
Malam Panas, Hati yang Membeku
Bab 7
Dia sengaja mengangkat ponselnya dan berputar di sekeliling, seolah-olah ingin membuat aku mendengar suara ramai di sekitar.
"Kamu dengar, 'kan? Banyak orang, 'kan?"
"Sudah ya, aku harus melanjutkan kesibukanku, kamu juga harus jaga diri baik-baik, ya, Mia."
Morin sangat pintar, dia tahu persis apa yang kuinginkan.
Dia memberikan diriku kelembutan, kebersamaan, dan rasa aman.
Namun, dia lupa memberiku ketulusan.
Aku memanggil namanya, menghalangi dirinya yang akan menutup telepon dengan terburu-buru.
Aku menatap wajah sampingnya yang secara alami membawa senyum saat berbicara denganku. Entah kenapa aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Morin, kamu benar-benar sedang rapat?"
Dia segera menjawab ya, lalu agak ragu bertanya ....
"Kenapa, Mia?"
Aku tidak menjawabnya, hanya berbicara pada diriku sendiri, "Morin, aku akan menikah."
Sepertinya dia tidak mengerti maksudku, hanya mengira aku sedang mendesaknya untuk menikah.
Tahun itu, pada hari kami diserang penjahat, sebenarnya tepat saat aku dan dia pergi mencoba gaun pengantin untuk persiapan pertunangan.
Ketika aku dirawat di rumah sakit setelah kejadian itu, dia berjanji akan menunggu aku keluar baru bertunangan.
Setelah aku keluar rumah sakit, katanya akan menunggu perusahaan lebih stabil baru bertunangan.
Setiap kali membicarakan topik itu, dia selalu bisa mengelak dengan alasan yang sempurna.
Sekarang juga begitu.
"Morin, kita putus saja."
Aku segera menutup telepon, berbalik dan berjalan menuju Yuvan yang sedari tadi menungguku di pintu.
Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap, menutupi keterkejutan Morin karena ucapanku barusan.
Aku menggandeng lengan Yuvan, perlahan menuruni tangga.
Suara pembawa acara menggema di seluruh aula perjamuan ....
"Selamat datang semuanya di pernikahan Pak Yuvan dan Nona Mia."
Lampu sorot tiba-tiba menyala, menerangi sosokku dan Yuvan yang berdiri di tangga spiral.
Dalam pandangan mataku, juga terlihat wajah terkejut Morin yang duduk di sudut ruangan.
Aku menatapnya, alis mataku melengkung membentuk senyum.
Dia tampak panik berdiri, hendak berjalan ke arahku.
"Mia, kamu sudah bisa melihat lagi?"
"Kenapa kamu malah jadi pengantin pamanku?"
Anda Mungkin Juga Suka





