APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kurang dari tiga

Kurang dari tiga

Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Pak, titip sepeda ya."

Seorang bapak paruh baya mendongak. Beliau menghela napas panjang, menutup koran paginya lalu membenarkan posisi duduk, "Taruh garasi, Nak."

Gadis berkacamata tebal itu menggeleng, "Di sini saja, Pak," katanya menyenderkan sepedanya di pagar rumah.

Menggelengkan kepala, bapak berpeci dan bersarung yang dipakai asal itu beranjak berdiri, berjalan lebih dekat menghampiri siswi SMA berkacamata tebal tersebut.

"Garasi Bapak masih luas. Kalau di sini sepedanya kepanasan. Nanti kalau terjadi apa-apa sama ban kamu, kamu kan jadi repot."

"Enggak kok, Pak. Saya seminggu titip di sini sepeda tetap aman," ucapnya meyakinkan.

Beliau memutar bola matanya malas, "Ya jelas aman. Orang Bapak masukin ke garasi."

Nadia tersenyum. Itu memang faktanya. Pagi hari dia menaruh sepeda di pinggir pagar, waktu pulang sekolah sepeda itu sudah ada di dalam garasi.

Bukannya apa-apa. Dia hanya merasa tidak enak dengan sang pemilik rumah. Parkir gratis tapi mendapatkan fasilitas baik? Tentu dia merasa malu.

"Saya pamit ke sekolah dulu, Pak," kata Nadia pada akhirnya.

Pak Burhan melambai pada Nadia, "Nak! Nak! sebentar."

Nadia menoleh ke belakang, dengan tangan memegang tali tas punggung lusuhnya. Dia mengurungkan niat untuk melenggang pergi demi menghormati Pak Burhan.

"Sesekali coba kamu lapor sama guru. Anak-anak yang suka usil bukan cuman harus dihindari, tapi juga dikasih efek jera." Pria paruh baya itu melepas pecinya, "Bapak suka kasihan kalau kamu pulang sekolah selalu mampir ke bengkel sebelah mulu. Ban copot lah, keranjang penyok lah, dudukan sadel ilang lah."

Nadia menyunggingkan senyum tipis, "Iya, Pak. Kapan-kapan saya lapor sama guru."

"Kapannya itu kapan?"

Gadis itu menyembunyikan bibirnya ke dalam, "Saya berangkat dulu ya, Pak," ucapnya mengalihkan pembicaraan.

Pak Burhan menghela napas, "Ya sudah. Belajar yang bener, dan jangan lupa sama yang Bapak bilang tadi, lapor sama guru."

"Baik, Pak. Terima kasih sudah mau menampung sepeda saya," katanya yang dibalas anggukan oleh bapak tersebut.

Nadia mengeratkan pegangannya pada tali tas miliknya. Dia berjalan sedikit menunduk menghindari tatapan orang-orang berseragam sama seperti dirinya.

Selama seminggu terakhir gadis cupu itu memang suka memarkirkan sepedanya di rumah warga yang dekat dengan sekolahan. Sebenarnya di sekolahan juga ada parkiran, komplit malah. Ada parkiran khusus mobil, parkiran motor, dan parkiran sepeda. Kondisi sangat aman, tapi tidak untuk sepedanya.

Kendaraan murahannya itu sering sekali dibuat rusak. Hanya punya nya, sedangkan yang lain tidak. Sangat repot saat pulang sekolah harus mencari dan mengumpulkan kerangka-kerangka sepeda. Dia juga harus merogoh kantong lebih untuk memperbaikinya di bengkel.

Nadia berhenti di depan gerbang sekolah yang terbuka. Kepalanya mendongak menatap gapura yang berdiri kokoh.

Dia menelan ludah, pagi yang seharusnya cerah berubah menjadi seperti mendung dengan petir yang menyambar-nyambar kala dirinya menginjakkan kaki di sana.

Tiiiiin....!

Suara klakson berbunyi tepat di belakang Nadia, membuat gadis itu terperanjat kaget karenanya.

"Minggir, goblok!"

Nadia meminggirkan tubuhnya tanpa banyak bicara. Cowok dengan motor matic itu menatapnya tajam, lalu menendang kaki Nadia dengan sepatunya.

"Aw..." Nadia meringis menahan sakit di kakinya. Bahkan kaos kaki putihnya sampai kotor karena sepatu tersebut.

"Dikira sekolahan milik nenek moyang lo!"

Si gadis cupu diam tak menjawab. Dia menunduk sambil menautkan jemarinya satu sama lain tak mau menatap cowok di depannya yang mungkin bisa tambah emosi setelah melihat wajahnya nanti.

"Ck! Dasar cewek cupu aneh!" Merasa tak ada faedahnya berbicara dengan Nadia, cowok itu memilih melenggang pergi menuju parkiran khusus motor.

Lagian berlama-lama dengan gadis itu bisa membuat namanya tercemar jelek nanti.

Nadia kembali mendongak saat deru motor terdengar. Matanya menatap punggung cowok itu yang berangsur menjauh. Dia menghela napas. Ini masih di depan gerbang, belum memasuki kawasan sekolah.

Kakinya melangkah lagi, memasuki area sekolahan sebelum kondisi semakin ramai dan banyak orang yang membully nya nanti.

"Rara! Kembaran lo lewat tuh."

"Anjir! Kembaran lo kali."

"Adeknya Rahel."

"Jijik banget gue kalau punya adek modelan gitu. Udah gue buang sejak baru lahir kali."

"Pacarnya Rio."

"Gue tampol lo ya!"

Suara-suara macam itu sudah sering Nadia dengar. Karena saking seringnya, hatinya jadi kebal. Air mata pun sampai kering, sangat lelah memilah-milah untuk menganggap perkataan mereka hanya guyonan atau serius.

"Hai." Seorang cewek berdiri menghalangi jalannya.

Nadia tersenyum tipis, "I-iya."

Cewek berseragam ketat itu mengulum senyum, "Bareng yuk!"

Nadia mengangguk kecil. Ada perasaan ragu di hatinya, namun langsung dirinya tepis. Siapa tahu cewek di sebelahnya itu memang berniat menjadi temannya.

Bukankah itu hal yang sedari dulu dia idamkan? Nadia belum pernah merasakan memiliki teman. Bahkan teman-teman sekelasnya saja tak sudi menganggapnya sebagai teman.

"Helen! Lo jalan sama siapa tuh?!" teriak seseorang yang berjarak tak jauh dari Helen.

"Gue? Gue lagi jalan sama my bestie!" seru Helen seolah sengaja agar semua orang dengar.

"Anjir lah! My bestie dong." Nadia mendengar suara tawa yang dilontarkan bukan dari satu orang, tapi lebih.

Helen tampak berbisik pada teman-temannya. Suaranya begitu kecil sampai Nadia yang ada di sebelahnya tak begitu mendengar.

"Gak usah didengar. Mereka memang suka gitu," kata Helen pada Nadia.

"Iya," jawab Nadia yang justru membuat Helen mati-matian menahan tawa.

"Eh ngomong-ngomong seragam kita serupa, tapi gak sama ya."

Nadia menoleh, "Maksudnya?"

"Iya, gak sama. Coba deh bandingin." Helen mendekatkan baju atasannya dengan baju milik Nadia, "Tuh, beda. Punya gue putih, punya lo kusam. Kayaknya punya gue keseringan dicuci kali ya, jadi gak bisa sama kayak punya lo."

Nadia tersenyum, "Punya ku juga sering dicuci kok."

"Masa sih? Air di rumah gue sama di rumah lo beda mungkin ya. Lebih bersih di rumah gue."

Nadia terdiam. Dia sudah mulai sadar sedang dipermainkan. Cewek di sebelahnya itu pura-pura baik padanya, ada niat terselubung untuk menjatuhkannya.

"Kamu duluan aja. Aku ada urusan di perpustakaan," kata Nadia. Itu hanya alasan agar Helen tak lagi mengikutinya.

Helen tampak murung, "Yah... Ya udah deh. Kapan-kapan ngobrol bareng lagi ya."

"Iya," kata Nadia sebelum benar-benar memasuki perpustakaan.

Gadis cupu itu bersandar pada tembok perpustakaan. Dia dapat mendengar suara gelak tawa yang membahana dari balik tembok.

Senyum getir itu tercetak. Sepertinya Nadia terlalu beharap bisa mendapatkan teman. Dia menghela napas lalu membuangnya, mencoba menyadarkan diri agar tidak berharap lebih pada siapa pun.

"Raka bawa cewek, anjir!"

"Raka?" Refleks Nadia mengucapkan satu nama itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Cemburu Ladyboy
7.9
Diandra, seorang gadis tomboy yang menggemari dunia motor, terpaksa harus bertunangan dengan Handoko. Di balik gelimang hartanya, Handoko memiliki obsesi rahasia untuk berpenampilan anggun layaknya sang ibu. Walau ia berniat memperbaiki diri, kehadiran Diandra malah memicu konflik hebat yang mengancam kelangsungan hubungan mereka. Di tengah badai emosi dan rintangan, akankah cinta sanggup menyatukan dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini?
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala sangat takut terluka secara emosional, sedangkan Lingga terobsesi pada popularitas meski sebenarnya muak dengan pujian. Di balik kepalsuan masing-masing, keduanya terjerat dalam relasi toksik yang diwarnai ancaman serta pemerasan demi mengejar kebahagiaan semu. Hubungan destruktif antara sosok yang fasik dan munafik ini memicu dinamika cinta yang kelam, di mana mereka saling menyakiti satu sama lain untuk memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap mereka.
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan sang Omega hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan putra rahasianya. Pernikahan mereka ternyata cuma alat politik Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan dianggap pajangan, ia tetap tenang saat Baskara pura-pura rindu. Di balik amarahnya, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka siap mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah
8.8
Demi menggantikan sang adik angkat, Raihan terpaksa menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini bahkan hanya dipersiapkan dalam waktu dua hari. Nico sendiri awalnya tidak menyangka bahwa sosok yang menjadi istrinya ternyata sangat menawan. Pesona Raihan pun sukses memikat Nico setelah mereka sah menikah. Meski Raihan mengizinkan Nico menyentuhnya, ia sempat gemetar saat didekap dengan agresif. Raihan lalu meminta Nico untuk memulai malam pertama mereka secara perlahan.
Sampul Novel Menipu Penipu Asmara
8.3
Niat baik Cassidy Belgenza menyelamatkan Sophie Marigold dari pelecehan justru berujung salah paham. Ternyata, Sophie adalah selingkuhan dari suami Angelica, mantan pacar Cassidy. Demi membantu Angelica yang tersiksa, Cassidy bersedia menjauhkan Sophie dari pernikahan mantannya itu. Didorong cinta masa lalu, ia merancang siasat balas dendam untuk menjatuhkan Sophie. Namun, akankah Cassidy berhasil mengelabui Sophie, atau malah dirinya sendiri yang terjerat dalam perangkap?
Sampul Novel MR. AKSA
9.1
Demi berbakti, aku terpaksa setuju menikah muda dengan pria asing pilihan orang tua. Namun, duniaku seketika hancur saat mengetahui rahasia besar bahwa calon suamiku tidak menyukai perempuan. Aku tak habis pikir mengapa orang tuaku tega menjodohkanku dengannya. Kini aku terjebak dalam dilema yang menyiksa, meratapi nasib buruk ini sambil berharap ada jalan untuk melarikan diri. Aku sangat membutuhkan bantuan agar bisa lepas dari jeratan pernikahan yang tidak normal ini.