
Mahasiswi dan Jebakan Klub Mewah
Bab 3
Kalau Kak Lody setuju untuk mencoba dulu ... apa malam ini aku bisa merasakan apa yang dirasakan Winda?
Bukan hanya bisa menghasilkan uang dengan mudah, tetapi juga menikmati sensasi seperti itu .... Tidak bisa kubayangkan betapa menyenangkannya.
Sampai pagi tiba, aku masih terjebak dalam lamunan, baru bisa tertidur dengan pikiran kacau.
Saat bangun, hari sudah sore. Untuk pertama kalinya, aku berdandan dengan serius, melihat ke cermin kiri-kanan dan merasa cukup puas. Dengan penuh semangat, aku pergi ke klub.
Dari kawasan kumuh naik kereta bawah tanah ke daerah kaya, perjalanan memakan waktu lebih dari dua jam. Saat tiba, langit sudah gelap, dan banyak mobil sport yang namanya tak kuketahui diparkir di luar klub.
Aku berdecak kagum, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke tempat yang bisa mengubah takdirku ini.
Kali ini, karena sudah lebih familiar, aku langsung menuju area dalam. Masih di kolam renang yang sama, Kak Lody dan Winda duduk di pinggir kolam dengan pakaian renang minim.
Setelah memikirkannya semalaman, aku langsung bisa melihat perubahan pada Winda.
Setelah semalaman bersama Kak Lody, wajahnya justru terlihat lebih cerah. Bahkan setiap senyum dan ekspresinya terasa menggoda. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kebahagiaan.
Aku menatapnya tanpa berkedip, tetapi Winda tetap tenang dan santai.
"Kak Lody hebat banget di bidang itu. Sayang kamu nggak tinggal semalam, kalau nggak kamu juga bisa mencobanya ...."
Kak Lody meremas dada Winda dengan tangannya yang besar, tersenyum tipis.
"Nggak usah buru-buru, malam ini dia sudah bisa menemani tamu."
Winda tiba-tiba teringat sesuatu dan mengingatkan Kak Lody, "Mirna ini masih pertama kali, lho. Apa nggak dicoba dulu?"
Mendengar itu, Kak Lody tampak lebih tertarik. Dia menatapku dengan serius untuk beberapa saat sebelum berkata, "Tubuh sebagus ini ternyata masih perawan? Jangan-jangan kamu lagi bercanda sama aku?"
Meskipun dia berbicara dengan Winda, matanya terus tertuju padaku, jelas menunggu jawabanku.
Aku segera mengangguk, "Sebelumnya aku sibuk belajar, jadi nggak pernah punya pacar."
Kak Lody melambaikan tangan, dan sebelum aku sempat bereaksi, Winda dengan bersemangat menghampiriku, menarikku ke kamar mandi.
Dia langsung melepas pakaianku. Dengan pengalaman sebelumnya, aku hanya agak canggung, tetapi tidak menolak.
"Mandi yang bersih, lalu cukur bulu di bawah sana. Kak Lody mau menjual keperawananmu dengan harga bagus!"
"Dengan kondisi tubuhmu seperti ini, selama kamu memuaskan tamu malam ini, pekerjaan ini bisa dianggap sukses!"
Aku tertegun. Meskipun aku tahu keperawananku akan diberikan kepada tamu, aku tidak menyangka itu terjadi secepat ini. Apakah malam ini benar-benar akan terjadi ....
"Melakukannya dengan pria asing … apa akan terasa nggak nyaman? Kudengar pertama kali itu sakit."
Winda tertawa, mencubit dadaku, "Bagaimana? Tangan orang lain terasa beda dengan tanganmu sendiri, 'kan? Pria itu lebih memuaskan!"
Dia memang berpengalaman. Aku menjadi lemas karena tindakannya, bahkan suaraku berubah menjadi tidak wajar.
"Aku mengerti ...."
Dengan perasaan tegang sekaligus penuh antisipasi, aku selesai mandi dan mengenakan gaun mini motif macan tutul yang sangat terbuka.
Aku ditempatkan di sebuah ruangan mewah, duduk dengan kaki terlipat, menunggu apa yang akan terjadi.
Namun, bukan Kak Lody yang datang, melainkan lima atau enam pria bertubuh besar. Mereka baru saja keluar dari kolam renang, hanya mengenakan celana renang basah yang menonjol di bawahnya.
"Wah, barang kali ini luar biasa!"
Mereka mengelilingiku. Aku yang ketakutan bertanya pada Winda.
"Yang mana tamu yang harus aku temani?"
Pria-pria itu tertawa, begitu juga Winda. Mereka semua menatapku dengan ekspresi aneh.
Aku mulai panik. Suasana menjadi tegang.
Winda akhirnya berbicara, "Mereka semua tamu yang harus kamu temani. Pertama kali memang lebih seru kalau banyak orang. Nikmati saja!"
Setelah itu, dia merobek pakaianku dan mendorongku ke pelukan para pria itu, sementara dia sendiri duduk di sofa dengan penuh semangat menonton.
Mereka makin mendekat. Aku yang ketakutan mencoba berdiri, tetapi tidak bisa. Aku bergerak mundur.
"Jangan .... Aku nggak mau .... Jangan mendekat!"
"Aku nggak mau uang ini .... Aku benar-benar nggak mau ...."
Namun, permohonanku seperti tetesan air di lautan. Mereka hanya tertawa penuh nafsu, sama sekali tidak peduli pada penolakanku.
Aku memohon bantuan kepada Winda, tetapi dia mengabaikan tatapanku dan malah menyuruh pria-pria itu untuk segera melakukannya.
"Dia nggak bisa berdiri! Pegang kakinya, jangan sampai dia lari!"
Pria-pria itu menjadi makin bersemangat. Dua dari mereka mendekat untuk memegang kakiku, sementara yang lain mencoba menahan lenganku agar aku tidak bisa bergerak.
Anda Mungkin Juga Suka

![Sampul Novel ANGKASA [Perjodohan]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/4a690b485001834806831278379/NXKVW2hACykA.webp!15491.webp)



