APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lenyap Bersama Kenangan

Lenyap Bersama Kenangan

Setelah kematian tragis Ridho yang menyelamatkan nyawanya, rahasia besar terungkap melalui buku harian peninggalannya. Ridho ternyata mencintai wanita lain bernama Yolanda saat hilang ingatan, namun dipaksa menikahinya. Di tengah kemarahan mertua yang menyalahkannya atas kematian Ridho, sang istri memilih mengakhiri hidup. Namun, ia justru terbangun kembali di masa lalu saat Ridho baru pulang dari desa nelayan. Kali ini, ia memutuskan untuk merelakan suaminya bersatu dengan cinta sejatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ridho, temani Lovina pergi coba gaun pengantin, ya. Biar kalian anak muda yang pilih sendiri saja, kami nggak ikut campur,” kata ayah Ridho.

Ridho berdiri dan mengulurkan tangan padaku. Aku menatap jari-jarinya yang panjang, teringat bahwa di kehidupan lalu, tangan inilah yang menulis kerinduan terhadap wanita lain dalam buku hariannya.

“Aku takkan pernah lupa bagaimana Yolanda berdiri di dermaga, angin laut menerbangkan gaun bermotif bunganya dan dia menangis begitu sedih.”

“Terkadang, saat menatap orang yang tidur di sampingku, aku berpikir kalau saja tidak kehilangan ingatan dulu, kalau saja tak bertemu dengan Yolanda, mungkinkah hidupku sekarang akan berbeda?”

Kalimat-kalimat itu terasa seperti pisau yang menyayat hatiku hingga berdarah-darah.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum manis, lalu menggandeng lengan Ridho.

Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit kaku, tapi pura-pura tidak menyadarinya.

Saat di dalam mobil, aku menyebutkan sebuah alamat.

Itu adalah butik gaun pengantin paling mewah di kota ini. Di kehidupan lalu, aku menghabiskan waktu seharian di sana untuk mencoba gaun-gaun indah, mengira diriku adalah calon pengantin paling bahagia di dunia.

“Katanya butik ini baru kedatangan koleksi gaun terbaru, ayo kita lihat-lihat dulu,” ujarku sambil menoleh padanya, lalu bertanya lagi, “Ridho, kamu suka model seperti apa?”

Tangannya yang memegang setir sedikit mengepal, lalu menjawab, “Yang penting kamu suka saja.”

Aku menahan air mata yang hampir menetes, lalu menoleh ke arah jendela.

Ridho, di kehidupan ini … aku tak mau menikah denganmu lagi.

Saat kami sedang mencoba gaun, ada seorang gadis lain yang kebetulan juga sedang mencoba gaun.

Dia mengenakan gaun potongan duyung yang simpel, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.

Begitu melihat kami masuk, tatapannya sempat tertuju pada Ridho beberapa detik, lalu tersenyum ramah padaku.

“Wah, kebetulan sekali! Kalian juga datang coba gaun, ya? Perkenalkan, namaku Yolanda, aku sudah mau menikah bulan depan,” katanya sambil mendekat, tampak sangat akrab.

Aku mengamati gadis itu, tatapan matanya sangat ekspresif. Saat tersenyum, sudut matanya sedikit melengkung, memberi kesan manis dan mempesona.

Di kehidupan lalu, aku tak pernah sadar tatapan seperti apa yang dia berikan pada Ridho?

“Iya, kami datang coba gaun pengantin juga. Namaku Lovina, ini Ridho, tunanganku,” jawabku sambil tersenyum.

Tatapan Yolanda kembali jatuh pada Ridho, kali ini lebih lama dari sebelumnya.

Ridho berdiri di sampingku, tampak sedikit bingung dan tidak fokus.

“Tunanganku sangat baik padaku,” ujar Yolanda yang langsung menggenggam tanganku dan mulai bercerita panjang lebar.

“Dia selalu ingat hari pertama kami bertemu. Dia selalu mengirim bunga mawar putih untukku setiap bulan. Minggu lalu, aku hanya iseng bilang mau makan kue dari toko di ujung kota, dia bela-belain putar jauh pulang kerja untuk belikan untukku ….”

Aku menyadari jari-jari Ridho yang sedikit mengencang, tanda kalau emosinya sedang tidak stabil.

Di kehidupan lalu, aku kira dia gugup soal pernikahan kami. Sekarang aku sadar, itu karena dia sedang menahan rasa cemburu.

“Lalu kamu? Kamu mencintainya?” tanya Ridho tiba-tiba dengan suara yang agak serak.

Yolanda terdiam, senyuman di wajahnya sempat membeku.

Secara reflek, dia menatap Ridho dengan pandangan yang agak panik.

“Ten … tentu saja cinta,” jawabnya, mencoba tenang, tapi jarinya mulai meremas ujung gaunnya.

Ridho terkekeh pelan, tatapannya menjadi tajam.

Aku hanya berdiri di samping, berpura-pura tenang menyaksikan semua ini.

Seberapa bodohnya aku di kehidupan lalu, sampai-sampai tak bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari hubungan mereka?

Usai mencoba gaun pengantin, Ridho bilang ada urusan mendadak di kantor dan buru-buru pergi.

Aku beralasan pergi ke kamar mandi, tapi diam-diam mengikutinya dari belakang.

Di tempat parkir, aku melihat Ridho menarik Yolanda dan mendorongnya ke dinding, lalu mencium bibirnya dengan penuh emosi.

Awalnya, Yolanda sempat menolak, tapi tak lama kemudian, dia pun melemah dalam pelukannya.

“Kamu jelas-jelas nggak mencintainya, kenapa masih mau menikah dengannya?” tanya Ridho dengan penuh amarah yang tertahan.

Yolanda menjawab dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, “Lalu kamu? Bukannya kamu juga sudah mau menikah?”

“Itu beda ….” jawab Ridho dengan suara yang rendah, lalu mereka kembali saling berpelukan.

Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram jantungku begitu keras hingga aku nyaris tak bisa bernapas.

Aku terhuyung mundur beberapa langkah, menyandarkan tubuh ke dinding yang dingin dan air mata mulai mengalir tanpa bisa dihentikan.

Aku teringat saat berusia lima tahun, pertama kalinya Ridho datang berkunjung ke rumahku.

Dia mengenakan setelan jas kecil, mirip seperti orang dewasa mungil, lalu menggenggam tanganku dan dengan polos berkata, “Adik cantik sekali, aku mau menikahimu kalau sudah dewasa nanti.”

Waktu itu, dia belum mengerti apa itu perjodohan, dia hanya tulus menyukaiku.

Dia pernah berlari keliling kota hanya demi mencari jepitan rambut kesukaanku.

Ingat suatu kali, aku terpikat pada jepit rambut kristal di etalase toko. Tanpa ragu, dia langsung menarik sopirnya keliling kota untuk mencari yang serupa. Sampai akhirnya menemukannya di sebuah toko kecil yang terpencil, sepatu kulitnya bahkan sudah sampai lecet.

Saat aku demam, dia selalu diam-diam masuk kamarku dan berjaga semalaman di samping ranjangku.

Pernah suatu kali ketahuan orang tua, dia malah dengan yakin berkata, “Aku mau jaga calon istriku!”

Kata-katanya sampai membuat ayah Ridho marah besar.

Setiap hari perayaan, dia selalu menyiapkan kejutan dengan penuh perhatian.

Waktu natal di usia sepuluh, dia membuatkan kotak musik dengan foto kami berdua di dalamnya.

Begitu diputar, kotak itu memainkan sebuah lagu berjudul [Fur Elise].

Katanya, itu lambang cinta kami, aku harus menyimpannya baik-baik.

Saat ulang tahunku yang ke-16, dia menanam pohon sakura di halaman belakang rumah.

Katanya, kalau nanti sudah menikah, dia ingin acaranya digelar di bawah pohon itu.

Dulu, hanya ada aku di dalam hatinya.

Sekembalinya ke rumah, aku membakar semua kenangan kami.

Aku berdiri di halaman belakang, menatap pohon sakura yang kini telah menjulang tinggi. Aku pun menuangkan bensin di akarnya.

Api menyala tinggi, memantulkan cahaya merah di wajahku.

Janji masa kecil, kenangan indah, semuanya habis dalam kobaran api itu.

Aku melemparkan kotak musik ke dalam kobaran api, menyaksikan benda itu perlahan meleleh.

Semua hadiah yang dulu sangat berarti, semua benda yang menyimpan kenangan indah, satu per satu kulempar ke dalam api.

Terakhir, aku mengeluarkan cincin tunangan.

Berlian itu berkilau dingin di tengah nyala api, persis seperti tatapan terakhir Ridho padaku, dingin dan tak berperasaan.

Tanpa ragu, aku melemparkannya ke kobaran api, melihatnya ditelan oleh nyala api yang membakar.

Api perlahan padam, menyisakan tumpukan abu.

Aku berdiri di tengah reruntuhan, merasakan sebuah kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kenangan yang dulu menghantuiku, semua masa lalu yang pernah membuatku menderita, lenyap tak bersisa bersama kobaran api.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Nyawa Alice terselamatkan dari gulungan ombak maut berkat aksi heroik Archer. Sosok misterius penolongnya itu ternyata adalah duyung jantan, fakta luar biasa yang baru Alice percayai setelah menyentuh ekor berototnya sendiri. Usai kejadian ajaib tersebut, Archer meminta bantuan kepada Alice. Akankah kehidupan tenang Alice berubah sepenuhnya setelah terikat takdir dengan sang penghuni samudra? Ikuti kisah fantasi romantis modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel Another Maze
9.6
Uji coba mesin waktu memicu ledakan bola misterius akibat sentuhan Robert Hans. Insiden ini menghancurkan laboratorium dan menyisakan ilmuwan Zora sebagai satu-satunya penyintas. Demi menyelamatkan Hans yang tak sadarkan diri, Zora nekat melintasi ruang waktu tanpa arah jelas. Di dimensi lain, Dewi Penjaga Waktu memberi tahu bahwa mereka hanya bisa pulang jika berhasil mengumpulkan serpihan Air Mata Aldebran di berbagai alam asing sebagai kunci penyelamat.
Sampul Novel Cinta yang Melintasi Waktu
9.5
Sepuluh tahun pernikahan Lestari dipenuhi kebencian Atmaja yang berduka atas kematian cinta pertamanya. Namun, saat kebakaran melanda, Atmaja justru mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya. Diiringi penyesalan mendalam dan tuduhan dari mertuanya yang berharap Atmaja menikahi Intan, Lestari memilih mengakhiri hidup dengan melompat dari Menara Bintang. Keajaiban membawanya kembali ke sepuluh tahun lalu. Kini, ia bertekad melepaskan Atmaja dan mengubah takdir mereka selamanya.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Dua lelaki misterius tiba-tiba menyergap Fengying tanpa diduga. Akibat hantaman keras salah satu penyerang, ia jatuh terjerembap hingga melukai pergelangan tangannya. Meski didera rasa sakit, Fengying bangkit berdiri dan meluapkan kemarahannya pada kedua pelaku. Namun, situasi justru kian genting saat lawan melayangkan ancaman mati. Mereka mendesak Fengying menyerahkan pedang pusakanya saat itu juga, atau nyawanya akan dihabisi tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Legenda kuno penghisap darah menyebarkan teror mistis di tanah Kalimantan. Makhluk gaib ini mengincar ibu hamil dan perempuan yang sedang melahirkan. Menghadapi ancaman mengerikan tersebut, hukum adat menjadi benteng pertahanan terakhir yang mutlak. Seluruh masyarakat, termasuk warga suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci turun-temurun. Kelalaian kecil dalam mematuhi aturan adat ini dipastikan akan mendatangkan malapetaka yang sangat fatal bagi mereka.