APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Majikanku Menjadi Mertuaku

Majikanku Menjadi Mertuaku

Demi keluarga dan impian, Aisyah yang menawan pergi merantau dari desanya ke kota. Saat bekerja di rumah Aryo, ia terjebak dalam dilema cinta antara anak majikannya dan seorang sopir. Setelah melewati liku-liku asmara, Angga yang merupakan putra sang majikan akhirnya menikahi Aisyah. Kehidupan barunya pun berlanjut ke dalam bahtera rumah tangga yang penuh rintangan, menguji keteguhan hatinya hingga ia menemukan makna cinta sejati.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Angga! apa begini kelakuanmu? dan kau Heni, jelas-jelas kau yang salah," pak Aryo meradang.

"Ada apa ini? Ayah ada apa?" bu Heti menghampiri ketakutan.

"Ibu lihat, Angga hendak mendorong gadis ini dan kau Heni, om minta pulang sekarang," amarah pak Aryo tak terbendung lagi.

"Ayah, ayah lebih belain pembantu ini, dibanding pacar Angga sendiri, begitu?" celetuk Angga kesal.

Angga dan Heni keluar dari rumah dengan tatapan marah serta sangat kesal pada Aisyah, sedangkan Aisyah menunduk ketakutan, sepeninggal Angga dan Heni. Pak Aryo meminta maaf pada Aisyah.

"Maafin anak bapak ya! Siapa namamu nak?" pak Aryo bertanya sopan pada Aisyah.

"Tidak apa-apa pak, saya yang harus meminta maaf, saya Aisyah, pak," Aisyah tertunduk menahan tangis.

Seketika Aisyah pamit ke belakang, pak Aryo dan bu Heti menatap lekat Aisyah, "pak, Aisyah gadis yang baik, kelak ibu akan menjadikannya menantu," bu Heti tersenyum lekat pada pak Aryo.

"Ternyata pemikiran kita sama ya bu, bapak sudah lama mengidamkan menantu seperti Aisyah, biarpun Aisyah hanya asisten rumah tangga di keluarga kita, itu tak jadi masalah, tidak kayak sih Heni, anak orang kaya tapi tidak tahu etika." Pak Aryo tersenyum berlalu ke kamar.

Di sisi lain, Aisyah menangis, hatinya menjadi gelisah, "ya Allah, hamba kesini untuk bekerja, bukan cari masalah," Aisyah menyeka airmata sembari membereskan dapur.

Bu Heti yang sudah memperhatikan Aisyah dari tadi menjadi sedih, melihat Aisyah menangis akibat ulah Heni dan Angga.

"Maafin anak ibu ya, ibu tahu Aisyah merasa tidak enak," bu Heti merangkul Aisyah sembari menangis.

"Ibu tidak salah, malahan Aisyah sudah bersyukur, bertemu orang sebaik ibu dan pak Aryo," Aisyah mengusap airmata bu Heti.

Di sisi lain, Heni ngambek sama Angga sebab pak Aryo lebih membela Aisyah, daripada dirinya, "sayang, bisa-bisanya sih, keluargamu memperkerjakan pembantu resek itu." Heni bersungut kesal.

"Sayang, biarin aja, cuma pembantu itu, akan aku beri pelajaran dia nanti," tatapan Angga tajam tersenyum sinis sembari memeluk Heni yang bergelayut manja.

Malam pun tiba, Aisyah tengah mempersiapkan makan malam, Angga berniat hendak mengerjai Aisyah, "Aisyah, sini ikut aku," panggil Angga menajamkan tatapan.

"Ta--pi, om, i--ni belum selesai," Aisyah menunduk ketakutan.

"Gak ada tapi-tapian, ayo ikut," Angga menarik tangan Aisyah.

Aisyah berusaha melepaskan tangan Angga. Namun, karena tenaga Aisyah tak sekuat Angga, membuat Angga leluasa menarik Aisyah, "om, tolong, jangan apa-apakan aku," Aisyah menangis.

"He, Aisyah, aku ini masih muda dan bukan om kau, aku akan kasih kau pelajaran." Angga menajamkan tatapan mata.

Aisyah hanya terdiam dan sudah pasrah, airmata menemaninya, rencana untuk menelpon Hendro dan orang tuanya tak kunjung terkabul, "aku pasrah, Abang mau membunuh tidak apa-apa," Aisyah begitu tegar.

Seketika hati Angga berdesir, Angga menghentikan langkahnya, Angga menatap lekat wajah ayu Aisyah. "Jangan lebay, aku cuma mau menghukum, bukan membunuhmu," Angga tertawa lepas.

Diruang makan, bu Heti dan pak Aryo mencari Aisyah, "pak, Aisyah kemana ya? Terakhir ibu tinggal, dia tengah bersiap makan malam." Bu Heti celingukan.

"Angga juga gak kelihatan, dimana mereka," pak Aryo khawatir.

Di sisi lain, Hendro gelisah menunggu telpon ataupun chat dari Aisyah, "Aisyah, di mana kamu, kenapa belum telpon atau chat aku?" batin Hendro bertanya gelisah sembari menatap layar handphonenya.

Angga dan Aisyah saling pandang, Aisyah ketakutan, "kamu, udah buat aku malu, udah buat Heni kesal," Angga beringas kemarahan.

"Angga! Apa-apaan ini?" bentak pak Aryo datang tiba-tiba.

Bu Heti yang kaget mendengar suara keributan, bergegas menghampiri pak Aryo, Angga dan Aisyah, "ada apa pak? Kok ribut-ribut?" tanya bu Heti keheranan.

"Ini, bu, liat Angga, berani-beraninya dia memarahi Aisyah, hanya gara-gara sih Heni, perempuan gak ada sopan santun itu." Teriak pak Aryo memandang tajam Angga.

"Owh, ya lebih membela pembantu daripada anak sendiri? bagus-bagus." Celetuk Angga bertepuk tangan menahan kesal.

"Angga!" bentak Pak Aryo.

"Sudah-sudah, cukup!" bu Heti kesal menatap Angga.

Angga berlalu kesal menuju ke kamarnya, sedangkan pak Aryo dan bu Heti menuju ke meja makan diikuti Aisyah. Pak Aryo dan bu Heti melanjutkan makan malam tanpa Angga.

"Aisyah, maafin sifat anak bapak ya!" celetuk Pak Aryo.

"Gak apa-apa kok, pak, Aisyah yang harusnya minta maaf," Aisyah tersenyum walaupun hatinya sakit.

"Aisyah, seharian kamu ngurus rumah, kamu boleh ke kamar sekarang, istirahatlah, besok bangun pagi ya, bantu ibu buat sarapan spesial," bu Heti tersenyum kemudian melanjutkan makan malam.

Di kamar, Aisyah membereskan tempat tidur, seketika telponnya berdering.

Drett!!

Aisyah mengambil handphone, tertera nomor tak dikenal, "assalamu'alaikum, dengan siapa?" tanya Aisyah sopan.

"Waalaikumsalam, waduh, masak gak kenal lagi," terdengar tertawa suara laki-laki diseberang telpon.

"Hmm, Bang Hendro," celetuk Aisyah menyeringai.

Saat Aisyah sedangk telponan dengan Hendro, Angga lewat tak sengaja mendengarkan Aisyah yang sedang telponan dengan Hendro.

"Nah, baru ingat dia," celetuk Hendro tertawa.

"Maaf ya bang, baru sempat telpon, soalnya sibuk, namanya baru kerja," Aisyah tersenyum manis, membuat Angga memandang tak berkedip.

"Tidak apa-apa, abang sabar kok," ujar Hendro. Padahal di hatinya sudah gelisah gak ada telpon dari Aisyah.

"Abang mah, bisa aja. Bang, bukan gak mau lama-lama nih, Aisyah dah ngantuk, lanjutkan besok ya," Aisyah hendak menutup telpon.

"Hmm, ya udah deh, sudah dengar suara adek, dah lega," Hendro menggoda Aisyah.

"Abang bisa aja, ya udah, sampai besok bang, assalamu'alaikum." Ucap Aisyah.

"Waalaikumsalam, nona cantik." jawab Hendro.

Aisyah tersenyum mendengar ucapan Hendro, yang baginya tak lebih dari candaan, walaupun sebenarnya Hendro telah jatuh hati padanya.

Saat Aisyah hendak menutup pintu, Aisyah mendapati Angga yang tengah memperhatikannya, Angga menjadi malu, "ada perlu apa bang, ada yang bisa Aisyah bantu?" tanya Aisyah sopan.

"E--ng--gak, enggak ada, apa-apa!" Angga gugup dan langsung berlalu.

Aisyah tersenyum tipis melihat tingkah laku Angga. Sepanjang malam Angga teringat akan senyum manis Aisyah, lemah-lembut Aisyah

"Ah, dia cuma pembantu, gak mungkin aku tertarik padanya, Heni yang pantas bersanding dengan aku," rutuk batin Angga memandang heningnya plafon kamarnya.

Aisyah teringat akan Angga yang memperhatikannya, "abang Angga itu, jahil atau memang jahat sih?" tanya batin Aisyah, sembari menarik selimut akibat malam telah dingin.

Di sisi lain, Hendro sedang menikmati santainya malam yang dingin, lagu dari Anji 'Menunggu mu' menjadi teman malam yang temaram. "Aisyah, aku mencintaimu," batin Hendro tersenyum memandang kelap-kelip bintang.

Pagi yang indah telah menyinsing, bu Heti kesiangan, niat bangun jam 5 pagi, kebangun jam 6 pagi, bergegas bu Heti ke dapur, ternyata ada Aisyah yang tengah menyiapkan sarapan pagi, "lho, Aisyah udah siapin ya, maaf ya ibu kesiangan ini," bu Heti tersenyum sembari membantu Aisyah.

"Ini udah jadi tugas Aisyah dirumah keluarga ibu, masak Aisyah harus repotin ibu," Aisyah tersenyum dan bertutur kata sesopan mungkin.

Tengah asyik berbincang antara Aisyah dan bu Heti, saat Aisyah menoleh, baik Aisyah maupun bu Heti menjerit histeris, melihat wajah seseorang menghitam dan menyeramkan, yang membuat bu Heti pingsan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berselingkuh dengan calon suami adik ipar
9.0
Amel, wanita 24 tahun, menderita lahir batin dalam pernikahan hambar bersama Andre yang kasar. Di tengah keputusasaan tersebut, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan Arman, calon suami Bella yang merupakan adik iparnya sendiri. Arman menjadi penyelamat finansial sekaligus pelarian Amel. Rahasia yang tersimpan rapat bertahun-tahun ini terancam terbongkar saat Andre mendadak ingin berubah demi memperbaiki pernikahan mereka. Amel kini bimbang antara bertahan atau terus berselingkuh.
Sampul Novel Cinta Sejatinya
8.2
Lamaran pernikahan Dimas batal seketika demi menolong Janet yang terluka. Kejadian itu menyadarkan sang protagonis bahwa sosok Janet selalu membayangi hubungan mereka, mulai dari selera makanan hingga gaya berpakaian. Meski Dimas berdalih Janet hanyalah masa lalu dan masa depannya adalah dirinya, luka hati ini sudah terlalu dalam. Menolak terus dibanding-bandingkan, ia akhirnya memilih pergi dan menerima lamaran William Anderson, pria miliarder yang siap menjadikannya satu-satunya cinta sejati.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Penguasa
8.7
Demi melunasi utang judi sang ayah tiri, Aurora Safitri terpaksa menyetujui pernikahan sebagai istri kedua Alvaro Ricolas. Alvaro sendiri merupakan miliarder menawan yang kesepian lantaran istri pertamanya lebih fokus mengejar karier di luar negeri. Di balik kekayaannya, ia sangat mendambakan kehadiran seorang pendamping. Kini, Aurora harus menjalani kehidupan baru di sisi pria berkuasa tersebut. Akankah pernikahan ini menumbuhkan cinta, atau justru membawa kepedihan?
Sampul Novel Married by Accident
8.7
Kehidupan Clara runtuh akibat pelecehan oleh sang dosen, yang justru memfitnah Dev, seorang mahasiswa hukum. Terdesak keadaan, Clara terpaksa menikahi Dev walau ia sudah punya kekasih. Di tengah rumitnya situasi, janji Dev untuk memperjuangkan keadilan lewat jalur hukum perlahan menumbuhkan rasa cinta di hati Clara. Namun, bahtera rumah tangga mereka seketika goyah saat rahasia masa lalu Dev terkuak. Sanggupkah Clara bertahan menghadapi misteri suaminya?
Sampul Novel Miracle (Our Magic shop)
7.9
Kisah ini menyoroti kehidupan seorang manusia biasa yang terjebak dalam kebimbangan mendalam. Di tengah rutinitas harian, ada kehampaan besar yang membayangi akibat minimnya kasih sayang yang ia terima. Ini adalah sebuah perjalanan emosional dalam mencari jati diri dan kehangatan di balik keraguan yang terus menyelimuti hati. Narasi menyentuh tentang jiwa yang rapuh, yang sangat mendambakan perhatian serta ketulusan di tengah dinginnya dunia.
Sampul Novel Seatap Dengan Maduku
8.1
Pernikahan jodoh Laila dan Yoga, sang pengusaha kaya, jauh dari bahagia. Harapan gadis desa ini pupus saat tahu suaminya telah menikah siri dengan Tasya. Luka batin Laila kian dalam ketika Yoga memaksa istri keduanya itu tinggal bersama di rumah mereka. Kini, Laila harus bertahan di bawah satu atap, menghadapi konflik batin yang menguras emosi karena dipaksa berbagi tempat tinggal dan cinta suaminya dengan sang madu.