
Mahasiswi dan Jebakan Klub Mewah
Bab 2
Ya, apa aku harus kembali ke negaraku jika tidak bisa menghasilkan cukup uang untuk membayar biaya kuliahku?
Begitu pikiran mengerikan itu muncul, pikiran itu terus menghantui benakku. Aku menggelengkan kepala dengan ketakutan, mencoba mengusir bayangan suram tersebut.
Saat itu, Winda mengomporiku, menunjukkan layar percakapan WhatsApp-nya kepadaku.
Ada seseorang bernama Kak Lody yang mengirimkan stiker "menarik," diikuti dua transfer sebesar 100 juta masing-masing, dengan pesan "untuk Adik beli tas."
"Lihat, cuma difoto beberapa kali, kalau bos suka, langsung transfer 100 juta. Uang sebanyak itu nggak akan kamu dapatkan meski cuci piring selama setahun."
"Aku sudah bilang kerjaan ini banyak duitnya. Aku juga melakukannya. Apa aku bakal mencelakakan kamu? Banyak orang lain yang berebutan ingin masuk, tapi aku nggak kenalin mereka. Kamu itu spesial, soalnya kamu teman serumahku."
Kata-kata ini seperti suntikan keberanian bagiku.
Winda benar, tidak ada orang yang mengumbar hal-hal seperti ini. Semua diam-diam cari untung besar.
Dia dengan baik hati memperkenalkannya padaku. Bagaimana mungkin aku membuatnya kecewa?
Selain itu ... melihat uang 200 juta itu, aku tak bisa menahan diri menelan ludah.
Sudah lama aku tidak makan kenyang.
Bos Winda, di sisi lain, bisa dengan santai mentransfer 200 juta untuk adik yang bahkan tidak dikenalnya. Dia benar-benar kaya.
"Winda, bisa nggak kamu bawa aku ke sana? Aku juga mau jadi kaya."
Tanpa menunggu, Winda langsung mengajakku ke tempat yang dia sebut sebagai tempat kerja.
Tempat itu adalah sebuah klub mewah yang cukup jauh dari kawasan kumuh. Katanya, klub ini khusus untuk mahasiswa internasional kaya dari negara asal. Semua pekerja di sini berbicara dalam bahasa ibu kami.
Aku melihat dekorasi interiornya dan tak bisa menahan diri berdecak kagum. Segalanya terlihat sangat mahal.
Winda, yang sudah terbiasa, sama sekali tidak tampak kaget seperti aku. Dia dengan santai menarikku melewati bagian depan dan langsung menuju area staf.
Bagian dalamnya bahkan lebih mencengangkan, lebih mewah daripada dekorasi luar, mengingatkanku pada adegan pesta liar di novel.
Ada seorang pria bertubuh kekar berenang di kolam renang dalam ruangan, hanya mengenakan celana renang. Tubuhnya bergerak naik turun seiring gerakannya.
Otot dadanya penuh, dan otot lengannya terlihat kuat.
Begitu Winda melihatnya, dia langsung tersenyum lebar. Ketika pria itu keluar dari kolam, Winda tanpa ragu mendekat, menempelkan dirinya meski tubuh pria itu masih basah. Dadanya bergesekan dengan lengan pria tersebut.
Pakaian Winda yang ketat langsung menonjolkan lekuk tubuhnya saat basah, membuat suasana makin memanas.
Pria itu tersenyum, lalu dengan santai menggesek-gesekkan lengannya ke dada Winda beberapa kali, membuat Winda hampir terjatuh ke pelukannya.
Mata Winda penuh godaan, dan dia berkata dengan nada lembut dan manja,
"Setelah berenang lama, bagaimana kalau malam ini kita lakukan sesuatu yang lain?"
Pria itu tidak menjawab, hanya tersenyum. Tangan yang memeluk pinggang Winda mulai turun, meremas bokongnya.
Winda memberinya isyarat, menunjuk ke arahku yang berdiri tak jauh.
Melihat interaksi mereka, aku ingin menunduk mencari lubang untuk bersembunyi. Kukira pria itu akan berhenti, dan aku agak lega. Kakiku yang tegang mulai santai kembali.
Namun, dia hanya mengangguk ke arahku dan berkata, "Foto adik ini kalah jauh dari aslinya. Melihat langsung lebih terasa."
Lalu, dia melanjutkan, bahkan lebih berani dari sebelumnya, tanpa ragu memegang sana-sini.
Satu tangannya masuk ke bawah rok Winda, sedangkan tangan lainnya menarik turun baju Winda hingga bagian dadanya terbuka.
Winda mengeluarkan suara manja, suara yang belum pernah kudengar, lembut dan penuh godaan.
Pria itu kemudian mengangkat Winda dan meletakkannya di kursi pantai terdekat, membuatnya berlutut membelakangi dirinya.
Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana. Bahkan napasku tak sengaja menjadi lebih pelan.
Pria itu melihatku dan berkata, "Pergi cari manajer, minta dia ajarkan aturan tempat ini. Hafalkan semuanya sebelum besok malam, lalu datang temui aku."
Winda tiba-tiba menoleh, bertanya dengan nada bingung, "Kak Lody, teman serumahku ini punya tubuh bagus. Bukannya sayang banget kalau hanya dijadikan pelayan? Kenapa dia nggak langsung kerja yang itu saja?"
Ternyata pria itu adalah Kak Lody, orang yang mengirim 200 juta untuk beli tas.
Kak Lody menepuk bokong Winda dengan keras, membuatnya bergetar. Winda mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.
"Jadi pelayan dulu. Kalau dia ingin uang besar, baru kita bicarakan."
Winda memberiku isyarat, "Dia bilang mau pekerjaan paling menghasilkan itu, aku sudah ceritakan semuanya padanya."
Di perjalanan, Winda sudah menjelaskan bahwa pekerjaan terendah adalah pelayan dengan gaji sekitar 20 juta, sedangkan yang tertinggi adalah model dengan pendapatan 200 juta lebih, belum termasuk tip besar dari tamu.
Aku langsung mengangguk, "Ya, aku ingin jadi model!"
Winda tampak lega dan memandang Kak Lody, "Dia pasti bisa. Bagaimana kalau malam ini Kak Lody coba dulu dia ...."
Kak Lody tidak menjawab, tangannya malah bergerak cepat di bawah rok Winda.
Ucapan Winda berubah menjadi terputus-putus, dengan suara lembut dan manja yang keluar tanpa dia sadari.
Beberapa saat kemudian, diiringi suara Winda yang melenguh antara sakit dan nikmat, Kak Lody berhenti bergerak, lalu memandangku lagi.
"Kamu pergi belajar aturan dari manajer dulu. Besok malam langsung datang."
Setelah itu, dia mulai melepas celana renangnya.
Aku langsung tahu apa yang mereka lakukan tadi. Wajahku memerah, dan aku segera menunduk, berbalik keluar.
Setelah pulang, aku terus memikirkan aturan yang diajarkan manajer dan apa yang kulihat di kolam tadi. Untuk waktu yang lama, aku tidak bisa tidur.
Hingga pagi hampir tiba, aku baru merasa mengantuk, tetapi aku sadar Winda belum pulang. Dia masih di tempat Kak Lody.
Gambaran yang tadi sulit kuhapus dari benakku mulai muncul lagi.
Kak Lody yang kekar memeluk pinggang Winda, jarinya yang panjang masuk dan keluar, dan sesuatu yang menonjol di balik celana renangnya ....
Winda terlihat kesakitan, tetapi juga seperti sangat menikmati.
Tanpa sadar, aku merapatkan kedua kakiku, merasa tidak tenang ....
Anda Mungkin Juga Suka

![Sampul Novel ANGKASA [Perjodohan]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/4a690b485001834806831278379/NXKVW2hACykA.webp!15491.webp)



