APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru

Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru

Demi melindungi Meisya dari skandal, Galvin memaksa Indri bercerai dan menanggung fitnah. Di kehidupan sebelumnya, penolakan Indri berujung tragis hingga ia tewas dalam kecelakaan setelah dihujat publik. Kini, Indri terbangun kembali di masa lalu tepat saat disodorkan surat cerai. Alih-alih menangis, ia menerimanya dengan tenang. Namun, kebebasan itu tidak gratis. Indri menuntut seluruh aset serta saham Galvin sebagai ganti atas penderitaannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Indriani POV:

Galvin menyelesaikan pidatonya, suaranya terdengar meyakinkan bagi para wartawan. Ia berbicara tentang komitmennya pada perusahaan, tentang bagaimana ia rela mengorbankan segalanya demi menjaga integritas media di tengah badai informasi. Tidak ada satu pun tatapan yang ditujukannya padaku. Seluruh perhatiannya tercurah pada Meisya, yang masih meringkuk lemah di sisinya. Meisya, korban yang rapuh.

Senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirku. Betapa ironisnya. Dulu, aku akan hancur melihat pemandangan ini. Tapi sekarang, aku hanya melihat dua aktor yang sedang memainkan peran mereka dengan sangat baik.

Seorang wartawan mengangkat tangan. "Nyonya Indriani, bisakah Anda menjelaskan bagaimana hubungan Anda dengan Tuan Galvin saat ini?"

Aku berjalan maju sedikit, mengambil mikrofon yang disodorkan. Wajahku tenang, sorot mataku datar. "Tuan Galvin dan saya telah memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami. Kami sedang dalam proses perceraian."

Ruangan itu langsung dipenuhi bisikan. Kilatan kamera semakin gila.

"Tapi Nyonya Indri," wartawan lain menyahut. "Bukankah Tuan Galvin pernah melakukan hal-hal romantis yang luar biasa untuk Anda? Kami ingat saat Tuan Galvin menyewa seluruh bioskop untuk menonton film pertama Anda bersama. Bukankah itu menunjukkan cinta yang mendalam?"

Aku hampir tertawa. Romantis? Semua itu hanya bagian dari pencitraan.

"Itu adalah bagian dari masa lalu," jawabku, suaraku stabil. "Dan sejujurnya, itu lebih tentang citra publik daripada cinta yang mendalam. Bioskop itu, itu untuk acara amal perusahaan. Filmnya, film yang kebetulan kami berdua suka. Itu adalah bagian dari kampanye media sosial perusahaan."

Para wartawan saling pandang, terkejut dengan jawaban jujurku yang blak-blakan. Aku tidak lagi peduli menjaga citra palsu mereka.

"Jadi, Nyonya Indri," pertanyaan berikutnya datang, lebih tajam. "Apakah Anda masih mencintai Tuan Galvin?"

Galvin yang tadinya menatap lurus ke depan, kini sedikit menoleh ke arahku. Matanya mencari jawaban di wajahku. Ada sedikit ketegangan di sana. Dia mungkin berharap aku akan mengatakan sesuatu yang samar, sesuatu yang masih memberinya celah. Atau mungkin dia ingin aku menangis dan mengatakan ya.

Aku menatap lurus ke kamera, ke jutaan mata yang mungkin sedang menonton. "Tidak," kataku, lugas dan jelas. "Aku tidak lagi mencintainya."

Wajah Galvin menegang. Meisya, di sisinya, tersenyum tipis. Sebuah senyum kemenangan yang tak dapat disembunyikan.

"Terima kasih atas waktu Anda." Aku menyerahkan mikrofon kembali dan berbalik. Tanpa menoleh lagi ke arah Galvin atau Meisya, aku berjalan keluar dari ruangan itu. Pertunjukanku sudah selesai.

Keesokan harinya, seperti yang sudah kuduga, berita tentang perceraian kami meledak. Indriani Tampubolon, istri yang "diceraikan karena gila harta dan kasar", telah meninggalkan suaminya yang "sangat mencintai dan setia kepada mantan sopirnya." Aku menjadi judul utama di setiap media.

Foto-fotoku yang tenang di konferensi pers dipadukan dengan narasi bahwa aku adalah wanita dingin yang tidak berperasaan. Kemudian, muncul video-video lamaku yang direkam Galvin saat aku mengamuk di kehidupan lampau. Video itu dirilis oleh akun anonim yang diduga adalah orang terdekat Galvin. Tentu saja, itu adalah ulah Meisya atau Galvin sendiri.

"Lihat bagaimana dia berteriak pada suaminya!"

"Wanita ini jelas tidak waras."

"Bagaimana mungkin Galvin bisa bertahan dengannya?"

Meisya, di sisi lain, disebut sebagai "korban sejati," "gadis malang yang tak berdosa." Netizen bersimpati padanya, mengutukku. Diskusi tentang wawancaraku yang blak-blakan memenuhi media sosial. Aku dituduh egois, tidak tahu berterima kasih, dan tidak berperasaan. Mereka menyebutku Indriani si Jahat.

Aku hanya membiarkannya. Kata-kata itu tidak lagi menyentuhku. Mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka mau. Aku punya rencanaku sendiri.

Beberapa hari kemudian, aku pergi ke kantor hukum untuk menyelesaikan semua dokumen perceraian. Galvin sudah menungguku di sana. Dia terlihat lebih kurus, pakaiannya sedikit kusut. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Indri," katanya, suaranya lelah. "Kau yakin dengan semua ini?"

Aku hanya mengangguk. "Tentu saja."

Dia mencoba meraih tanganku. "Indri, ini tidak harus seperti ini. Kita bisa bicara. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku masih-"

Aku menarik tanganku, menjaga jarak dengannya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Galvin. Semuanya sudah jelas."

Dia menatapku dengan mata memohon. "Aku tahu kau marah. Tapi ini hanya sementara. Setelah semuanya reda, kita bisa kembali."

Aku hampir tertawa. Kembali? Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia menjadikan hidupku seperti neraka?

"Kita tidak akan kembali, Galvin," kataku, suaraku datar. "Ini adalah perpisahan yang permanen."

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Kau tidak bisa begitu saja melupakanku. Semua yang kita lalui."

"Semua yang kita lalui?" Aku tersenyum pahit. "Kau hanya mengingat bagian mana? Bagian saat kau mengorbankanku demi Meisya? Atau bagian saat kau memfitnahku di depan umum?"

Tiba-tiba, aku menyadari ada beberapa wartawan yang berdiri agak jauh, mengarahkan kamera mereka ke arah kami. Galvin juga melihatnya. Ekspresinya berubah kaku. Dia selalu peduli dengan citra publiknya.

"Aku akan meninggalkan Jakarta," kataku, memutuskan. "Aku akan kembali ke kampung halamanku di Samosir."

Mata Galvin membelalak. "Apa? Tidak! Indri, kau tidak bisa pergi sejauh itu. Ini hanya sementara, kan? Kau akan kembali."

"Aku tidak akan kembali," jawabku tegas. "Tidak akan pernah."

Dia terlihat panik. "Indri, jangan lakukan ini. Hidupmu di sini. Kariermu. Teman-temanmu."

"Kehidupanku di sini sudah hancur," kataku dingin. "Kariermu yang membuat karierku hancur. Teman-temanku? Mereka semua sudah membuangku sejak kau memfitnahku."

"Tapi-"

"Aku sudah menandatangani surat cerai," potongku. "Aku sudah memenuhi semua permintaanmu. Sekarang, penuhi janjimu. Transfer semua aset yang sudah kita sepakati."

Galvin menatapku, tercengang. Dia mungkin baru menyadari bahwa kali ini, aku benar-benar pergi. Dia mungkin baru menyadari bahwa dia tidak bisa lagi mengontrolku.

Melihat ekspresinya, aku tahu dia mulai merasa takut. Ketakutan yang sama yang kurasakan di kehidupan lampau. Tapi kali ini, aku yang memegangnya.

Dulu, aku sempat berpikir untuk merobek surat cerai itu, menolak semua kesepakatan, dan melawan habis-habisan. Tapi itu hanya akan membuatku kembali menjadi korban. Menjadi Indriani yang histeris, yang bisa dengan mudah dicap gila.

Indriani yang baru, lebih tenang, lebih strategis. Aku tahu bahwa kadang, untuk menang, kau harus berpura-pura kalah.

Aku tersenyum tipis lagi, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Itu adalah senyum kebebasan.

"Sampai jumpa, Galvin," kataku, lalu berbalik dan berjalan pergi. Aku tidak pernah menoleh ke belakang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai suami karena mandul
9.1
Safina berniat memberikan kejutan istimewa untuk Reza pada hari pernikahan mereka. Namun, momen spesial itu berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki sang suami berselingkuh di rumah sendiri. Alih-alih menyesal, Reza justru memutuskan untuk menceraikan Safina. Dengan kejam, ia menjadikan kondisi Safina yang mandul sebagai alasan perpisahan. Kini, Safina harus berjuang menghadapi kenyataan pahit akibat pengkhianatan suaminya.
Sampul Novel Modus Tuan Muda
8.5
Mona Latea harus menerima nasib buruk setelah dipaksa menggantikan Elisa, kakaknya yang kabur dari perjodohan. Kini, hidupnya diabdikan untuk melayani seorang tuan muda kaya yang kekanak-kanakan dan sangat merepotkan. Tanpa upah sedikit pun, Mona terpaksa bertahan melewati hari-hari penuh tekanan. Kisah cinta romantis ini diwarnai intrik rumit antara kewajiban yang menjerat dan daya pikat manipulatif sang tuan muda.
Sampul Novel Penyesalan Ibu Mertua
9.5
Febri mendesak Yusuf memilih antara dirinya atau ibunya sendiri. Kehadiran Ibu Sella merusak keharmonisan pernikahan mereka hingga berujung pada perceraian. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, akankah Ibu Sella memahami kewajiban Yusuf sebagai suami? Simak perjuangan emosional Febri menghadapi pahitnya menjadi menantu di kediaman keluarga suaminya.
Sampul Novel Perempuan Lain Di Pemakamanmu
8.2
Kesedihan Ayna atas kematian suaminya, Afnan, seketika sirna dan berganti menjadi keraguan besar. Di tengah prosesi pemakaman, seorang wanita asing bernama Maria tiba-tiba hadir dan menangis histeris. Maria membongkar rahasia kelam bahwa dirinya adalah istri siri Afnan yang telah dinikahi selama tiga puluh tahun. Kehadiran Maria bersama putra mereka, Riko, meruntuhkan dunia Ayna. Ia kini dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang pengkhianatan panjang yang selama ini tersembunyi rapat.
Sampul Novel Sepuluh Tahun Menanti Keturunan
8.3
Sepuluh tahun menikah tanpa buah hati membuat Arka dan Lisa tertekan. Meski Lisa hanya memiliki satu indung telur, Arka yang berprofesi sebagai dokter tidak menyerah secara medis. Saat kehamilan akhirnya terjadi usai adopsi mereka ditolak keluarga, sabotase justru muncul. Mayang, sang mantan tunangan, memalsukan hasil tes kesuburan Arka hingga Lisa dituduh mengandung anak mantan kekasihnya, Suga. Di ambang perceraian, mampukah cinta mereka bertahan dari fitnah keji yang merusak penantian ini?
Sampul Novel Setelah Perceraian, Suami Saya Sangat Menyesal
9.5
Demi keselamatan, Alan Begum menyembunyikan dunia balapnya selama tujuh tahun pernikahan kami. Namun, sebuah unggahan dari Danna Ahmed membongkar kebohongan itu; sosok wanitalah yang selalu menemani Alan di arena. Puncaknya, perselisihan tentang anak menyadarkan saya bahwa cinta masa lalunya jauh lebih penting. Tanpa ragu, saya memilih bercerai dan melepas cincin kawin. Kini, saya kembali memakai sarung tangan balap lama saya, membuktikan sirkuit tidak pernah menakutkan.