APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku

Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku

Demi masa depan sang adik dan jeratan utang keluarga, Vania terpaksa bekerja di dunia malam. Langkah ini membawanya bertemu Reza, konglomerat yang dipenuhi trauma masa lalu. Awalnya, Reza hanya memandang Vania sebagai barang transaksi. Namun lambat laun, interaksi dingin mereka berubah menjadi ikatan emosi yang kompleks. Terjebak di antara kebencian, candu, dan status sosial, mampukah benih asmara tumbuh tulus di atas luka serta pengorbanan harga diri mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam di Kota Penuh Dosa selalu memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menawarkan gemerlap yang memabukkan, panggung mewah bagi mereka yang haus akan kesenangan. Di sisi lain, ia adalah jurang gelap yang memaksa sebagian orang menjual diri demi sesuap nasi. Malam itu, untuk Vania, kota ini adalah surga dan neraka sekaligus.

Vania, nama panggungnya, adalah seorang mahasiswi cerdas di salah satu kampus termahal di kota. Di siang hari, ia mengenakan seragam kampusnya yang rapi, membawa buku-buku tebal, dan berdebat tentang teori ekonomi dengan para profesor. Namun, begitu matahari terbenam, ia harus menanggalkan identitasnya itu. Vania mengenakan gaun mini ketat berbahan tipis, yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dada rendah pada gaunnya menonjolkan payudaranya yang besar dan penuh, menjadi daya tarik utama baginya untuk menarik perhatian para pria hidung belang.

Pilihan itu bukan keinginannya. Ia terpaksa bekerja malam di diskotik, melayani om-om dan siapa pun yang mampu membayar, demi melunasi hutang orang tuanya yang sudah meninggal dan membiayai sekolah adiknya yang masih duduk di bangku SD. Setiap malam, ia harus mengubur rasa malunya dalam-dalam, menelan ludah dari setiap kata hinaan, dan merelakan tubuhnya menjadi komoditas. Ia hanyalah sebuah boneka porselen di antara para predator.

Malam itu, Vania sedang berada di lobi sebuah hotel mewah yang terhubung dengan diskotik, menunggu kliennya. Tiba-tiba, seorang om-om tua dengan perut buncit dan wajah kemerahan mendekatinya. Wajahnya terlihat berkuasa, dengan cerutu yang mengepulkan asap.

"Kau... Vania, kan?" tanya om-om itu, suaranya serak.

Vania tersenyum paksa. "Benar, Tuan. Anda sudah menunggu saya?"

"Tentu saja. Aku sudah melihatmu dari tadi. Kau sangat menggoda," kata om-om itu, matanya jelalatan menatap tubuh Vania. "Aku ingin menyewamu malam ini. Lebih privat. Di kamar."

Vania mengangguk, hatinya berteriak benci. Ia benci setiap sentuhan menjijikkan dari para pria yang hanya melihatnya sebagai objek. Namun, ia tidak punya pilihan. Uang adalah segalanya. Ia akan melakukan apa pun demi adiknya.

"Baik, Tuan. Kita ke kamar Anda?" Vania bertanya, mencoba mengendalikan nada suaranya.

Tepat saat Vania akan berjalan, tiba-tiba seorang lelaki mabuk muncul dari kerumunan. Pria itu muda, tampan, dan terlihat sangat kaya. Rambutnya acak-acakan, kemejanya sudah tidak rapi, dan matanya memancarkan amarah yang terpendam. Reza, nama pria itu, adalah seorang badboy yang sedang membutuhkan pelampiasan atas masalahnya. Matanya langsung tertuju pada Vania, yang terlihat seperti malaikat di tengah kegelapan.

Reza berjalan sempoyongan mendekati Vania dan om-om tua itu. Tanpa basa-basi, ia menyentuh lengan Vania. "Kau, ikut denganku," kata Reza, suaranya parau karena alkohol.

Om-om tua itu mengerutkan dahi, marah. "Hei, Tuan Muda! Kau siapa?! Aku sudah lebih dulu menyewanya!"

Reza menoleh pada om-om itu dengan tatapan tajam. "Aku tidak peduli. Aku akan menyewanya dengan harga yang lebih mahal. Berapa hargamu, Tuan Tua?"

Om-om itu mendengus. "Aku akan bayar 50 juta rupiah untuk semalam!"

Reza menyeringai. "Aku akan membayarnya seratus juta permalam. Bagaimana?" Reza membalikkan wajahnya ke arah Vania. "Kau mau?"

Mata Vania membelalak. Seratus juta? Jumlah itu bisa membayar seluruh hutang orang tuanya. Jumlah itu bisa membiayai sekolah adiknya sampai kuliah. Vania terdiam, hatinya bergejolak. Rasa malu dan harga dirinya bertarung dengan keinginan untuk menyelamatkan adiknya dari kemiskinan. Vania menatap om-om tua itu, lalu menatap Reza yang terlihat muda dan tampan. Pilihan ini terasa lebih ringan.

"Aku... aku mau," bisik Vania, matanya berkaca-kaca. Ia tergiur lalu menerima tawaran itu.

Om-om tua itu marah besar. "Dasar wanita mata duitan!" teriaknya, lalu pergi dengan amarah yang memuncak.

Reza menarik Vania, menggenggam tangannya erat. Tanpa berkata-kata, lelaki itu membawanya ke kamar privat di lantai teratas hotel.

Layanan Penuh Gairah dan Kekerasan

Sesampainya di kamar, Reza tidak lagi peduli dengan uang atau perasaan Vania. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Pintu kamar tertutup dengan bunyi berdebam, dan Reza langsung menjatuhkan tubuh perempuan itu ke kasur lebih liar. Vania menjerit kecil, tubuhnya terhempas ke atas kasur empuk.

Reza naik ke atas ranjang, menaiki tubuh Vania. Vania kewalahan menghadapi pelayan ini. Ia tidak pernah menghadapi pria sebuas ini. Para kliennya, meskipun menuntut, selalu memperlakukannya dengan sedikit kelembutan. Namun Reza... ia terlihat seperti binatang buas yang dilepas dari kandangnya.

Tanpa basa-basi, Reza membuka pakaiannya, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan atletis. Ia kemudian menunduk, lalu mencium bibir Vania kasar. Vania mencoba melawan, namun tenaga Reza terlalu kuat. Reza melumat bibir Vania, mengisapnya, membuat Vania merasa kesakitan.

"Emmmphh... lepaskan..." desah Vania di sela ciuman yang kasar itu.

Reza tidak peduli. Ia terus menciumnya dengan liar, lalu tangannya bergerak ke gaun Vania. Dengan sekali sentakan, ia merobek dress Vania, membuat Vania telanjang. Vania terkejut dan malu, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Reza kemudian menatap Vania dengan tatapan penuh nafsu. "Kau milikku malam ini," bisik Reza, suaranya serak. Ia kemudian mengelus payudara Vania. "Payudaramu yang besar ini... sangat menggoda..."

Reza mulai melakukan hubungan seksual dengan Vania. Ia mencium Vania lagi, lebih buas, lebih menuntut. Ia menghisap payudara Vania, membuat Vania mendesah kencang.

"Ahh... Reza... enakkk... ahhh..." desah Vania, kepalanya mendongak. Meskipun ia merasa takut dan terintimidasi, sentuhan Reza yang liar membangkitkan gairah yang terpendam di dalam dirinya.

Reza tidak membuang waktu. Ia menelanjangi dirinya sepenuhnya, lalu ia menaikkan kakinya di kedua sisi pinggang Vania. Dengan cepat, ia memasukkan penisnya yang sudah sangat tegang ke dalam vagina Vania.

"Ahh... sakit... Reza... pelan-pelan..." desah Vania.

Reza mendesah puas. "Sialan... kau sangat nikmat, Vania... ahhhh..."

Reza mulai menggerakkan pinggulnya, pelan pada awalnya, lalu semakin cepat dan kuat. Desahan Reza dan Vania memenuhi kamar.

"Ehhh... uhhh... ahhhh... lebih cepat Reza... lebih cepat..." pinta Vania, suaranya serak. Ia mendesah, tangannya merangkul punggung Reza, melengkungkan tubuhnya ke atas.

"Ssss... ahhhhh... Vania... kau... membuatku gila..." desah Reza.

"Ahhhhh... ahhh...." desah Vania. "Enak sekali... ahhhhh... lagi... lagi..."

Reza menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan kuat, membuat Vania menjerit tertahan. Gairah liar Reza seolah tak ada habisnya. Ia terus menggerakkan pinggulnya, membuat Vania melayang dalam kenikmatan yang terlarang.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Reza mencapai puncaknya. Ia mendesah panjang, lalu merebahkan tubuhnya yang basah oleh keringat di atas tubuh Vania. Napasnya terengah-engah. Vania juga demikian, tubuhnya lemas, kelelahan.

Reza kemudian membaringkan dirinya di samping Vania, memeluknya erat. "Kau sangat luar biasa, Vania," bisik Reza, suaranya parau.

Vania tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak dalam diam, air mata mengalir membasahi wajahnya. Ia telah melewati batasnya. Ia telah menyerahkan tubuhnya pada pria yang bahkan tidak ia kenal. Namun, saat ia melihat wajah Reza yang lelap, ia merasa aneh. Pria ini, meskipun kasar dan liar, tidak membuatnya jijik seperti para pria tua itu. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya penasaran.

Vania tahu, malam ini ia mendapatkan uang seratus juta. Hutangnya lunas. Adiknya bisa sekolah dengan tenang. Namun, ia juga tahu, ia telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga: dirinya sendiri. Apakah ini layak? Vania tidak tahu jawabannya. Ia hanya bisa berharap, malam ini adalah yang terakhir kalinya ia harus melakukan ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta pertama dan terakhirku
8.7
Pertemuan tak terduga terjadi di rumah sakit saat Intan Arselina, seorang perawat, kembali dipertemukan dengan Abian Dirgantara. Fitnah dari ibu Dirga empat tahun lalu yang sempat memisahkan mereka kini menyisakan luka mendalam bagi Intan. Pasca kecelakaan yang menimpanya, Dirga berupaya keras mendapatkan kembali hati sang mantan kekasih. Namun, rintangan berat menghadang akibat kebencian mendalam keluarga Intan serta kehadiran Zidan. Dirga pun bertekad menebus masa lalunya demi cinta sejati.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Dokter
8.7
Akibat obsesinya pada Sakha, Jena nekat menjebak dokter tampan itu ke dalam pernikahan siri yang membara. Namun, nasib buruk menimpa Jena saat ia dituduh membunuh kakak iparnya hingga harus mendekam di penjara dalam keadaan mengandung. Waktu berlalu, dan kasih sayang Jena kini telah menguap menjadi kebencian mendalam. Pertemuan tak terduga kembali terjadi di sebuah hotel VVIP tempat Jena kini menyambung hidup sebagai penari. Akankah dendam berkuasa, ataukah rasa lama kembali hadir?
Sampul Novel Menjadi Istri Kedua Kakak Ipar
8.2
Demi ambisi Shara yang menginginkan anak, Slavia terpaksa menjadi istri kedua bagi Rio, kakak iparnya sendiri. Sebuah kesepakatan rahasia disepakati: Slavia wajib menyerahkan bayinya dan pergi setelah bersalin. Namun, kecemburuan membakar hati Shara saat melihat kebersamaan Rio dan adiknya. Shara pun merancang siasat licik untuk mendepak Slavia segera setelah melahirkan, demi melenyapkan seluruh jejak pengorbanan sang adik dari pernikahan mereka.
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim rekaman suara yang menghina trauma masa laluku beserta undangan pernikahan mereka. Ternyata, dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain untuk dinasti megah yang ia impikan. Namun, aku akan hadir di pesta pernikahan itu bukan untuk merestui, melainkan menghancurkan seluruh mimpinya hingga menjadi abu.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
9.2
Setelah tewas membeku akibat dikhianati keluarganya, Anggi Suharjo terbangun kembali di hari pernikahannya dengan Luis Giandra yang kejam. Menyadari dirinya hanya figuran yang dikorbankan demi sang adik kembar, Wulan, Anggi bertekad tidak akan lagi mengemis kasih sayang. Menggunakan kecerdasan strategi militer dan keahlian medisnya yang luar biasa, ia siap menaklukkan dunia. Saat keluarganya yang menyesal mulai memohon ampun, Luis yang awalnya dingin justru enggan melepaskan Anggi demi membayar utang nyawa.
Sampul Novel Saat Itu, Aku mengaggumimu
8.0
Pertemuan kembali dengan Ibam setelah dua tahun berpisah justru menjadi mimpi buruk bagi Rianti. Bukannya bersikap hangat, Ibam malah menyambutnya dengan dingin dan penuh intimidasi. Rianti berupaya membela diri, tetapi Ibam terus menghinanya. Ibam bahkan menuduh Rianti sengaja memanfaatkan sang kakek agar mereka bisa tinggal serumah. Bagi Ibam, Rianti hanyalah wanita licik yang haus belaian, menghancurkan seluruh harapan indah yang selama ini dinantikan Rianti.