APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri

Demi menyembunyikan kehancuran yang terjadi, aku selalu mengalah dan berpura-pura semua baik-baik saja. Namun, kini kesabaranku telah mencapai batasnya. Aku memilih menyerah pada keadaan ini. Egoku bangkit dengan kuat, menolak untuk terus-menerus ditindas. Izinkan aku melangkah pergi untuk menjalani takdir dengan caraku sendiri. Aku ingin merasakan kembali kebebasan sejati sebagai manusia yang benar-benar hidup.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ibu enggak salat?” tanyaku.

“Oh iya, Ibu lupa.”

“Ya sudah salat dulu!”

“Nanti saja sudah terlanjur juga, lihat! Sudah jam 5.” Begitulah Ibu setiap kali diminta ibadah alasannya banyak. Aku menatap lembut, tanpa bicara apa pun. Berharap dia mengerti dan mau menunaikan kewajibannya segera.

“Ibu juga belum mandi, kotor, bau masa salat enggak mandi.”

“Enggak mandi juga boleh, kalau waktunya sudah mepet Bu.”

“Enggak ah, mana bisa begitu, enggak sah salatnya.”

“Bu ….”

“Nanti Ibu salat magrib Lang, sudah ya, Ibu mau ke kamar dulu.”

“Mia, kamu salat sana!”

“Aku mau ke kamar dulu, Bang!”

“Mi kamu sudah gede loh, masa salat saja harus diingatkan terus.”

“Mia nanti salat di kamar saja.”

“Bener ya?” Mia mengangguk, lalu setengah berlari menuju kamarnya dan entah dia salat atau tidak karena kuperhatikan dia tak keluar kamar lagi. Hanya kamar Mia yang tak punya kamar mandi, jadi bisa kupastikan dia tak salat kali ini. Sedih jika memikirkan keluargaku, mereka jauh dari agama, ditambah lagi Dilra yang malah meminjam uang ke bank keliling susah sekali menasihati mereka. Aroma masakan tercium sampai ke ruang tamu, rupanya Dilra telah selesai masak, dia menyusun makanannya di meja. Azan magrib tinggal beberapa menit lagi, Ibu dan Mia baru keluar.

“Enggak mandi dulu, Mi?”

“Ah nanti saja Bang,” jawabnya dengan wajah malas.

“Tadi enggak salat?” tanyaku. Jujur saja aku sedikit kesal. Seumuran Mia seharusnya sudah mengerti tentang kewajibannya. Dia bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan.

“Hehehe.” Begitulah Mia, bukannya merasa bersalah, dia malah tertawa tanpa dosa. Kami semua berkumpul dalam satu meja, saat Azan berkumandang Dilra masih saja sibuk mengangkat gorengan yang masih tersisa di wajan.

“Sudah Dil buka dulu.” Dila hanya menengok, tapi kulihat dia meminum segelas air putih setelahnya.

“Sudah biar saja, nanti juga makan sendiri," sahut Ibu. Benar juga, tak lama Dilra duduk bergabung dengan kami. Dia dengan cepat mengambil nasi dan lauk pauknya baru saja akan menyuap ibu malah mengajaknya bicara.

“Ambil Dion dulu Dil, masa anakmu udah masuk magrib ditinggal sendirian.”

“Iya, Bu,” sahutnya. Dilra langsung pergi mengabaikan nasi dan lauk pauk yang hampir masuk ke mulutnya, tak lama dia datang dengan Dion. Ditariknya keranjang goyang bayi ke dekat meja makan. Ketika Dilra baru duduk Ibu malah meminta untuk mengangkat bayinya. Katanya bayi enggak boleh ditinggal pas magrib, harus digendong. Dilra menurut lagi dia menggendong Dion, kebetulan saat itu Dion juga menangis, jadi kali ini niat istriku makan urung lagi.

“Biar Mas saja.” Raut wajah Dilra yang merengut, seakan kembali bersinar tapi seketika langsung padam.

“Sudah kamu kan habis kerja, makan saja, biarkan sama Ibunya diberi ASI bentar juga diam.” Saat itu Dilra memilih pergi menjauh dari kami, dia berjalan ke arah belakang.

“Mau ke mana, sudah enggak usah di susul.”

“Mau salat Bu.” Sebenarnya aku berbohong, tak tega melihat Dilra yang pasti sama laparnya. Sedikit mengendap-endap aku mengikuti Dilra. Dia masuk ke area dapur kotor, menuangkan nasi dari penanak nasi otomatis, lalu sisa sayur di wajan. Aku bisa melihat kalau dia hanya makan dengan kuah, tak ada potongan sayuran sama sekali.

“Mau makan saja ribet!” gerutunya pelan. Aku menyunggingkan bibir karenanya. Di depan Ibu dia tak banyak protes tapi di belakang malah menggerutu. Sekarang dengan Dion dalam gendongannya. Dia tampak melafalkan doa buka puasa, lalu sejenak menatap wajah Dion, tampak senyum melengkung di bibirnya. Setelahnya Dilra langsung makan dengan lahap. Meski dengan hanya kuah sayur sisa, dengan posisi duduk di lantai dapur tanpa alas sembari menggendong Dion. Sesekali Dion menangis, tapi dia cepat menenangkannya dengan Asi. Setelah itu Dilra kembali makan, tapi entah kenapa dia tiba-tiba mengunyah dengan sedikit pelan. Tidak lagi buru-buru seperti awalnya. Bisa kulihat dari sini air matanya tiba-tiba saja keluar. Pandangan Dilra masih lurus ke depan. Semakin lama dia melambatkan kunyahannya dan akhirnya berhenti, dia tak lagi mengunyah juga tak menyuapkan nasi lagi.Piring itu malah digeletakkan ke lantai dengan kasar, setelahnya malah didorong ke depan juga, hingga setelahnya isi dalam nasi itu jadi berantakan, lantas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kali ini, runtuh sudah pertahanannya, dia menangis tergugu, meski tanpa suara.

“Mending takut istri dari pada bini gue seteres!"

Seketika kalimat yang diucapkan Ardi tadi siang tiba-tiba saja terlintas. Kali ini aku baru paham. Sakit sekali membayangkan kalau itu jadi nyata. Melihatmu terpuruk saja sudah seperih ini. Aku benar-benar gagal menjadi ayah dan suami untuk kalian. Kuhapus air mataku, lalu segera melangkah mendekati istriku.

“Dil.” Kuusap pelan rambut Dilra. Bisa kurasakan dia menghentikan isaknya, tapi tetap tertunduk tak mau menoleh, bayi Dion sudah tertidur lagi.

“Biar Mas yang gendong Dion.”

“PERGI!” aku terperanjat, hampir saja melompat. Begitupun Dion yang menangis menjerit. Dia juga sama terkejutnya denganku. Apa Dilra tak sadar. Dia berteriak tiba-tiba dengan sangat kencang. Sayang kamu baik-baik saja ‘kan? yang diucapkan Ardi, semua tidak benar, Enggak akan terjadi ‘kan?

"Mau apa?” ketusnya.

“Mas cuma mau ambil Dion.”

“Enggak usah!”

“Dek sayang, Mas gendong Dion biar kamu bisa makan ya?” Dia tak menjawab tak juga berinisiatif memindahkan bayinya padaku, hanya menatap lekat tanpa satu patah kata pun terucap. Sejenak kami terdiam, sorot matanya pilu seperti ada kecewa yang teramat sangat di sana.

“Loh kalian sedang apa di sini? Kok ini piringnya berantakan.” Suara Ibu tiba-tiba terdengar, merusak suasana saja. Dilra tampak menghembuskan nafasnya pelan, terlihat sekali dia berupaya menetralkan semua sakit yang mendera.  Ekspresinya berubah dalam sekejap, tak ada lagi raut sendu, berganti senyum palsu yang kini menghiasi wajahnya.

“Oh ini tadi tumpah, nanti biar Dilra beresin,” katanya tenang.

“Ini biar Dilra saja yang cuci, sekalian sama yang berantakan,” tambahnya lagi. Aku masih diam memperhatikan perubahan sikap Dilra yang drastis.

“Kamu kenapa sih Lang, kok bengong kayak orang bingung?” Sejenak kucuri pandang dengan Dilra, rupanya dia juga tengah menatapku.

“Enggak apa-apa, Ibu salat saja sana, katanya mau magrib.”

“Eh Ibu ... ya sudah Ibu salat magrib dulu.” Ibu terlihat tak nyaman, aku tahu dia  pasti tak akan salat lagi, tapi kali ini urusanku dengan Dilra perlu diselesaikan dengan segera. Dilra masih menyusui Dion sambil menimangnya. Sedang aku memutuskan mencari sapu, membersihkan bekas nasi Dilra yang berantakan. Melihatku menyapu lantai, perempuan itu hanya menatap datar, tanpa ekspresi seperti biasanya, sempat melirikku sekilas tapi setelahnya malah acuh. Jangankan ucapkan terima kasih sih, sekedar peduli pun dia tidak mau. Apakah sudah sekeras itu hatimu Dil.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel contract merriage with the ceo
9.0
Faza tak menyangka hari pertamanya sebagai istri Demian langsung disambut dengan surat perjanjian. CEO muda itu menegaskan pernikahan mereka hanyalah formalitas demi keluarga. Dengan dingin, Demian mengaku sudah punya kekasih dan memperingatkan Faza agar tidak berharap mendapatkan cintanya. Tanpa pilihan, Faza kini terjebak dalam komitmen kontrak yang kaku. Mampukah pernikahan tanpa kehangatan dan kontak fisik ini bertahan di tengah dinginnya sikap sang suami?
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Kehidupan Raya, seorang mahasiswi KKN, hancur dalam semalam akibat tragedi memilukan. Di tengah keheningan malam, kesuciannya direnggut paksa oleh Pak Kades yang kehilangan kendali karena sakau. Meski Raya telah berteriak histeris dan memohon, tak ada satu pun warga yang datang menyelamatkannya. Kini, Raya harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang telah memiliki anak tersebut. Bagaimana nasibnya kini?
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya
9.5
Kehidupan pernikahan Arumi yang tenang mendadak terguncang setelah ia tanpa sengaja membaca pesan dari ibu mertuanya, Elina, di ponsel Akram. Dalam pesan tersebut, Elina mengucapkan selamat atas kelahiran cucu pertama yang disebutnya sangat cantik. Kecurigaan Arumi pun memuncak, sebab anak mereka yang bernama Ayumi seharusnya menjadi cucu pertama dalam keluarga tersebut. Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Akram dari sang istri?
Sampul Novel Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
8.1
Niat seorang istri memberi kejutan intim untuk suaminya di asrama proyek konstruksi berubah menjadi situasi menegangkan. Setelah melepas pakaian dan bersembunyi di lemari, bukan suaminya yang datang, melainkan tiga rekan kerjanya. Ketiga pria itu justru terangsang oleh pakaian dalam yang tertinggal dan melampiaskannya pada bibi koki di sana. Menyaksikan adegan panas tersebut, sang istri ikut terangsang hingga tanpa sadar mendesah. Seketika, pandangan ketiga pria itu langsung tertuju ke arah lemarinya.
Sampul Novel Rahasia di Balik Istana
9.5
Demi menyelamatkan keluarganya dari hukuman berat, seorang gadis terpaksa menggantikan saudara kembarannya yang melarikan diri bersama kekasihnya. Setelah meminum ramuan herbal rahasia untuk memicu produksi ASI, ia menyamar sebagai ibu susuan bagi putra mahkota kecil di istana. Namun, tugasnya ternyata jauh lebih rumit dari dugaan. Di balik dinding istana, ia tidak hanya harus menyusui sang bayi pangeran, melainkan juga Adipati Halinka, sang penguasa dewasa yang rupawan dan bertubuh kekar.
Sampul Novel Rahasia Inang-inang Internesyenel
8.7
Kenes Kalyani, anak penjual es kelapa, sempat merasakan jadi istri miliarder sebelum hidupnya hancur total. Mertuanya celaka, suaminya dimutilasi, dan putranya diculik hingga ia jatuh miskin. Demi menemukan sang anak dan merebut haknya, Kalya bangkit menjadi Executive Courier International. Meski kehilangan Dimi, pria yang sangat mencintainya, Kalya bertransformasi menjadi sosok tangguh yang siap menerjang badai demi mengungkap kebenaran.