APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan

Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan

Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur begitu saja. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering ia pakai hanyalah dusta demi menutupi keluarga barunya di luar sana. Setelah sekian lama mengorbankan mimpi demi dirinya, pengkhianatan ini menyadarkanku. Aku pun memilih pergi dan segera mengambil beasiswa arsitektur di Singapura.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Fellowship itu masih tersedia, Alana. Kami akan sangat senang menerimamu." Suara direktur itu terdengar hangat di seberang telepon. "Tapi kamu mengerti persyaratannya? Enam bulan, isolasi total. Tidak ada kontak dengan dunia luar."

"Saya mengerti," kataku. Itulah yang kubutuhkan. Tempat untuk menghilang.

"Kami bisa mengatur semuanya untukmu," janjinya. "Beri tahu kami saja rencana perjalananmu."

"Terima kasih," kataku, secercah harapan menembus rasa kebas. "Sampai jumpa di Singapura."

Aku menutup telepon dan langsung pulang. Rumah kami.

Pintu depan terbuka ke ruang tamu yang dipenuhi simbol-simbol kehidupan kami bersama. Sepasang cangkir kopi yang serasi di atas meja. Sebuah foto berbingkai kami di hari pernikahan di atas perapian, lengannya melingkar erat di sekelilingku. Selimut kasmir yang dia belikan untukku, tersampir di sofa tempat kami biasa berpelukan dan menonton film.

Gelombang rasa jijik menyapuku.

Aku mengambil kantong sampah dari dapur dan mulai bergerak di seluruh rumah seperti badai. Cangkir-cangkir itu masuk lebih dulu, pecah berkeping-keping di dasar kantong. Bingkai foto menyusul, kacanya retak. Aku merobek setiap foto kami dari bingkainya, menyobeknya menjadi potongan-potongan kecil, dan melemparkannya ke dalam. Selimut itu, pakaiannya di lemariku, pernak-pernik konyol yang dia bawa pulang dari "perjalanan bisnisnya".

Semuanya masuk ke dalam kantong. Aku menyeretnya ke pinggir jalan, api amarah yang membara membakarku hingga bersih.

Lalu aku mulai berkemas. Pakaianku, buku-bukuku, maket arsitekturku. Semua yang menjadi milikku. Aku mengatur sebuah perusahaan pengiriman untuk mengambilnya dan mengirimkannya ke apartemen lamaku, yang kusimpan sebagai ruang studio.

Bima tidak pulang malam itu.

Dia masuk keesokan malamnya, tampak lelah tapi tersenyum. Dia meletakkan tas kerjanya dan menarikku ke dalam pelukan, lengannya melingkariku seolah tidak ada yang salah.

"Astaga, aku kangen sekali padamu," gumamnya di rambutku, bibirnya menyentuh pelipisku.

Tubuhku menegang. Aku bisa mencium aroma parfum wanita lain yang samar dan manis di kemejanya. Yang bisa kubayangkan hanyalah dia menggendong bayi itu, mencium Rania Adeline. Rasa mual naik ke tenggorokanku.

Aku mendorong diriku keluar dari pelukannya.

Senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi khawatir. "Ada apa, Alana? Kamu terasa dingin."

"Aku baik-baik saja," kataku, suaraku datar.

"Kamu tidak baik-baik saja," desaknya, alisnya berkerut. "Apa kamu sakit? Ayo kita ke dokter."

Kemunafikan ini menyesakkan. Dia bisa memainkan peran sebagai suami yang peduli dengan begitu sempurna, bahkan setelah menghabiskan malam bersama keluarga lainnya.

"Aku tidak sakit," kataku. "Aku hanya lelah."

Dia tidak mendesak. Sebaliknya, dia mengeluarkan serangkaian kotak berbungkus kado dari tas kerjanya. "Aku membawakanmu hadiah. Dari perjalananku."

Dia bahkan memalsukan bukti perjalanan bisnis. Syal sutra dari desainer yang kubenci. Sebotol parfum yang tidak akan pernah kupakai. Setiap hadiah adalah kebohongan yang dibuat dengan cermat, sebuah bukti kedalaman penipuannya. Harga hadiah-hadiah ini mungkin bisa mendanai sebuah perusahaan rintisan kecil, tetapi pemikiran di baliknya tidak ada nilainya.

Aku ingin berteriak, melemparkan kotak-kotak itu ke wajahnya dan menuntut untuk tahu bagaimana dia bisa melakukan ini. Tapi kata-kata itu tidak mau keluar. Aku terjebak di antara wanita yang masih, di suatu tempat di lubuk hatiku, mencintai pria yang dulu, dan wanita yang tenggelam dalam kebenaran tentang siapa dia sekarang.

Dia memperhatikan keheninganku, kemerahan di mataku.

"Ada apa, Alana? Bicaralah padaku."

Aku menatap lurus ke matanya, suaraku keras. "Aku mau punya anak, Bima. Aku mau sekarang juga."

Wajahnya berubah. Sekilas kepanikan, lalu topeng kesabaran yang lelah. "Kita sudah membicarakan ini. Waktunya tidak tepat."

"Tidak pernah ada waktu yang tepat untukmu," balasku.

"Perusahaan baru saja meluncurkan inisiatif baru. Aku di bawah banyak tekanan." Alasan yang sama. Selalu sama.

"Kamu pikir aku tidak di bawah tekanan?" desakku, suaraku meninggi. "Aku ingin seorang anak, Bima. Denganmu."

Ponselnya berdering, menyelamatkannya. ID penelepon kosong. Dia meliriknya, ekspresinya berubah serius.

"Ini pekerjaan," katanya, sudah berbalik. "Aku harus pergi." Sebuah kebohongan. Aku tahu itu bohong.

Dia mencium keningku, sebuah gerakan yang sekarang terasa seperti cap pengkhianatannya. "Aku akan pulang larut. Jangan menungguku."

Aku mengawasinya dari jendela saat dia masuk ke mobilnya dan melesat pergi, menghilang ke dalam malam.

Aku ambruk di sofa, semangat juangku terkuras, hanya menyisakan rasa sakit yang menusuk tulang. Dia bisa punya anak dengannya, tapi tidak denganku. Pikiran itu adalah sebuah pukulan fisik.

Pandanganku jatuh pada ponsel keduanya, yang dia klaim "untuk urusan bisnis internasional," tergeletak di meja kopi. Dia melupakannya dalam ketergesa-gesaannya. Layarnya menyala dengan sebuah pesan.

Dari Rania: "Demam Leo kambuh lagi. Dia terus mencari ayahnya."

Dia bahkan tidak menyadari aku berbeda. Bahwa rumah itu setengah kosong. Bahwa hati istrinya hancur berkeping-keping.

Setetes air mata mengalir di pipiku, lalu satu lagi. Rasa sakit di hatiku begitu hebat hingga terasa seperti sensasi fisik, tetapi itu dibayangi oleh kram yang tiba-tiba dan hebat di perutku.

Aku terhuyung ke depan, tanganku membekap mulut saat aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutku ke toilet.

Tubuhku terasa aneh. Ini bukan hanya patah hati. Sebuah pikiran dingin dan menakutkan mulai terbentuk di benakku. Sebuah kemungkinan yang merupakan keajaiban sekaligus kutukan.

Dia tidak pulang malam itu.

Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit sendirian.

Dokter tersenyum, matanya berkerut di sudut saat dia melihat layar USG.

"Selamat, Bu Nugraha," katanya, suaranya cerah dengan kegembiraan yang tidak bisa kurasakan. "Anda hamil enam minggu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu
8.9
Hidupku berakhir tragis saat Arifin, suamiku, membiarkanku tewas dalam mobil yang terbakar demi menyelamatkan selingkuhannya. Tragisnya, itu adalah pembunuhan berencana demi menguasai warisanku. Namun, takdir berkata lain. Aku terbangun di masa kuliah dengan ingatan masa depan yang utuh. Menatap Arifin yang tampak tak berdosa, aku kini tahu kelicikan di balik wajah itu. Kesempatan kedua ini akan kugunakan untuk membalas dendam dan menghancurkan para pengkhianat.
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana menjadi istri penurut yang diabaikan Bima tanpa kehangatan. Begitu sang kakek berpulang, ia langsung diceraikan agar suaminya bisa bersama wanita idaman lain. Saat terpuruk, Hana malah dipertemukan dengan Matheo. Kesalahpahaman besar membuat bos yang kejam itu menuduhnya sebagai mata-mata. Pertemuan tak terduga dengan pria dingin tersebut seketika mengubah total seluruh garis kehidupan Hana selanjutnya.
Sampul Novel Dua Takdir, Satu Malam
9.7
Tepat sebelum hari pernikahannya, Damar terbangun di sebelah sekretarisnya, Kyra. Menuduh Kyra menjebaknya, Damar yang murka segera memecatnya dan merusak nama baiknya. Hidup Kyra seketika hancur tanpa rumah dan biaya untuk mengobati sang ibu. Di tengah kemalangan ini, ia mendapati dirinya mengandung. Berbulan-bulan berlalu, takdir mempertemukan mereka lagi saat Kyra berjuang sendiri. Kebenaran di balik malam itu pun mulai tersingkap.
Sampul Novel Jangan rebut suamiku!
9.4
Akibat insiden tak terduga, Sena Anindhita terjebak dalam pernikahan dingin bersama Arga Bhanu. Kehidupan rumah tangganya menjadi sumber penderitaan karena ia terpaksa berbagi suami. Arga menolak menyentuh Sena dan tetap setia mencintai kekasihnya, Gisca. Walau Sena terus berharap cinta suaminya akan tumbuh, kenyataan pahit membuktikan bahwa ikatan Arga dan Gisca tak tergoyahkan, meninggalkan Sena dalam kehampaan.
Sampul Novel Setiap Rahasiamu Akan Kubongkar
7.9
Selina memberi Dina pilihan sulit: menjadi istri kedua atau menjauhi Rafael selamanya. Alih-alih mundur, Dina justru kian gencar merebut posisi Selina. Ketika putri mereka, Alya, mulai mengendus perselingkuhan tersebut, Selina memutuskan untuk bertindak. Dibantu dua saudara Rafael, ia merancang strategi matang guna menghadapi teror emosional Dina. Kini, di tengah badai pengkhianatan, Selina dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atas nama cinta atau bangkit demi harga dirinya.
Sampul Novel Terjerat Nikmat Sesaat
9.3
Di tengah gemerlap asmara modern, ada satu aturan penting yang wajib ditaati: jangan jatuh cinta agar tidak terjebak dalam kerumitan. Kisah ini menyoroti pergolakan emosi yang mendalam ketika batas kenyamanan fisik dan komitmen sejati kian kabur. Saat hasrat sesaat berubah menjadi dilema batin yang pelik, mampukah akal sehat bertahan menghadapi kuatnya tarikan perasaan, atau justru takdir yang akan menentukan akhir segalanya?