APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Demi sang ayah, Benara nekat menjadikan Laras sebagai kekasih sewaan. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa perempuan itu sebenarnya telah bersuami. Alih-alih mundur setelah melihat Laras terus disakiti oleh suaminya, Benara justru memanfaatkan situasi tersebut. Ia mulai mendekati Laras secara agresif. Kini, Benara bertekad kuat untuk merebut hati Laras dan mengejar cintanya, meski status pernikahan Laras menjadi rintangan besar yang menghadang langkahnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Laras dan Reza sebenarnya dua orang yang saling mencintai. Namun, setelah sepakat untuk menikahi Laras, keraguan mulai muncul dalam hati Reza sebab provokasi dari sang ibu. Rahma mengaku, kalau Laras sama sekali tidak sepadan dengan Reza hanya karena Laras hanya anak dari petani kecil di desa. Rahma juga membandingkan lagi kalau anaknya termasuk laki-laki yang bisa mendapatkan perempuan yang lebih layak dari Laras yang hanya tamatan SMA.

Hingga pernikahan usai, keraguan dalam hati Reza berubah menjadi penyesalan. Harusnya kemarin dia mendengarkan apa kata ibunya, tentang Laras yang memang tidak pantas menjadi istrinya. Lihatlah sekarang ini, Reza hanya bisa melihat betapa lugu, polos, dan noraknya istrinya. Setelah di bawa ke kota saja, penampilan Laras masih belum berubah.

Laras masih saja sama seperti perempuan yang dia nikahi enam bulan lalu. Tidak menarik secara visual, juga tidak berbakat secara karakter. Reza semakin yakin, kalau Laras hanyalah bayang-bayang kehancuran untuknya.  Itu kenapa, hingga detik ini, Reza belum juga mengaku pada dunia, termasuk pada orang-orang disekitarnya, bahwa dia sudah menikah. Dan secara tidak sengaja pula, sang istri yang tak dianggap itu bekerja di satu kantor yang sama dengannya. Miris!

***

Bayang-bayang obrolan ketiga orang tadi masih saja membekas di kepala Laras. Masih belum bisa dia menerima begitu saja tentang apa yang mereka perbincangkan. Jika memang dia hanya diinginkan untuk dijadikan budak saja, apa sebaiknya Laras mengaku kalah saja? Apa sebaiknya dia putuskan untuk berpisah lalu pulang ke kampung halamannya? Tapi, bagaimana jika orangtuanya bertanya, dan para tetangga yang dulu amat sangat bangga terhadapnya yang bisa mendapatkan laki-laki mapan dari kota macam Reza? Apa yang harus Laras katakan pada mereka, bahkan saat usia pernikahannya yang  masih seumur jagung itu?

"Kami sangat tertarik dengan inovasi baru dari brand Anda ini Pak Ben. Bagaimana kau kita adakan pertemuan yang lebih formal lagi? Kita bahas lebih detail lagi di pertemuan selanjutnya? Bagaimana?" tanya laki-laki setengah baya itu pada Benara.

"Tentu saja, Pak David. Saya dengan senang hati akan mengatur pertemuan kita selanjutnya," jawab Benara, ikut merasa terhormat.

"Saya juga sangat menyukai cara karyawan Anda ini menjelaskan segalanya, Pak. Anda memang orang yang menampung seluruh manusia-manusia berbakat. Saya jadi sedikit iri pada Anda," lanjut David lagi, memuji keterampilan Laras hari ini.

Alih-alih merasa tersanjung, justru yang sedang dipuji tengah larut dalam pikiran yang membawanya jauh entah ke mana. Bahkan setelah David pamit pergi saja, Laras masih saja terlihat fokus pada imajinasinya. Hingga Benara tak tahan—yang mana sedari tadi dia mengamati diamnya Laras — lantas menjentikkan jari tepat di depan wajah perempuan itu.

Sontak saja Laras tersentak. Lamunannya menguap cepat.

"Kamu melamun ya? Kenapa nggak di balas ucapan Pak David tadi?" tanya Benara, dengan tatapan menyelidik.

Laras segera menyisir area di mana yang tadinya ada David di sana. Kini kosong. Orang itu sudah pergi. Laras lantas saja meringis, mengutuk kebodohannya. Astaga... Dia kacau. Laras benar-benar dibawa jauh oleh pikirannya sendiri.

"Maaf, Pak. Saya nggak akan ngulangin kesalahan yang sama, Pak. Maaf sekali lagi," ucap Laras sungguh-sungguh.

Benara hanya mengangguk-angguk kecil, lalu menjawab,

"Karena hasil pertemuan ini berbuah manis, saya maafin kamu. Tapi lain kali, tolong fokus sama pekerjaan kamu. Hilangkan masalah internal kecuali urusan kantor. Bisa di pahami?"

Laras segara mengangguk satu kali, benar-benar menyesal akan tindakannya. Dia hanya bisa menatap lantai, mencoba menghilangkan rasa penyesalan yang muncul.

"Baiklah, kalau gitu kita akhiri di sini saja dulu. Besok ada pertemuan dengan Pak David, pastikan kamu fokus! Dan tentang ide yang kamu jabarkan tadi, jangan berhenti di sana, kembangkan lagi selagi kamu masih punya saran lain. Itu bisa jadi salah satu bahan pertimbangan," ungkap Benara hendak mengakhiri pertemuan mereka.

"Baik, Pak. Saya akan berusaha lebih keras lagi." Laras menjawab begitu yakin.

Benara pun mulai beranjak dari tempatnya. Baru saja akan melewati Laras yang ikut berdiri, tiba-tiba saja kepala Benara rasanya seperti ditusuk sebilah pisau. Mendadak saja pandangannya kabur, dan dadanya berdetak begitu cepat. Entah kenapa, Benara merasa seperti akan tumbang. Jika saja tidak segera di tangkap oleh Laras, mungkin saat ini Benara sudah terjatuh dan membentur meja atau mungkin lantai yang dia pijak.

"Pak! Anda kenapa? Pak! Pak! Tolong!" pekik Laras, panik.

Melihat Benara yang sudah tidak sadarkan diri, ikut memberikan efek gemetar pada Laras. Dia takut terjadi hal buruk pada atasannya itu.

Tak lama kemudian, bantuan pun datang. Benara segera di bawa ke Rumah sakit terdekat untuk diberikan sebuah pertolongan. Laras sempat ragu untuk ikut mendampingi Benara, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia takut kalau suaminya khawatir jika dia tidak segera pulang.

Karena tidak punya pilihan lain lagi, akhirnya Laras ikut untuk menemani Benara. Meski keraguan begitu besar muncul dalam dadanya, Laras tetap saja mempedulikan tentang Benara yang dia sendiri tidak tahu ada apa dengan atasannya itu.

***

Sekitar setengah jam lebih Laras menunggu dokter yang bertugas menangani Benara. Hatinya semakin kalut tidak karuan. Laras sudah mengirimi pesan singkat pada Reza namun juga belum dapat balasan. Dia juga berulang kali menghubungi suaminya itu, tapi tidak juga mendapat jawaban.

Tak lama dalam suasana hati yang bimbang, seorang dokter pun keluar dan menghampiri Laras. Namun, belum juga sempat mengetahui penyebab Benara tiba-tiba pingsan, sosok jangkung mendadak muncul sambil berseru,

"Apa dengan Benara?"

Laras ikut menoleh sama dengan sang dokter. Laki-laki paruh baya berkacamata bening datang mendekat. Laras bertanya-tanya, apa ini ayah Benara? Wajah mereka sedikit mirip. Hal yang membuat Laras langsung meyakini tebakannya.

"Dia baik-baik saja, Pak Thomas. Itu masih efek yang kemarin. Tidak perlu khawatir," jawab sang dokter, menjelaskan.

Thomas segera menghela napas lega. Sebelum benar-benar melengos pergi, Thomas sempat menetapkan tatapnya pada Laras. Pada saat yang sama, Laras hanya bisa mengangguk kecil sambil menerbitkan senyum canggung sekilas.

Thomas segera masuk untuk menemui pria yang sedarah dengannya itu. Laki-laki bebal yang Thomas sendiri sudah lelah untuk sekadar menghadapinya. Benara masih berbaring di atas brankar dengan wajah yang sedikit pucat.

"Kamu pingsan lagi? Mau sampai kapan kayak gini terus, Ben? Ayo pulang ke rumah. Istirahatlah, Ben. Kamu itu nggak harus kerja keras kayak gini hanya untuk—”

"Pa," potong Benara. Thomas segera membisu. "Kalau Papa datang cuma mau bujuk Ben buat pulang, mending Papa pulang aja. Kita udah sepakat buat nggak ngurusin masalah pribadi lagi," lanjutnya, enggan menatap wajah sang ayah.

Thomas menghela napas, sebenarnya jengkel menghadapi sifat putranya ini. Dia hanya bisa menatap penuh harap, juga penuh amarah yang tak bisa dia luapkan.

Thomas hendak kembali berbicara, namun suara ketukan pintu menunda. Thomas segera menoleh dan mendapati Laras, perempuan yang dia lewati tadi, muncul dari balik pintu.

"Maaf mengganggu, Pak, saya hanya mau—”

"Masuk aja, Ras," potong Benara begitu menyadari Laras yang datang.

Thomas langsung menatap Benara, sementara Laras dibuat bingung dengan ucapan Benara barusan. Keadaan yang hening membuat atmosfer jadi canggung, mau tak mau, Laras segera mengikis jarak, menurut apa kata Benara.

"Pak—"

"Maaf kalau kamu khawatir. Aku nggak papa kok," ucap Benara, lagi-lagi memotong ucapan Laras. Dan satu kali lagi, Laras dibuat bingung. "Oh iya, kenalin, ini Papa. Maaf kalau ngenalinnya di saat lagi kayak gini. Tapi ini kebetulan, jadi sekalian aja," kata Benara sambil menatap lekat-lekat mata Laras. 

Dari sorot mata itu, Laras seolah sedang diberi satu perintah. Meski tak paham sepenuhnya, Laras pun mengikuti apa yang dikatakan Benar tadi.

"Selamat malam, Pak." Hanya itu yang bisa dikatakan Laras pada Thomas.

"Dia pacar Ben, Pa," sambung Benara yang membuat Laras dan Thomas sama-sama kaget.

"Apa?!"  Thomas mendelik tak percaya.

Sementara Laras ikut menatap Benara dengan mulut yang setengah menganga.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku
7.8
Bukti perselingkuhan Fathan terbongkar setelah istrinya, Davina, menemukan sebuah buku harian rahasia milik Lulu. Ketegangan memuncak ketika Lulu, yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus sahabat Davina, mendadak tewas terbunuh secara misterius. Siapa pelaku di balik pembunuhan keji ini? Mampukah rumah tangga Davina dan Fathan bertahan melewati rintangan pengkhianatan serta misteri kematian yang belum terpecahkan? Temukan jawabannya dalam kisah penuh teka-teki ini.
Sampul Novel Dikhianati Sejak Hari Pertama
8.4
Demi sang ayah yang sedang sakit, Katrina terpaksa menyetujui pernikahan kilat dengan Gavin Ardian. Namun, di hari pertamanya sebagai istri, ia langsung menghadapi kenyataan pahit bahwa Gavin masih menjalin kasih dengan mantan pacarnya. Di tengah pengkhianatan ini, sang ayah mertua justru menugaskan Katrina untuk memenangkan hati putranya. Kini, Katrina terjebak dalam pilihan sulit: berjuang merebut cinta Gavin atau menyerah pada rumitnya biduk rumah tangga mereka.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Kehidupan Keyla Valerie hancur lebur setelah menyaksikan suaminya berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah rasa sakit hati dan keputusasaan yang mendalam, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda tampan bergaya badboy. Tak disangka, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim Keyla sebagai calon istrinya. Bagaimana kelanjutan nasib Keyla dalam menghadapi babak baru kehidupannya yang tak terduga ini? Simak kisah lengkapnya.
Sampul Novel Godaan Mas Duda Posesif
8.1
Demi mengatasi masalah finansial, Kaluna, seorang mahasiswi tingkat akhir, menerima tawaran pekerjaan dari duda kaya raya bernama Liam. Ia bersedia menjadi ibu susu bagi bayi Liam dengan bayaran lima puluh juta rupiah setiap bulannya, berbekal pengalamannya yang pernah melahirkan di luar nikah. Namun, tugas yang ia kira mudah ini justru berubah rumit ketika Kaluna mulai terjerat dalam pesona Liam. Sikap posesif sang majikan perlahan mengikatnya erat.
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun lamanya Rania Alvi menanggung kepedihan dalam pernikahan dingin dengan pengusaha kaya, Rizky Wira. Berstatus sebagai istri kedua, hidupnya kian terasing akibat bayang-bayang Inez, sang mantan istri. Ketika divonis mengidap kanker stadium dua, kondisi fisik dan mental Rania runtuh hingga ia nekat menggugat cerai. Namun, Rizky menolak keras dan bersumpah tak akan melepaskannya. Kini, Rania terperangkap dalam obsesi sang suami, bergelut dengan rasa sakit tanpa celah untuk bebas.
Sampul Novel Love
9.2
Love
Di tengah padatnya rutinitas kota modern, sebuah hubungan asmara yang tulus mulai bersemi secara perlahan. Kisah ini menyoroti arti kasih sayang mendalam di balik kesibukan urban. Lewat momen pertemuan tak terduga, dua individu saling berjuang memahami hati masing-masing demi merajut ikatan emosional yang kokoh. Perjalanan penuh kehangatan ini menjadi bukti nyata tentang keindahan dari sebuah ketulusan cinta sejati.