APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love Escape

Love Escape

Impian Ghena untuk dilamar di hari jadi mereka pupus seketika saat Bastian mengakhiri hubungan 15 tahun mereka demi menuruti perjodohan keluarga. Demi menata hidup baru, Ghena memilih pindah ke Singapura dan bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun berlalu, Bastian tiba-tiba hadir kembali bersama tunangannya dan menyatakan cinta pada Ghena. Kini, Ghena dihadapkan pada pilihan sulit: tetap kuat menolak mantan kekasihnya atau goyah dan menjadi orang ketiga.
Bab
Bagikan

Bab 1

Secangkir kapucino yang masih mengepulkan asap tipis, dibiarkan begitu di meja kecil dekat jendela, sedangkan pemiliknya masih sibuk menekuri laptop. Matanya memandang lurus ke layar monitor, sementara jari-jarinya lincah menari di atas papan tik. Pekerjaan sebagai ghostwriter-lah yang membuat Ghena mampu mengetik tanpa melihat tombol. Kecepatan jari-jarinya pun jauh di atas rata-rata. Dia sudah mencoba mengukurnya lewat sebuah aplikasi.

Ghena memang hobi membaca dan menulis cerita sejak SMA, tapi dia selalu menggunakan nama pena untuk mempublikasikan karyanya secara daring di platform gratis. Sayangnya, tidak ada satu pun cerita yang berhasil dituntaskannya. Dia lebih mendahulukan pekerjaanya sebagai GW, dibanding melanjutkan ceritanya sendiri.

Ghostwriter bukanlah pekerjaan impian Ghena. Namun, setelah mencoba beberapa pekerjaan, dan tidak merasakan pas dengan hal tersebut, Ghena memilih untuk menekuni profesinya sebagai penulis bayangan. GW adalah pekerjaan paling pas untuk seorang Ghena Aurelia. Terkadang Ghena cukup mudah bergaul, tapi dia lebih senang menyendiri dan bekerja sendiri. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa bertahan lama saat bekerja kantoran.

Meskipun begitu, bayaran Ghena sebagai GW jauh di atas rata-rata pekerja kantoran biasa. Kalau dilihat dari nominal, penghasilan Ghena setara dengan seorang manajer di sebuah perusahaan kelas menengah di Jakarta. Dalam sebulan, dia bisa mendapat kiriman sampai delapan digit. Angka yang cukup besar bagi seseorang yang bekerja tanpa keluar rumah.

Jika sedang fokus, Ghena mampu menulis 15-20 halaman setiap hari. Namun, jika sering terdistraksi, dia hanya mampu menulis sampai 10 halaman dan itu adalah target hariannya. Makanya, Ghena lebih sering menjauhkan ponselnya saat dia ingin serius.

Alunan lagu First Love-nya Utada Hikaru di ponsel Ghena, mampu membuat perempuan berusia 33 tahun itu bangkit dari tempat duduknya. Ghena mencabut benda tersebut dari kabel yang menempel, lalu buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Dia memang tidak perlu mengintip, karena dia sudah membuat personalisasi dengan bunyi deringnya.

“Hai, Bas! Tumben telepon jam segini? Biasanya mau ditelepon di atas jam delapan. Ada apa, nih?” sapa Ghena bernada ceria.

“Kangen sama kamu. Enggak boleh?” sahut Bastian dari seberang sana.

“Aku juga kangen sama kamu, Bas.”

“Kamu lagi apa, Sayang?”

“Biasa. Lagi jadi penulis hantu.”

“Masih proyek yang kemarin?”

“Iya. Deadline-nya akhir pekan ini.”

“Kamu jangan kebanyak minum kopi, ya. Jaga kesehatan juga. Aku nggak mau kamu sakit. Nanti aku nggak fokus kerja karena mikirin kamu.”

“Sebentar, Bas! Aku cari pegangan dulu, takut terbang nih. Jarang-jarang aku digombalin sama kamu. Oiya, kamu telepon nggak cuma mau gombalin aku doang, kan?”

“…”

“Kok, malah diam? Bas? Kamu dengar aku?”

“Malam minggu nanti kamu sibuk nggak? Aku mau ngajakin kamu makan di resto favorit kita.”

Senyum yang tercetak di wajah Ghena makin melebar. Dia ingat betul ada momen apa di hari tersebut.

“Kamu ingat sama anniversary kita? Ya ampun, Bas, aku seneng banget lho. Enggak nyangka ya, kita udah lima belas tahun. Kalau nikah, kira-kira anak kita sudah sekolah kelas berapa, ya?”

Setelah terjeda beberapa saat. “Aku harus balik kerja. Sabtu nanti aku jemput jam enam tepat, ya! Jangan lupa minum dan berdiri setiap satu jam.”

“Iya, Sayang. Pacar aku perhatian banget. Jadi makin sayang deh. Tapi Sabtu masih lama.”

“Sebentar kok. Dah, Sayang.” Tanpa mengucapkan salam perpisahan atau menunggu Ghena membalas kata-katanya, Bastian langsung memutus sambungan.

Namun, Ghena tidak peduli. Hatinya masih dipenuhi rasa bahagia. Dia duduk di dekat jendela sembari memandangi langit sore dan jalanan yang mulai padat. Sesekali dia menyesap kopinya yang sudah tak lagi mengeluarkan asap.

Ghena buru-buru meletakkan cangkirnya saat teringat seseorang. Dia harus segera memberi kabar pada orang itu tentang kabar baik yang didengarnya barusan. Dalam dua sentuhan di layar ponsel, Ghena berhasil menemukan nomor yang ditujunya.

“ROSIIIIII!” jerit Ghena senang, sesaat setelah terdengar suara dari seberang. “Bastian mau ngelamar gue. Akhirnya penantian gue terbayar, Ros!”

Sekarang terdengar jeritan dari ujung telepon. Ghena harus menjauhkan ponsel dari telinganya. “Selamat, ya, Ne! Gue ikut bahagia buat lo. Akhirnya sahabat gue bakalan melepas masa jomlonya.”

“Iya, Ros! Gue juga masih nggak percaya.”

“Gimana ceritanya? Kapan Bastian ngelamar lo?”

“Belom ngelamar, sih. Tadi dia telepon dan mau ngajak gue dinner Sabtu nanti.”

“Jadi, dia cuma ngajak makan? Dia nggak ngomong mau ngelamar lo? Kok bisa-bisanya lo mikir dia mau ngelamar, sih?”

Senyum Ghena perlahan lenyap karena ulah perempuan yang diakuinya sebagai sahabat kental. “Lo nggak demen banget kayaknya kalau gue senang.”

“Bukannya gitu, Ne. Lo pasti lebih tahu gimana Bastian. Setiap kali lo Tanya gimana hubungan kalian, dia jawab apa? Selalu aja bilang belum siap. Lo berdua itu udah pacaran 15 tahun. Mau nunggu sampai 25 tahun?”

“Itu dia, Ne! Biasanya Bastian bisa ditelepon malam, itupun gue yang teleponin dia duluan. Tadi, dia duluan dong. Dan lo tau, nggak? Sabtu nanti itu tepat 15 tahun gue sama dia. Biasanya dia harus gue ingetin dulu. Eh, sekarang kebalikannya. Dia ingat, gue lupa.”

“Syukur deh kalau begitu. Gue nggak mau lo nunggu sesuatu yang nggak pasti. Umur lo nggak bakalan balik lagi, Ghe. Gue nggak mau lo sia-sia-in hidup lo gitu aja.”

Seulas senyum kembali terbit di bibir Ghena. Dia selalu tahu Rosi benar-benar peduli padanya. Walaupun kata-katanya sering terdengar pedas, tapi dia melakukannya karena menginginkan yang terbaik bagi Ghena, sahabatnya.

“Lo mau makan malam di mana? Udah tahu mau pakai baju apa?”

“Di resto favorit gue sama dia. Kalau urusan baju, ya kayak biasa aja.”

“Celana denim, kaos, dan kardigan?”

“Nah, itu pinter.”

“Ya ampun, Ghe! Memangnya lo nggak punya baju lain? Honor nulis lo habis ke mana? Perut?”

“Kok lo yang protes, sih? Bastian aja nggak keberatan. Dia bilang apa pun yang gue pakai itu selalu bagus, asalnya gue pede dan nyaman memakainya.”

“Iya, gue ngerti. Tapi ini momen spesial buat lo. Masa lo mau pakai yang biasa-biasa?”

Ghena diam. Dia tidak berpikir sejauh itu.

“Gue harus gimana nih, Ros? Gue nggak dress. Ada juga batik pasangan buat kondangan.”

“Besok lo ke sini, jemput gue. Nanti kita belanja di Lippo.”

“Makasih ya, Ros. Lo emang sahabat gue yang paling baik se-luar angkasa.”

“Sialan! Lo muji apa menghina? Lo kata gue alien! Oiya, besok datangnya siang.”

“Siap Bundanya Amar.”

Usai menutup telepon, Ghena langsung menandaskan kopinya dalam satu tarikan napas, lalu kembali menekuri laptopnya. Dia sadar betul harus menulis lebih banyak hari ini, karena besok dia akan pergi bersama sahabatnya. Bisa jadi membutuhkan waktu seharian. Rosi tidak akan puas sampai dia melihat-lihat semua toko dan membandingkannya. Kebiasaannya sejak SMA tidak pernah berkurang, bahkan makin menjadi sejak memiliki anak.

**

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan "Sahabatku"
7.8
Setelah dikhianati berulang kali, aku terlahir kembali dan menolak pembodohan Melinda, putri sopirku yang berlagak bagai sosialita. Dulu, Melinda selalu berpura-pura menguji para kekasihku, termasuk suamiku sekarang, Aldi Noran. Namun kini, di hadapan pernikahan miliarder kami, aku tidak tinggal diam saat dia mencoba merayu Aldi dengan kedok persahabatan belasan tahun. Aku siap membongkar niat busuknya yang ingin merebut suamiku dan menghancurkan hidupku.
Sampul Novel Aku Jatuh Sakit, Dia Menemani Wanita Lain
9.1
Tepat di Hari Valentine, Betsy menerima vonis kanker lambung yang menyisakan sebulan hidupnya. Kepedihan ini kian mendalam saat Sebastian Nash, suaminya, mengaku mencintai perempuan lain walau berjanji tetap setia. Enggan menghabiskan sisa usianya dalam konflik, Betsy memilih pergi dengan tenang. Meski Sebastian memohon agar dirinya bertahan, Betsy yang kian sekarat hanya tersenyum getir, menyadari air mata tak lagi mampu menghapus pengkhianatan sang suami.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Hanya dalam tiga kali berjumpa, Dilan dan Nessa langsung saling terpikat. Sayangnya, pertemuan ketiga justru menyisakan kepedihan mendalam bagi Dilan. Di bawah pengaruh obat perangsang, Nessa mengalami insiden tak terduga yang memaksa Dilan melanggar janjinya untuk melindungi kehormatan wanita idamannya tersebut. Kini, nasib hubungan mereka berada di ujung tanduk. Sanggupkah Nessa mengampuni tindakan Dilan, dan dapatkah benang kusut kesalahpahaman di antara mereka terurai?
Sampul Novel Istriku Hamil Anak Siapa?
9.0
Kesedihan melanda sang istri yang keguguran dan divonis mandul seumur hidup. Sambil menangis, ia meminta suaminya mencari wanita lain demi keturunan. Sang suami memeluknya hangat dan berjanji bahwa anak bukanlah segalanya. Namun, di balik punggung sang istri, ia justru menyeringai puas. Obat aborsi tradisional yang dibelinya dari desa terbukti manjur dan bekerja cepat, melenyapkan janin yang sejak awal ia ketahui bukanlah darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH
9.3
Walau usaha terbaik telah dilakukan, takdir akhir sebuah hubungan tetap berada di tangan Tuhan. Cerita ini mengulas dilema asmara beda agama dari dua insan yang tidak mungkin menyatu dalam ibadah. Sebagai hamba-Nya, mustahil baginya memilih seseorang yang berbeda keyakinan menjadi imam hidupnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mendalam membuatnya sangat sulit merelakan. Akankah cinta ini berakhir di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsip teguhnya?
Sampul Novel Patah
9.8
Prisha Nayara, editor pemberontak di platform Papyrus, dipertemukan takdir dengan sang pemilik yang berhati dingin, Manggala Abipraya Sastradinata. Di balik sifat keras kepala Prisha dan sikap tidak acuh Manggala, keduanya memendam trauma masa lalu yang mendalam. Saat mulai saling menyembuhkan luka batin, rintangan dunia menguji hubungan mereka. Ini adalah kisah romansa unik tanpa kata tentang perjuangan belajar mencintai diri sendiri demi orang terkasih.