APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LORO

LORO

Kehilangan empati dan mati rasa tak mampu mengikis kepedihan mendalam sang protagonis. Andaikan malam itu ia berhasil menahan mamanya agar tidak pergi dan tetap membacakan dongeng kancil, takdir pasti akan berbeda. Pelukan hangat penuh tawa kini berganti menjadi luka batin yang perih. Dunia beserta orang-orang terdekat yang sudah dianggap sebagai keluarga justru melakukan pengkhianatan keji, menghancurkan sisa kepercayaan serta hidup mereka untuk selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kau takkan suka dengan apa yang akan kau lihat, Kakak ipar." Ucap gadis yang berpakaian begitu minim. Menatap Arum yang memegang kuat-kuat kemudi mobil yang sudah berhenti di depan gedung apartemen.

"Tapi, terserah padamu, Kakak ipar. Aku hanya akan mengantarmu sampai depan pintu saja karena aku ada janji dengan teman-temanku malam ini," Ucap gadis yang lalu turun, tak perduli dengan suasana hati Arum pada fakta yang baru saja diketahuinya hari ini. Suaminya yang jarang pulang itu memiliki apartemen lain bahkan--

Duk..duk..!

Suara kaca mobil yang digedor tak sabar membuat Arum menarik nafasnya begitu dalam. Ia keluar lalu berjalan berdua dengan gadis tinggi semampai di sampingnya dalam diam. Gadis yang bahkan lebih perduli dengan warna kuteks yang menyala di jemari lentiknya itu dibandingkan dengan perasaan Arum, sang kakak ipar.

"Kau jadi masuk atau mundur saja dan jalani hidup seperti biasa?" ucap Zizi begitu tak bersimpati lalu membuang muka mendapati tatapan Arum yang ujung matanya seperti pisau.

"Jangan menatapku begitu, Kakak ipar. Kau saja yang terlalu bodoh. Tak tau apa yang suamimu lakukan di belakangmu." Ucap Zizi begitu biasa. Seolah apa yang Arum ketahui beberapa saat lalu adalah hal yang begitu remeh. Begitu ringan. Hal biasa. Tidak penting. Bahkan tak lebih penting dari kuteknya yang hari ini berwarna merah terang.

"Dengar, aku tak ingin terlibat dalam hal ini, jadi aku akan pergi begitu kita sampai."

"Ya." Ucap Arum begitu singkat meski ia meremas tangannya kuat-kuat, lalu berjalan mengikuti Zizi tanpa kata, masuk ke dalam lift yang sepi. Sampai ponsel Zizi berbunyi dan langsung diangkatnya tanpa permisi seolah Arum tak ada di sampingnya.

"Hai, Baby, maaf aku akan terlambat datang tapi jangan coba-coba memulai tanpa aku.... yeah aku hanya sedang mengurus masalah kecil," ucap Zizi yang melirik Arum. Sang kakak ipar yang hanya diam mendengar suara musik dan suara pria samar dari ponsel Zizi, namun tak perduli karena Arum bahkan tak yakin dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

"Bukan hal penting kok, Makanya jangan mulai bersenang-senang tanpa aku. I`ll be there soon--- bye, Seth, love you baby, muach!" ucap Zizi mengakhiri telponnya sambil memberi ciuman panjang yang tampak percuma lalu menatap Arum yang masih saja diam. 

Tapi, apa pedulinya pada apa yang kini sedang dirasakan si kakak ipar di sampingnya ini? ada pesta yang sudah menunggunya dan ia harus hadir telat berkat Arum. so terimakasih KAKAK IPAR!

Di dalam lift yang sepi mereka terus diam sampai lift terbuka di lantai 12 dan Zizi berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Arum yang makin mengeratkan pegangan tangannya sendiri lalu berjalan menyusuri lorong yang terasa dingin.

"Kau sering datang kemari?" tanya Arum tiba-tiba membuat Zizi yang sesekali menatapi jam di pergelangan tangannya jadi bisu beberapa saat lalu menjawab singkat.

"Beberapa kali," jawab Zizi pada akhirnya membuat Arum menarik garis bibir tanpa ia sadari. Dan itu tak mungkin bisa disebut senyum. "Kau tau, Maya teman baikku, Arum. No hard feeling ok? semua hanya terjadi."

Ucapan Zizi seakan menusukkan jarum pada wanita yang hanya beda satu tahun dengannya ini. Tak ada lagi panggilan kakak ipar bernada manis yang sering Zizi keluarkan apalagi jika gadis di sampingnya ini menginginkan sesuatu. Bukan salah Zizi, jika menganggp Arum seperti ATM pribadinya. Arum hanya sudah terbiasa begitupun Zizi. Lagipula mereka keluarga, bukan? Atau hanya Arum yang menganggap seperti itu? 

MEREKA KELUARGA, BUKAN! tapi keluarga macam apa mereka ini?

"Ya, aku tahu. Maya teman baikmu, dan aku hanya istri dari kakakmu." Ucap Arum membuat Zizi terdiam mendengar nada ejekan dari bibir iparnya itu dan terus melangkahkan kakinya dalam diam tak mampu membalas. Dan baru berhenti melangkah di depan pintu yang suara dari dalamnya lamat-lamat terdengar.

Zizi tak mau menutup mulutnya, ia menoleh pada Arum yang genggaman tangannya sendiri bahkan membuat buku-buku jarinya memutih saat mendengar seramai apa suara di balik pintu tertutup yang membuat jantungnya bertalu-talu. "Kukatakan saja padamu. Aku kashian padamu Arum, tapi apa yang bisa kulakukan? semua sudah terjadi."

"Ya, tentu saja, Zizi. Kau juga Ibu hanya menutup mata kalian, tak lebih dari itu."

Arum yang bisa merasakan sedalam apa kuku jarinya menancap pada telapak tangannya sendiri ini menyadari hidupnya tak seperti yang dia pikirkan selama ini. Lalu kembali diam menatapi pintu dengan keramaian dan tawa yang membuat jantungnya berdetak makin cepat. Apa lagi saat Zizi menjulurkan tangan lentiknya memencet bel yang tak lama dijawab.

"Siapa?" Suara manja bocah kecil terdengar. 

"Ini tante Zizi, Sayang. Buka pintunya, please," ucap zizi begitu ramah, begitu hangat, begitu akrab pada suara anak kecil yang langsung membuka pintu dan memeluk Zizi cepat tak perduli pada wanita yang berdiri memandangnya dengan mata kaget. Memandangi gadis kecil dengan senyum begitu lebar lalu mendongak menatap Arum yang tubuhnya jadi kaku, membisu dengan suara tercekat tak percaya.

Memperhatikan gadis kecil yang sering dilihatnya setiap kali mengantar dan menjemput Arimbi di preschool yang sama!

"Siapa, Sayang?"

"Tante Zizi, Pi," jawab gadis kecil yang menolehkan kepalanya, menatap pria yang wajahnya berubah begitu melihat Arum yang juga menatap pria yang sudah memakai baju santai itu. 

"Kenapa cuma diam, Pi? suruh masuk dong," ucap wanita yang memeluk pria yang berdiri kaku itu.

Meski tampak terkejut melihat Arum, tangan Maya terus melingkar pada pinggang Bagas. Lalu menunjukan senyum begitu manis pada wanita yang wajahnya begitu kaget. Terkejut. Berusaha mencerna.

"Sayang, kamu jalan sama tante Zizi dulu, ya?" ucap Maya pada gadis kecil berpita pink yang masih memeluk kaki Zizi.

"Tidak bisa, May. Gue ada janji sama Seth." Tolak Zizi cepat begitupun gadis kecil yang melepas pelukannya.

"Tidak mau, Mi. Aku mau nonton dan beli mainan sama Papi!" tolak gadis kecil yang memang keras kepala itu dengan seluruh rasanya.

"Carmen sayang, Papi ada sedikit urusan. Kamu sama tante Zizi dulu, ya? besok baru kita beli mainan yang banyak."

"!!' Ucapan Bagas membuat Arum tiba-tiba mengingat gadis kecilnya di rumah dan bertanya pada dirinya sendiri pernahkan suaminya berlaku begitu lembut pada anak mereka? TIDAK. Tak sekalipun!

"Tapi, aku maunya main sama papi, Pi. bukan sama tanye Zizi."

"Gue jug-"

"Kakak mohon, Zi. Kali ini saja." Ucap Bagas pada adik perempuannya yang meski menolak akhirnya mengangguk, mengalah.

"Ganti bajumu, Tuan putri. Kau pergi denganku."

"Kemana, Tante?"

"Pesta." Ucap Zizi membuat Carmen tersenyum senang lalu berlari ke kamarnya diikuti Zizi yang masuk ke dalam tanpa menoleh pada Arum. Gadis egois itu hanya ingin cepat-cepat pergi untuk bertemu dengan lelaki yang tadi menelponnya. Rasanya ia bahkan tak menyimpan rasa bersalah untuk Arum. Bersalah? Ia bahkan tak bersimpati sedikitpun!

"Jangan harap gue akan ngebatalin acara gue, May." Ucap Zizi saat melihat pandangan Maya padanya.

*

Ruangan yang tampak nyaman itu begitu sepi tanpa suara. Tiga orang yang duduk di atas sofa lembut dan empuk itu tampak tidak ingin memulai percakapan. Tidak Arum, tidak juga Bagas suaminya. Suaminya? lucu sekali, bukan?

Tapi, terdengar dan terlihat selucu apapun Arum Wijaya sama sekali tak ingin tertawa.

"Kau ingin minum sesuatu, Arum?" tanya wanita yang duduk di samping Bagas, menatap Arum yang mengatupkan mulutnya begitu rapat.  

Tak ada rasa bersalah atau menyesal sedikitpun baik dalam sikap atau sorot mata Maya, wanita itu bahkan bersikap begitu santai seolah sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari. Sungguh jauh berbeda dengan wanita yang lebih memilih tak menjawab tanya Maya dan menatap Bagas yang juga diam membisu.

"Sejak kapan?" ucap Arum tak perduli pada pertanyaan basa-basi Maya.

"Arum aku min-"

"Aku bertanya padamu sejak kapan, Mas?" sela Arum memotong ucapan suaminya atau suaminya berdua Maya. Hal yang baru ia ketahui beberapa saat lalu dari mulut sang adik ipar. Zizi yang keluar bersama keponakannya.

'Keponakannya?' batin Arum yang rasanya ingin tertawa sendiri.

"Kami tak pernah berpisah, Arum. Tidak sekalipun." Ucap Maya menggantikan Bagas yang hanya terdiam. Membuat Arum menatap wanita yang duduknya begitu nyaman itu.

"Aku bertanya pada mas Bagas, Maya. Bukan padamu." Ucap Arum membuat Maya menatapnya tajam tapi Arum tak perduli.

"Sejak kapan, Mas Bagas? apa kau mendadak jadi bisu kini?" ucap Arum yang tak perduli pada tatapan menghujam wanita yang duduk di samping Bagas yang terus membisu.

"Arum maafkan aku."

Ucapan Bagas membuat Arum menarik nafasnya dalam. Berharap rasa sesak yang ia rasakan berkurang. Tapi percuma, dadanya seperti ditindih benda berat tak kasat mata yang terasa begitu nyata. "Kau jadi tuli rupanya. Aku bertanya padamu sejak kapan Mas Bagas dan aku tak butuh maafmu."

Ucapan Arum membuat Bagas menatap wanita yang duduk di hadapannnya. Wanita yang tatapannya saja cukup menyiutkan diri pria yang mulutnya jadi terasa begitu kering seketika.

"Aku tak pernah berpisah dengan Maya, Arum. Seperti yang Maya katakan padamu."

"!"

_____

PS. sudahkah merasa sesak? belum? than keep reading it.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Muara Luka
8.2
Kehidupan Yasmin, putri tunggal pengusaha transportasi, runtuh setelah kepergian sang ibu dan terbongkarnya rahasia kelam orang tuanya. Tragedi ini menghancurkan kisah asmaranya dengan seorang pria pekerja keras hingga ia nyaris putus asa. Di tengah keterpurukan, kehadiran Fatih membawa harapan baru bagi jiwanya. Kini, Yasmin didera kebimbangan besar: haruskah ia menerima kehadiran Fatih atau tetap terpaku pada bayang-bayang cinta pertamanya yang penuh luka?
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA
9.2
Kehidupan Yumna runtuh setelah Ilham membatalkan lamaran mereka secara sepihak tanpa alasan pasti. Akibat keputusan itu, ia harus menahan perih akibat cemoohan dan fitnah keji dari tetangga sekitar. Namun, di tengah penderitaan tersebut, sebuah kebenaran besar mulai terkuak. Alasan sebenarnya di balik tindakan Ilham ternyata berhubungan erat dengan sebuah peristiwa misterius delapan tahun lalu. Kini, Yumna dipaksa menghadapi kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan di desa meski kandungannya berisiko tinggi. Saat aku mencoba membawanya ke rumah sakit demi keselamatan, ia malah menuduhku memicu kelahiran prematur bayinya yang lemah. Kebencian itu membuatnya tega meracuniku hingga tewas. Namun, takdir membawaku kembali ke masa lalu, tepat di momen ia meminta saran. Kali ini, aku memilih bungkam dan membiarkannya menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tanganku.
Sampul Novel Pengkhianatan di Tengah Duka
7.8
Setelah tewas didorong dari tebing oleh suaminya sendiri saat hamil tua, sang istri bereinkarnasi. Di kehidupan lalu, ia mencegah suaminya pergi demi menyelamatkan mertuanya, namun hal itu membuat cinta pertama suaminya, Jessi, harus diamputasi hingga memicu dendam sang suami. Kini, ia memilih tidak menghalangi suaminya yang pergi memasak untuk Jessi meski ibu mertuanya diculik. Alih-alih mencegah, ia melaporkan suaminya ke polisi, membiarkan takdir pahit berbalik menghancurkan pria itu.
Sampul Novel Permainan Mustahil
9.7
Cairan anggur merah mengalir perlahan melewati leher jenjang hingga membasahi dadanya, membuat kemeja putih yang dikenakannya melekat erat pada tubuh yang gemetar. Meski didera rasa gugup yang hebat, ada ketegangan mendalam yang justru membangkitkan sensasi lain dalam dirinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita ini secara sadar mengambil langkah berani untuk menggoda pria lain yang bukan suaminya, memulai sebuah permainan berbahaya yang dipenuhi misteri dan hasrat terlarang.