APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Marrying With CEO

Marrying With CEO

Kehidupan tenang Syafa Sidqyah, sekretaris muslimah berparas cantik yang penuh misteri, seketika terusik. Kehadiran sosok pendendam di tempat kerjanya, perusahaan Devan Putra Pramana, mengancam keselamatan Syafa. Saat berbagai rahasia masa lalu mulai tersingkap, ia justru terjebak dalam pernikahan tak terduga dengan bosnya sendiri. Mampukah ia menghadapi takdir rumit ini? Ikuti kisah penuh intrik antara ambisi sang CEO dan misteri yang menyelimuti mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Devan yang melihat Syafa tiba-tiba tak sadarkan diri langsung sigap membawa Syafa ke mobilnya. Setelah itu, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sebelum itu, ia memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan klien.

Sesampainya di rumah sakit, Syafa langsung di bawa ke UGD.

"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Devan datar.

"Pasien gak papa kok. Cuma asam lambungnya kambuh, mungkin karena dia telat makan," jelas dokter tersebut.

Devan hanya mengangguk saja.

"Kalau begitu saya permisi dulu pak."

"Silahkan."

Devan pun masuk kedalam ruang UGD dan melihat Syafa yang sudah sadar.

"Pak Devan! Kenapa kita bisa ada disini? Bukanya kita mau meeting ya?" Tanya Syafa polos.

"Kamu mau tau kenapa kita ada Disini?" Syafa mengangguk.

"Karena di bawa sama angin." Jawab Devan datar.

"Ih, pak Devan ngaco deh. Masa angin bisa bawa manusia, pak Devan lagi mimpi ya?" Devan geleng-geleng kepala melihat Syafa.

"Kamu ini kapan pintarnya sih?"

"Aku kan udah pintar pak." Devan langsung menepuk jidatnya. Merasa tak ada jawaban dari Devan, Syafa pun turun dari brankar nya.

"Kenapa kamu tidak bilang kalau punya penyakit asam lambung?" Syafa menghentikan aktivitas nya yang hendak turun dari brankar.

"Bapak gak nanya," jawabnya datar dan kembali turun dari ranjang.

"Mau kemana kamu?" Tanya Devan yang melihat Syafa jalan mendahului nya.

"Ya mau balik ke kantor lah pak, masa mau pulang. Bisa-bisa gaji aku di potong lagi."

"Bukannya kamu lagi sakit? Istirahat aja dulu."

"Ciee pak Devan perhatian. Bapak tenang aja, aku udah gak papa kok."

Devan hanya menatap datar ke arah Syafa.

"Terserah kamu aja, kalau terjadi apa-apa lagi saya tidak tanggung jawab."

Syafa tersenyum kearah Devan "pak Devan tenang aja."

Devan hanya menghela napasnya dan mengikuti Syafa yang sudah mendahului nya. Persetan dengan keadaan wanita itu. Dia aja gak mikirin kondisi nya, kenapa kita yang pusing mikirin nya. Begitu setidaknya pikiran Devan.

Mobil Devan sudah memasuki area kantor. Devan langsung saja masuk kedalam kantornya dan diikuti oleh Syafa.

Devan berjalan dengan gaya angkuhnya. Tatapan dingin, mungka datar dan seperti nya dia tidak bisa tersenyum. Buktinya pada saat beberapa karyawan menyapa nya, jangan kan tersenyum, menoleh pun tidak.

"Dari mana kamu sama pak Devan Fa?" tanya Fina setelah Syafa duduk di meja kerjanya.

"Rencananya mau ketemu klien, tapi gak jadi," jawab Syafa.

"Lah, kenapa?"

"Karena pak Devan aku jadi masuk rumah sakit." Mata Fina membulat.

"Masuk rumah sakit? Kok bisa? Emang kamu di apain sama pak Devan?" tanya Fina kaget.

"Gak di apa-apain sih, cuma asam lambung aku aja kumat jadinya. Itu gara-gara pak Devan aku jadi telat makan siang."

"Ya ampun Fa, kok bisa sih. Terus sekarang gimana?"

"Udah baikan sih. Pak Devan udah bawa aku kerumah sakit tadi." Fina hanya mengangguk saja.

***

Syafa baru berencana ingin masuk kedalam ruangan Devan. Namun langkahnya terhenti karena mendengar Devan yang sepertinya sedang marah-marah.

"Siapa yang membuat laporan ini?" Tanya Devan tegas.

"Saya pak."

"Udah berapa lama kamu kerja disini?" Tanya Devan lagi.

"Satu tahun pak."

"Uda satu tahun kamu kerja, buat laporan ini aja kamu gak becus. Emang apa aja yang kamu kerjakan selama ini? Ngerjain laporan kecil ini aja gak bisa kamu!" Ujar Devan emosi kepada seorang karyawan yang sedang menunduk di hadapannya.

"Ma...maaf pak."

"Mulai sekarang kamu saya pecat!"

"Ta...tapi pak-"

"Gak ada tapi-tapi-an, sekarang kamu keluar dari ruangan saya."

Dengan berat hati, karyawan tersebut keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gontai. Tak sengaja ia berpapasan dengan Syafa yang sedang berdiri di depan ruangan Devan.

Tok tok tok

Syafa mengetuk pintu ruangan Devan. " Masuk!"

Syafa pun masuk kedalam ruangan tersebut.

"Maaf pak, tadi saya dengar bapak memecat karyawan itu ya? Emang apa alasannya pak? Kenapa bapak terlalu cepat mengambil keputusan."

Devan memandang Syafa dengan tatapan tajamnya.

"Apa masalah kamu, kenapa harus ikut campur dengan urusan saya."

"Bukan maksud saya untuk ikut campur pak, tapi kan setidaknya bapak bisa memberi kesempatan kedua."

"Gak usah nasehatin saya kayak gitu. Ini kantor saya jadi terserah saya mau ngapain disini," ujar Devan yang terdengar emosi.

Syafa hanya menghela napas tak habis pikir dengan jalan pikiran Devan.

"Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?" tanya Devan datar.

"Saya mau memberikan file ini pak." Devan pun menerima file tersebut.

"Saya permisi keluar dulu pak," pamit Syafa.

"Hm."

***

Syafa baru saja sampai di rumahnya setelah pulang dari kantor. Rumah Syafa terbilang cukup mewah, bahkan sebenarnya almarhum orang tuanya meninggalkan sebuah perusahaan besar untuk Syafa. Tapi Syafa malah memilih untuk mencari pekerjaan sendiri agar bisa mandiri. Sedangkan perusahaannya di kelola oleh orang kepercayaannya. Ia hanya sesekali memeriksa kondisi perusahaan nya.

"Non Syafa udah pulang? Mau bibi siapin makanan non?" tanya Bi Inah, asisten di rumah nya.

"Gak usah Bi, aku udah makan di kantor tadi," balas Syafa.

"Baiklah non, kalau gitu bibi permisi dulu."

"Silahkan Bi," balas Syafa ramah.

Ya begitulah Syafa. Dia selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Dia tidak pernah memandang derajat siapapun, karena baginya setiap manusia itu sama.

Syafa masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Cahaya matahari pagi menusukkan kedalam kamar Syafa membuat tidur gadis itu menjadi terusik.

Syafa membuka matanya dan meraih ponselnya.

"Masih jam 05.00, mending aku shalat dulu," ujar Syafa yang langsung masuk kedalam kamar mandi dan berwudhu. Baru setelah itu dia bersiap-siap untuk ke kantor.

Setelah selesai shalat, Syafa pun mandi dan  bersiap-siap.

Lalu, Syafa pun mengambil kunci mobilnya dan langsung berangkat dengan mengendarai sendiri mobilnya.

Ketika di perjalanan menuju kantor, Syafa melihat ada kerumunan orang di tengah jalan. Karena penasaran, Syafa pun memutuskan untuk melihat apa yg terjadi di sana.

"Permisi, pak. Ini ada apa ya, pak?" tanya Syafa pada salah seorang yang ada di sana.

"Oh, ini mbak. Ada orang korban tabrak lari," jawab orang tersebut.

Syafa pun membulatkan matanya.

Setelah melihat bagaimana kondisi orang tersebut, Syafa memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

"Tolong bantu angkat ke mobil saya, pak!" pinta Syafa pada orang-orang yang ada di sana.

Bapak itu pun mengangguk dan mengangkat korban tersebut kedalam mobilnya.

Syafa melajukan mobilnya kearah rumah sakit terdekat untuk menolong korban tersebut.

Setelah beberapa saat, Syafa pun sampai di rumah sakit.

Korban tersebut langsung di tangani oleh pihak rumah sakit.

Setelah selesai mengurus administrasi, Syafa pun menitipkan orang tersebut kepada pihak rumah sakit agar segera menghubungi pihak keluarga pasien.

Syafa kembali melajukan mobilnya ke arah kantor nya.

Dia memang sudah sangat terlambat, tapi Syafa juga tidak bisa meninggalkan orang yang sedang butuh pertolongan.

Akhirnya Syafa pun sampai di kantor nya.

Dengan langkah cepat, Syafa langsung memasuki kantor nya. Sesekali dia menyahuti  sapaan dari teman-temannya.

Bruk

Syafa terjatuh karena sudah menabrak seseorang. Syafa pun langsung berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil berdiri, ia pun secara takut melihat kearah orang yang di tabrak nya tadi. Namun orang tersebut menatap nya dengan tatapan datar.

"Telat?"

"I...iya pak," jawab Syafa berusaha tetap tenang.

"Saya sangat tidak suka dengan karyawan yang sering datang terlambat. Dan kamu masih karyawan baru, sudah berani terlambat dengan saya!"

"Maaf pak, tadi di jalan ada sedikit kecelakaan kecil. Dan saya harus menolong korban nya dulu, pak. Mangkanya saya terlambat." Syafa terpaksa berbohong.

"Saya tidak terima alasan dari kamu. Kalau sekali lagi kamu terlambat, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu!"

"Baiklah pak, sekali lagi saya minta maaf," ujar Syafa lagi dengan menahan segala kekesalannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
8.9
Tiga tahun Renee bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dengan Arvin Suryana, pria yang dipaksa menikahinya demi tanggung jawab. Meski kerap diabaikan dan dikhianati, Renee tetap bersabar demi putra mereka. Namun, kehadiran kekasih masa lalu Arvin menghancurkan segalanya saat sang anak justru memanggil wanita itu 'Mama'. Sadar cintanya sia-sia, Renee memilih pergi dan mengajukan cerai. Tak disangka, sang CEO dingin justru memburunya dan menolak melepaskannya sebelum Renee melahirkan anak kedua mereka.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Hidup Kirana hancur setelah Bima Nugraha, suaminya, memamerkan kehamilan selingkuhannya secara terbuka. Demi bisnis, Bima bersekongkol dengan keluarga angkat Kirana untuk mengurungnya di rumah. Ia difitnah tidak waras dan dipaksa menggugurkan bayinya. Namun, mereka tidak menyadari siapa Kirana sebenarnya. Hanya dengan satu telepon, Kirana menghubungi Antony Suryoatmodjo, ayah kandungnya yang merupakan konglomerat kuat, siap menghancurkan Bima tanpa sisa.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Antologi kisah romansa dewasa ini menghadirkan kumpulan cerita pendek yang menyoroti lika-liku hubungan penuh gairah. Pembaca akan diajak menyelami dinamika cinta penuh kuasa dari para CEO dan pengusaha, hingga polemik emosional yang dihadapi janda, duda, serta konflik mertua-menantu. Menampilkan latar profesi beragam mulai dari dokter, tentara, hingga satpam, setiap narasi dikemas memikat untuk memenuhi fantasi Anda akan kisah cinta yang mendalam dan unik.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Kebencian mendalam Sheina pada keluarga Levanchois tak menghalanginya bertahan demi sebuah misi rahasia di kantornya yang toksik. Namun, tepat saat ia berniat mundur dan menuntut balas, takdir mempertemukannya dengan Samuel Clark Levanchois. Pria terkuat di dinasti tersebut justru menyodorkan kontrak bisnis menggiurkan untuk melepaskan Sheina dari atasannya. Kini, terjebak dalam pusaran dominasi, sanggupkah ia menghindari jerat asmara dari pria yang paling ia benci?
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun lamanya Rania Alvi menanggung kepedihan dalam pernikahan dingin dengan pengusaha kaya, Rizky Wira. Berstatus sebagai istri kedua, hidupnya kian terasing akibat bayang-bayang Inez, sang mantan istri. Ketika divonis mengidap kanker stadium dua, kondisi fisik dan mental Rania runtuh hingga ia nekat menggugat cerai. Namun, Rizky menolak keras dan bersumpah tak akan melepaskannya. Kini, Rania terperangkap dalam obsesi sang suami, bergelut dengan rasa sakit tanpa celah untuk bebas.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Demi melunasi utang, keluarga tiri Tanti tega menjualnya kepada Darian hingga ia hamil. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Ade, putra Tanti, divonis menderita penyakit sumsum tulang belakang. Hasil tes DNA membuktikan Ade adalah anak kandung Darian. Demi menebus masa lalunya, Darian bersedia menjadi donor. Kini, Tanti menghadapi dilema besar: mempertahankan kebenciannya pada Darian atau menerima uluran tangannya demi menyelamatkan nyawa sang anak.