APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Menghindari paksaan nikah, Deo Morte Picasso, bos mafia Italia yang antipati pada wanita, bersembunyi di desa. Di sana, ia malah terjerat cinta satu malam dengan gadis setempat. Namun, kematian mendadak orang tuanya memaksa Deo pergi, meninggalkan gadis itu yang tengah mengandung anaknya. Dua tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, Deo kini telah memiliki keluarga baru, menggoreskan luka mendalam bagi sang ibu tunggal yang berjuang sendirian.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.

Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.

Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.

"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.

Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.

Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.

Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.

Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.

Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.

"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di  ruang tamu.

"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.

"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.

"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.

Tentu tentang kontes perjodohan.

Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Pluk

Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.

"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.

Deo menghembuskan napas beratnya.

"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.

"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.

"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.

"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.

"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.

"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.

"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.

Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.

"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.

Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.

"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.

"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.

"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.

Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.

"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.

"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.

Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.

"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.

Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.

"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.

Deo menatap papanya tersebut.

"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.

"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.

"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.

Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.

Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.

Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.

Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.

Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.

"Ya tuan,"

"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.

"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.

Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.

Hei semua

Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?

Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.

Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.

Jika berkenan silahkan mampir.



Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.

Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.

Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.

"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.

Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.

Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.

Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.

Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.

Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.

"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di  ruang tamu.

"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.

"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.

"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.

Tentu tentang kontes perjodohan.

Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Pluk

Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.

"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.

Deo menghembuskan napas beratnya.

"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.

"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.

"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.

"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.

"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.

"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.

"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.

Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.

"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.

Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.

"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.

"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.

"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.

Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.

"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.

"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.

Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.

"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.

Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.

"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.

Deo menatap papanya tersebut.

"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.

"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.

"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.

Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.

Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.

Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.

Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.

Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.

"Ya tuan,"

"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.

"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.

Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.

Hei semua

Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?

Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.

Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.

Jika berkenan silahkan mampir.

IG: Sherlynursafitri

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buku Harian TKW
8.6
Impian pernikahan indah Rendra Pradhana dan Maya Septa dibayangi masa lalu kelam. Tragedi kematian Lastri yang melibatkan ayah Rendra memicu kebencian mendalam dari keluarga Maya. Walau berhasil bersatu, badai ekonomi dan konflik tiada henti menguji kesetiaan mereka, hingga memaksa Maya mengadu nasib sebagai TKW di Malaysia. Apakah kutukan leluhur Mbah Karso yang menentang hubungan mereka benar-benar nyata? Mampukah kekuatan cinta mereka bertahan melawan takdir yang begitu kejam?
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Tugas negara adalah prioritas Letnan Imam, tetapi pengkhianatan Serda Resti merusak janji suci mereka. Walau Resti kini milik pria lain, bayangnya belum hilang. Usai kecelakaan, Imam menemukan cinta baru dalam diri Dokter Utami. Namun, misi di Lampung mempertemukannya dengan Lita, siswi yang sangat mirip dengan Resti. Saat kesetiaan Imam diuji, Utami memilih mundur, sementara Lita sendiri sudah punya kekasih. Siapa yang akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Love and Virus
8.1
Dunia terancam oleh kehancuran akibat Summer Erithropenia Syndrome, virus mematikan yang mengubah manusia menjadi seperti zombie. Di tengah situasi genting ini, Wizard berhasil menciptakan obat penawar, namun proses produksi massalnya menghadapi rintangan berat. Bersama Alvaro dan Emma, mereka berjuang menyelesaikan misi penyelamatan bumi ini. Sayangnya, konflik asmara segitiga yang rumit justru menguji profesionalisme ketiganya di sela pertarungan melawan wabah berbahaya tersebut.
Sampul Novel Monster Heart
8.9
Demi membalas dendam, jurnalis ambisius Alianna Monru memutuskan pulang. Namun, jalannya dihalangi sosok misterius yang ternyata pembunuh berantai pemilik kunci masa lalunya. Damian, sang pembunuh, mengenali Alianna sebagai gadis yang ia puja sejak sekolah. Ia sangat terpukul melihat pujaan hatinya kini berubah menjadi sosok yang penuh kebencian. Damian pun didera rasa bersalah yang mendalam, karena dialah dalang kehancuran hidup Alianna yang memicu dendam membara tersebut.
Sampul Novel My Sunshine
9.5
Catherine dan Figo dikejutkan oleh wasiat perjodohan masa kecil dari mendiang orang tua mereka. Padahal, Figo telah menikah rahasia dengan Hakaci yang tengah mengandung. Sementara itu, Catherine juga sudah bertunangan diam-diam dengan Prima sebagai kado ulang tahun sang ibu. Kini, demi menjaga keutuhan cinta sejati dan pasangan masing-masing, kedua sepupu ini harus bersatu dan berjuang keras untuk menolak kesepakatan masa lalu tersebut.
Sampul Novel WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU
8.1
Pengkhianatan memisahkan Suti dan Jodi Bimantara. Kini, Jodi memimpin Cartwright Corporation dengan dingin dan memaksa Suti menikahinya demi menuntaskan dendam masa lalu. Di tengah tekanan itu, kutukan siluman ular di tubuh Suti terancam bangkit kembali. Sementara itu, Peter Jansen menyamar sebagai Clark untuk menghancurkan klan Van Den Berg, yang kini mengancam keselamatan Laura. Hubungan mereka pun terjebak dalam pusaran benci dan takdir mistis.