APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAIN HATI

MAIN HATI

Kisah cinta Lila dan Dev kini terjebak dalam pusaran konflik batin yang semakin rumit. Hubungan mereka dihadapkan pada dilema besar karena keduanya kesulitan menyelaraskan perasaan dengan kenyataan hidup yang harus dihadapi. Di tengah keraguan yang terus menyiksa, mereka dipaksa mencari jawaban atas kelanjutan hubungan ini. Apakah perjuangan cinta mereka akan membuahkan kebahagiaan bersama, atau justru berujung pada perpisahan yang meninggalkan luka mendalam?
Bab
Bagikan

Bab 3

—Devon Woody

Kulirik sekilas wajahnya dari samping. Jujur, dia cantik dan menggairahkan. Masih muda, segar, sangat menawan.

Kejantananku ikut liar sejak tadi, ketika dia duduk di atas pangkuanku. Namun, hebatnya, aku selalu bisa menjaga diriku. Hatiku, cintaku.

“Kita harus pergi dari sini. Hujannya semakin deras.” Aku memberitahunya. Seperti tersadar dari lamunan, tubuhnya yang canggung bergerak menjauhiku dengan cekatan.

“Okay.” Santai. Dingin. Tidak terbaca.

Banyak kelebihan yang tergambar jelas pada diri wanita muda ini. Mungkin dia lebih cocok jadi adik dari salah satu teman-temanku atau bahkan keponakan mereka.

Jelas dari wajahnya pun, dia tampak semuda itu.

Rambut hitam melewati bahu dengan warna mata yang sama pekatnya.

Dia tidak ragu atau canggung saat membantuku berjalan. Padahal, Otis dan Jack ada di sini. Jauh lebih bisa diandalkan.

“Ambil mayat di dekat semak-semak, berikan pada Tyga.” Sambil memberi perintah, aku menangkap keterkejutan di sepasang mata gelapnya itu, walau tidak bisa kubaca ekspresi apa pun di wajahnya.

“Jangan lupa juga untuk mengeluarkan mobil Nona ini dari semak-semak.” Kembali memberi perintah, kurasakan tubuh kami merapat karena wanita ini menghindari genangan air di dekat kakinya.

Kami tiba di pinggir hutan. Tempat Otis memarkir jeep milikku.

Wanita ini melepasku setelah jarak kami dengan mobilku sudah dekat.

Dia berdiri tidak jauh dari mobilku. Tidak mendekat.

“Kau akan menunggu mobilmu di sini?”

Dia mengangguk. Bahkan anggukkannya terlihat pelit. Sangat singkat.

“Tyga kadang suka berkeliaran sampai ke pinggiran hutan, walau tidak keluar dari wilayah ini. Dua anak buahku pasti akan meninggalkanmu sendirian di sini bersama mobilmu. Apa menurutmu, kau akan baik-baik saja?”

Lihatlah. Betapa mempesonanya tatapan sedingin es itu. Seakan memberi jawaban yang pasti bahwa dirinya tidak kenal takut. Tidak peduli apa pun. Meski aku tahu dan bisa merasakan, tubuhnya selalu gemetar di saat bahaya datang.

“Aku akan ikut denganmu kalau begitu. Kau bisa minta mereka mengantarkan mobilku ke tempat di mana aku turun nanti.” Dia berjalan mendekat. Benar-benar tidak terlihat sedang gelisah, padahal jelas sekali dia ketakutan. Wanita muda yang luar biasa.

Tangannya merebut kunci jeep dariku. “Aku pengemudi yang baik.”

“Senang mendengarnya.” Alih-alih mengatakan hal yang bertolak belakang dari keinginan hatiku, kubiarkan dia masuk dan duduk di balik kemudiku.

Padahal, selama jeep itu menjadi milikku, hanya boleh aku atau Jack yang mengemudikannya.

Sekarang, bahkan seorang wanita kubiarkan menjinakkan mobil kesayanganku itu.

Dia memang mahir. Selalu fokus. Tidak banyak bicara.

Tidak mirip dengan seseorang dan aku juga bukan sengaja mengingatnya ketika melihat wanita ini.

Bukan tentang ‘dia mengingatkanku pada seseorang’ bukan, karena memang tidak ada yang mirip di antara mereka berdua. Hanya membandingkan, sedikit.

“Lurus atau belok?”

Aku tidak sadar. Dia mengemudi sudah sejauh itu. Atau sebenarnya aku yang terlalu menikmati isi kepalaku yang dipenuhi oleh wanita ini.

“Lurus saja. Terobos sedikit semak belukar seratus meter di depan.”

Dia menoleh padaku sekilas. Karena sudah bersama sejak beberapa jam lalu, entah kenapa, aku merasa sedikit mengenalnya dengan baik.

“Jangan khawatir. Terobos saja. Jika terasa sesuatu terlindas ban mobil, itu artinya ada ular atau hewan melata lainnya yang lewat. Jangan berhenti. Tetap jalan,” jelasku lagi.

“Okay.”

Sulit jika ingin mendengar suaranya sedikit lebih lama. Bicaranya sedikit, pelit.

“Bisa kutinggal tidur?”

Detik itu juga, di dalam guncangan karena jalanan berbatu, dia melotot padaku. Melotot, tapi tanpa ekspresi. Bagaimana bisa? Hanya sepasang matanya saja yang membulat.

“Jangan macam-macam. Aku mungkin bisa melemparkan mobil ini ke jurang tanpa sengaja. Namun itu artinya bukan salahku, tapi salahmu.”

Ucapannya setajam tatapannya. Wanita ini memang cantik di setiap kesempatan. Apa dia menyadari hal itu? Atau mungkin di usia muda seperti dia ini, akan sangat gila saat berada di atas ranjang? Berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya?

“Temani aku kalau begitu.” Sungguh aku suka saat suaranya memenuhi udara di sekitarku.

Dia melirik lagi. Itu artinya penjelasan.

“Temani aku dengan bicara. Bertanya atau menjawab. Lakukan itu.”

Dia melirikku sekilas. “Kenapa kau mendadak melemparkan dirimu ke depan mobilku?”

Ah, seketika aku menyesal membiarkan sesi tanya jawab ini berlangsung. Dia pasti cerdik. Memilih menanyakan hal itu dibandingkan hal lain. Seperti keinginan untuk bertanya tentang siapa namaku, misalnya.

“Karena hanya mobilmu yang melintas saat aku berada di jalanan itu. Mudah saja jawabannya. Andai kakek tua yang kebetulan lewat, tentu sekarang dia sudah mati karena serangan jantung setelah ikut berpetualang bersamaku.”

Lirikan matanya menandakan kekesalan. “Beruntung sekali kakek itu. Yang muda pun bisa mati karena serangan jantung.”

“Kau benar." Tawaku cuma sekilas. Karena sungguh, ini tidak lucu sama sekali. “Berapa usiamu, Nona?”

Senyum sinisnya membuatku menaikkan alis. Apa itu pertanyaan yang tidak boleh kuajukan?

“Seharusnya, kau menanyakan namaku sebelum umurku.”

Ah, itu benar. Apa nama wanita di sisiku ini tidak terlalu penting untukku?

“Aku ingin lebih dulu tahu berapa umurmu.”

Tidak ada tawa, apalagi senyum malu-malu. Jangan harap. Aku semakin mulai mengenal siapa wanita ini.

“Dua puluh lima tahun.”

Apa? Sungguh, aku tahu dia memang semuda itu, tapi dua puluh lima tahun masih terlalu jauh dari perkiraanku yang lebih tua lima belas tahun darinya.

Kupikir, kami hanya berbeda tujuh atau sembilan tahun.

“Dan kau pasti jauh lebih tua dariku, Paman?” Dia menyeringai. Bahkan sengaja memperlihatkan wajahnya saat senyum setengah mengejek itu tergambar di sana. Penekanan pada kata ‘Paman’ entah kenapa, membuatku kesal.

“Aku bukan Pamanmu. Aku Devon.” Padahal dia tidak bertanya siapa namaku, tapi aku menyebutkan nama asliku dengan mudah di depannya. Tingkahku kekanakan sekali.

“Okay, Dev. Kau senang sekarang?”

Oh, jantungku nyaris lepas dari tempatnya. Dev? Mudah sekali namaku terucap di bibir tipisnya yang andai menciumku, pasti tidak akan kutolak. Walau hatiku hanya untuk seseorang lain, di sana.

Jangan harap dia akan menyebutkan namanya tanpa kuminta. Jadi ketika aku memerintahkan mobilku agar masuk ke halaman rumah singgahku di Oland, kucegat lengannya yang ingin meninggalkanku. Mobil miliknya sudah terlihat di kejauhan.

“Kenapa?” Dia melihatku dan lengannya yang kucengkeram secara bergantian.

“Siapa namamu?”

Dia tertawa. “Sekarang kau penasaran siapa namaku? Karena takut aku akan melaporkanmu?”

“Kau tidak akan melakukan itu.” Ah, dia masih normal ternyata. Kupikir, dia menikmati petualangan kami tanpa berpikir apa pun tentang lapor melaporkan ke pihak berwajib.

“Tapi, silakan lakukan jika kau ingin. Aku tidak akan mencegahmu,” kataku lagi.

“Lalu, kenapa?”

Apanya?

Kuperhatikan dia yang menatap kaku pada tanganku yang belum melepas dirinya.

Ah, wanita ini membuatku kacau! “Aku tanya, siapa namamu? Kenapa malah membahas hal lain?”

“Lila.”

Hanya itu? “Lila?”

“Mm-hm.” Dia mengangguk.

Aku suka namanya. Bahkan menurutku, kami bertemu di saat yang tepat.

“Tuan Dev!”

Aku tidak berbalik meski suara mungil itu memanggil dan bergerak dari arah belakangku. Kecuali, wanita ini. Lila. Ah, ya. Lila yang malah melihat ke arah munculnya suara.

Itu anak kepala pelayan di rumah ini. Yang sejak awal kedatanganku, sangat ingin menempel padaku. Terus-terusan membuatku kesal.

“Tuan, Anda baik-baik saja?” Penuh kecemasan, Aura Morgan mencengkeram lenganku yang masih memegangi Lila. Aura melepaskan peganganku pada Lila, begitu saja. Lancang memang. Tapi aku enggan mendebatnya. Tidak sekarang.

“Aku baik-baik saja.”

“Pipi Anda berdarah.” Dengan sigap, Aura berjinjit. Memiliki selalu saputangan yang siap sedia bersamanya. Dia mengusap darah yang mulai mengering di kulitku itu secara perlahan.

Aku tahu. Aura sengaja mengabaikan keberadaan Lila di belakangnya. Memunggungi Lila yang artinya tidak menganggap wanita itu ada di sana. Di antara kami.

Mungkin, walau sesama wanita, Aura tidak akan tahu dengan cepat, siapa itu Lila. Bagaimana sikap Lila yang tidak pernah peduli pada apa pun. Sehingga rasanya, percuma mengabaikan karena Lila sudah lebih dulu mengabaikan orang lain.

Lila bergerak tanpa permisi terlebih dulu padaku. Dia melangkah menghampiri Jack yang berjalan ke arahnya. Mereka saling bertukar kunci mobil saat sudah berhadapan.

Dari sini, aku melihat tatapan Jack yang bingung. Pandangan itu tertuju untukku.

Cegah dia!

Tidak. Mana mungkin aku berteriak memberi perintah pada Jack tentang hal itu. Tapi, akhirnya. Aku menepis pelan tangan Aura yang masih berada di pipiku, lalu bergerak dengan setengah berlari menuju ke arah mobil SUV Lila yang mesinnya sudah menyala.

Jangan pergi seenaknya. Setidaknya, kau harus pamit padaku dengan benar!

Lagi, aku melompat ke depan mobilnya. Tidak menjatuhkan diri, tapi tegak berdiri.

Lila baru akan pergi. Bahkan ban mobilnya belum bergerak. Kaca jendela terbuka. Dia mengeluarkan kepalanya. Tatapan itu benar-benar membuatku frustrasi.

“Ada apa lagi?”

Wanita ini benar-benar sesuatu. “Turun,” perintahku pelan. Tepat saat ini aku sudah berdiri di depan pintu mobilnya.

Tidak ada helaan napas, keluhan atau wajah mengerut. Dia benar-benar turun dari mobil tanpa ekspresi apa pun yang terlukis di wajahnya.

Wanita ini setenang air di permukaan danau. Hebatnya, dia membuatku panas karena kesal. Aku yakin, bersandiwara itu sulit. Apalagi, bila terlihat sampai sebagus ini.

Kurasa, Lila tidak sedang bermain peran. Seperti inilah dia. Memang begitu adanya.

“Ada apa, Dev?”

Suaranya bagai menendang hancur setengah dari pertahananku. Tidak, Dev! Jangan lemah! Kau pria yang mampu menghabisi nyawa siapa pun setiap hari, tanpa rasa bersalah. Menghadapi wanita yang baru kau kenal bukanlah apa-apa. Tidak mustahil untukmu melakukannya.

“Kau akan pergi?” tanyaku akhirnya. Bertahan dalam nada suaraku yang datar.

“Ya.”

Tatapannya menembusku tanpa ragu-ragu. Andai seorang pria, mungkin akan kuajak dia untuk ikut bergabung bersamaku. Menjadi bawahan setiaku.

“Kau lelah. Minum teh atau makanlah sesuatu sebelum pergi.”

Rupanya, tidak perlu membujuknya secara berlebihan. Karena dia langsung mengangguk. Sesederhana itu.

Apa dia akan tetap tinggal bila aku mengatakan hal-hal sederhana lain padanya?

Kuberi isyarat pada Jack saat raut wajah bawahanku itu bingung menatapku, yang berjalan melewatinya sambil mengekori Lila.

Aura mendelik tidak suka tanpa suara. Dia akhirnya bertingkah genit kembali ke sisiku.

“Aura, siapkan camilan dan teh untuk tamuku. Antarkan ke ruanganku.”

“Ruangan Anda, Tuan?” Kepala mungilnya miring ke kanan.

“Ya, ruanganku.” Memang tidak pernah ada yang kubiarkan masuk ke sana, selain Otis dan Jack. “Seperti biasa. Ketuk pintunya dan tetap berdiri di depan pintu.”

“Tuan Dev—”

“Kebiasaan pelayan lain juga berlaku untukmu, Aura.” Aku tidak suka membuatnya merasa di atas awan. Diperlakukan istimewa, walau ibunya adalah pelayan paling dipercaya oleh keluargaku, tidak akan pernah kulakukan padanya.

Lila berhenti di depan pintu samping yang besar. Seharusnya, itu jadi garasi mobil, tapi aku lebih suka menjadikannya lorong untuk masuk ke ruang kerjaku. Terhubung secara langsung, walau tidak akan mudah begitu saja bagi orang asing kuizinkan masuk.

“Dari mana kau tahu kita akan melewati pintu ini?” Kudorong pintu dengan cepat, membuka dan membiarkannya masuk lebih dulu.

“Hanya perkiraan sementara.”

Aku ingin tertawa mendengar jawabannya. Apa sulit untuk menjawab dengan bahasa yang tidak perlu bertele-tele? Padahal, usianya masih muda. Namun terkadang ucapan yang keluar dari mulutnya, terdengar seperti wanita tua.

Kami tiba di depan pintu kerjaku. Dia tidak bertanya. Malah aku yang penasaran merasa harus bertanya.

“Kau pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?”

Dia menggeleng. Melirikku sekilas. Bicara dengan bibirnya yang tidak terbuka terlalu lebar. “Di rumahku juga banyak terdapat ruang rahasia ayahku. Jadi, kurasa, satu ruang rahasiamu mewakili tentang rasa ingin tahu.”

Sekarang, aku benar-benar tertawa. “Kenapa kau mulai bicara seperti wanita tua, Lila?”

“Terkadang aku begitu.”

Aku ingin coba menyentuh Lila, tapi kuurungkan saat wajah wanita yang seharusnya kusentuh, lewat di depan mataku. Mencegahku untuk bersikap tidak setia. Jangan, Dev! Kau tidak akan bisa berhenti, jika berani memulainya sekarang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Tewas secara tragis membawa Juwita Chou bereinkarnasi menjadi Sallyana Fedelian. Karakter barunya ini adalah putri bangsawan kejam yang ditakdirkan mati di usia muda. Demi bertahan hidup, Juwita harus mengubah nasib buruk tersebut. Ia pun berusaha mengacaukan alur cerita asli sambil menghadapi kecurigaan dari lima tokoh utama pria. Namun perlahan, sebuah rahasia takdir yang kelam mulai terkuak, mengungkap hubungan misterius antara dirinya dan sosok asli Sallyana.
Sampul Novel Cinta yang Tersulut Kembali
8.0
Demi melindungi buah hatinya dari tuntutan hak asuh Raditia, Selina memilih lenyap setelah persalinan tragis yang nyaris merenggut nyawanya. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka lagi. Raditia, yang sempat hancur karena percaya Selina telah meninggal, kini gigih mengejar mantan istrinya yang sudah memulai lembaran baru. Di tengah kekacauan dan luka masa lalu yang diungkit kembali oleh Raditia, Selina dihadapkan pada pilihan sulit: memaafkan atau tetap melangkah pergi.
Sampul Novel Hasrat Terpendam Suamiku
8.6
Pernikahan paksa antara Sophia yang angkuh dan Albert, sang casanova, berjalan dingin dan penuh konflik. Namun, seiring waktu, benih cinta justru tumbuh di hati Sophia. Ia mulai menyadari adanya hasrat terpendam yang membara di balik sikap acuh tak acuh suaminya tersebut. Kini, Sophia bertekad mencari cara agar Albert mau jujur mengakui perasaan aslinya. Mampukah mereka mengatasi kekacauan hubungan ini dan bersatu dalam ikatan cinta yang tulus?
Sampul Novel Penungguan Berakhir Pahit
7.9
Setengah bulan menjelang hari pernikahan yang telah dipersiapkan selama dua tahun, Cecil Wijaya harus menghadapi kenyataan pahit. Bryan Jayadi kembali berniat menunda pernikahan mereka demi Yovita Baskara, adik tirinya yang sedang sakit. Yovita meminta Bryan meninggalkan segalanya untuk menemaninya melihat laut di Malde. Enggan menunggu lebih lama lagi, Cecil mengambil keputusan drastis. Jika Bryan enggan berkomitmen, Cecil siap mengganti posisi mempelai pria tersebut dengan orang lain.
Sampul Novel Suami Muda Nyonya Ines
9.4
Ines, pengusaha sukses berumur 40 tahun, kerap diterpa gosip miring lantaran belum menikah. Sementara itu, Damian yang berusia jauh lebih muda sedang hancur karena keluarganya bangkrut. Pertemuan mereka terjadi saat Ines menolong Damian dari anak buah Max. Demi tujuan masing-masing, keduanya sepakat melakukan pernikahan kontrak. Ines mengira kekayaannya bisa dengan mudah mengendalikan Damian, tetapi ia salah. Lambat laun, rahasia besar Damian terkuak dan mengejutkan Ines.
Sampul Novel Teman Dalam Taqwa
9.0
Kisah inspiratif tentang keteguhan hati seorang wanita yang menghadapi ujian hidup dengan kesabaran dan keikhlasan tanpa batas. Demi menerima takdirnya, ia dengan lapang dada bersedia menjalani kehidupan rumah tangga dalam pernikahan poligami. Pengorbanan tulus serta ketabahan yang ia tunjukkan akhirnya membawa berkah luar biasa. Sebagai balasan atas keteguhan jiwanya, ia berhasil menemukan kebahagiaan sejati yang begitu manis dan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.