APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Yang Sisa Kenangan

Luka Yang Sisa Kenangan

Memasuki tahun keempat pernikahan, Luna Gozali bersiap menyambut kehamilan pertamanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat pihak rumah sakit mengungkap bahwa dokumen pernikahannya dengan Rocky Riyandi palsu. Penyelidikan Luna ke kantor catatan sipil justru mengungkap kenyataan pahit: Rocky secara sah tercatat sebagai suami dari Paula Gozali, kakak tirinya sekaligus cinta pertama Rocky yang dahulu kabur ke luar negeri saat hari pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 7

“Luna, kamu hampir saja membunuh Paula, malah masih bisa tidur?!”

Dengan susah payah, Luna mengangkat kepalanya, melihat ayahnya yang tampak penuh amarah.

Di sampingnya, ibu tirinya menundukkan kepala dan terus-menerus terisak.

“Luna….” panggil ibu tirinya dengan suara serak.

Air matanya tak henti-hentinya menetes, “Kakakmu sudah nggak punya banyak waktu lagi, kenapa kamu masih nggak mau melepaskannya? Masalah di acara perpisahan kami sudah nggak mempermasalahkannya, tapi kali ini… kamu benar-benar mau mengambil nyawanya?!”

Luna mencengkeram erat seprainya, sudah tak sanggup lagi melihat kepalsuan ibu tirinya.

Dia memaksakan diri untuk berdiri, lalu dengan tegas berkata, “Bukan aku yang menaruh kutukan di acara perpisahan kemarin, aku juga nggak mendorongnya jatuh ke jurang. Kamu terus membiarkan Paula menjebakku berulang kali, kamu nggak takut akan kena karma suatu hati nanti?!”

“Plak!”

Sebuah tamparan mendarat keras di wajahnya. Luna terhuyung mundur setengah langkah, darah keluar dari sudut bibirnya.

“Anak kurang ajar!” Ayahnya sampai gemetar karena marah, “Dulu ibumu juga begitu, selalu menyalahkan orang lain! Dan sekarang kamu pun sama….”

“Jihan, jangan marah!” ujar ibu tiri menenangkannya, menepuk-nepuk punggung suaminya, “Ini semua salahku, aku yang nggak berhasil mendidik Luna….”

“Bukan salahmu!” ujar ayahnya memotong dengan tegas.

Lalu menatap Luna dengan tatapan tajam, “Kalau kamu memang sehebat itu, mulai hari ini, kamu bukan lagi putri Keluarga Gozali!”

Usai bicara, dia langsung menggandeng istrinya membanting pintu dan pergi.

Pada saat yang sama, kilat membelah langit dan hujan deras mengguyur.

Luna jatuh terduduk di lantai, tubuh kurusnya meringkuk, wajahnya terbenam di lutut, air mata mengalir tanpa suara.

Di tengah kebingungan, dia kembali mendengar perkataan ibunya sebelum meninggal.

Tangan yang kurus kering itu menggenggamnya erat, napasnya lemah, tapi kata-katanya terdengar jelas,

“Luna, perjalanan ke depan… harus dijalani baik-baik… ibu akan selalu… melihatmu dari langit….”

Selama ini, Luna memaksakan diri untuk makan dan tidur dengan teratur.

Hanya agar ibunya bisa melihat di surga, meski tanpa kasih sayang ayah, dia tetap bisa hidup dengan baik.

Namun sekarang?

“Ibu….” gumam Luna, air matanya membasahi kain di bagian lututnya.

“Aku yang sekarang pasti membuatmu sangat kecewa, ya….”

Di luar jendela, hujan masih turun deras.

Luna tetap memeluk dirinya sendiri, sampai akhirnya tertidur dalam tangis.

….

Saat bangun lagi, dia mendapati dirinya entah sejak kapan sudah dipindahkan ke sofa ruang tamu.

Di perapian, kayu bakar berderak-derak.

Rocky duduk di sebelahnya, jari-jarinya yang panjang menjepit rokok, asap tipis berterbangan di udara.

“Rocky….” panggil Luna dengan lemah, tenggorokannya kering dan sakit.

Pria itu menoleh. Tatapan yang dulu lembut, sekarang hanya tersisa dingin yang menusuk.

“Sudah bangun?”

“Kok aku di sini?” Luna mau duduk, tapi badannya benar-benar lemas tak bertenaga.

Rocky tidak menjawab, hanya berbicara santai, “Kemarin aku mau jemput kamu, tapi pameran lukisan Paula tiba-tiba kebakaran, semua lukisannya habis nggak bersisa.”

Seketika, jantung Luna langsung menegang.

Dia langsung paham maksud tersiratnya, buru-buru menjelaskan, “Bukan aku yang membakarnya! Bukan aku yang melakukan semua itu, kamu bisa menyelidikinya….”

“Luna,” potong Rocky dengan pelan.

Tatapannya asing dan membuat Luna panik, “Impian terbesar Paula adalah jadi pelukis. Lukisan-lukisan itu adalah semua hidupnya, dia nggak mungkin menghancurkan karyanya sendiri.”

Jari-jari Luna mulai gemetar, “Apa yang sebenarnya mau kamu katakan?”

“Masalah kamu membakar pamerannya, aku nggak bilang pada ayahmu dan juga Paula.”

Rocky berdiri dan menatapnya dari atas, “Tapi ini nggak bisa dianggap selesai begitu saja.”

“Kamu juga harus merasakan, bagaimana rasanya ketika sesuatu yang paling berharga dihancurkan.

Barulah saat itu Luna sadar, Rocky sedang memegang boneka yang dibuat ibunya dulu.

“Aku tahu ini barang paling berharga buat kamu.”

Jari-jari Rocky mengeras, membuat boneka itu berubah bentuk di genggamannya, “Kalau aku menghancurkannya, kamu juga bakal sedih sekali, ‘kan?”

“Jangan!” Luna hampir terguling dari sofa, lalu terhuyung berlari menghampirinya.

Boneka itu adalah peninggalan ibunya, dijahit sendiri dengan tangan yang sudah sakit-sakitan saat dirinya berusia sepuluh tahun.

Saat itu, ibunya begitu lemah sampai-sampai jarum pun sulit digenggam, tapi tetap memaksakan diri menyelesaikannya.

Di saat-saat terakhir hidupnya, dia menyerahkannya ke dalam genggaman Luna, sambil berbicara lembut, “Luna, ibu nggak bisa menemanimu lagi. Kalau nanti kamu rindu dengan ibu, lihat saja boneka ini….”

Kemudian, Luna diam-diam memasukkan abu kremasi ibunya ke dalam boneka itu. Setiap malam dia tidur dengan memeluknya, melewati malam-malam yang berat.

Dan sekarang, Rocky malah mau menghancurkannya?!

“Sudah kubilang, setelah Paula pergi, semuanya akan kembali seperti dulu.”

“Masalahnya, kamu nggak patuh.”

Usai bicara, Rocky mengangkat tangan dan melemparkan boneka itu ke dalam perapian yang menyala.

“Jangan…!” Luna menjerit sekuat tenaga, lalu nekat menerjang ke arah api.

Lidah api yang menyengat menjilat lengannya, tapi dia seperti tak merasakan sakit sama sekali. Dia memaksa meraih boneka yang sudah hangus terbakar dari dalam perapian.

Dengan tubuh gemetar, dia memeluk erat boneka yang telah rusak parah itu. Air matanya menetes deras, membasahi kain yang sudah hangus.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki menjauh.

Rocky melewatinya dan pergi meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun.

….

Malam itu, Luna menangis sampai pagi sambil memeluk boneka itu.

Saat fajar baru menyingsing, dia memeluk boneka rusak itu, menarik koper dan melangkah keluar dari vila.

Namun, di jalan menuju gerbang, tiba-tiba kursi roda Paula menghadangnya.

“Awas,” ujar Luna dengan suara serak.

“Luna, kenapa galak sekali?”

Paula terkekeh, “Begitu pergi kali ini, kita mungkin akan sulit bertemu lagi. Bagaimanapun, di mata ayah dan Rocky kamu sudah benar-benar dianggap berhati kejam. Mereka nggak akan membiarkanmu kembali ke negara ini.”

“Oh begitu? Justru itu yang kuinginkan.”

Luna menatapnya dengan dingin, “Lagipula, kamu juga bakal mati sebentar lagi. Jadi, kita memang nggak akan bertemu lagi.”

Mendengar itu, Paula malah tertawa.

“Luna oh Luna, kamu benaran mengira aku kena penyakit mematikan?”

Tiba-tiba, Paula berdiri dari kursi roda dan mendekati Luna pelan-pelan, “Itu hanya akting untuk menipu Rocky saja. Coba tebak, kalau nanti aku bilang salah diagnosis, dia bakal seberapa senang?”

“Oh iya, biar kukasih tahu satu rahasia lagi padamu.”

Paula berbisik di telinganya, “Sebenarnya, akta nikah kamu dan Rocky itu palsu. Akulah istri sahnya.”

Usai bicara begitu, Paula mencoba mencari ekspresi terpuruk di wajah Luna.

Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.

Jari-jari Luna memegang koper erat-erat sampai ujung jarinya memucat, tapi wajahnya tetap tenang, “Kalau begitu, semoga kalian bisa langgeng sampai tua.”

Usai bicara, Luna berjalan ke gerbang tanpa menoleh ke belakang.

Di pinggir jalan, mobil hitam Rocky pelan-pelan berhenti di sampingnya.

Rocky menurunkan kaca dan bertanya, “Sudah mau pergi?”

Luna hanya menjawab, “Iya.”

“Kita coba sama-sama tenangkan diri dulu.”

Rocky berbicara dengan suara berat, “Setelah kamu balik, baru kita bicarakan baik-baik masalahnya.”

Luna tidak menjawab dan langsung naik taksi.

Sambil melihat mobil Rocky menjauh, Luna berbicara dalam hati, Rocky, semoga kamu nggak menyesal setelah tahu kebenarannya suatu hari nanti.

Saat taksi mulai jalan, Luna menatap vila yang menyimpan semua cinta dan bencinya itu untuk terakhir kali. Tatapan matanya sangat tenang.

Akhirnya, Luna pun mengalihkan pandangannya dan berkata pelan, “Pak, ke bandara.”

Dua mobil itu jalan ke arah yang berbeda.

Seperti hidup mereka yang mulai sekarang tidak akan berhubungan lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Devil Beside Me (21+)
9.2
Ditinggalkan Dinar karena menolak berhubungan intim membuat Renata hancur dan mabuk di bar hingga pingsan. Khawatir dengan putrinya, sang ayah menugaskan Ervin, rival masa kecil Rena, menjadi pengawal pribadinya. Rena awalnya sangat membenci kehadiran Ervin dan mencoba mengusirnya. Namun, sebuah ciuman tidak terduga mengubah segalanya. Rasa benci di antara mereka pun perlahan berubah menjadi gairah panas yang tidak lagi bisa mereka kendalikan.
Sampul Novel Di Antara Tangis Anakku dan Diam Suamiku
9.8
Kiyano sekarat di koridor rumah sakit usai dipaksa menyerahkan jantungnya demi Sheilla, cinta pertama suaminya. Di ambang ajal, putra mereka yang berusia enam tahun memohon pertolongan sang ayah. Alih-alih peduli, sang suami menuduh istrinya berbohong dan mengusir anak mereka. Demi menyelamatkan ibunya, bocah itu menyerahkan Kalung Penjaga Umur miliknya untuk menyewa kamar. Namun, Sheilla sengaja menghalangi kamar tersebut demi menempatkan anjing peliharaannya atas izin suaminya.
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Kehidupan ceria Laras sirna sejak sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Kini, mantan mahasiswi ini harus bertahan di tengah siksaan perundungan dari para penggemar fanatik Damar, CEO yang pernah mengisi hatinya. Dulu, Damar memilih pergi demi melindunginya, namun langkah itu justru menghancurkan hidup Laras. Dihantui rasa bersalah yang besar, sang CEO kini kembali. Ia bertekad menebus semua dosa masa lalunya dan berharap Laras bisa merasakan ketulusan cintanya.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
7.9
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya hanya sebagai penangkal nasib buruk. Pria itu selalu kehilangan istrinya yang tewas misterius dua hari setelah menikah. Bukannya hidup layak, Aminarsih justru disembunyikan di rumah kosong yang menyeramkan. Demi bertahan hidup di tempat terasing itu, ia terpaksa berteman dengan alam sekitar. Hanya pohon apel, tikus, kecoa, dan semut yang menemaninya setiap hari, hingga ia menganggap makhluk-makhluk tersebut sebagai keluarganya sendiri.
Sampul Novel Nasib Seorang Wanita Proyek
9.6
Menjalani kehidupan di lokasi proyek ternyata jauh dari bayangan awal sang protagonis wanita dalam novel modern ini. Minimnya privasi di area mes yang sangat terbuka membuat setiap gerak-gerik dan suara terdengar jelas. Keadaan menjadi semakin sulit dikendalikan saat ia terpaksa mendengar suara intim pasangan suami istri dari ranjang sebelah yang hanya berjarak kurang dari dua meter. Kebisingan malam yang terus berlanjut tanpa henti itu akhirnya memicu gejolak dalam dirinya yang tak lagi tertahankan.
Sampul Novel Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
8.9
Seorang gadis meregang nyawa di tangan psikopat tetangga sebelah rumahnya. Di saat kritis, sang pembunuh menelepon ibunya, namun panggilan minta tolong itu diabaikan karena sang ibu menganggapnya berbohong dan lebih memilih menenangkan adiknya yang cemas menghadapi ujian. Tiga hari berselang, tempat kejadian perkara dipenuhi polisi. Ibu yang bekerja sebagai ahli forensik dipanggil untuk mengautopsi jasad wanita tanpa kepala, tanpa pernah menyadari bahwa mayat yang terbujur kaku itu adalah putri kandung yang selalu ia benci.