APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah

Pertemuan dengan King di reuni tahunan membuka kembali luka lama Emily. King, sang mantan kekasih yang selalu ia hindari, tiba-tiba datang membawa lamaran pernikahan yang tak terduga. Walau Emily pernah bersumpah enggan kembali padanya, sebuah kejadian besar mengubah segalanya. Kini, ia terpaksa menerima tawaran tersebut dan harus bertahan menjalani rumitnya bahtera rumah tangga bersama pria yang sempat sangat dibencinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bagaimana kabar teman semuanya. Saya bahagia bisa datang ke acara reuni ini dan bertemu dengan kalian." Suara King ramah menyapa semuanya.

Emily sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki itu. Dia tidak sudi dan rasanya semakin muak saat mendengar ramah tamah King pada semuanya.

"Ember, maaf. Sepertinya aku harus kembali lebih dulu," ucap Emily pamit. Dia berdiri dari kursinya dan tepat setelah itu, Pak Ezra memanggilnya.

"Emily. Kemarilah," pinta Pak Ezra. Detik itu juga mata Emily menatap ke arah depan. Dan detik itu juga matanya bertemu dengan King. Pandangan mata mereka bertemu sepersekian detik sebelum akhirnya Emily mengalihkan pandangannya pada Pak Ezra.

Emily membungkukkan badannya. "Maaf, Pak. Umm, saya mendadak ada suatu urusan penting," ucap Emily canggung. Dia kemudian pamit pada semuanya dan terlebih dia benar-benar meminta maaf kepada Pak Ezra.

Tidak ada yang keberatan saat Emily pamit selain Pak Ezra dan tentu saja King. King sengaja datang ke acara ini hanya untuk menemui wanita itu. Tetapi Emily malah pergi.

Emily melangkah dengan tergesa. Dia menggerutu dalam hati dan menyalahkan keputusannya karena datang ke acara reuni ini.

Emily terus berjalan hingga basemen tetapi langkahnya terhenti saat seseorang menarik lengannya.

"Emily."

Emily terperanjat mendengar suara itu. Dia tahu ini adalah King.

"Astaga. Kau?!" Wanita itu memekik. Dia menarik lengannya dari genggaman tangan King hingga terlepas.

"Ya. Aku. Kenapa kau pergi, hmm. Tidakkah kau merindukanku Nona Emily?"

"Siapa kau hingga harus ku rindukan. Sangat tidak penting." Emily menjawab dengan judes.

"Oh, Nona Emily. Jangan terlalu galak." King menarik lengannya lagi dan membawa gadis itu dalam pelukannya.

"Bajingan. Lepaskan." Emily mengumpatnya. Namun yang ada, King malah menunduk dan mengambil ciuman pada bibirnya.

PLAKK. Emily menampar King dengan sangat kuat.

"Benar-benar bajingan, kau King." Emily berkata dengan marah. Dia langsung melayangkan tinjunya pada perut King. Membuat pelukan laki-laki itu terlepas.

"Jangan berani menyentuhku lagi." Emily menunjuk tepat pada wajahnya. Oh, dia benar-benar pemberani.

Emily membawa mobilnya melesat meninggalkan gedung itu. Bibirnya mengoceh dan sesekali meludah kecil ke arah samping.

"Sialan." Dia mengumpat King tanpa henti. Dia mual karena ciuman King padanya. "Dasar Playboy bajingan," umpatnya lagi. "Psiko gila." Dia berapi-api memarahi King. Dia bahkan menepi sebentar untuk berkumur dan membuangnya ke jalanan. Emily tidak tahu, jika ada mobil yang diam-diam mengikutinya.

Diantara kekesalannya, ponselnya berdering. Erland. Teman satu kantornya dan Emily menyukainya.

"Ya?" Emily mencoba menetralisir rasa marahnya. Suaranya menjadi manis saat mengangkat panggilan Erland.

"Bisakah kita bertemu sekarang, Emily?" Tanya Erland di seberang sana.

"Bertemu?" Emily nampak berbinar. Setidaknya tawaran ajakan bertemu ini mengurangi rasa kesalnya pada apa yang baru saja terjadi.

"Ya. Apakah kau sudah ada janji dengan seseorang?" tanya Erland.

"Hmm? Tidak ada," sahut Emily segera. "Apakah ini tentang pekerjaan kantor?" Tanya Emily kemudian.

"Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu," jawab Erland. Itu membuat Emily bahagia.

"Aku akan menjemputmu di apartemen," ucap Erland selanjutnya.

"Eh, tapi sekarang aku sedang ada di luar kota. Aku lagi pulang ke rumah ibuku. Emm tapi sebentar lagi balik, kok," jawab Emily berbohong.

"Oh, apakah aku mengganggu liburanmu, Emily."

"Tidak. Tidak sama sekali. Kita bertemu di mana? Dari rumah ibu, aku langsung ke lokasi."

"Baiklah. Kita bertemu di Moonlight. Aku akan menunggumu di sana."

"Baik, Erland. Aku pasti akan datang. Bye. Sampai ketemu nanti."

Klik. Panggilan terputus. Emily melesatkan mobilnya lagi. Tak lama, ponselnya terus bergetar. Banyak pesan masuk di sana. Tumben? Batin Emily. Ponselnya selalu sepi dari chat. Dia adalah tipe perempuan yang malas dengan grup dan sejenisnya. Menurutnya, tidur lebih menyenangkan dari pada ngobrol tidak penting di grup. Baginya, grup adalah pengganggu. Dia melihat sekilas grup itu. Grup alumni sekolahnya. Heh.

Emily mematikan ponselnya segera. Setelah itu, ia langsung datang ke tempat di mana Erland menunggunya.

Saat Emily sampai di parkiran tempat nongkrong anak muda itu, dia membuka tasnya dan mengeluarkan bedaknya. Tipis-tipis ia menambahkan bedak pada pipinya. Setelah itu, ia keluar dari mobil dan menuju tempat di mana Erland menunggunya. Di balkon luas beralaskan rumput sintetis dan ornamen pendukung lainnya khas tongkrongan anak-anak muda.

"Maaf jika aku membuatmu menunggu, Erland," ucap Emily setelah ia sampai.

"Tidak. Aku juga baru sampai," jawab Erland. Dia mempersilahkan Emily untuk duduk dan memesankan wanita itu makanan.

Emily mengaktifkan ponselnya kembali.

"Apa kau tidak ada acara dengan pacarmu, Erland?" Tanya Emily sambil menekan tombol on pada ponselnya.

"Tidak. Aku sudah sebulan lalu putus," jawab Erland. Jawaban yang membuat Emily tersenyum dalam hati. Dia bahagia atas kabar itu.

"Oh. Pantas saja kau mengajakku bertemu," ucapnya. "Hahaa."

"Apa kau keberatan?" Erland bertanya.

"Hmm? Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak keberatan," jawab Emily. Tak lama, ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tidak di kenal.

Emily menatap ponselnya. Nomor tidak di kenal?

"Sebentar." Gadis itu berkata pada Erland dan kemudian menerima panggilan itu. "Ya?" jawabnya setelah panggilan terhubung.

"Emily."

Emily tahu itu suara siapa. King. Ya, itu dia. Walaupun hanya menyebut namanya, Emily tahu itu adalah suara King.

Klik. Emily mematikan panggilan itu. Dia juga mematikan kembali ponselnya. Shit. King pasti tahu nomor ponselnya dari grup SMA itu.

"Siapa?" tanya Erland.

"Sepertinya nomor iseng," jawab Emily santai. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Erland mengangguk. "Menurutmu, bagaimana dengan atasan baru kita, Emily?" tanya Erland memulai sebuah pembahasan.

"Bu Finta sangat cerewet dan sangat galak. Untuk sekedar minum saja aku tidak berani jika ada beliau," jawab Emily. "Menyeramkan bukan?"

Mereka membahas pekerjaan dan selanjutnya mereka membahas sebuah film. Sebuah film horror yang terkenal dengan kisah nyatanya.

"Sepertinya memang bagus. Bioskop selalu penuh," komentar Emily.

"Bagaimana jika kita nonton malam ini?" Erland mengajaknya.

"Boleh," jawab Emily menyetujui dan dia senang dengan ajakan ini.

Erland tersenyum bahagia. Dia segera membuka aplikasi untuk memesan tiket secara online. Namun sungguh malam ini sedang tidak berpihak pada mereka. Semua bangku sudah terisi. Erland mencoba mencari bioskop lainnya di mall lainnya tetapi sama saja. Semuanya penuh.

"Masih sangat penuh," ucap Erland.

"Ya, ya. Memang film itu masih sangat di minati." Emily memberikan jawaban. Dia mengaduk minumannya dan menyedotnya perlahan.

"Bagaimana jika kita nonton film yang lain?" tanya Erland. Yang penting itu bukan filmnya tapi kebersamaan mereka berdua, pikir Erland.

"Emmm, boleh," Emily menyetujuinya.

"Ok."

Erland mencari film romantis dewasa. Dari ponsel dia membaca ulasan film dan trailernya dan ia memutuskan untuk menonton film Hollywood. Sepertinya ini cocok untuk mereka.

"Dapat," ucapnya.

Emily mengangguk. "Apa judulnya?" dia bertanya. Dan ia terkejut saat Erland membacakan judul film yang dipesan. Emily bahkan terbatuk-batuk. Dia tahu tentang film itu. Film yang sempat di cekal dan tidak boleh tayang di negara ini. Ah, semoga sudah banyak sensor.

"Kenapa Emily?" tanya Erland.

Emily menyeruput minumannya lagi. "Tidak. Sedikit tersedak minuman saja," jawab Emily.

"Film di putar satu jam lagi. Bagaimana jika kita kesana sekarang." ajak Erland.

Emily mengangguk menyetujui walaupun sebenarnya dia ragu karena film itu terkenal sangat fulgar.

Mereka keluar dari cafe dan menuju mobil Emily. Betapa kagetnya Emily saat melihat ada seseorang yang berdiri bersandar di mobilnya.

_____

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson telah memberikan segalanya untuk Daniel Carter. Namun di akhir hayatnya, ia justru menerima kenyataan pahit. Daniel mengaku menyesal telah menikahinya dan merindukan Lily Harvey, wanita dari masa lalunya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih hidup mewah bersamanya, di saat-saat terakhir ia mengungkapkan bahwa kesetiaan pada Sophie hanyalah beban yang melelahkan.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana, CEO genius Maulana Grup, sangat andal berbisnis tetapi tidak paham urusan cinta. Khawatir dengan kesibukan putranya, orang tua Jo berniat menjodohkannya dengan anak rekan bisnis mereka. Jo menolak keras rencana itu. Namun, ia kini terjebak syarat sulit: harus membawa calon istri pilihannya sendiri dalam waktu satu bulan. Jika gagal, ia wajib menerima perjodohan tersebut. Mampukah Jo menemukan belahan jiwanya dalam waktu sesingkat itu?
Sampul Novel KESAKSIAN CINTA STEVI
8.1
Wasiat terakhir mendiang ibunya untuk selalu bekerja keras terus membayangi Stevi. Kini, di tengah duka yang belum sepenuhnya sirna, ia memulai lembaran baru sebagai istri Aria. Stevi berharap sang ibu bisa beristirahat dengan damai karena suaminya kini sangat mengandalkan dirinya. Sementara itu, Aria disibukkan oleh tanggung jawabnya sebagai dosen. Saat membimbing mahasiswi menyusun makalah, ia dengan tegas mengingatkan pentingnya keaslian karya agar terhindar dari plagiarisme saat seminar nanti.
Sampul Novel Ketika Istri Sudah Mati Rasa
7.9
Kehancuran hidup Alexa bermula dari pengkhianatan sang suami dan sahabatnya. Setelah berhasil bangkit dari keterpurukan, ia bertekad membalas rasa sakit itu secara elegan. Namun, Sintya yang telah merebut Ryan belum puas dan terus berupaya merusak hidup Alexa, bahkan mengincar Anggia. Di tengah badai konflik ini, Razka hadir dan setia melindungi Alexa dari ancaman. Akankah Alexa sanggup membuka hatinya lagi setelah terluka begitu dalam?
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Demi menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Mutiara Embun Pagi harus pindah ke Jakarta. Kehidupannya terusik oleh Leon Bhaskara Granada, cowok kaya nan angkuh penyandang gelar King of School yang selalu menghinanya sebagai gadis desa. Enggan direndahkan, Embun bertekad merebut gelar Queen of School demi membuktikan harga dirinya. Di tengah intimidasi Leon, sanggupkah Embun bertahan, mengalahkan rivalnya, dan justru memikat hati sang playboy?
Sampul Novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
8.6
Tiga tahun Bella bertahan dalam pernikahan tanpa cinta demi Laskar, sebelum akhirnya tahu ia hanya dimanfaatkan sebagai tameng medis bagi kekasih suaminya. Setelah memilih bercerai dan pergi, Bella kembali sebagai sosok baru yang sukses menjadi pianis ternama sekaligus ahli bedah jenius. Laskar yang kini didera penyesalan mendalam, berusaha mengejarnya di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dari mantan istri yang dulu ia sia-siakan.