APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lelah ku mencintaimu

Lelah ku mencintaimu

Sekian lama Maya mencintai Dimas secara sepihak dalam diam. Harapan indahnya seakan terkabul ketika sang ayah memutuskan untuk menjodohkannya dengan Dimas, anak dari temannya. Maya pun sangat gembira karena impiannya terwujud begitu saja. Sayangnya, kenyataan tidak seindah bayangan karena Dimas rupanya telah mempunyai pacar pilihan hatinya sendiri. Sanggupkah pernikahan rencana ini terus bertahan, dan dapatkah Maya merebut cinta Dimas agar mereka bisa hidup bersama?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kembalinya aku dan Dimas dalam satu kantor ternyata bukan hanya membawa harapan yang lama tersembunyi, tapi juga membawa bayang-bayang yang selama ini ingin aku lupakan.

Nadine.

Ternyata dia juga bekerja di sini.

Setiap kali aku melihatnya, jantungku langsung mencelos. Nadine yang ceria, penuh percaya diri, dengan senyum yang selalu menyapa semua orang termasuk Dimas.

Mereka sering berbicara, tertawa bersama, bahkan terlihat akrab dalam rapat-rapat tim. Aku, yang selama ini berusaha melangkah maju, justru merasa terseret ke dalam pusaran yang sama, perasaan yang harus ku pendam.

Aku tetap diam.

Bukan karena aku tidak punya keberanian, tapi karena aku tahu posisi dan kenyataannya. Nadine bukan hanya rekan kerja biasa, dia adalah bagian dari cerita yang tak bisa aku ganggu.

Aku memilih menjadi pengagum rahasia yang diam di pojok ruangan, menyimpan segala perasaanku rapat-rapat. Setiap kali Dimas menatapku, aku membalasnya dengan senyum tipis yang tak pernah mengungkapkan lebih.

Saat mereka bertiga di ruang rapat, aku duduk paling belakang, menarik nafas dalam-dalam, dan menyembunyikan rasa cemburu yang tak pernah kuakui pada siapa pun, bahkan diriku sendiri.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri,

Mengapa aku terus bertahan? Apakah ini karena cinta, atau hanya ketakutan kehilangan kehadirannya, walau hanya sebagai teman?

Hari-hari di kantor jadi panggung drama yang aku mainkan tanpa dialog.

Aku tetap diam.

Aku tetap ada.

Tetapi aku juga terus merasakan jarak yang kian melebar.

Namun, entah kenapa, di dalam diam itu ada harapan kecil yang tak pernah padam.

Harapan bahwa suatu saat, aku mungkin bisa keluar dari bayang-bayang ini.

Meski aku belum tahu kapan.

Hari demi hari, Nadine semakin dekat dengan Dimas.

Aku melihatnya dari balik layar komputernya, dari sudut ruangan yang aku pilih untuk menyembunyikan diri.

Mereka berbagi cerita ringan saat istirahat, tertawa bersama, dan terkadang berbagi pandangan penuh arti saat rapat. Dimas terlihat nyaman di dekat Nadine, lebih nyaman daripada saat bersama aku.

Aku merasa seperti menjadi penghalang yang tak terlihat, bayang-bayang yang diabaikan.

Setiap kali Nadine menyentuh tangan Dimas saat berbicara, aku merasakan dunia seolah berputar terlalu cepat.

***

Di suatu sore, aku sengaja lewat di dekat ruang meeting dan tanpa sengaja mendengar Nadine berkata, "Aku senang kita bisa seperti ini, Dimas. Kamu tahu aku selalu ada buat kamu."

Dimas menjawab dengan suara lembut, "Aku juga, Nad. Kamu memang teman yang penting."

Kata "teman" itu menusukku.

Seperti pengingat bahwa aku tak lebih dari sekadar bayangan, bukan seseorang yang bisa ia miliki.

Aku mencoba menenangkan diri. Mengingatkan diri bahwa aku memilih diam, bahwa aku harus kuat walau sakit. Tapi semakin aku diam, jarak di antara kami kian melebar.

Malamnya, aku menulis di jurnalku.

"Cinta yang diam bukan hanya tentang menahan diri, tapi juga tentang belajar menerima ketika dia mencintai yang lain."

Aku tahu, aku harus memilih untuk terus bertahan di bayang-bayang atau melangkah pergi untuk menyembuhkan diri.

Tapi hatiku masih terbelah.

Masih berharap, meski tahu harapan itu semakin tipis.

Aku mencoba melupakan.

Serius mencoba.

Setiap kali rasa itu datang menyeruak, aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan bekerja lebih keras, membaca lebih banyak buku, bahkan bertemu teman-teman baru. Aku ingin hatiku berhenti terjebak dalam pusaran Dimas dan Nadine.

Tapi anehnya, semakin aku berusaha menjauh, semakin dalam rasa itu mengakar.

Ada saat-saat aku duduk di meja kerjaku, menatap layar komputer, tapi pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Senyum Dimas, cara dia menyapa, tawa kecilnya yang selalu berhasil mengusir gelisahku.

Aku bertanya pada diri sendiri, kenapa mencintai seseorang yang tak bisa kumiliki terasa seperti melepas udara dari paru-paru? Kenapa sakit ini begitu nyata, meski aku tahu aku harus melepaskan?

***

Saat malam tiba, dan kantor mulai sepi, aku sering teringat percakapan kecil kami di perpustakaan dulu, bagaimana dia bilang aku adalah tempat yang tenang. Tempat yang nyaman. Tapi aku tidak pernah menjadi lebih dari itu.

Kini, aku masih di sini, berdiri di persimpangan antara melupakan dan terus berharap.

Aku ingin memberanikan diri, menyatakan perasaanku yang sudah lama terpendam. Tapi bayangan Nadine selalu menghalangiku, membuatku ragu dan takut terluka lebih dalam.

Jadi aku tetap diam. Menyimpan rasa ini dalam hati yang rapuh. Mencintai dalam senyap, sekaligus berusaha mengikis rasa itu perlahan.

Aku tahu, aku harus memilih.

Tapi entah kenapa, hati ini masih ingin bertahan.

Setiap hari aku menjalani pergulatan yang tak pernah berakhir di dalam hatiku sendiri.

Seperti ombak yang terus datang, menghantam karang tanpa henti, rasa ini adalah cinta yang diam tapi menghancurkan dan membangun aku sekaligus.

Aku ingin melupakan Dimas.

Aku benar-benar ingin.

Tapi setiap kali aku mencoba menjauh, pikiranku malah semakin mengikatkan diri pada namanya.

Saat aku lewat di dekat mejanya, jantungku berdegup tak beraturan.

Saat aku mendengar suaranya dari kejauhan, aku seperti tersihir tanpa bisa mengelak.

Aku tahu, aku bukanlah gadis yang akan dipilihnya.

Aku bukan Nadine yang mudah diajak bercanda dan tertawa.

Aku bukan sosok yang akan diperkenalkan kepada teman-temannya sebagai lebih dari sekadar teman.

Aku hanya Maya.

Yang diam di pojok, yang hanya bisa menatap dari jauh, dan menyimpan semua rasa itu sendiri.

Kadang aku merasa kesepian di tengah keramaian.

Mereka bercanda, tertawa bersama, sementara aku menelan rasa ini sendirian.

Pernah aku bertanya pada cermin,

"Kenapa kau begitu lemah? Kenapa kau terus membiarkan diri terluka?"

Aku tidak punya jawaban.

Di malam-malam sepi, aku menulis semua perasaanku.

Kata-kata itu keluar dari hati yang penuh luka, harapan yang tertahan, dan mimpi yang mungkin tak pernah jadi nyata.

Aku tahu aku harus berhenti berharap.

Aku tahu aku harus melepaskan.

Tapi aku tak bisa.

Karena mencintai seseorang bukan soal logika.

Ini soal hati yang memilih, walau pilihan itu kadang menyakitkan.

Aku masih terus berjuang.

Berjuang dalam diam yang tak pernah didengar siapa pun.

Berjuang mencintai dan melepaskan dalam waktu yang sama.

Dan di situlah aku sekarang tersesat di antara dua dunia yang bertabrakan yaitu

cinta dan kenyataan.

Hari-hari terus berjalan, tapi aku semakin tenggelam dalam sunyi nya diam ku sendiri.

Aku menjadi mahir menyembunyikan rasa di balik wajah datar dan kata-kata yang singkat.

Setiap kali Dimas berbicara, aku mendengar, tapi hatiku tak berani ikut bicara.

Dimas dan Nadine berbagi tawa dan cerita, sementara aku hanya menjadi penonton tanpa suara.

Seolah aku menjadi bagian dari bayangan yang tak pernah ada.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri,

"Apakah aku harus terus seperti ini? Terjebak dalam cinta yang tak terbalas, tanpa ada keberanian untuk mengubah?"

Namun jawaban itu tak pernah datang.

Aku takut. Takut jika aku berbicara, segala yang aku takutkan selama ini akan terjadi yaitu kehilangan dia sepenuhnya, hilang dari hidupnya tanpa jejak.

Jadi aku memilih diam.

Diam yang membuatku terluka, tapi juga menjadi pelindung yang menjaga hati agar tak hancur lebih dalam.

Di balik senyum kecil yang kugoreskan saat menyapanya, aku menyimpan ribuan kata yang tak pernah terucap.

Kata-kata yang menunggu saatnya datang atau mungkin tak akan pernah datang.

Aku terjebak.

Dalam cinta yang tak berbalas, dalam harapan yang semakin pudar, dalam diam yang menyesakkan.

Dan aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti, aku menemukan kekuatan untuk membuka suara.

Tapi untuk sekarang, aku masih di sini.

Menjadi pengagum rahasia yang tak pernah punya keberanian berkata, "Aku mencintaimu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Istri yang Terbuang
8.2
Dian sangat terpukul saat Radit mengusirnya dengan kejam dan melempar koper bajunya. Sikap sang suami berubah drastis dan menyakitkan, terlebih dengan kehadiran wanita lain yang memandangnya penuh kebencian. Di tengah kondisi hamil delapan bulan, Dian harus menerima kenyataan pahit dicampakkan. Ia sempat memohon belas kasih demi bayi di kandungannya, tetapi Radit tetap tega mengusir sang istri tanpa peduli nasib calon anaknya.
Sampul Novel DENDAM SI PELAYAN SEKSI
9.4
Mimpi buruk terus menghantui kehidupan pernikahan Daren dan Carolina. Di tengah situasi itu, hadirlah Eliana, seorang pelayan baru yang memikat sekaligus membangkitkan memori asing dalam diri Daren. Di balik pesonanya, Eliana menyimpan niat terselubung untuk menghancurkan hidup sang majikan demi membalas dendam. Namun, saat rahasia masa lalu mulai tersingkap, ia justru terjebak dalam perasaan cinta pada targetnya. Akankah dendam Eliana luntur, atau misinya tetap berlanjut?
Sampul Novel Dimanjakankan oleh Bos Mafia Kejam
9.0
Khloe hancur setelah dikhianati saudari dan tunangannya sendiri di hari pernikahan hingga ia dipenjara tiga tahun. Usai bebas, penderitaannya belum usai karena ia dipaksa melayani pria tua demi menyelamatkan ibunya. Di masa sulit ini, takdir mempertemukannya dengan Henrik, seorang bos mafia kejam. Di balik reputasi dinginnya, Henrik justru melindungi Khloe dengan penuh kasih sayang. Bersama Henrik, Khloe siap membalas dendam pada semua orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Hati Seorang Ibu, Kebohongan Kejam
8.5
Kebahagiaanku bersama Gavin Suryadiningrat runtuh seketika saat bank membeberkan rahasia akta lahir anak kembar kami. Ternyata, Iliana yang merupakan cinta pertama suamiku adalah ibu sah mereka. Aku hanya ibu pengganti yang disewa karena kemiripan fisik. Tragisnya, anak-anak yang kurawat justru menghinaku hingga terluka parah. Saat aku sekarat bersimbah darah, mereka malah pergi menyambut kembalinya Iliana. Pengabdianku selama enam tahun kini berakhir dalam pengkhianatan kejam.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur setelah Angela mencuri identitasnya untuk menikahi Azlan Bagaskara. Tak hanya merebut sang kekasih, sahabatnya itu bahkan memaksanya menjadi pelayan di rumah mereka. Setiap hari, Rani harus menahan kepedihan menyaksikan kemesraan palsu mantan pacarnya bersama Angela. Di tengah penderitaan batin yang tiada henti, akankah Rani terus terpuruk dalam diam, atau bangkit memperjuangkan keadilan atas pengkhianatan kejam yang merusak masa depannya?
Sampul Novel Istri Idaman Tuan Ares
8.1
Pernikahan paksa tanpa cinta adalah mimpi buruk bagi siapa saja. Takdir pahit ini harus dijalani oleh Ares dan Anggun yang dipersatukan dalam perjodohan tanpa rasa. Meski batin mereka menolak keras, tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari situasi pelik ini. Mereka terpaksa tunduk pada komitmen pernikahan yang tak diinginkan, karena tidak ada satu pun alasan kuat yang mampu membatalkan ikatan sakral tersebut.