
Malam di Asrama Mahasiswa: Rahasia yang Tak Terucap
Bab 3
Juan terkekeh pelan padaku, lalu meniupkan napas hangat ke telingaku sambil berkata, "Tante, rupanya Tante suka melihat ini. Aku juga suka."
Tangannya meraih payudaraku yang putih mulus, meremasnya beberapa kali sebelum menyelusup ke dalam selimut dan meraih tanganku. Dalam sekejap, benda di tanganku sudah berada di tangannya.
"Tante benar-benar jalang. Aku bisa mendengar dengungannya dari tempat tidurku."
Apa! Apa sekeras itu?
Seluruh tubuhku menegang dan pikiranku kosong. Tertangkap basah sedang melakukan hal seperti itu di tengah malam oleh teman sekamar anakku, rasanya aku ingin menghilang saja.
Dalam keadaan panik, aku merasakan keringat dingin mengucur di punggungku dan darah di seluruh tubuhku seolah terus bergolak.
"Tenang saja, aku nggak akan memberitahukannya pada siapa pun, tapi..."
Juan sengaja memanjangkan nada bicaranya, lalu mengangkat tubuhnya dan tiba-tiba menunduk untuk mencium leherku. Hembusan napasnya yang panas dan lembap perlahan menyebar, membuatku tanpa sadar gemetar, hingga pinggangku pun terasa lemas.
"Ja... jangan... nanti ketahuan..."
Tangannya yang besar terus meraba di balik selimut, dari payudara yang montok, pinggang yang ramping, hingga pantat yang bulat. Tubuhku yang sudah sensitif tidak tahan akan rangsangan ini. Seketika napasku tersengal-sengal, aku bahkan tidak sanggup mengeluarkan satu kalimat lengkap.
"Tenang saja, mereka nggak akan berhenti dalam satu jam," bisik Juan. Hembusan napas panas dari mulut Juan terasa begitu membakar, seketika membuat pikiranku kacau. "Arya sudah tertidur pulas, dia nggak akan terbangun."
Samar-samar terdengar suara dengkuran anakku. Dia memang tidur sangat pulas di malam hari, bahkan suara petir pun tidak bisa membangunkannya. Sementara pasangan di ranjang atas juga asyik dengan urusan mereka sendiri. Namun...
Sebelum sempat berpikir, ciuman panas Juan sudah menyergap. Napas panasnya memenuhi mulutku, sementara lidah tebalnya tidak berhenti mengaduk-aduk rongga mulutku. Hampir tidak ada celah untuk bernapas, apalagi berbicara.
Tebal sekali, lidahnya terlalu tebal. Aku makin pusing karena kehabisan napas, tanpa sadar aku menggeliat-geliat di kasur seperti ular, tubuhku bergesekan dengan badannya yang panas.
Di ranjang atas sebelah, anakku tertidur pulas. Sementara di atas kepalaku, sepasang kekasih muda tengah asyik bercinta. Suasana penuh gairah ini, luapan hormon yang bergejolak liar, seolah membangkitkanku sepenuhnya. Seluruh sel tubuhku berteriak dalam gelora nafsu yang menyala-nyala.
Tangannya yang besar menyergapku di balik selimut, lalu menekanku erat pada tubuhnya.
"Tante, aku bukan sok kuat."
Mataku membelalak dan pantatku mengencang tanpa sadar.
Ini... bukankah ini sudah terlalu berlebihan? Baru saja aku menonton film dewasa dengan bintang pria berkulit gelap, tapi mereka bahkan tidak ada apa-apanya dibanding Juan.
Tubuhku yang penuh nafsu ini sepertinya akan puas hanya dengan sekali disentuh olehnya.
Terlalu lama tidak merasakan belaian pria. Desakan napasnya yang panas dan dominan membuatku tidak berdaya menolak. Meskipun menggelengkan kepala dan berkata jangan, hatiku sebenarnya sudah menyerah.
Aku ingin, sangat ingin. Apakah ini jawaban doa dari langit? Pria perkasa yang kudambakan?
Dengan tubuh sekuat ini, mana mungkin aku bisa melawan? Lagi pula, Juan sudah menangkap basah tingkah memalukanku. Jika tidak menuruti kemauannya, dia pasti akan memberitahu anakku. Itu tidak boleh terjadi.
Benar, aku tidak punya pilihan selain menyerah.
Perlahan aku memejamkan mata, lalu menahan dadanya dengan tangan yang lemah. "Nggak... Jangan seperti ini..."
Namun, Juan mengabaikan perlawananku. Tangannya mencengkeram pinggangku dan membalikkan tubuhku. Gaun tidurku tersingkap, memperlihatkan punggung putihku. Lidahnya yang tebal menjelajahi setiap lekuk tubuhku, meninggalkan sensasi basah seperti aliran listrik yang menyengat. Seketika tubuhku lemas, bahkan aku tidak sanggup lagi menolak. Tanpa kusadari, pinggulku sudah bergoyang sendiri.
"Jalang, nikmatilah."
Juan membuka mulutnya dan menggigit pantatku yang putih. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat daging lembutku bergesekkan di antara giginya. Sensasi menggelitik yang bercampur rangsangan unik dari gigitan itu langsung menyentuh titik keinginanku.
Aku mendongakkan kepala dan mengembuskan napas pelan, aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.
"Hmm... kumohon... cepatlah..."
Anda Mungkin Juga Suka





