APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)

Lawon Abang (Kafan Merah)

Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Prakkk!!

Mbah Karso memecah celengan berbentuk kendi berbahan tanah liat miliknya hingga isinya tumpah. Dia mulai memunguti satu persatu uang yang berserakan. Air matanya tak henti mengalir dari mata rentanya. "Ndak cukup," lirihnya nyaris tak terdengar.

"Nduk, sekarang istirahatlah dulu yo Nduk. Tunggu disini, Mbah mau ke rumah Kardi." Mbah Karso berbicara pada jasad Mawar yang dia tidurkan di tikar ruang tamu.

Mbah Karso keluar, dia menyeret langkahnya pelan menuju rumah Karso yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari rumahnya. Nafasnya terengah-engah, dia sudah cukup kepayahan malam ini. Duka dan kenyataan menghantam hati dan mentalnya telak. Tubuh rentanya dipaksa kuat menangani semua seorang diri.

Mata Mbah Karso berbinar, rumah sederhana milik Kardi terlihat di kejauhan sana, membuatnya memaksa mempercepat kaki tuanya melangkah.

**Dok Dok Dok Dok**

"Assalamualaikum! Dii! Kardi!" Serunya dengan suara sengau.

"Dii!!" Serunya sekali lagi.

Krieeeeettt... Suara derit pintu terdengar nyaring, kemudian si pemilik rumah menyembulkan kepala di sela pintu.

"Ono opo?" tanya Kardi malas. Memang sejak Mbah Karso menentang warga yang ingin meniadakan Mawar, pria renta itu juga ikut dijauhi. Tapi bila dipikirkan dengan akal sehat, Kakek mana yang tega membiarkan cucunya ditiadakan?

"Tolong, Di. Tolong buatkan makam untuk Mawar. Putuku.. putuku ninggal, Di!" ujar Mbah Karso tergugu. Kardi tampak terkejut, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah biasa saja.

"Jadi, mereka benar-benar menjalankan rencana?" gumam Kardi lirih.

"Opo Di?"

"Ndak, bukan apa-apa! Soal tanah makam, sampean cari saja orang lain yang mau menggali! Datangu saja rumah Parto atau Misbah, jangan rumahku! Percuma toh, aku ndak mau menggali liang buat putu (cucu) sampean, aku ndak mau ketularan sial!" serunya sambil mengibaskan tangan, mengusir.

"Astaghfirullah, Di. Sampai hati sampean ngomong begitu. Mawar putuku bukan pembawa sial, Di! Berapa kali toh, aku harus bilang soal ini!?" Mbah Karso naik pitam.

"Halah, semua warga desa wis ngerti, Mbah. Mawar itu anak kutukan, anak iblis! sampean ingat ndak, waktu Mardi gangguin Mawar dengan dorong dia ke sungai!? Mawar nyumpahin Mardi biar hanyut, eh hanyut beneran toh!? Wajar Mbah kalau kami takut, kami masih sayang nyawa!" Kardi masih berusaha melayangkan ucapan pembenaran.

"Tapi, Di.. Mawar sudah meninggal, bibirnya wis terkatup rapat, mata merah sing kalian takuti wis ndak bisa terbuka. Kenapa sampean masih bersikeras ndak mau membantu, Di? Aku nyuwun tulung, (minta tolong) sekali ini saja,"

"Aku ora peduli, Mbah! Sampean urus saja cucu sial sampean itu sendiri. Dan besok, jangan harap ada warga yang mau datang membantu. Asal sampean tau, kematian Mawar memang hal yang wis sejak lama kami nanti," bisik Kardi di telinga Mbah Karso.

Mbah Karso menggeleng lemah dengan mata memerah menahan gejolak amarah. "Setan koe!! Yang Iblis bukan Mawar, tapi kalian!" umpat Mbah Karso kemudian berbalik dan menjauh pergi.

Di tengah malam gulita, ditemani sinar bulan merah, Mbah Karso berkeliling mendatangi rumah-rumah para penggali kubur, namun jawaban yang sama dia terima. Terpaksa, dia pulang dengan hati yang remuk redam, dengan amarah yang tersulut dan berkobar besar.

Dia membuka pintu rumahnya dengan lesu, mengambil cangkul dan membawanya ke halaman belakang.

**Duk! Duk! Duk!**

Mbah Karso mulai mencangkul tanah seorang diri, menggali tanah makam untuk Mawar sendirian. Rasa sesak kembali merajai hatinya yang gersang. Satu hal yang dia tau, kematian Mawar bukan terjadi begitu saja. Ini seperti sudah direncanakan!

"Nduk.. setelah berkeliling meminta bantuan, baru Si Mbah tau kalau apa yang menimpa sampean itu sudah di rencanakan. Mereka keji, Nduk. Entah fitnah apa yang membuat mereka gelap mata. Bolehkah Mbah mendendam kali ini?" gumamnya.

Tanah makam sudah selesai dia gali. Dia masuk ke dalam rumah, membuka lemari usangnya. "Nduk, maafkan Si Mbah. Sampean pakai saja kafan yang Mbah siapkan buat kalau Mbahe ninggal. Uange ndak cukup buat beli yang baru," gumamnya dengan sudut hati yang nyeri. Tangan keriput Mbah Karso meremas kain putih itu.

"Nduk, mandi yo? Mbah sing mandikan," bisiknya. Air matanya jatuh ke kening Mawar. "Mbah bersihkan getihe (darahnya), ndak opo-opo, ndak usah malu," imbuhnya.

Mbah Karso membopong tubuh Mawar ke pawon, dimana sebuah gentong berisi air sudah Mbah Karso sediakan. Dia membaringkan Mawar di amben bambu. Tangannya gemetar kala membuka satu persatu pakaian koyak yang melekat di tubuh Mawar. Rahangnya mengeras, pasang matanya menatap nanar.

Mbah Karso mulai meraih gayung yang terbuat dari batok kelapa, mengambil air lalu menyiramkan perlahan. "Getihe ndak mau berhenti. Ini pasti sakit sekali yo, Nduk?" tanya Mbah Karso. Namun yang ditanya tetap bungkam.

Setelah dirasa cukup, Mbah Karso mulai membebat tubuh Mawar dengan jarik, lantas membawanya kembali ke ruang depan. Tikar yang penuh darah sudah dia gulung, diganti dengan tikar lain yang tak kalah usang.

Mbah Karso membentangkan kain kafan, lalu memindahkan Mawar ke atasnya. Dia membebat tubuh cucu semata wayangnya perlahan hingga usai. Selesai, Mbah Karso tampak kebingungan.

"Gimana cara Mbah mensholati sampean, Nduk? Sedangkan, Mbah cuma sendirian," lirihnya. Akhirnya, dia cuma bisa mendoakan sebisanya, semampunya.

Pasang mata rentanya memicing, saat mendapati darah merembes dari lukanya yang menganga. "Duh Gusti, piye iki? Si Mbah ndak punya cadangan kain kafan," desahnya parau. Tak ada pilihan lain, dia harus segera memakamkan Mawar, tak peduli meski hanya seorang diri.

"Sabar yo, Nduk. Ayo, Mbah antarkan sampean ke rumah baru. Tenang, Mbah ndak akan jauh-jauh dari sampean. Setiap hari, Mbah bakal nengokin sampean," ujarnya berbisik seorang diri.

Sampai di sebelah liang yang menganga, Mbah Karso kembali kebingungan. "Gimana cara Mbah turunkan sampean, Mawarku?" gumamnya. Setelah sekitar sepuluh menit menimbang-nimbang, "Brukhhh!"

Jenazah Mawar dijatuhkan, tak ada pilihan lain, tega tak tega cuma itu caranya. "Maafkan Si Mbah, Nduk. Maaf," mohon Mbah Karso. Pria itu turun, membenarkan posisi Mawar yang jatuh dalam posisi tertelungkup. Lalu, dengan susah payah kembali naik ke permukaan.

"Mbah akan cari cara buat menghukum mereka yang sudah membuat kita seperti ini, Nduk. Sampean bukan perempuan iblis, merekalah yang iblis. Sampai hati mereka berbuat seperti ini, Mbah ndak bisa terima," rutuknya sembari menutup liang itu dengan tanah. Setelah berjam-jam lamanya melewati semua hal yang melelahkan, Mbah Karso bersimpuh di samping gundukan tanah merah, yang hanya diberi tanda batu tanpa nisan. Dia menatap nanar sambil menggumam sendirian.

"Sekarang Si Mbah sendirian, menanggung sakitnya sepi dan dendam yang sukar padam. Bagaimana Mbah melewati ini tanpa sampean, Nduk? sementara selama ini, sampeanlah satu-satunya alasan Si Mbah tetap kuat," lirihnya parau.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Senja
7.9
Demi melunasi utang orang tuanya, Nada terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi cucu Ndoro Brata. Ia harus menikahi Abian, seorang pemuda playboy yang mendadak buta akibat kecelakaan, setelah calon istri aslinya melarikan diri. Kemalangan itu mengubah Abian menjadi pria dingin dan pemarah. Di tengah sikap kasar suaminya serta tekanan berat dari keluarga konglomerat tersebut, Nada kini harus berjuang sekuat tenaga bertahan dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata.
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Pasca tragedi berdarah yang merenggut keluarganya demi harta, Aliya yang dahulunya lembut kini berubah menjadi sosok pembawa maut demi menuntut balas. Di tengah misteri sekolah yang pelik, ia bertekad menguak dalang kejahatan itu. Misi ini membawanya mencari Samudra, pemuda bermata biru yang kini asing padanya. Walau terus ditolak dan nyawanya terancam oleh badai rahasia besar, Aliya tak gentar. Baginya, utang darah atas keluarganya wajib dibayar tuntas.
Sampul Novel Fitnah Pelakor Membuatku Babak Belur
8.5
Akibat unggahan foto suaminya di media sosial, seorang istri sah dituduh sebagai pelakor oleh selingkuhan sang suami. Tuduhan kejam ini memicu aksi pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang yang membuatnya babak belur hingga mengalami patah tulang dan gegar otak. Tidak tinggal diam, korban segera melaporkan kejadian ini ke polisi. Di saat yang sama, ia menyiapkan surat cerai untuk mendepak suaminya yang tidak tahu diuntung itu agar pergi tanpa membawa sepeser pun kekayaannya.
Sampul Novel Menghadapi Kematian di Depan Mata
8.3
Saat kurir pria mabuk mendatangi rumahnya, sang protagonis memilih melapor polisi dibanding menghubungi kedua kakaknya. Di kehidupan lalu, panggilan darurat itu membuat kakak-kakaknya mengabaikan pertunjukan adik angkat mereka, Hilda, yang berujung insiden tragis. Akibatnya, sang protagonis disiksa sebagai pelampiasan amarah. Kini, setelah terlahir kembali di hari yang sama, ia membiarkan kakak-kakaknya fokus mendukung Hilda. Namun, keputusan itu justru mendatangkan penyesalan mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Pemburu Iblis
8.6
Skylark, putra angkat saudagar kaya di zaman dinasti, menyimpan rahasia besar. Ia mewarisi kekuatan dahsyat Raja Iblis sekaligus kelembutan sang ibu yang tewas dibunuh rival ayahnya. Berbekal umur panjang, Skylark terus membasmi monster hingga zaman modern. Di tengah misi membalaskan dendam kematian ibunya, akankah jati diri aslinya terbongkar? Simak kisah perjuangan epik sang pemburu iblis dalam menuntaskan dendam masa lalu yang kelam.
Sampul Novel Perjuangan Cinta yang Pernah Hilang
9.4
Demi melindungi nyawa Ararya Chandrika Dewi dari tragedi, Devandra Pradipta Atmaja terpaksa tunduk pada perintah Himawan, ayahnya. Devan pun pergi kuliah ke luar negeri dan memutus kontak selama tiga tahun. Namun sekembalinya ke tanah air, rencana baru sang ayah justru kembali mengancam hubungan mereka. Di tengah trauma masa lalu yang kelam dan berdarah, sanggupkah jalinan asmara Devan dan Ara tetap bertahan tanpa adanya restu orang tua?