APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO

Kutukan Cinta Sang CEO

Khaidar Wijaya hidup dalam bayang-bayang kutukan mematikan: orang yang mencintainya dengan tulus akan celaka hingga tewas. Usai kehilangan orang tuanya, ia memilih mengisolasi diri. Namun, demi mengabulkan keinginan terakhir neneknya yang sekarat, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang sangat membencinya. Pernikahan tanpa cinta ini menjadi satu-satunya jalan. Mampukah Viona bertahan tanpa rasa cinta, atau ia akan menjadi korban kutukan maut berikutnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Dalam setahun ini terhitung ia hanya dua kali bertemu secara langsung dengan sang nenek saat pembukaan gedung cabang baru dan juga saat pelantikan dirinya sebagai CEO di perusahaan. Saat natal tahun lalu ataupun saat ulang tahunnya, mereka hanya berbicara melalui panggilan video dan itu pun hanya sang nenek yang menyalakan video. Begitu juga dengan hari-hari lainnya, selain berbicara tentang bisnis dan kegiatan sehari-hari yang monoton, tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Meskipun begitu, mereka cukup sering berkomunikasi melalui panggilan video. 

   Video dinyalakan dan Khaidar langsung menunjukkan senyum terbaiknya. Sudut bibirnya terangkat ke atas menampilkan deretan giginya, begitu halnya dengan matanya yang melengkung bagai pelangi kecil. Hati neneknya terenyuh, meleleh seperti es yang disiram lava dan itu membuat dadanya menjadi sakit. 

“Cucuku..” , panggil sang nenek dengan senyum merekah di wajahnya. 

   Ia baru menyadari betapa dirinya sangat merindukan sang cucu. 

   Khaidar sangat mirip dengan sang ayahnya sewaktu muda meskipun bibirnya merupakan kopian dari sang ibu. Itu membuat dada neneknya sesak dua kali lipat. Ia merindukan cucunya, dan lebih merindukan putranya. 

“Iya, nek?” , balas Khaidar, senang. 

“Selamat ulang tahun, ya. Nenek harap kau selalu dilimpahi kebahagiaan dalam hidupmu.” 

Khaidar mengangguk dengan tersenyum pahit, “Jika nenek bisa datang ke sini pasti aku akan sangat bahagia.” 

Kini ganti sang nenek yang tersenyum pahit, “Maaf ya, untuk hari ini nenek sudah ada janji dengan para investor. Mungkin lain kali.” 

Untuk menyembunyikan kesedihannya, Khaidar terus mengangguk, “Aku mengerti.” 

“Oh! Nenek harus pergi sekarang. Sampai nanti, ya.” 

“Sampai nanti, Nek.” 

   Panggilan video pun berakhir saat sang nenek menekan tombol merah yang ada di layar. Tepat setelah layar mati, raut wajah nenek berubah menjadi pucat dan tangannya langsung menggenggam dada sebelah kiri. Rasa sakit mulai menjalar dari jantung hingga ke pundak dan bergerak menuju tangannya, hingga pada puncaknya, sang nenek jatuh terjerembab dari kursi. 

*** 

   Bagi Khaidar, hari ulang tahun lebih mengerikan daripada hari Senin ataupun hari evkin dimana hasil kinerjanya di perusahaan akan dinilai. Bukan hanya karena hari ulang tahunnya begitu sepi tanpa ada nenek ataupun sanak saudara yang datang, namun juga dikarenakan setiap hari ulang tahunnya ingatan akan kedua orangtuanya menyeruak dan akan menghantuinya sepanjang hari. Alih-alih menjadi hari ulang tahun, lebih mirip seperti hari berkabung untuknya. 

“Apa kau tidak mau duduk di sini bersamaku alih-alih hanya berdiri di sana seolah-olah kau adalah patung, Hardian.” , tegur Khaidar yang sedang menikmati sarapan mewahnya seorang diri di meja panjang yang di sisi nya terdapat 12 kursi. 

   Hadrian yang sejak tadi berdiri di belakang Khaidar sambil mengatur jadwal untuk pria yang sedang makan seorang diri itu langsung menoleh begitu namanya disebut. 

“Maaf, tuan. Saya sudah sarapan tadi pagi dan masih kenyang.” , kata Hadrian menolak dengan halus. 

“Aku yakin kau tidak sempat makan banyak pagi tadi. Bergabunglah bersamaku. Makan sendirian seperti ini membuatku tidak berselera.” 

“Dua gelas jus sayur dan dua buah dada ayam panggang sudah memenuhi semua bagian pencernaan dan saya sendiri masih bisa merasakan jusnya di tenggorokan.” , balas Hadrian lagi-lagi menolak untuk yang kedua kalinya. 

   Tepat setelah penolakan itu, terdengar dentingan sendok perak yang membentur piring. Khaidar meletakkan sendoknya dengan kasar dan merebahkan punggungnya pada sandaran kursi yang tinggi dan empuk. Ia memejamkan matanya, menyelam ke dalam pikirannya. 

Hadrian yang melihat hal itu langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri Khaidar, “Ada apa, tuan? Apa tidurmu tidak nyenyak semalam?” 

“Aku tidak tahu ini hanya aku saja atau semua orang yang baru menginjak usia 23 tahun merasakan hal yang sama.” 

“Apa maksudmu, tuan?” 

“Isi kepalaku terlalu rumit, sulit menjelaskannya.” 

“Aku akan berusaha untuk memahaminya, tuan.” , kata Hadrian bersikukuh. 

“Kau yang masih ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh kedua orangtuamu dan tidak mengemban kutukan bodoh semacam ini, tidak akan pernah mengerti.” 

   Hadrian terdiam. Ia tidak bisa menyangkal apa yang Khaidar katakan. Kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya sewaktu ia masih kecil, kembali terngiang dalam benaknya. Saat itu ayahnya memberikan pengertian padanya bahwa setiap orang hanya dapat mengerti orang lain setelah mencoba berjalan dengan sepatunya. Pada waktu itu yang terbayang dalam Hadrian hanyalah dirinya yang mencoba memakai sepatu ayahnya, sama sekali tidak terpikirkan bahwa itu adalah dasar yang harus dipahami semua orang. 

“Maaf jika saya tidak bisa mengerti betul apa yang sedang tuan rasakan. Tapi aku tahu bagaimana cara meringankan semua hal yang berputar di kepala tuan.” 

Khaidar langsung membuka matanya dan melirik pada Hadrian, “Maksudmu, bar? Itu kan yang ingin kau katakan padaku?” 

Dengan senyum bangga, Hadrian mengangguk tanpa ragu. 

“Aku punya kenalan seorang pemilik bar yang sangat bagus. Jika tuan mau, aku akan menghubunginya sekarang agar dia membuka barnya untukmu seorang. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku.” , jelas Hadrian. 

“Kau yang terbaik. Aku harap kau tidak menyayangiku karena aku tidak ingin kehilanganmu, Hadrian.” 

Mendengar itu, Hadrian terkekeh, “Aku tidak punya alasan untuk menyayangimu, jadi tuan tidak perlu khawatir.” 

*** 

“Ini gila! Aku baru saja memejamkan mataku selama beberapa menit dan langsung dipanggil untuk bekerja!” , omel seorang gadis yang sedang membereskan meja bar panjang dan mengilap, menggerutu pada temannya yang ada di seberang panggilan telepon. 

“Tapi kau tetap datang?” , balas temannya di seberang sana. 

“Aku tidak punya pilihan. Ditawari gaji tiga hari untuk satu hari bekerja, bagaimana bisa aku menolaknya?” 

Kekehan renyah terdengar dari lubang speaker dan gadis itu ikut terkekeh. 

   Dia adalah Viona, gadis 23 tahun yang bekerja menjadi bartender di salah satu bar ternama yang ada di pusat kota. Sudah 3 tahun lamanya ia menggeluti profesi ini berkat bantuan dari mantan kekasihnya yang sudah mengenalkannya pada dunia hiburan malam. Mantan kekasihnya adalah seorang DJ dan sudah pindah bekerja di bar kota lain. 

   Viona bukanlah satu-satunya bartender yang bekerja di sini. Total semuanya adalah 4 orang termasuk dia dan dari keempat orang yang dihubungi oleh pemilik bar, hanya Viona yang menjawab sehingga sang pemilik bar menawarkannya bayaran lebih agar Viona mau menerimanya. 

   Panggilan tersebut bukannya tanpa sebab. Hadrian, sekretaris pribadi Khaidar yang merupakan teman dekat pemilik bar membuat Viona harus merelakan waktu tidurnya setelah sepanjang malam terjaga untuk bekerja. Viona yang biasa datang pukul 6 sore, terpaksa harus datang pukul 10 pagi, dimana seluruh bagian bar baru saja dibersihkan. Bahkan ia bisa mencium aroma cairan pembersih lantai yang digunakan untuk mengepel. 

   Bar begitu sepi. Hanya ada dirinya dan 2 orang lainnya yang merupakan penjaga keamanan yang juga dipanggil untuk memastikan tidak ada orang lagi yang datang selain Khaidar. Beberapa saat yang lalu pemilik bar datang dan memberitahukan Viona bahwa tamu mereka yang satu ini adalah orang penting, jadi Viona harus menunjukkan performa terbaiknya. 

   Tak berselang lama setelah pemilik bar pergi, dua orang berpakaian rapi masuk dan berdiri di dekat pintu masuk, seakan-akan figuran sedang menunggu tokoh utama untuk masuk. Melihat itu Viona menelan ludahnya berat. Ia bisa membayangkan pria tua bertato dengan rambut yang sudah mulai memutih dan berpakaian rapi akan keluar dari sana. Persis seperti yang ada dalam film mafia. 

   Langkah kaki yang mengetuk lantai mulai terdengar menggelitik telinga Viona sekaligus membuatnya gugup setengah mati. Matanya terbelalak kemudian dahinya mengernyit heran. Dugaannya salah. Pria itu tidak bertato dan rambutnya masih hitam. 

“Tunggu! Itu kan.. Khaidar si gay?!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DIHAMILI SUAMIKU
8.0
Hidup Alexa Banderas hancur di hari kelulusan akibat pembunuhan orang tuanya oleh sang paman yang mengincar dokumen Taurus Corps. Di tengah duka, ia dipaksa menikah dengan Martin Snowden, pria kasar yang membencinya. Kini, Alexa harus memimpin perusahaan besar sekaligus melindungi sang suami dari kekasihnya yang licik demi mengamankan aset keluarga. Mampukah ia membalas dendam, mengelola bisnis, dan meluluhkan hati Martin yang begitu keras?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?
Sampul Novel Terjebak Cinta Tuan Arogan
9.6
Saat berusaha kabur, takdir membawa Maureen bertemu Max. Meski dikenal sebagai pebisnis dingin yang sulit didekati, daya tarik Maureen sanggup meruntuhkan pertahanan Max. Pertemuan tak terduga ini menjebak Maureen dalam hubungan dengan pria arogan yang punya cara unik dalam mencintai. Kehadiran Max yang sangat mendominasi pun seketika mengubah seluruh kehidupan Maureen untuk selamanya, mengikatnya dalam jerat asmara yang tak terelakkan.
Sampul Novel The Front Line
9.4
Cinta sanggup mengubah seseorang menjadi monster atau melembutkan jiwa yang beku. Bagi Randy, detektif yang biasa menghadapi kejamnya dunia kriminal, asmara justru menjadi bumerang yang merusak logika serta stabilitas mentalnya. Terperangkap dalam pusaran emosi mendalam akibat orang yang dicintainya, Randy kini harus berjuang keras menjaga kewarasan di tengah konflik mematikan yang mengancam nyawa. Mampukah ia bertahan?