APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kubalas Kesombongan Ipar Dan Mertuaku

Kubalas Kesombongan Ipar Dan Mertuaku

Menikahi pria dari keluarga kaya justru menjadi awal penderitaanku. Mertua dan ipar yang licik memperlakukanku layaknya budak, bahkan terus menghina latar belakangku yang hanya lulusan SMA. Namun, aku menolak untuk terus ditindas. Setelah berhasil menemukan jalan menuju kesuksesan finansial yang luar biasa, kini saatnya aku bangkit. Aku siap membalas setiap perlakuan buruk mereka dan membungkam kesombongan keluarga suamiku dengan keberhasilanku.
Bab
Bagikan

Bab 1

Siang itu aku sedang istirahat di kamar. Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah rasanya badan ini sangat lelah dan ingin sejenak untuk merebahkan diri di kasur yang tak terlalu empuk namun sangat nyaman untukku itu.

"Punya mantu nggak tau diri, udah numpang malah seenaknya sendiri," ucap ibu mertuaku di luar sana yang sengaja mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya.

Seketika jantungku berhenti berdetak. Memang itu bukan kali pertama ibu mertuaku berkata jahat dan menyindirku seperti itu. Sejak aku menikah tiga tahun yang lalu dengan Mas Miko, ibu mertuaku memang sangat membenciku.

Aku hanya bisa ngelus dada tiap kali ibu mertua menyindirku seperti itu.

"Coba kalo dulu Miko mau dengerin aku dan mau dijodohkan dengan Salma, pasti hidupnya akan lebih bahagia. Pasti sekarang sudah punya anak. Nggak mandul kayak istrinya itu," ucap ibu mertuaku yang membuatku sangat sakit hati.

Mengenai apapun aku bisa menahan hinaan ibu mertuaku, tapi tentang anak apalagi sampai mengataiku mandul, aku tak bisa untuk tak menangis. Di dalam kamarku, aku menangis sejadi-jadinya.

Bukannya mengakhiri hinaannya padaku, namun ibu mertuaku masih terus melontarkan kata-kata yang membuatku sangat sakit hati. Meski aku tidak berhadapan langsung dengannya, tapi aku bisa mendengar dan merasakan semua hinaan yang ibu mertuaku tujukan kepadaku.

"Punya istri miskin, nggak bisa diandelin. Bisanya cuma ngabisin uang suaminya saja," ucap ibu mertua yang masih melanjutkan hinaannya padaku.

Aku hanya bisa menangis di kamar mendengar hinaan demi hinaan yang ibu mertuaku lontarkan padaku. Di rumah ini hanya ada Mas Miko yang sangat mengertiku, tapi siang itu Mas Miko sedang bekerja, sehingga tak ada siapapun lagi yang bisa menguatkanku.

"Ada apa sih Bu?" ucap ayah mertuaku yang baru datang entah darimana.

"Itu lo Pak, saya benci banget sama istri Miko. Coba aja dulu dia mau dijodohkan sama si Salma, pasti sekarang kita sudah punya cucu," jawab ibu mertuaku kepada ayah mertua.

"Iya Bu, emang jauh sekali sama si Salma. Selain berpendidikan tinggi dia juga anak orang kaya, jadi lebih selevel sama keluarga kita. Lha yang ini, udah lulusan SMA dari keluarga miskin lagi," balas ayah mertuaku yang membuat tangisanku semakin pecah.

Bukannya menasehati istrinya, ayah mertuaku malah ikut menghinaku. Betapa sangat hancur hatiku saat itu. Tak ada tempatku untuk mengadu.

"Coba Bapak lihat, baru jam sebelas loh ini, dia malah sudah masuk ke kamarnya dan itu nanti sampai sore baru keluar setelah Miko pulang bekerja, bener-bener menantu tak tau diri," lanjut ibu mertuaku yang masih terus mencari kesalahanku.

Mendengar tentang penuturan ibu mertuaku yang mengatakan aku hanya di dalam kamar sampai sore, aku tak terima. Aku segera mengusap air mataku dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.

Ternyata ayah dan ibu mertuaku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari kamarku. Mereka melihatku yang baru keluar dari dalam kamar dengan tatapan sinis.

"Itu dia benalu keluarga kita," celetuk ibu mertua yang ditujukan padaku.

"Bu maaf, bukanya saya ingin menjadi menantu durhaka. Tapi saya hanya ingin mengingatkan Ibu jika sejak pagi saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mengepel lantai, mencuci baju bahkan mencuci semua baju Kakak ipar dan suaminya yang seharusnya bukan tugas saya," ucapku dengan sangat sopan.

Ibu dan ayah mertuaku tersentak melihatku yang sudah mulai berani melawan hinaan mereka.

"Kamu berani membantah ya?" balas ibu mertuaku sambil berdiri dengan mata melotot dan suaranya memekakkan telingaku.

"Saya tidak membantah Bu, saya mengatakan yang sebenarnya," balasku yang tetap bergeming, meski sebenarnya aku sangat takut.

"Kamu pikir kamu siapa. Kamu mau tinggal disini gratisan haa? bisa makan tidur seenaknya. Apa yang kamu lakukan itu sebagai bayaran karena kamu bisa tinggal di rumah saya ini," balas ibu mertuaku dengan mata yang masih melotot.

"Saya ikhlas melakukan semua pekerjaan itu Bu, tapi tolong hargai saya selayaknya menantu Ibu," ucapku yang masih terus mengungkapkan isi hatiku yang sudah aku pendam selama tiga tahun ini.

"Apanya yang perlu dihargai, kamu sama sekali tak ada harganya di mata keluarga kami. Semua anggota keluarga kami sarjana, sedangkan kamu hanya lulusan SMA, benar-benar malu-maluin keluarga kita kamu ini," ucap ibu mertuaku yang masih terus-terusan menghinaku.

"Jika disuruh memilih, saya lebih memilih tinggal di kontrakan Bu, meskipun kecil tapi saya dan Mas Miko bisa hidup tenang," balasku yang semakin membuat amarah ibu mertuaku memuncak.

"Jadi kamu merasa tidak tenang tinggal disini, kamu pikir kamu bisa merebut Miko dari kami, jangan harap. Bahkan aku akan berusaha untuk membuat Miko menceraikanmu," ucap ibu mertua yang membuatku kaget bukan kepalang.

Bagaimana bisa seorang ibu menginginkan kehancuran rumah tangga putranya sendiri.

"Bu sadarlah dengan apa yang Ibu katakan, nggak baik mendoakan hal buruk kepada anak Ibu sendiri. Berdoalah yang baik untuk kebahagiaan anak Ibu," ucapku yang terus mencoba menyadarkan ibu mertuaku yang sudah kesetanan.

"Ngak sudi aku mendoakan Miko bahagia jika dia masih bersama kamu," balas ibu mertua yang membuatku hanya bisa mengelus dada.

Aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatanku dengan ibu mertuaku, karena jika aku terus meladeninya, maka urusannya akan bertambah panjang. Ayah mertua yang melihat perdebatanku dan ibu hanya diam tanpa ikut bergabung, tapi juga tak berusaha melerai kami.

Akhirnya aku menuju ke dapur untuk membuatkan kopi hitam untuk ayah mertua.

Sudah menjadi kebiasaanku, setelah jam sebelas siang aku harus membuatkan kopi hitam untuk ayah mertuaku. Meski ia juga membenciku, tapi aku tak pernah menaruh dendam padanya.

"Ini Pak kopinya, ucapku dengan sopan saat meletakkan secangkir kopi hitam di meja untuk ayah mertuaku.

Ayah mertuaku tak menggubrisku sama sekali, ia hanya sibuk membaca koran yang kebalik itu. Jangankan mengucapkan terimakasih, membalasnya saja tidak. Perlakuan itulah yang selalu aku terima, bahkan sudah seperti makanan sehari-hariku.

"Ibu mau dibuatkan minum apa?" tanyaku dengan lembut.

"Nggak sudah sok baik kamu, apa kamu mau meracuniku?" balas ibu mertuaku yang membuat aku sangat syok. Bagaimana bisa ibu mertuaku berpikir seburuk itu dengan menantunya sendiri.

Akhirnya aku kembali masuk ke kamar. Hari itu aku bisa istirahat dan tidur siang karena Lala anak Mbak Dina sedang berada di rumah orangtua Mas Dani yaitu suami Mbak Dina. Biasanya setiap hari aku yang selalu menjaga anak Mbak Dina.

Di dalam kamar aku memutar musik yang bisa memenangkan jiwaku yang sangat terguncang ini. Ragaku memang terlihat baik-baik saja, tapi jiwaku rasanya sudah sakit komplikasi akut.

Siang itu aku sedang istirahat di kamar. Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah rasanya badan ini sangat lelah dan ingin sejenak untuk merebahkan diri di kasur yang tak terlalu empuk namun sangat nyaman untukku itu.

"Punya mantu nggak tau diri, udah numpang malah seenaknya sendiri," ucap ibu mertuaku di luar sana yang sengaja mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya.

Seketika jantungku berhenti berdetak. Memang itu bukan kali pertama ibu mertuaku berkata jahat dan menyindirku seperti itu. Sejak aku menikah tiga tahun yang lalu dengan Mas Miko, ibu mertuaku memang sangat membenciku.

Aku hanya bisa ngelus dada tiap kali ibu mertua menyindirku seperti itu.

"Coba kalo dulu Miko mau dengerin aku dan mau dijodohkan dengan Salma, pasti hidupnya akan lebih bahagia. Pasti sekarang sudah punya anak. Nggak mandul kayak istrinya itu," ucap ibu mertuaku yang membuatku sangat sakit hati.

Mengenai apapun aku bisa menahan hinaan ibu mertuaku, tapi tentang anak apalagi sampai mengataiku mandul, aku tak bisa untuk tak menangis. Di dalam kamarku, aku menangis sejadi-jadinya.

Bukannya mengakhiri hinaannya padaku, namun ibu mertuaku masih terus melontarkan kata-kata yang membuatku sangat sakit hati. Meski aku tidak berhadapan langsung dengannya, tapi aku bisa mendengar dan merasakan semua hinaan yang ibu mertuaku tujukan kepadaku.

"Punya istri miskin, nggak bisa diandelin. Bisanya cuma ngabisin uang suaminya saja," ucap ibu mertua yang masih melanjutkan hinaannya padaku.

Aku hanya bisa menangis di kamar mendengar hinaan demi hinaan yang ibu mertuaku lontarkan padaku. Di rumah ini hanya ada Mas Miko yang sangat mengertiku, tapi siang itu Mas Miko sedang bekerja, sehingga tak ada siapapun lagi yang bisa menguatkanku.

"Ada apa sih Bu?" ucap ayah mertuaku yang baru datang entah darimana.

"Itu lo Pak, saya benci banget sama istri Miko. Coba aja dulu dia mau dijodohkan sama si Salma, pasti sekarang kita sudah punya cucu," jawab ibu mertuaku kepada ayah mertua.

"Iya Bu, emang jauh sekali sama si Salma. Selain berpendidikan tinggi dia juga anak orang kaya, jadi lebih selevel sama keluarga kita. Lha yang ini, udah lulusan SMA dari keluarga miskin lagi," balas ayah mertuaku yang membuat tangisanku semakin pecah.

Bukannya menasehati istrinya, ayah mertuaku malah ikut menghinaku. Betapa sangat hancur hatiku saat itu. Tak ada tempatku untuk mengadu.

"Coba Bapak lihat, baru jam sebelas loh ini, dia malah sudah masuk ke kamarnya dan itu nanti sampai sore baru keluar setelah Miko pulang bekerja, bener-bener menantu tak tau diri," lanjut ibu mertuaku yang masih terus mencari kesalahanku.

Mendengar tentang penuturan ibu mertuaku yang mengatakan aku hanya di dalam kamar sampai sore, aku tak terima. Aku segera mengusap air mataku dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.

Ternyata ayah dan ibu mertuaku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari kamarku. Mereka melihatku yang baru keluar dari dalam kamar dengan tatapan sinis.

"Itu dia benalu keluarga kita," celetuk ibu mertua yang ditujukan padaku.

"Bu maaf, bukanya saya ingin menjadi menantu durhaka. Tapi saya hanya ingin mengingatkan Ibu jika sejak pagi saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mengepel lantai, mencuci baju bahkan mencuci semua baju Kakak ipar dan suaminya yang seharusnya bukan tugas saya," ucapku dengan sangat sopan.

Ibu dan ayah mertuaku tersentak melihatku yang sudah mulai berani melawan hinaan mereka.

"Kamu berani membantah ya?" balas ibu mertuaku sambil berdiri dengan mata melotot dan suaranya memekakkan telingaku.

"Saya tidak membantah Bu, saya mengatakan yang sebenarnya," balasku yang tetap bergeming, meski sebenarnya aku sangat takut.

"Kamu pikir kamu siapa. Kamu mau tinggal disini gratisan haa? bisa makan tidur seenaknya. Apa yang kamu lakukan itu sebagai bayaran karena kamu bisa tinggal di rumah saya ini," balas ibu mertuaku dengan mata yang masih melotot.

"Saya ikhlas melakukan semua pekerjaan itu Bu, tapi tolong hargai saya selayaknya menantu Ibu," ucapku yang masih terus mengungkapkan isi hatiku yang sudah aku pendam selama tiga tahun ini.

"Apanya yang perlu dihargai, kamu sama sekali tak ada harganya di mata keluarga kami. Semua anggota keluarga kami sarjana, sedangkan kamu hanya lulusan SMA, benar-benar malu-maluin keluarga kita kamu ini," ucap ibu mertuaku yang masih terus-terusan menghinaku.

"Jika disuruh memilih, saya lebih memilih tinggal di kontrakan Bu, meskipun kecil tapi saya dan Mas Miko bisa hidup tenang," balasku yang semakin membuat amarah ibu mertuaku memuncak.

"Jadi kamu merasa tidak tenang tinggal disini, kamu pikir kamu bisa merebut Miko dari kami, jangan harap. Bahkan aku akan berusaha untuk membuat Miko menceraikanmu," ucap ibu mertua yang membuatku kaget bukan kepalang.

Bagaimana bisa seorang ibu menginginkan kehancuran rumah tangga putranya sendiri.

"Bu sadarlah dengan apa yang Ibu katakan, nggak baik mendoakan hal buruk kepada anak Ibu sendiri. Berdoalah yang baik untuk kebahagiaan anak Ibu," ucapku yang terus mencoba menyadarkan ibu mertuaku yang sudah kesetanan.

"Ngak sudi aku mendoakan Miko bahagia jika dia masih bersama kamu," balas ibu mertua yang membuatku hanya bisa mengelus dada.

Aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatanku dengan ibu mertuaku, karena jika aku terus meladeninya, maka urusannya akan bertambah panjang. Ayah mertua yang melihat perdebatanku dan ibu hanya diam tanpa ikut bergabung, tapi juga tak berusaha melerai kami.

Akhirnya aku menuju ke dapur untuk membuatkan kopi hitam untuk ayah mertua.

Sudah menjadi kebiasaanku, setelah jam sebelas siang aku harus membuatkan kopi hitam untuk ayah mertuaku. Meski ia juga membenciku, tapi aku tak pernah menaruh dendam padanya.

"Ini Pak kopinya, ucapku dengan sopan saat meletakkan secangkir kopi hitam di meja untuk ayah mertuaku.

Ayah mertuaku tak menggubrisku sama sekali, ia hanya sibuk membaca koran yang kebalik itu. Jangankan mengucapkan terimakasih, membalasnya saja tidak. Perlakuan itulah yang selalu aku terima, bahkan sudah seperti makanan sehari-hariku.

"Ibu mau dibuatkan minum apa?" tanyaku dengan lembut.

"Nggak sudah sok baik kamu, apa kamu mau meracuniku?" balas ibu mertuaku yang membuat aku sangat syok. Bagaimana bisa ibu mertuaku berpikir seburuk itu dengan menantunya sendiri.

Akhirnya aku kembali masuk ke kamar. Hari itu aku bisa istirahat dan tidur siang karena Lala anak Mbak Dina sedang berada di rumah orangtua Mas Dani yaitu suami Mbak Dina. Biasanya setiap hari aku yang selalu menjaga anak Mbak Dina.

Di dalam kamar aku memutar musik yang bisa memenangkan jiwaku yang sangat terguncang ini. Ragaku memang terlihat baik-baik saja, tapi jiwaku rasanya sudah sakit komplikasi akut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun Riana bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama Reynald. Alih-alih bahagia, ia justru mengalami KDRT serta tekanan berat dari sang mertua, Mayang, yang membencinya karena belum memiliki anak. Ketika orang ketiga hadir menghancurkan rumah tangga mereka, penderitaan Riana pun memuncak. Enggan terus disakiti oleh pengkhianatan dan kekerasan fisik, Riana akhirnya membulatkan tekad untuk menyerah dan memilih pergi meninggalkan suaminya.
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
9.7
Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Sampul Novel Luka Tak Terbantahkan Seorang Istri
8.6
Kehamilan kedua setelah tujuh tahun menikah harusnya jadi berkah. Namun, duniaku runtuh saat memergoki Brama, suamiku, diam-diam punya keluarga lain bersama Kania—wanita yang dulu membuatku keguguran—dan anak mereka. Kejamnya, Brama yang terhasut dusta Kania tega menyuruh orang menculikku. Tanpa sadar bahwa korban adalah istrinya sendiri, dia menyiksaku dengan keji hingga aku kembali kehilangan janin yang kukandung.
Sampul Novel Nafsu Liar Putra Mafia
9.3
Melanjutkan kisah Wanita Pemuas di Ranjang, narasi ini menyoroti generasi penerus dinasti mafia besar, Hansen dan Maxwell. Mereka harus mengelola takhta bisnis ilegal warisan orang tua sambil menghadapi lika-liku romansa yang rumit. Pembaca akan diajak mengikuti perjalanan emosional putra-putra mafia ini dalam menentukan pilihan hati dan mencari pasangan hidup yang tepat di tengah dunia mereka yang keras.
Sampul Novel Pelajaran Rahasia dari Guru Privat
9.3
Ketegangan memuncak saat sebuah panggilan video dari sang suami masuk di waktu yang salah. Dengan wajah memerah menahan gejolak, sang istri terpaksa mengangkat telepon dan mendengarkan instruksi suaminya di layar. Namun, di balik sudut kamera yang tersembunyi, seorang pria lain justru sedang melakukan tindakan intim di antara kedua kakinya. Sang suami sama sekali tidak menyadari pengkhianatan panas yang terjadi tepat di bawah hidungnya dalam novel romantis modern ini.
Sampul Novel Dia Menikah dengan Pria Lain Setelah Melahirkan Anak Mantan Suaminya
8.9
Tiga tahun membina rumah tangga, Lachlan Begum malah berselingkuh dengan sekretarisnya yang agresif, Cassie Quinn. Di tengah kebohongan Lachlan, Cassie menuntutnya menceraikan sang istri yang dianggap tidak menarik. Di saat bersamaan, Nicola Hayes justru mendapati dirinya tengah hamil enam minggu. Begitu mengetahui pengkhianatan suaminya, Nicola langsung meminta bantuan sang kakak yang berprofesi sebagai pengacara untuk mengurus perceraian demi membesarkan anaknya sendirian.