kini, meski sukses secara finansial, kepedihan masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang dingin dan kaku. Beratnya beban kehidupan membuat Nana mati rasa dan enggan membuka hati untuk cinta. Akankah ada pria yang mampu mencairkan hatinya yang beku? Bisakah Nana memaafkan masa lalu serta orang tuanya? Simak kelanjutan kisah perjuangannya.
Sampul Novel Suami Dadakan Ku Ternyata Bos
9.3
Kegagalan pernikahan membawa Erina pada situasi mendesak. Jika tidak segera menikah dalam waktu satu minggu, ia akan dipaksa menjadi istri kesekian dari seorang pria. Di tengah keputusasaan, seorang pria tampan bernama Fico Albarez datang menawarkan pernikahan instan. Terpaksa menerima demi menyelamatkan hidupnya, Erina kemudian terkejut saat mengetahui identitas asli suaminya. Fico ternyata adalah seorang presdir kaya raya yang tidak memiliki masalah pribadi apa pun. Mengapa pria sesempurna itu memilih menikahi wanita asing seperti dirinya?
Sampul Novel Terjerat Cinta Sang Kakak Ipar
8.2
Kehidupan Syera berubah rumit sejak tinggal bersama kakaknya, Syima. Murka akibat perselingkuhan Syima, Raihan meluapkan dendamnya kepada Syera. Namun, kebencian itu lambat laun berubah menjadi cinta yang tulus. Di belakang keluarga, keduanya pun terjerat dalam hubungan asmara terlarang yang sangat rahasia. Situasi semakin pelik dan mencapai puncak konflik saat Syera mendapati dirinya hamil akibat hubungan mereka.
Sampul Novel The Princess Revenge Plan
9.4
Secara ajaib aku terbangun di masa lalu, merasuki tubuh putri ringkih yang selalu ditindas. Menolak pasrah pada nasib malang ini, aku bersumpah menuntut balas atas semua ketidakadilan yang ia terima. Di tengah persiapan rencana tersebut, lamaran tiba-tiba dari Putra Mahkota datang mengacaukan situasi. Namun, tekadku sudah bulat. Siapa pun yang berani menghalangi jalan balas dendam ini akan kuhadapi, sekalipun itu berarti harus menentang seluruh kerajaan.