APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maria

Maria

Masa lalu yang kelam merenggut seluruh impian Maria. Usai dikhianati oleh sang kekasih, ia harus menanggung beban berat karena mengandung tanpa pertanggungjawaban. Penderitaannya kian mendalam ketika kedua orang tuanya meninggal dunia, tak mampu bertahan di tengah cemoohan publik yang menghancurkan kehormatan keluarga mereka. Kini, Maria harus berjuang sendirian dalam kepedihan, menghadapi kenyataan pahit akibat kesalahan fatal yang telah merusak hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bagaimana kalau aku hamil?"

Maria mulai nampak pucat dan berusaha untuk menutupi tubuhnya yang sudah tak berbalutkan busana sedikitpun.

Kejadian yang telah mereka ciptakan sendiri satu jam yang lalu menyisakan kegelisahan di matanya.

"Tenanglah, kamu tidak akan hamil. Kita sudah sering melakukankannya kan?"

Radit kembali menenangkan Maria dan meyakinkannya jika Maria takkan hamil dan perbuatan mereka itu tidak akan diketahui oleh banyak orang.

Laki-laki itu masih terlihat sangat santai tanpa mengkhawatirkan apapun, bahkan ia tak khawatir jika orang-orang akan mencarinya karena kabur dari pelaminan.

"Aku mau pulang dulu, orangtua aku pasti sudah nyariin aku." Ia mulai mengenakan busananya kembali.

Radit yang melihat hal itu lansung saja mencegahnya dan menanggalkan busana itu lagi hingga memperlihatkan keindahan itu lagi.

Perlahan jari jemarinya kembali bermain diatara dua gunung kembar itu dan kembali membaringkan Maria di atas gubuk kecil itu.

Maria yang sudah sangat kelelahan hanya bisa pasrah tanpa perlawanan apapun, matanya hanya tertuju ke arah bintang yang mulai bersinar redup.

"Kenapa diam saja, sayang? Kamu tidak mau lagi melakukan ini sama aku karena sekarang aku sudah menikah?"

Radit mulai menghentikan permainannya pada saat mengetahui Maria tak lagi bersemangat seperti biasanya.

"Aku hanya takut kalau aku hamil, siapa yang akan bertanggung jawab nantinya?"

Tetasan air matanya mulai membasahi pipinya yang putih itu, ia sangat berbeda sekali dengan waktu yang sebelumnya.

Sekeras apapun Radit berusaha untuk membujuk dan memintanya supaya bersemangat untuk melakukan itu lagi tetapi tetap saja ia masih menangis.

"Baiklah kalau itu yang kamu pikirkan, aku takkan melakukannya lagi. Mungkin kamu sudah dapat penggantiku."

Radit beranjak dari tempat itu dengan wajah yang nampak kesal karena Maria terus saja menangis semenjak ia mengeluarkan itu di dalam.

"Bukan seperti itu maksudku."

Maria berusaha untuk mengejar Radit yang sudah menuju ke arah pancuran untuk segera bisa membersihkan diri.

"Aku hanya takut hamil saja Radit, apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya tentangku."

Ia berusaha untuk meraih tangan Radit dan menjelaskan semua yang ia rasakan pada saat itu juga.

"Ayo kita lakukan lagi untuk membuktikan kalau tidak ada laki-laki lain di hati aku selain kamu."

Maria berusaha untuk menggerakkan tangannya ke arah kepunyaan Radit, namun laki-laki itu segera menepisnya dan terlihat masih sangat kesal sekali.

"Ayo cepat mandi, aku akan mengantarkan kamu pulang."

Ia segera menyuruh Maria untuk membersihkan diri setelah melakukan dosa yang berkelanjutan itu. Wajahnya masih terlihat sangat kesal sekali.

Ini adalah pertama kalinya Maria tak mengikuti perintah seperti yang biasanya, padahal ia berharap Maria masih seperti dulu.

"Kamu jangan marah, aku sangat menyayangi kamu. Aku sudah memberikan semuanya untuk kamu." Ia tak menyerah dan terus membujuk Radit.

Tak ingin mendengarkan alasan apapun lagi, Radit segera menutup kedua telinganya menggunakan tangan menyuruh Maria untuk segera membersihkan diri.

Sinar rembulan masih berbaik hati untuk menyirani gelapnya malam ini, ditemani dengan ratusan bintang yang nampak kerlap-kerlip.

Guyuran air pancuran ditengah malam itu membuat Maria harus menahan rasa dingin yang mulai dirasakannya.

"Ayo cepat!" Radit sudah mulai beranjak meninggalkan Maria yang masih membersihkan diri diantara dinginnya air pancuran itu.

"Iya, tunggu sebentar."

Maria yang tak ingin membuat Radit marah lagi segera keluar dari tempat itu dengan sangat tergesa-gesa.

"Siapa di sina!"

Keduanya dikagetkan dengan suara seseorang yang ada di dalam hutan itu, suara yang mereka dengar itu semakin dekat.

Maria dengan tergesa-gesa harus mengenakan pakaian tanpa peduli lagi jika baju yang dipakainya terbalik.

"Siapa itu Radit?" Ia mulai ketakutan mendengarkan suara orang itu.

Baru kali ini mereka mendengarkan ada suara manusia yang berasal dari hutan seperti itu apalagi di tengah malam seperti ini.

Radit hanya menggeleng dan memberi isyarat kepada Maria untuk tidak berbicara apapun supaya mereka tidak ketahuan.

Suara yang mereka dengarpun semakin jelas, setitik cahaya mulai terlihat dari kejauhan hendak menuju ke gubung mereka itu.

Radit segera mendekat ke arah gubuk itu dan memperhatikan dengan sangat baik siapa yang berada di hutan itu.

"Siapa Radit?" Maria yang sudah sangat ketakutan itu kembali bertanya kepada Radit.

Tangannya sudah mulai gemetaran, rasa takut yang selama ini ia cemaskan sekarang benar-benar ia rasakan.

"Tidak ada yang mengikuti kita pada saat kita ke sini tadi kan?" Radit kembali memastikan sumber suara itu.

Maria dengan yakin mengatakan jika ia tak melihat seorangpun yang memgikuti mereka, kalaupun ada pasti ia takkan muncul dari arah yang berlawanan.

"Siapa di sana?"

Suara itu kembali terdengar dengan sangat jelas, suara yang begitu tegas lagi menakutkan. Hanya binatang malam yang menjawab pertanyaannya.

Maria yang sudah semakin ketakutan hanya bisa mendekat ke arah Radit yang juga sudah mulai kesal dengan Maria.

"Kenapa kamu tidak teliti? Bagaimana kalau ada yang melihat kita disini?" Ia mulai menatap Maria dengan tatapan kemarahan.

Gadis itu hanya bisa menunduk dan terus meminta maaf serta menjelaskan jika ia benar-benar tidak tau jika ada orang yang mengikuti mereka.

"Kita berpencar saja jangan sampai orang itu melihat kita berdua di sini malam hari seperti ini." Radit mulai berlari meninggkan Maria.

"Jangan tinggalkan aku, Radit!" Maria mulai berteriak memanggil Radit yang sudah semakin jauh meninggalkannya.

Ia tak menoleh sedikitpun untuk melihat keadaan Maria atau untuk mengajaknya pulang bersama seperti yang telah ia janjikan sebelumnya.

Tak ingin ketahuan oleh orang itu maka Maria juga mulai hendak berlari untuk menyusul Radit yang sudah semakin jauh.

"Berhenti! Siapa kamu? Ngapain di sini malam-malam begini?"

Maria tak lagi peduli, ia tetap berteriak memanggil nama Radit karena tak ingin berada di hutan itu sendirian.

Ia terus berlari sekuat yang ia bisa tanpa melihat ke arah suara yang terus memanggilnya dari arah belakang.

Nafasnya sudah mulai terlihat sesak, langkah kakinyapun sudah tak sekencang yang sebelumnya lagi.

"Tunggu Radit! Kita harus pulang bersama!" Maria kembali berteriak pada saat sudah hampir sampai di dekat Radit.

"Maafkan aku Maria, aku harus pergi tanpa kamu." Radit segera menaiki motornya dan meninggalkan Maria yang masih sangat kelelahan.

Ia pergi dengan motornya itu tanpa peduli dengan Maria yang sudah menangis menangis meneriaki namanya.

Sekarang ia hanya bisa kembali bangkit dan berlari ke mana saja supaya orang yang ada di hutan itu tak dapat menemukannya.

"Jangan lari kamu! Aku tau kamu ada di sana!" Suara itu kembali terdengar dengan sangat jelas.

Maria semakin ketakutan, ia terus berlari tanpa arah dan tujuan yang jelas, berlari dengan penuh rasa takut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Lima Belas Tahun
8.3
Lima belas tahun menjalani hubungan penuh kebahagiaan bersama Bagas Saputra tidak menjamin akhir yang indah. Kehadiran sosok wanita lain mengubah sikap Bagas menjadi asing, hingga ia tega mendesak sang istri untuk bercerai. Meski batinnya terluka sangat dalam, sang istri sempat memilih bertahan dengan harapan suaminya akan kembali seperti dulu. Namun, kenyataan pahit akhirnya menyadarkannya bahwa perjuangan itu sia-sia dan kisah cinta mereka memang telah mencapai titik akhir.
Sampul Novel IZINKANLAH AKU MENCINTAIMU
8.4
Tepat di malam pertama, Gaza mengusir dan menceraikan Rania akibat fitnah video syur yang dituduhkan padanya. Di tengah keputusasaan Rania, Azka hadir untuk menikahinya. Berbeda dari Gaza yang kaya, Azka hanyalah saudara kembar Gaza yang hidup sederhana dan kerap dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Meski pernikahan ini diragukan oleh ibu mereka karena perbedaan status sosial, Rania memilih bertahan. Namun, kesetiaannya diuji saat Gaza kembali dan memohon maaf.
Sampul Novel Mari berpisah, Mas
9.4
Hanif terhenyak ketika istrinya tiba-tiba meminta cerai tanpa sebab konkret. Badai rumah tangga ini pecah setelah sang istri mengklaim tahu bahwa perasaan Hanif sebenarnya masih tertinggal untuk mendiang mantan pacarnya. Hanif pun didera kebingungan tentang bagaimana rahasia terdalamnya itu bisa bocor. Siapa dalang misterius di balik hasutan ini? Kini, ia harus memilih: merelakan pernikahan demi masa lalu, atau berjuang mempertahankan rumah tangga yang hambar tanpa cinta.
Sampul Novel Mengubah Cinta Lampau Yang Menyakitkan
9.8
Mengubah Cinta Lampau Yang Menyakitkan mengisahkan kesempatan kedua seorang wanita untuk lolos dari takdir kelam. Di kehidupan lalu, ia menolong Luna, sahabat tunangannya, namun tindakan itu berujung pada kesalahpahaman, tragedi bunuh diri, hingga penyiksaan kejam oleh tunangannya sendiri saat ia hamil. Terbangun kembali di masa lalu tepat di depan bar tempat Luna tak sadarkan diri, kali ini ia memilih pergi demi menyelamatkan hidupnya sendiri dari kehancuran.
Sampul Novel My Iceberg
9.3
Akibat salah paham, Prana Guntara yang kaku dan otoriter tega mengusir istrinya, Ganistra Yunata. Ia tidak tahu bahwa sang istri pergi dalam kondisi mengandung anaknya. Setelah empat tahun berpisah, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, sikap Prana kini berubah drastis. Ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk mendapatkan Ganistra kembali. Prana pun bertekad tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari sisinya untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.