
Malam Panas, Hati yang Membeku
Bab 6
Wanita itu tersenyum cerah, wajahnya ceria, persis seperti diriku di masa lalu.
Namun sekarang, mataku terpancar kekosongan bagaikan mati rasa.
Aku merasakan cubitan lembut di daguku, memaksa diriku mengalihkan pandangan ke arah lain.
Yuvan berwajah dingin, tetapi bibirnya yang tipis itu justru mengujarkan kata-kata ngawur.
"Jangan lihat dia, lihat saja aku."
Aku hanya melotot padanya sesaat, lalu melepaskan daguku.
Suasana dalam mobil kembali sunyi. Mobil melaju kencang sampai tiba di sebuah butik pribadi yang menjual gaun pengantin.
HIngga aku mengenakan gaun pengantin dan muncul di hadapan Yuvan, pria yang selalu menganggap dirinya tenang itu, tidak mampu mengendalikan getaran halus di pupil matanya.
Dia menunduk menatapku, di dasar matanya terselubung perasaan yang sulit dijelaskan.
"Sangat cantik, pakai yang ini saja."
Aku mengangguk, seperti manusia robot yang hanya mendengarkan pengaturan.
Dalam pandanganku, ini hanyalah sebuah transaksi.
Aku menjadi pengganti cinta pertama Yuvan.
Dia membantuku menyelesaikan urusan Morin.
Bagaimanapun, aku tidak mungkin berpura-pura buta seumur hidup. Cepat atau lambat Morin akan tahu aku sudah bisa melihat.
Meski sekarang di sisinya sudah ada wanita lain, tetapi dia tidak akan dengan mudah membiarkanku pergi.
Aku menyangkut citra dirinya. Sikap itu sama seperti ketika dia mengunggah ke media sosial, foto dirinya yang penuh kasih di saat muntahanku mengotori bajunya.
Dia menikmati sanjungan semua orang, tetapi aku tak sudi lagi menjadi batu pijakannya.
Menjelang dimulainya pernikahan, aku berdiri di ruang pribadi dengan kaca transparan di lantai dua aula pesta, melihat ke bawah.
Pengaruh Keluarga Giani sangatlah kuat. Meskipun undangan mendadak, banyak tamu menghadiri pesta itu.
Morin meski bermarga Giani, sebenarnya hanyalah kerabat jauh yang sekadar kebetulan menyandang marga itu.
Selain itu, harta yang dimilikinya jauh lebih kecil dibanding sebagian besar orang yang hadir, dia hanya bisa duduk di sudut meja bersama Rosa.
Dia mengeluarkan ponsel, lalu meneleponku.
"Mia, aku sedang rapat besar dengan para investor, aku diam-diam meneleponmu untuk melapor."
Anda Mungkin Juga Suka





