
Malam Panas, Hati yang Membeku
Bab 5
Sendok yang digenggamnya tiba-tiba bergetar, menumpahkan cairan obat ke seprai berwarna merah muda.
Wajah Morin sempat terlihat panik sesaat. Namun dirinya segera mengendalikan ekspresinya, menampilkan raut gembira.
"Benarkah? Mia?"
"Aku bohong."
Sambil melontarkan kedua kata itu, aku menatapnya dengan mata yang kosong.
Tiga tahun aku buta, setidaknya aku telah belajar bagaimana berpura-pura tak bisa melihat.
Morin menatap mataku dengan tegang, seolah-olah ingin memastikan sesuatu.
Lama sekali, barulah dia seakan menghela napas lega, lalu berbicara dengan lembut, "Mia jangan khawatir, aku pasti akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu."
Dia masih ingin melanjutkan menyuapiku obat, tetapi getaran ponselnya berbunyi berkali-kali menandakan pesan masuk.
Morin tetap tidak menghindar dariku.
Rupanya itu pesan dari salah satunya dari asistennya.
[Pak Morin, paman Anda tiba-tiba mengumumkan malam ini akan mengadakan pernikahan.]
Sisanya semua dari Rosa.
[Kak Morin, kamu nggak akan membawa Mia ke pernikahan, 'kan? Dia buta, bagaimana kalau dia mempermalukan Keluarga Giani nanti?]
[Bagaimana kalau aku yang menemani kamu pergi? Aku dan bayi di dalam perutku pasti nggak akan mempermalukanmu.]
Morin yang sedang menggenggam gelas tertegun sesaat, akhirnya meletakkan gelasnya ke meja samping ranjang.
"Mia, perusahaan tiba-tiba ada urusan, malam ini mungkin aku nggak bisa pulang."
"Nanti saat aku kembali, aku akan membawakan hadiah untukmu. Aku juga akan menyuruh Bi Shinta datang menjagamu, jangan khawatir."
Ponselnya masih terus bergetar, gerakannya pun makin cepat. Bahkan lupa menunggu jawabanku, lalu benar-benar meninggalkan kamar.
Begitu dia pergi, aku pun mengeluarkan ponsel yang kusimpan di bawah selimut.
Di layar muncul satu pesan baru yang baru saja terkirim.
[Acara pernikahan ditetapkan malam ini, aku akan menjemputmu sekarang.]
Cepat sekali Yuvan tiba.
Sampai-sampai ketika aku sudah duduk di kursi penumpang depan, tepat berpapasan dengan mobil Morin dari arah berlawanan.
Wajahnya masih dihiasi senyum, sama sekali tidak menoleh ke arahku. Di kursi penumpang sampingnya, duduk Rosa yang memeluk seikat besar bunga mawar.
Anda Mungkin Juga Suka





