
Lima Tahun Kematianku, Ibu Masih Menginginkan Korneaku
Bab 2
Nenek duduk di sana dengan tenang. Setelah menunggu ibu selesai mencari, Nenek baru membuka suara.
"Stella benar-benar sudah meninggal. Jasadnya telah disumbangkan."
"Dia bilang dia ingin menghilang dari hadapanmu dan nggak ingin bertemu denganmu selamanya."
Ekspresi ibu menjadi sangat mengenaskan. Dia menatap nenek dengan tatapan kejam.
"Bu, kamu itu ibu kandungku."
"Apakah kamu masih ingat bagaimana ayahku meninggal? Kalau bukan karena si pembawa sial ini, ayahku pasti akan baik-baik saja. Mata Jason juga akan baik-baik saja."
"Sekarang aku hanya minta satu kornea si pembunuh itu saja. Aku nggak menginginkan nyawanya."
"Aku sangat menyesal mengadopsi dia."
Nenek memandang ibu dengan tatapan kecewa. "Dia juga menyesal diadopsi olehmu."
Ibu langsung menendang kursi di sebelahnya.
"Kalau dia nggak muncul, kamu akan aku usir."
"Nama yang tertulis sertifikat kepemilikan rumah ini adalah namaku. Kalau aku nggak kasih kamu tinggal, jangan harap kamu bisa tinggal di sini."
Ibu membanting pintu dan keluar dari sana. Nenek terkulai lemas ke lantai dan mengeluarkan fotoku satu-satunya dari sakunya.
Air matanya mengalir deras.
"Stella, kalau kamu nggak bertemu dengan keluarga kami, apakah kamu bisa hidup dengan baik?"
"Kamu nyesal nggak sudah nolongin Jason?"
Entahlah, aku juga tidak tahu.
Lima tahun lalu, tanpa persetujuan orang tua, Jason bersikeras ingin ikut trip perpisahan sekolah.
Aku takut sesuatu akan terjadi pada Jason, makanya aku terpaksa pergi bersamanya.
Pada akhirnya, Jason kembali ke rumah sendirian sambil menutupi mata kanannya yang buta.
Jason memberi tahu ibu bahwa aku melarikan diri setelah bertemu dengan orang jahat. Sedangkan, matanya ditusuk sampai buta. Setelah berjuang keras, dia baru bisa kabur.
Ketika mendengar aku hilang, kakek terkena serangan jantung dan meninggal di tempat.
Ibu membawa Jason ke rumah sakit untuk berobat dan terus memarahiku.
Dia berharap aku mati saja di luar.
Namun, ibu tidak tahu bahwa hidupku jauh lebih menderita daripada mati.
Trip perpisahan yang Jason maksud itu katanya ada seorang gadis yang bisa diajak bermain sepuasnya.
Sebenarnya, orang-orang itu tertarik dengan ginjal Jason. Namun, situasi menjadi berbeda saat aku, yang seorang gadis, turut hadir.
Kami ditangkap ke dalam pegunungan.
Dalam perjalanan, aku menemukan kesempatan untuk melarikan diri. Aku berusaha menahan para pria itu dan membiarkan Jason melarikan diri.
"Cepat lari dan lapor polisi!"
"Dari aksen mereka, aku tahu dari mana asal mereka. Kamu harus minta polisi datang untuk menyelamatkanku."
Jason mengiyakannya.
Namun, dia tidak kembali lagi.
Aku diseret ke dalam pegunungan oleh orang-orang itu seperti anjing mati.
Mereka mengurungku di sebuah gubuk. Gubuk rendah itu tidak semuanya tertutup rapat dan hanya beratapkan jerami.
Saat hujan, seluruh gubuk itu dipenuhi air.
Aku hanya bisa terbaring di lumpur dan dianiaya oleh orang-orang itu.
Orang yang mengunjungiku tidak pernah habis. Mereka mengenakan biaya per orang.
Terakhir kali biayanya sebesar dua puluh ribu atau sepotong daging sapi asap.
Aku sudah tidak dapat menghitung lagi sudah berapa banyak laki-laki yang datang. Ada yang sudah tua, ada yang masih kuat, ada yang cacat.
Bahkan, ada pula yang mengalami gangguan otak.
Asalkan ada uang, siapa pun bisa melakukannya.
Aku menghitung hari di luar sana selama tiga tahun.
Entah sudah berapa kali aku hamil, tetapi setiap satu atau dua bulan usia kehamilan, aku akan dibuat keguguran.
Karena aku tidak dapat menghasilkan uang jika hamil.
Dari obrolan terputus-putus orang-orang itu, aku mendapat beberapa informasi.
Setelah Jason berhasil kabur ke kabupaten tahun itu, dia bisa saja melaporkan ke polisi.
Namun, dia tidak melakukannya.
Dia tidak berhenti karena takut dikejar oleh mereka.
Sebenarnya, hanya perlu lima menit bagi polisi untuk bisa menemukanku.
Tetapi, Jason bahkan tidak memberiku kesempatan ini.
Aku hanya bisa berubah menjadi lebih patuh hari per hari dan membuat mereka perlahan-lahan mengurangi kewaspadaan.
Akhirnya ....
Pada tahun itu, turun hujan yang sangat lebat. Tanah longsor di pegunungan menerjang gubuk tersebut.
Aku berhasil melarikan diri.
Namun, aku membutuhkan waktu dua tahun untuk berjalan kaki dari pegunungan ke rumah nenekku.
Setelah melihat nenek, dia tidak dapat mempercayai matanya. Dia berulang kali memastikan apakah aku itu nyata.
Aku menangis dan melemparkan diriku ke dalam pelukannya.
Sambil menahan kesedihan yang luar biasa, nenek menelepon ibu dan memintanya datang.
Namun, ibu sibuk mengurus Jason.
Ibu terus mengatakan bahwa nenek berbohong, "Mana mungkin anak nggak tahu diri itu kembali. Kalaupun dia kembali, aku pasti akan mematahkan kakinya!"
Nenek menghabiskan seluruh tabungannya untuk mengobatiku, tetapi tubuhku sudah hancur.
Oleh karena itu, setelah menandatangani perjanjian untuk donasi tubuh, aku meninggal di ranjang rumah sakit.
Nenek menghubungi ibu setelah aku meninggal, tetapi dia menganggap nenek sudah linglung karena sudah tua.
Karena ibu percaya pada Jason, yang mengatakan bahwa aku berhasil dirayu oleh seorang preman.
Ibuku makin benci padaku.
Dia tidak pernah percaya padaku. Dia hanya percaya pada Jason.
Dulu begitu, sekarang pun begitu.
Anda Mungkin Juga Suka





