APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Mahasiswi Simpanan Dosen Liar

Zeya Scopuso merasa ada yang tidak beres saat bimbingan skripsinya dipindahkan ke kamar pribadi. Ketika dia menanyakan alasan pemilihan tempat yang tidak biasa itu, sang dosen pembimbing, Delson Weather, justru memberi jawaban mengejutkan. Sambil mengusap paha mahasiswinya dengan lembut namun penuh arti, Delson menyatakan siap memberikan bimbingan khusus yang tak pernah terbayangkan oleh Zeya sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langkah Zeya terasa berat pagi itu. Matanya sembab karena kurang tidur, tubuhnya lelah, dan pikirannya penuh dengan rasa bingung atas kejadian semalam. Uang seribu dolar yang kini tersimpan aman dalam dompetnya seharusnya cukup untuk membayar sebagian tunggakan kuliahnya, tapi yang mengganggu adalah... pria itu.

Delson.

"Apa maksudnya semua itu?" gumam Zeya dalam hati saat melangkah melewati gerbang kampus, mengenakan hoodie oversize dan ransel hitam lusuh yang menggantung di punggungnya.

Lorong kampus sudah mulai ramai. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan bersemangat.

"Hei, Zeya!" seru Lianne, teman satu kelasnya yang ceria, menarik lengan Zeya pelan.

Zeya menoleh pelan. "Ada apa?"

"Kamu nggak baca pengumuman di grup? Katanya hari ini kita kedatangan dosen baru," Lianne berkata dengan antusias.

"Dosen baru?" Zeya mengerutkan dahi, acuh tak acuh. "Ya udah, tinggal belajar aja kan."

"Astaga, kamu ini nggak pernah antusias, ya? Dengar-dengar, dosennya itu masih muda, ganteng, katanya lulusan luar negeri dan punya latar belakang pengusaha juga! Cewek-cewek satu kampus udah ribut duluan," celetuk Keysha yang tiba-tiba datang dari belakang sambil menyenggol lengan Zeya.

Zeya hanya mendengus pelan, tak tertarik sedikit pun. Dunia kuliah bukan tempatnya berfantasi soal pria tampan atau kisah romansa kampus. Hidupnya terlalu nyata untuk hal semacam itu.

Bel masuk berbunyi. Mahasiswa berhamburan masuk ke ruang kelas. Zeya duduk di bangku tengah dekat jendela, menatap ke luar, berharap jam kuliah cepat berlalu.

Beberapa menit berlalu, suasana kelas mulai tenang.

Lalu pintu kelas terbuka.

Langkah sepatu kulit terdengar mantap. Semua mata di kelas langsung tertuju ke arah pintu.

Zeya tak menoleh, pikirannya masih melayang pada strategi hidup berikutnya. Namun semua gumaman pelan teman-temannya membuatnya perlahan menoleh.

Saat matanya menangkap sosok pria itu, detak jantungnya langsung kacau.

Tubuhnya menegang.

Nafasnya tercekat.

Di hadapan seluruh kelas berdiri seorang pria muda dengan jas abu gelap elegan, kemeja putih berbalut dasi tipis, rambutnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam namun penuh kendali.

Delson.

Zeya tak salah lihat. Itu *Delson*. Pria dari kamar VIP semalam. Pria yang memberinya uang dan menyuruhnya pulang. Pria yang seharusnya tak mungkin ada di sini... tapi kini berdiri sebagai dosen barunya.

"Selamat pagi," ucap Delson, suaranya tenang dan berwibawa.

"Aku adalah dosen tamu sekaligus pembimbing mata kuliah Manajemen Strategik semester ini. Nama saya Delson Weatherford."

Zeya nyaris kehilangan keseimbangan.

Weatherford?

Itu nama yang ia tahu-nama besar, keluarga konglomerat.

Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Tangan gemetar menggenggam pulpen di atas meja.

Delson melirik sekilas ke seluruh ruangan, namun matanya hanya berhenti sepersekian detik lebih lama saat menyapu ke arah Zeya. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia profesional. Tegas. Dingin.

Zeya menunduk makin dalam. Dalam hati, ia menjerit, *"Apa yang terjadi? Kenapa dia ada di sini?!"*

Sementara itu, seluruh kelas tak menyadari perang batin yang sedang terjadi antara dua insan yang semalam berada dalam satu ruang... dalam dua dunia yang tak seharusnya bersilangan.

Tentu, berikut deskripsi lanjutan sesuai permintaanmu:

Bel begitu nyaring menandakan akhir dari jam kuliah. Tanpa membuang waktu, Zeya segera memasukkan buku catatan dan alat tulis ke dalam totebagnya. Ia bergegas membereskan mejanya, berharap bisa melenggang pergi sebelum pria itu-Delson-mengucapkan satu kata pun.

Namun harapannya pupus.

"Nona Zeya, bisa ke ruangan saya sebentar?"

Langkah Zeya tertahan. Suara Delson terdengar jelas dari depan kelas. Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.

Dengan refleks dan tanpa bisa menolak, Zeya mengangguk pelan. "Baik, Pak," ucapnya cepat.

Begitu Delson keluar dari kelas, seisi kelas langsung heboh dan berkerumun mendekati Zeya.

"Apa ini menyangkut perihal uang kuliahmu?" tanya Lanthe, matanya menatap prihatin.

"Kenapa kau tidak mau menerima uang dariku?" celetuk Tea, terdengar sedikit kesal.

Lianne pun ikut menimpali, "Jangan begitu keras pada dirimu sendiri, Zeya. Kami temanmu, kami ingin membantu. Apa itu sangat sulit bagimu untuk menerima bantuan dari orang yang peduli padamu?!"

Nada suaranya agak tinggi, mencerminkan kekesalan yang tak tertahankan melihat perjuangan Zeya yang terus menghindari bantuan.

Zeya menarik napas pelan, menatap mereka sejenak. Senyumnya tipis, namun lelah. "Aku baik-baik saja. Aku akan pergi menemuinya dulu."

Tanpa menunggu respon mereka, Zeya segera berbalik dan keluar dari kelas. Langkahnya tergesa, tapi hatinya terasa semakin berat. Begitu sampai di depan ruangan Delson, ia berhenti sejenak, berdiri kaku, dan menarik napas panjang.

Tok tok.

"Masuk," terdengar suara dari dalam, tenang dan dalam.

Zeya membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan perlahan ke tengah ruangan. Di hadapannya, Delson duduk di balik meja kerjanya, fokus menatap layar laptop.

Zeya menunduk dalam, sikap yang sama seperti malam itu. Ia tidak sanggup menatap pria itu secara langsung. Kehadiran Delson terlalu mendominasi, mengacaukan semua emosi yang sudah ia tekan sejak semalam.

Delson akhirnya menutup laptopnya dan mengangkat wajah. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Zeya yang tertunduk.

"Ternyata kamu mahasiswi di sini?" suaranya terdengar netral, namun ada nada heran yang samar.

Zeya langsung mengangguk pelan.

Tanpa banyak kata, ia membuka totebagnya dan mengeluarkan selembar amplop berisi uang.

"Maaf, Pak. Ini uang Anda. Saya kembalikan," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, seraya menyodorkan amplop itu ke hadapan Delson.

Delson tak segera mengambilnya. Ia hanya menatap uang itu dalam diam beberapa detik, sebelum akhirnya bersuara, tenang namun dalam.

"Kemarilah."

Zeya sontak mengangkat kepalanya, kaget. Matanya melebar, terpaku pada Delson yang kini menatapnya langsung.

Jantungnya berdegup kencang.

Tatapan Delson tak berubah. "Aku bilang, kemarilah."

Zeya melangkah maju, perlahan, penuh keraguan dan ketegangan, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka-antara seorang mahasiswi yang bekerja keras demi bertahan... dan seorang pria yang mungkin menyimpan lebih dari sekadar rasa ingin tahu.

Perlahan Zeya mendekat. Delson, merasa Zeya terlalu ragu, menarik tangannya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Mata Zeya membulat, terkejut. Ia mencoba bangkit, namun Delson menahan pinggangnya, tangan kekarnya mendarat di pahanya. "Kurasa kau punya hutang padaku?" bisiknya.

Zeya mengerutkan kening. Tangan Delson merayap naik. "Bagaimana jika kuberi tahu dekan dan kaprodi bahwa kau bekerja di klub? Dan kita pernah satu kamar?" ancam Delson, membuat Zeya semakin cemas.

"Tapi kita tidak melakukan apa pun! Saya tidak menggoda Bapak! Bapak yang memanggil saya, dan saya hanya melakukan pekerjaan saya!" bela Zeya.

Delson tersenyum tipis, menikmati suara Zeya yang menurutnya merdu. Ia senang Zeya membantahnya, memberi kesempatan Delson untuk lebih dekat dengannya.

"Apa yang Bapak inginkan?" tanya Zeya, lugas. Delson tersenyum puas Zeya mengerti. Tangannya terus merayap naik. Zeya menahannya. "Tolong jaga sikap Bapak! Kita sedang di kampus!"

Delson kembali tersenyum. "Lalu, jika kita pulang ke mansionku, apa kau akan melakukannya?"

Zeya menyipitkan mata. Delson tersenyum penuh kemenangan. Tangannya masuk ke dalam rok span abu Zeya, mengusap lembut paha dalamnya, tatapan nakal tertuju pada bibir Zeya. "Bagaimana jika nanti malam kau datang ke mansionku? Sebagai ganti kemarin malam?"

Zeya menelan ludah, bulu kuduknya merinding. "Pak... ah..." Ia mendesah tanpa sadar saat Delson meremas pahanya.

Delson tersenyum menggoda, berbisik, "Kecilkan desahanmu, sayang. Kau akan membuat gempar satu kampus!"

Zeya berusaha melepaskan tangan Delson, namun ia enggan melepaskannya.

Delson akhirnya menyentuh permukaan halus yang sudah mulai bergetar, panas dan lembap.

Usapan lembutnya membuat Zeya menahan desahan, ekspresinya berubah menjadi sangat sensual, mengundang.

Sentuhannya semakin berani, ritmenya berubah dari usapan pelan menjadi gerakan yang lebih cepat, lebih dalam.

Zeya membuka mulut sedikit, kepalanya terangkat, menikmati gelombang panas yang membanjiri tubuhnya.

Delson membelai lehernya dengan penuh kuasa, sementara tangannya yang lain masih berpetualang di bawah, membangkitkan gairah yang membara.

Zeya meremas rambut Delson, sebuah desahan lirih lolos dari bibirnya saat merasakan gigitan lembut namun tajam di lehernya. Sensasi geli bercampur sedikit sakit itu menggelitik, membangkitkan gairah yang tak terduga.

Delson, menangkap kesempatan itu, langsung mengulum bibir atas Zeya, melumat lidahnya dengan gerakan lembut namun intens. Lidahnya bergulat dengan lidah Zeya, sebuah dansa sensual yang penuh gairah dan kelembutan.

Di bawah sana, tangan Delson tak berhenti bekerja. Dengan cekatan, ia menyelusup di balik celana dalam Zeya, menyentuh milik Zeya yang sudah basah dan hangat karena sentuhannya.

Sentuhannya yang terampil membangkitkan gelombang demi gelombang kenikmatan.

"Pak... ahhhh... tolong berhenti... enghhh... hmppp... pak... ahhhh..." Desahan lirih Zeya memenuhi ruangan, seraya ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Delson, berusaha meredam gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat.

Kocokan jemari Delson di bawah sana begitu hebat, membangkitkan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Tubuhnya bergetar, menanggapi sentuhan Delson yang semakin berani dan penuh gairah.

Ia merasa tenggelam dalam samudra kenikmatan, tak mampu lagi melawan arus yang begitu kuat. Setiap sentuhan, setiap gerakan, membakar tubuhnya dengan api yang membara.

Ia merasa seluruh tubuhnya meleleh, menjadi satu dengan Delson dalam pusaran gairah yang membuncah. Dunia di sekitarnya lenyap, hanya ada Delson dan sentuhannya yang begitu membius.

Zeya tiba-tiba mendorong pundak Delson, menghentikan gerakannya. Ia merapatkan kakinya, sebuah isyarat jelas untuk mengakhiri. Mata mereka bertemu, napas keduanya memburu. Namun, kilatan di mata Delson menunjukkan keinginan yang belum terpuaskan; ia tak ingin berhenti di sini.

Dengan cepat, Zeiya beranjak dari pangkuan Delson, membenahi pakaiannya. "Sebelum hal yang kurang pantas terjadi, kita akhiri saja semua yang kemarin. Saya kembalikan uang Bapak, dan saya mohon jangan beri tahu siapa pun. Saya pamit dulu, permisi," ucapnya, lalu bergegas keluar.

Delson mengumpat, menggebrak meja dengan kesal. Kekecewaan membuncah; ia hampir mendapatkan kesenangan yang diinginkannya, dan untuk pertama kalinya, ia ditolak seorang wanita. "Berakhir di sini? Jangan mimpi! Aku pasti akan mendapatkanmu," gumamnya, tekad membara dalam matanya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Hubungan kami hancur saat Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori. Walau Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami membalikkan keadaan. Jake panik, menyalahkanku, dan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Ketika ia melepas tanganku demi mengejar perempuan itu, aku sadar kisah kami telah berakhir. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di pesta pernikahan yang kini terasa hampa ini.
Sampul Novel Drive Back To December
8.4
Tiga tahun bercerai, Gayatri Rumi Rahardjo tak menduga akan menikah lagi dengan William Alansyah. Demi rasa hormat pada mantan ibu mertuanya, ia bersedia membangun kembali rumah tangga bersama mantan suaminya tersebut. Namun, pernikahan kedua mereka langsung diuji oleh tuntutan memiliki anak. Di tengah situasi sulit ini, Gayatri mulai mengendus sebuah rahasia besar yang ditutupi oleh William. Akankah kebenaran pahit itu mendorong mereka ke jurang perceraian untuk kedua kalinya?
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Demi meloloskan diri dari kejaran sosok misterius, Dihan terpaksa bersembunyi. Di waktu yang sama, keluarga Rahadian tengah pusing mencari guru privat untuk mendidik dua putri mereka yang terkenal sangat nakal dan enggan belajar. Dihan akhirnya mengambil kesempatan itu walau harus menghadapi tantangan berat. Sanggupkah ia mengatasi kebandelan dua nona muda tersebut? Sementara itu, di balik kekacauan ini, misteri masa lalu Dihan perlahan mulai membayangi langkahnya kembali.
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Kehidupan rumah tangga Cantika Putri dan Ardi Permana berjalan sangat harmonis. Pernikahan mereka dipenuhi kasih sayang tulus, dengan Ardi yang begitu memuja kecantikan serta kesempurnaan fisik istrinya. Di sisi lain, kisah ini juga menyoroti kehidupan seorang miliarder sukses bernama Reza Dirgantara. Sang pengusaha kaya raya tersebut diketahui sedang menjalin kasih dengan Luna Amara, sosok gadis desa yang berparas menawan namun tetap hidup dalam kesederhanaan.
Sampul Novel KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO
8.4
Lamaran Aditya ditolak mentah-mentah oleh Yuni karena hanya sanggup memberi hantaran lima puluh juta. Tak hanya dihina, Belinda sang kekasih pun ikut merendahkannya. Dalam kemarahan, Aditya justru melamar Dahlia, asisten rumah tangga Belinda, dengan cincin berlian mewah. Tak ada yang tahu bahwa staf administrasi biasa ini sebenarnya adalah putra mahkota pemilik perusahaan. Saat identitas aslinya sebagai CEO terungkap, mampukah Aditya dan Dahlia merajut cinta tulus dari awal yang penuh emosi ini?
Sampul Novel Om Kos
8.7
Kehidupan Mariska di Surabaya runtuh setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dan kehilangan tempat tinggal. Di masa sulit ini, ia pindah ke kos milik Ares, pemuda rupawan yang secara mengejutkan melamarnya. Namun, kehadiran Ares justru memicu ingatan kelam tentang tragedi masa lalu keluarga Mariska. Di tengah keunikan para penghuni kos lain, Mariska berjuang bertahan hidup, sementara Ares perlahan menyadari bahwa perempuan itu adalah cinta masa kecilnya yang sempat hilang.