APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LANGIT SENJA DAN JANJI KITA

LANGIT SENJA DAN JANJI KITA

Dua sahabat masa kecil yang sempat terpisah oleh waktu kini dipertemukan kembali lewat sebuah proyek sekolah yang tidak terduga. Pertemuan ini perlahan membangkitkan ingatan mereka tentang janji masa lalu yang pernah terucap di bawah langit senja. Di tengah kebersamaan yang terjalin lagi, mereka menyadari bahwa perasaan mendalam yang sekian lama terpendam ternyata tidak pernah benar-benar padam meski jarak dan waktu sempat memisahkan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Proyek sekolah yang seharusnya menjadi jembatan untuk mendekatkan mereka kembali malah terasa seperti benteng yang menghalangi. Pada awalnya, suasana di antara Raka dan Luna sangat canggung. Setiap kali mereka bertemu untuk membahas proyek, ada rasa asing yang tiba-tiba hadir di antara mereka, seolah-olah kenangan masa lalu hanya memperbesar jarak, bukan menghapusnya.

Di perpustakaan, di mana mereka sering bertemu, suasana itu terasa semakin nyata. Raka tampak dingin, seperti sengaja menjaga jarak. Setiap kali Luna mencoba memulai percakapan, jawabannya selalu pendek dan formal, seolah mereka hanya teman kerja, bukan dua orang yang pernah sangat dekat.

Luna tidak tahu harus memulai dari mana. Dia berharap proyek ini bisa menjadi titik balik untuk hubungan mereka, tapi yang ia rasakan hanyalah kebingungan. Ia memandang Raka yang duduk di sebelahnya, fokus pada laptopnya, mengetik sesuatu yang berkaitan dengan tugas mereka. Senyap, seolah-olah mereka berada di dua dunia yang berbeda meskipun duduk bersebelahan.

"Kamu udah selesai bagianmu?" tanya Luna akhirnya, berusaha memecah kebekuan.

Raka hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Luna. "Sudah, tinggal bagianmu yang perlu direvisi sedikit," jawabnya dengan nada datar.

Luna menghela napas pelan. Setiap kali ia mencoba mendekatkan diri, Raka selalu membalas dengan sikap yang menjaga jarak. Rasa hangat yang sempat muncul saat mereka berbicara tentang masa lalu di bawah langit senja kini terasa seperti mimpi yang jauh. Luna mulai meragukan apakah Raka benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka, atau apakah ia hanya bersikap sopan untuk proyek ini.

"Aku nggak ngerti kenapa kamu jadi begini," gumam Luna perlahan, setengah berharap Raka tidak mendengarnya.

Namun, Raka berhenti mengetik dan menatapnya, meskipun ekspresinya tetap dingin. "Begini bagaimana?"

"Begini... seperti kamu nggak peduli lagi," jawab Luna, memberanikan diri untuk menyuarakan apa yang mengganggu pikirannya.

Raka terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Bukan itu, Luna. Aku cuma... butuh waktu."

Luna menatapnya dengan tatapan bingung. "Waktu untuk apa?"

Raka tidak segera menjawab. Suasana perpustakaan yang sunyi membuat setiap detik terasa lebih lama. Akhirnya, dengan suara yang lebih pelan, Raka menjawab, "Untuk memahami apa yang terjadi di antara kita. Banyak yang berubah, dan aku nggak yakin bisa kembali ke masa lalu begitu aja."

Mendengar itu, Luna merasakan sedikit kelegaan, tetapi juga kesedihan. Dia mengerti bahwa Raka butuh waktu, tapi sikap dinginnya membuat Luna merasa terasing. Mereka tidak lagi seperti dua anak kecil yang bisa dengan mudah kembali seperti semula. Waktu memang telah merenggut sesuatu dari mereka, dan sekarang mereka harus belajar menghadapi kenyataan itu.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luna, mencoba mencari cara untuk mengatasi kebuntuan ini.

Raka menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. "Aku nggak tahu, Luna. Kita bisa mulai dari sini-selesaikan proyek ini dulu, dan mungkin... sisanya akan datang sendiri."

Percakapan itu mengakhiri pertemuan mereka hari itu, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Mereka berdua tahu bahwa lebih dari sekadar proyek yang harus diselesaikan-ada perasaan lama yang masih menggantung di udara, dan waktu tidak akan menyelesaikannya dengan sendirinya.

Saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan, Luna melihat Raka menghindari tatapannya, masih terbungkus dalam sikap dingin yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Luna merasa semakin frustasi. Setiap kali ia mencoba meruntuhkan dinding itu, Raka tampak membangunnya lebih tinggi.

Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang masih terasa nyata-kenangan masa kecil mereka, janji-janji di bawah langit senja yang meskipun terabaikan, belum benar-benar terlupakan. Luna tahu, jika mereka berdua ingin menemukan jalan kembali, mereka harus melewati fase awkward dan dingin ini.

Tapi pertanyaannya sekarang: apakah Raka bersedia membuka diri, atau justru akan terus menjaga jarak?

Luna dan Raka berjalan keluar dari perpustakaan, dan meskipun mereka melangkah beriringan, jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang tidak kasat mata. Angin sore yang dingin menyapu wajah mereka, membuat Luna menggigil sedikit. Ia melirik ke arah Raka yang tetap tenang, menatap lurus ke depan, tanpa ada sedikit pun kehangatan dalam sikapnya.

Di tengah jalan menuju parkiran sekolah, Luna merasa hatinya semakin berat. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa nyaman, melainkan penuh dengan pertanyaan yang tak terucapkan. Sebagai sahabat lama, seharusnya mereka bisa berbicara dengan lebih mudah. Tapi sekarang, semuanya terasa canggung dan asing.

"Kamu nggak ngerasa aneh dengan semua ini?" tanya Luna, mencoba memecah kesunyian. Nada suaranya terdengar lebih ragu daripada yang ia inginkan.

Raka melirik sekilas, lalu menghela napas. "Aneh gimana?" tanyanya, meski sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Luna menghentikan langkahnya, membuat Raka ikut berhenti. Dia menatap Raka dengan penuh kejujuran, mencoba menembus dinding yang Raka bangun di sekelilingnya.

"Ini. Kita. Dulu kita bisa bicara tentang apa aja, tapi sekarang kamu... dingin. Jauh. Kayak kamu nggak benar-benar mau ada di sini."

Raka menunduk, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Ada ketegangan di wajahnya, tapi ia tidak segera menjawab. Matahari senja yang perlahan tenggelam di balik gedung sekolah memberi warna oranye lembut pada langit, mengingatkan mereka pada kenangan masa kecil yang tak bisa mereka hindari.

"Aku cuma...," Raka mulai berbicara pelan. "Aku nggak tahu gimana harus menghadapi semua ini. Kita udah lama banget nggak ketemu, Luna. Banyak hal yang berubah. Dan... mungkin aku takut kalau kita mencoba terlalu keras untuk kembali seperti dulu, kita malah semakin kecewa."

Luna merasa dada Raka penuh dengan sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia menahannya. Dia paham, ada keraguan besar di balik sikap dingin itu. Raka tidak hanya menjaga jarak darinya, tapi mungkin juga dari perasaannya sendiri.

"Tapi kamu nggak perlu bersikap seolah-olah kita nggak pernah kenal," sahut Luna pelan. "Aku juga nggak minta kita kembali ke masa lalu. Aku cuma pengen kita... nggak terus-terusan kayak gini."

Raka akhirnya menatap Luna, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ada ketulusan dalam matanya. "Aku minta maaf kalau aku bikin kamu ngerasa jauh. Aku juga nggak suka kita kayak gini, tapi aku cuma... butuh waktu buat nerima semua ini."

Luna tersenyum kecil, meski perasaannya masih campur aduk. "Aku ngerti, Raka. Aku juga nggak terburu-buru. Tapi aku cuma pengen kita bisa mulai bicara lagi, kayak dulu. Mungkin nggak sama persis, tapi kita bisa coba, kan?"

Raka mengangguk pelan, lalu menatap langit senja yang semakin memudar. "Mungkin kita bisa mulai dengan ini," katanya sambil tersenyum kecil. "Liat senja bareng lagi, kayak dulu."

Luna mengikutinya memandang ke arah langit. Ada perasaan hangat yang perlahan kembali di dadanya. Meskipun semuanya belum sepenuhnya jelas, setidaknya mereka mulai melangkah ke arah yang benar. Proyek sekolah memang mempertemukan mereka lagi, tapi lebih dari itu, ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang pernah hilang-meskipun jalan yang harus mereka lalui penuh dengan kecanggungan dan kebekuan.

"Ya," jawab Luna dengan senyum tipis. "Mungkin kita bisa mulai dari senja."

Dan di bawah langit senja itu, mereka berdua berdiri dalam keheningan. Meskipun kata-kata mereka masih terbatas, ada rasa yang mulai menyusup perlahan. Mereka mungkin masih jauh dari keakraban yang dulu, tapi setidaknya, langkah pertama sudah diambil.

Malam itu, Luna pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Masih ada perjalanan panjang di depan mereka, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mereka berdua sudah tidak lagi berjalan sendirian.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Tomboy Sang CEO
8.8
Zella Polly, gadis tomboy yang tidak tahan dengan diskriminasi di rumahnya, harus menikah demi mendapatkan izin keluar dari sang ayah. Pada saat yang sama, CEO muda bernama Hugo Chavez terpaksa mencari istri untuk mengatasi rasa sakit hati setelah dikhianati kekasihnya. Demi kepentingan masing-masing, keduanya sepakat melakukan pernikahan kontrak. Akankah mereka berhasil menghadapi berbagai rintangan dan dinamika baru dalam kehidupan rumah tangga ini?
Sampul Novel Jodoh Terpilih
8.4
Akibat perbuatan Bulan yang tertangkap basah bermesraan dengan Arjuna, Mentari yang berketerbatasan harus menanggung akibatnya. Demi mengejar karier, Bulan menolak menikah dan menjadikan Mentari sebagai pengantin pengganti, meski sebenarnya ia dan Arjuna saling mencintai. Mentari pun terpaksa menikahi pria asing tersebut. Di tengah ujian cinta Bulan dan Arjuna, mampukah Mentari menemukan kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Kupuaskan Nafsuku di Klub
8.2
Pasca putus cinta, hasrat besar yang dimiliki wanita ini tidak pernah lagi terpenuhi. Demi membantunya, sang sahabat mengajak dirinya bergabung ke sebuah klub lari malam yang tidak biasa, lengkap dengan celana khusus yang telah dipesan secara sengaja. Di tengah aktivitas yang sangat menguras tenaga tersebut, ia didera kelelahan hebat hingga kakinya lemas dan berulang kali memohon ampun. Saat mengira penderitaannya telah selesai, situasi mengejutkan terjadi ketika dua orang pria tiba-tiba melangkah masuk ke dalam tendanya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
8.0
Angela selalu ditolak karena dianggap buruk rupa dan tak berharga. Hidupnya makin menderita saat dipaksa menggantikan kakak tirinya untuk menikah dengan Dimitri LaRocca. Dimitri adalah pemimpin mafia yang sangat ditakuti, kejam, buas, dan posesif. Kini, Angela harus terseret ke dalam dunia gelap pria misterius tersebut. Ia pun terjebak dalam sebuah pernikahan yang penuh dengan dominasi serta gairah yang berbahaya.
Sampul Novel Pesona Janda Anak Satu
8.9
Diusir dan diceraikan suami usai melahirkan anak laki-laki membuat hidup Laila hancur. Tragisnya, sang putra juga tak diakui keluarga suaminya meski berstatus pewaris. Tiga tahun berlalu, Laila bertransformasi menjadi wanita mandiri yang enggan membuka hati untuk cinta baru. Namun, keteguhannya goyah saat Malik, mantan kekasihnya, datang kembali demi mendapatkan cintanya. Akankah Laila menerima Malik atau tetap memilih hidup sendiri?
Sampul Novel Terjerat Pesona Sang Casanova
9.5
Bagi Regan, keputusan telah bulat dan penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru tertantang untuk terus mengikat wanita yang sangat dipujanya. Walau perasaannya bertepuk sebelah tangan dan sang wanita berulang kali mencoba kabur, Regan takkan membiarkannya lolos. Obsesinya begitu kuat untuk menahan wanita itu di sisinya selamanya. Tak peduli seberapa keras ia ditolak dan dihindari, Regan bersumpah akan terus mengejar dan menjadikannya milik pribadi.