
Lenyap Bersama Kenangan
Bab 4
Ingatan Ridho perlahan mulai pulih. Efek pengobatan mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Sehari sebelum pernikahan, tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya, lalu menatapku lama sekali tanpa mengalihkan pandangan.
“Lovina,” panggilnya pelan, suaranya terdengar agak ragu, “Belakangan ini … sepertinya aku mulai mengingat beberapa hal.”
Nada suaranya mendadak menjadi serius, “Kotak musik yang pernah kukasih ke kamu, masih ada? Yang ada foto kita berdua di dalamnya.”
Aku mendongak dan melihat harapan di matanya. Rasanya seperti ada yang menusuk hatiku.
Kotak musik itu sudah lama menjadi abu, ikut terbakar bersama semua kenangan yang dulu pernah kusimpan.
Aku memaksakan senyum, lalu menjawab pelan, “Nggak sengaja hilang.”
Harapan dalam tatapannya langsung redup, tapi dia segera menenangkan diri, “Nggak apa-apa, kubelikan lagi untukmu nanti.”
Aku tak menjawab, hanya menatapnya diam-diam.
Tatapannya sudah tak lagi dingin seperti dulu, kini ada kelembutan dan juga rasa bersalah.
Namun aku tahu, kelembutan itu bukan sepenuhnya untukku.
Sudah ada orang lain yang mengisi hatinya.
Dia berjalan ke arah jendela, menatap ke halaman belakang yang kosong. Keningnya sedikit berkerut dan bertanya, “Di mana pohon sakuranya? Aku ingat dulu ada pohon sakura di sana.”
Aku ikut berdiri dan menjawab dengan tenang, “Waktu renovasi, pohonnya nggak sengaja ditebang tukang.”
Jari-jarinya mengetuk-ngetuk jendela tanpa sadar. Sorot matanya tampak panik, tapi segera kembali tenang, dia pun berkata, “Kalau begitu, kita tanam lagi saja. Sekarang juga musim yang pas untuk menanam.”
Aku mengangguk, tidak menolak.
Dia menggandeng tanganku dan buru-buru ke halaman belakang, mencari cangkul, lalu mulai menggali tanah.
“Lovina, kamu masih ingat, nggak? Waktu umur enam belas tahun, aku menanam pohon sakura di sini.”
Sambil menggali, dia terus berbicara, “Kamu pernah bilang, saat kita menikah nanti, mau adakan acaranya di bawah pohon ini. Aku juga berjanji bakal menemanimu melihat bunganya setiap kali sakuranya mekar.”
Aku memandangnya. Seketika, rasanya seperti melihat kembali sosok anak muda itu.
Dulu, dia memang mencintaiku, tapi sekarang, dia juga benar mencintai orang lain.
Dia meletakkan bibit pohon sakura ke dalam lubang yang sudah digali, lalu mendongak menatapku, tatapannya penuh kelembutan.
“Pohon bisa kita tanam lagi, cinta kita juga bisa, ‘kan?”
Aku membuka mulut, tapi tak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Dia melirik layar, lalu mengernyit dan menolak panggilan itu.
Namun belum sampai beberapa detik, ponselnya berdering lagi.
Dia menolak lagi, wajahnya mulai terlihat kesal.
“Angkat saja, siapa tahu penting,” kataku pelan.
Dia sempat ragu, tapi akhirnya mengangkat telepon itu juga.
Dari seberang sana, terdengar suara tangisan Yolanda. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang dia ucapkan, tapi aku bisa melihat wajah Ridho yang langsung berubah.
Dia buru-buru menutup telepon, lalu menoleh melihatku dan berkata, “Lovina, aku ada urusan penting, harus pergi dulu. Tenang saja, aku janji bakal tanam pohon ini besok.”
Aku mengangguk, memperhatikan dia yang bergegas pergi dan melihat sosoknya yang menghilang dalam senja.
Aku tahu, dia pergi menemui Yolanda.
Aku tetap berdiri di tempat, menatap bibit pohon sakura yang belum selesai ditanam. Hatiku cukup tenang.
Ridho, sudah tidak ada masa depan di antara kita.
Besok adalah hari pernikahan, tapi aku sudah membeli tiket pesawat untuk pergi.
Kali ini, aku tidak akan menoleh ke belakang lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





