
Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang
Bab 7
Andy dan Shane menjawab serempak.
"Nggak lelah!"
Shane memegang tangannya, menatapnya dengan mata berbinar.
"Aku nggak akan lelah dengan apa pun yang berhubungan dengan Mama."
Andy mencubit wajahnya dengan penuh kasih sayang.
"Shanon, sesibuk apa pun pekerjaanku, semua rasa lelahku lenyap begitu melihatmu."
"Lagipula, hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Kita merayakannya bersama setiap tahun. Sesibuk apa pun di kantor, aku pasti akan balik."
Shanon hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.
Andy meletakkan kue dan mulai sibuk di dapur.
Dia telah meliburkan semua pembantu dan berencana untuk memasak sendiri beberapa hidangan favorit Shanon untuk merayakan hari jadi mereka.
Tak mau kalah, Shane membawa bangku kecil dan mulai memotong serta memeras buah.
Setelah sibuk seharian, semua hidangan akhirnya disajikan pada siang hari. Andy menyalakan lilin berangka 7 dan menggenggam tangannya, pandangannya penuh cinta. "Shanon, seandainya kau nggak di sisiku saat itu ..."
Shane bertepuk tangan gembira.
"Wah, Papa dan Mama sangat romantis!"
Namun, sebuah deringan tiba-tiba memecah suasana hangat itu.
Shanon menarik kembali tangannya dan menyerahkan ponsel yang menampilkan nama Rainie di layar.
Andy tersenyum dan berkata dia tidak akan menjawab panggilan siapa pun hari ini.
Namun Shanon bersikeras. Setelah melihat nama di layar, Andy ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat telepon.
"Shanon, asistenku yang menelepon. Aku takut ada urusan mendesak di kantor, kujawab dulu."
Dia kemudian berjalan menjauh dan menjawab telepon.
Ketika balik, ekspresi permintaan maaf yang familiar muncul lagi di wajahnya.
"Shanon, maaf. Ada keadaan darurat di kantor yang perlu kuurus."
Shane tidak tahu apa yang dibicarakan di telepon, tetapi ketika dia melihat Rainie yang menelepon, dia segera melompat dari kursinya dan berlari ke sisi Andy.
"Mama, aku juga mau ikut pergi. Aku bisa membantu Mama awasi Papa biar dia lebih cepet membereskan kerjaan dan balik."
Melihat keduanya yang dipenuhi ketidaksabaran, Shanon hanya mengangguk.
"Pergilah."
Andy menghela napas lega dan menggendong Shane. Mereka masing-masing mencium pipi kiri dan kanan Shanon.
"Tunggu kami di rumah."
"Mama, sampai jumpa nanti."
Setelah itu, mereka bergegas pergi, tanpa menyadari kebisuan Shanon.
Mereka tidak menyangka ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertiga bertemu.
Ketika Shanon melihat mobil Andy menghilang sepenuhnya dari jendela, dia membuang lilin yang sudah lama padam beserta kue ke tempat sampah. Kemudian dia kembali ke kamar tidurnya, mengambil berkas yang telah disiapkan, dan pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





