
Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an
Bab 5
Dalam perjalanan pulang, setiap orang yang ditemui Lina menatapnya dengan pandangan aneh, sambil berbisik-bisik menunjuknya.
"Bagaimana bisa ada orang sekejam itu! Pak Sam sudah menolongnya, bukannya berterima kasih, malah berbalik melukai tunangan Pak Sam. Huh, dasar kurang ajar!"
"Menurutku dia pasti punya niat yang nggak-nggak! Mau jadi istri kepala pabrik! Kalau nggak, kenapa harus melukai Lili?"
"Nggak sadar diri, memangnya dirinya itu siapa? Pantas atau nggak! Pak Sam sudah menolong seekor ular berbisa, kalau dibiarkan tinggal di rumah, entah apa lagi yang akan dia lakukan nanti."
"Ayo kita laporkan pada Pak Sam, pabrik kendaraan ini nggak bisa menampung orang sekejam itu! Cepat usir dia pergi."
Lina tidak berkata apa-apa. Mereka pun terus mengikutinya sampai ke rumah.
Dia menggendong Alicia di dalam rumah.
Sementara orang-orang di luar terus mencibir dan menyindir dengan kata-kata pedas.
Menjelang siang barulah mereka pergi.
Tidak lama kemudian, Sam juga pulang.
Lili dan Alan berjalan mengikutinya dari belakang.
Sam melangkah cepat ke arah Lina. "Alan bilang kamu tadi sore menakut-nakuti Lili? Sepertinya membuat orang-orang di pabrik tahu kamu melukai Lili masih terlalu ringan sebagai hukuman."
Sam berkata dengan dingin, "Pergi masak. Lili mau makan kue ubi talas. Kalau nggak bisa membuatnya, keluar dari rumahku."
Di luar hari sudah gelap. Sam tahu betul bahwa Lina yang menggendong Alicia tidak punya tempat untuk pergi.
Sam juga tahu, saat umur 12 tahun Lina pernah hampir mati karena alergi parah saat mengupas ubi talas.
Seluruh tubuh Lina terasa dingin, tatapannya kosong tidak berjiwa.
Tanpa sepatah kata, dia berdiri dan menggendong Alicia masuk ke dapur.
Saat kue ubi talas dimasukkan ke dalam kukusan, kedua tangan Lina memerah dan bengkak, sementara seluruh tubuhnya gatal hingga membuatnya gemetar tidak terkendali.
Alicia ketakutan dan menangis keras.
Alan melihatnya, lalu tertawa sambil membuat wajah mengejek. "Cengeng! Pembawa sial!"
Lili berdiri di pintu dan berkata dengan manja, "Sam, aku nggak jadi mau makan kue ubi talas. Aku mau makan iga tumis kentang."
Sam langsung mengiyakan, lalu berseru ke arah dapur, "Lina, kamu dengar nggak? Lili mau makan iga tumis kentang."
Baru sekitar pukul sepuluh malam, Lili akhirnya puas, lalu duduk untuk makan.
Lina yang sudah bekerja keras berjam-jam tidak diizinkan ikut makan. Dia hanya duduk di dekat kompor, menyuapi Alicia dengan kue ubi talas yang tidak disentuh Lili.
Alicia menangis sampai cegukan. "Ibu, aku nggak mau makan. Ibu masih sakit, ya? Kita pergi ke Om Dean untuk minta obat, ya?"
Wajah Lina sudah sangat bengkak. Dengan susah payah, dia tersenyum dan menenangkan putrinya. "Ibu nggak apa-apa. Ayo makan, habiskan supaya kamu nggak lapar lagi."
Lina berusaha menenangkan putrinya agar mau makan. Namun, dirinya sendiri sudah beberapa hari tidak bisa makan dengan benar, perutnya pun mulai terasa perih.
Setelah Sam dan yang lain selesai makan di ruang tamu, mereka memerintahkan Lina untuk membersihkan rumah.
Lina menuruti perintah dengan tenang, dia menggulung lengan baju dan mulai mencuci piring.
Lili membawa Alan bermain di halaman, sesekali terdengar tawa lepas Alan.
Sam berdiri di pintu dapur dan berkata kepada Lina dengan suara berat, "Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Lina tidak mengangkat kepala dan hanya menjawab, "Ya."
Sam mengangguk puas. "Nanti segera minta maaf ke Lili, pastikan nggak mengulanginya lagi."
Lina terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan pelan, "Kalau aku nggak setuju?"
Sam menjawab dingin, "Kalau begitu, bawa Alicia pergi. Kembalilah saat kamu siap mengakui kesalahanmu."
Terdengar suara tetesan, air mata Lina jatuh ke air cucian piring dan langsung lenyap tanpa jejak.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang, "Aku minta maaf."
Akhirnya Sam merasa puas. "Cepat selesaikan cuci piringnya, lalu ke sini."
Setelah merapikan dapur dan mendudukkan Alicia di depan kompor, Lina langsung menuju ke halaman.
Waktu itu masih sekitar jam makan, saat halaman ramai-ramainya.
Banyak orang berkumpul.
Melihat Lina keluar, semua orang menatap dengan ekspresi penasaran.
Lina tahu ini memang trik Sam, dia melangkah ke depan Lili, lalu membungkuk dalam-dalam. "Maafkan aku, aku seharusnya nggak membuatmu terluka. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong maafkan aku."
Halaman menjadi sunyi senyap.
Sam berkata lembut kepada Lili, "Lili, dia sudah mengakui kesalahan dan mendapat hukuman. Maafkan dia, ya?"
Lili tersenyum manja. "Hanya masalah kecil, aku memang nggak pernah menyalahkan Lina."
"Pak Sam dan keluarganya memang baik hati."
"Inilah yang disebut keluarga sebenarnya."
Semua orang memuji Sam dan keluarganya. Mereka membalas dengan senyuman dan halaman pun kembali riuh.
Seperti arwah yang kesepian, Lina diam-diam kembali ke dalam rumah.
Keesokan harinya, Lina mengeluarkan semua barang yang pernah dia anggap berharga, cangkir teh, handuk, serta sarung tangan kerja. Kemudian, dia memberikannya ke warga lansia termiskin di luar kompleks perumahan.
Semua barang lama yang dibawanya dari desa pun dibuang ke tempat sampah.
Seperti halnya dia harus melepaskan perasaan yang telah bertahan hampir sepuluh tahun.
Anda Mungkin Juga Suka





