APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina

Maaf, Kami Pernah Berzina

Demi tanggung jawab persaudaraan, aku terpaksa menikahi Niken yang sedang mengandung anak dari Nara, adik angkatku. Nara sendiri telah terjebak dalam pernikahan paksa bersama Nada. Situasi menjadi pelik saat muncul tuntutan gila agar aku menodai Nada demi memberinya keturunan. Hal ini terjadi karena Nara bersumpah enggan menyentuh istrinya demi menjaga kesetiaan pada Niken. Kini, aku terjebak dilema moral: haruskah aku merusak kehormatan Nada yang sebenarnya wanita baik-baik?
Bab
Bagikan

Bab 2

MASIH seperti sebelum-sebelumnya, adikku mengusir istrinya—mungkin, lebih cocoknya adalah kehadiran istriku di kamar adikku telah menggusur istrinya—dan meminta istrinya untuk satu kamar denganku karena rumah kami hanya memiliki tiga kamar, harus melalui sebuah pintu penghubung supaya tidak ketahuan orangtua.

Aku masih mengingat dengan jelas. Pada kali pertama, adik iparku sangat ketakutan ketika dihempaskan ke kamarku, sampai memutuskan untuk tidur di balkon daripada harus satu ruangan denganku. Meski aku sudah menjamin kalau aku tidak akan berbuat macam-macam, adik iparku terus bersikeras menolak. Alasannya?

Dia pernah mengatakan, "Kak, kalau kita sampai hanya berduaan dengan lawan jenis, maka sosok ketiganya adalah setan. Mereka bisa membisikkan kejahatan kepada kita sehingga berpeluang besar terjadi zina."

Jawabanku dulu bisa dibilang cukup simpel, "Tapi, aku tidak pernah tertarik kepadamu, terlebih kau selalu mengenakan pakaian tertutup, bahkan sehelai rambutmu pun ... aku tidak bisa melihatnya."

Entah mengapa, aku semakin tengiang-ngiang dengan momen dahulu sehingga percakapan kami seperti sedang diputar ulang untuk mengingatkan diriku, betapa uniknya sosok adik iparku.

"Kak Nolan tidak pernah kelaparan?"

"Pernah."

"Jika di bumi sudah tidak ada apa pun selain rumput ... masih yakinkah kalau manusia tidak akan menyantapnya?"

Maksud adik iparku adalah kalau di dunia hanya tersisa dirinya sebagai sebagai satu-satunya wanita, apakah aku masih bisa untuk tidak menyentuhnya?

"Ha?"

"Tapi, aku tidak akan sampai begitu ... aku mampu mengendalikan nafsuku dengan baik."

"Semoga."

Alhasil, karena tidak mau turut mempersulit adik iparku, aku selalu menggeser lemari di kamarku untuk dijadikan sebagai dinding pembatas kami, menciptakan ruangan tersendiri, merelakan kasur besarku untuk ditiduri adik iparku sementara setiap malam diriku hanya akan beralaskan sebuah kasur lantai dengan bahan tidak terlalu tebal dan tidak lembut sama sekali. Intinya, aku mengalah darinya.

Mungkin, secara tidak langsung kami sama-sama sedang rebahan dalam posisi saling membelakangi. Uniknya, andaikan tidak terdapat lemari di antara kami, maka seperti tengah menggambarkan suatu pasangan suami dan istri setiap sedang dihadapkan dengan keributan besar. "Apakah kau membenci suamimu?"

Ingin sekali tanganku tergerak untuk menampar mulutku, bisa-bisanya malah mempertanyakannya, bagaimana kalau adikku sampai mendengarnya? Ah, tidak, sepertinya adikku sudah berada di alam mimpi. Tiba-tiba, kedua telingaku menangkap suara feminin bernada rendah. "Haruskah?"

Ada kepedihan dalam suara adik iparku. Dia terkesan tidak pernah menginginkan hidupnya untuk berjalan demikian. Tapi, apakah ada pilihan lain? "Kenapa kau mau menikah dengan adikku?" tanyaku kemudian.

"Masih bisakah aku menolak?"

Dua sisi dalam satu irama. Di posisi serba salah. Aku tahu. Dia hanya mau berbakti kepada orangtuanya, tidak mengharapkan orang-orang tercintanya dibelenggu kekecewaan, terlebih ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung, teramat susah untuk bisa menolak perjodohan. "Kak Nolan sudah pernah mendengar kisah Asiyah binti Muzahim?"

Kuakui, tawaku nyaris meledak. Akan tetapi, aku mencoba menahannya dengan mulut dibiarkan setengah terbuka, tidak suka berbuat keributan, terutama di malam-malam sunyi. "Bagaimana bisa? Bahkan, aku baru mendengar namanya barusan," tanggapku.

"Kak, kalau mereka tidak dipertemukan, mungkin manusia tidak akan bisa memetik sebuah pelajaran berharga," ucap adik iparku, dari suaranya sungguh menunjukkan kalau pemiliknya sedang tersenyum tipis. Apakah karenaku?

"Aku yakin, Kak. Dibalik pertemuanku dengan suamiku, tentu ... ada hikmahnya," lanjut adik iparku, entah bodoh atau terlalu baik, "dan bukankah seharusnya aku bersyukur karena cobaanku masih tidak ada apa-apanya?"

Lama sekali aku terdiam, sekitar lima menitan. Meski tidak terluka secara fisik, secara batin adik iparku harusnya sangat menderita gara-gara sikap tidak acuh adikku, tidak pernah dihargai sebagai sebenar-benarnya istri. Aku sangat heran, kenapa adikku malah menyianyiakan wanita nyaris sempurna seperti istrinya?

"Nad."

"Apakah kau masih sanggup untuk bertahan dengan kelakuan buruk suamimu?"

Tidak ada jawaban. Wajar, mungkin karena aku terlalu menyita waktu dalam menciptakan jeda, hingga malam mendadak berubah membosankan dan tanpa sadar adik iparku lantas tertidur dengan sendirinya, tidak menunggu aba-aba dan memberikan tanda. Dalam keheningan, seulas senyum tahu-tahu sudah mekar di wajahku setelah terbayang kecantikan adik iparku hingga menumbuhkan perasaan kagum di dalam diriku.

Terus terang, rasa penasaran selalu menghampiriku, kenapa adik iparku tidak pernah melepaskan kerudungnya di hadapanku? Bukankah sekarang mereka berdua sudah menjadi keluarga? Tiap hari, batinku tidak bersedia berhenti untuk bertanya-tanya, adakah rahasia besar dan teramat menakjubkan di balik kerudung adik iparku? Lagi, di dalam kepalaku tiba-tiba terlintas permintaan adikku. Apa aku terima saja, ya?

***

Makan siang bersama teman sekantor di kantin atau di luar—kalau sempat dan minat—sudah merupakan kebiasaaanku sejak kali pertama tergabung dengan perusahaan tempatku bekerja sekarang. Di kantin, bersama ketiga temanku, aku sudah mulai memanjakan perutku, kami berempat terlihat duduk dengan posisi mengitari sebuah meja di area paling tepi di dekat pintu masuk.

Akrab dengan tawa khas masing-masing, seakan bercakap-cakap selagi makan adalah suatu kewajiban. Aktivitasku terhenti sejenak, tetapi tanganku masih memegang sendok. Wajah sudah diangkat, bibirnya mulai terbuka secara perlahan sebagai wujud keragu-raguannya. "Aku tidak mengerti. Kenapa sekalipun sudah disakiti suaminya, seorang wanita masih tetap bersikap baik kepada suaminya?" tanyaku dengan nada serius sehingga suasana santai sebelumnya langsung tergantikan, terlebih ketiga kawanku secara serentak malah terdiam, sama-sama merenung untuk memikirkan jawaban.

"Mungkin," jawab Ardi, laki-laki berkumis tipis di sebelah kirinya, tangan kanannya masih memegang sendok dan terlihat setengah melayang di udara, "bukan manusia, tapi malaikat."

Aku tersenyum tipis setelah tiba-tiba malah terngiang kecantikan paras adik iparku, sebuah keindahan langka dan bersifat candu, semoga dapat kunikmati secara berulang-ulang. "Malaikat, ya? Bukan bidadari?" tanyaku di dalam hati.

Lepas menyaksikan keanehanku, kawan-kawanku tentu akan menganggap kalau diriku sudah sinting atau telah kerasukan makhluk halus? Entahlah. Akan tetapi, meski demikian, tetap tidak bisa apabila terus kutahan-tahan.

"Lan, tidak biasanya kau bertanya hal-hal begini, kau tidak sedang menyukai istri orang, bukan?" tanya laki-laki berkulit paling cerah di antara kami berempat, di seberang meja sedang bermain-main dengan mi dengan menggunakan sumpitnya.

Uhuk! Uhuk!

Aku tersedak udara. Benar-benar tanpa dapat diduga. Hingga akhirnya, tangan kananku segera terangkat untuk meraih sebotol air mineral di atas meja, cepat-cepat kubuka tutupnya dan kuteguk isinya untuk meredakan jeritan dari tenggorokanku. Jadi, di sini aku belum atau memang tidak pernah berencana untuk memberitahukan kepada teman-temanku mengenai statusku?

Intinya, aku tidak akan nyaman kalau sudah membeberkannya, terlebih lagi—seratus persen yakin—pernikahanku dengan kekasih adikku tidak mungkin dapat berumur panjang. Bukankah aku masih memiliki hak untuk menentukan pasangan hidupku sendiri? Tapi, apakah aku berani untuk menyuarakan hatiku? Ah, berbicara soal pasangan hidup, kenapa tiba-tiba aku malah kepikiran adik iparku?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Mau Dimadu
8.4
Pernikahan Tiara Maheswari yang tampak begitu sempurna dan penuh kasih sayang ternyata menyimpan dusta besar. Reno Sebastian, sang suami yang ia percayai, diam-diam telah mendua dan melakukan poligami tanpa izin darinya. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Tiara dan menuntutnya mengambil keputusan besar. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan ikatan suci yang telah ternoda, atau berani melangkah pergi meninggalkan Reno selamanya.
Sampul Novel Cinta Buta Gadis Mafia
7.9
Bagaimana jika takdir memaksa Anda tinggal serumah dengan wanita yang telah menghancurkan pernikahan Anda sendiri? Hidup seorang pria seketika berbalik arah saat kehadiran gadis dari dunia mafia mengacaukan masa depannya secara brutal. Di tengah badai dendam dan kebingungan, ikatan rumit justru mulai terjalin di antara mereka. Akankah kebencian ini berujung pada cinta, atau malah menjadi awal kehancuran yang jauh lebih kelam bagi keduanya dalam romansa mafia ini?
Sampul Novel CINTA SUCI WANITA MALAM
9.0
Bekerja di klub malam membawa Olidia bertemu dengan Dax, seorang tuan muda kaya raya. Benih-benih asmara pun mulai bersemi di antara mereka. Namun, Olidia memilih menyembunyikan perasaannya karena menyadari reputasi Dax yang terkenal sebagai playboy. Padahal, Dax sebenarnya merasakan hal yang sama. Di tengah perbedaan latar belakang dan keraguan yang membayangi, akankah ketulusan cinta mereka mampu mengatasi rintangan dan menyatukan keduanya?
Sampul Novel Cokelat Valentine Rasa Darah
8.1
Kisah mencekam ini bermula saat seorang suami tega meninggalkan anaknya sendirian di dalam mobil di tengah hutan demi menemani cinta pertamanya. Ketika kawanan serigala mengepung sang anak, ponsel sang ayah tidak aktif. Sang ibu yang panik segera menyusul, namun ia hanya menemukan sisa cokelat Valentine bersimbah darah di mobil kosong. Saat hatinya hancur, sang suami menelepon dan menuduhnya merusak suasana hari kasih sayang. Amarah sang ibu memuncak, bersiap mengirimkan balasan yang mematikan.
Sampul Novel Dandelion, Wish, and Wind
9.1
Kepulangan Yoshino Izumi ke Jepang terjadi hanya karena paksaan sang ayah. Ia sangat membenci tanah airnya sendiri lantaran luka masa lalu akibat pengkhianatan ibu kandungnya. Namun, rasa benci itu perlahan terkikis setelah ia berjumpa dengan seorang gadis misterius berambut perak. Tanpa Izumi sadari, sesosok jiwa dari masa lalunya masih setia menunggu dirinya kembali. Di bawah langit musim panas yang dihiasi dandelion, ia berharap kerinduan mendalam yang tak pernah pudar ini akhirnya bisa tersampaikan.
Sampul Novel Janjinya, Penjaranya
9.6
Bebas dari penjara setelah tujuh tahun menebus kesalahan Keysha, kakak angkatnya, sang protagonis justru dikhianati. Orang tua kandung dan Dion, tunangannya, tega membuangnya ke gudang kotor demi Keysha. Di tengah penderitaan ini, sebuah email misterius hadir menawarkan pekerjaan dan identitas baru. Kesempatan emas ini langsung ia ambil untuk melarikan diri, siap menyusun rencana demi membalas dendam atas segala rasa sakit yang mereka perbuat.