APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kuakhiri Dendam Ini

Kuakhiri Dendam Ini

Kebahagiaan Anisa menyambut kepulangan Barry dari luar negeri sirna seketika. Saat membuka koper sang suami, ia justru menemukan sesosok mayat wanita cantik yang tak bernyawa. Penemuan mengerikan ini seketika merusak ketenangan hidupnya dan memicu kekacauan besar di rumah mereka. Kini, Anisa terperangkap dalam pusaran misteri gelap yang mengancam keselamatan jiwanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ya, betul, hitam. Jangan salah. Cek baik-baik gambar yang saya kirim." Jangan sampai Amir salah membeli koper, bisa kacau semua rencana, pikir Santoso.

Dipilihnya sepuluh gambar yang paling terang. Gambar koper yang tengah ditarik seorang lelaki, masuk ke area bandara Soekarno Hatta. Dirinya harus mengambil gambar cepat, sebelum lelaki itu melewati petugas yang memeriksa tiket lalu koper besar merk ternama itu akan masuk bagasi pesawat.

"Warna, merk dan ukuran. Harus sama persis. Ingat, sama persis!"

"Baik, Boss. Aman."

Santoso menutup panggilan telepon setelah Amir menyatakan bahwa gambar yang diterimanya melalui aplikasi whatsapp terlihat jelas.

Sudah berbulan-bulan mereka mengincar Barry atas suruhan seorang perempuan yang tidak diketahui identitasnya. Santoso hanya tau, dirinya dibayar 250 juta untuk operasi ini. Uang muka sebesar 50 juta sudah diterimanya pada sebuah transaksi penyerahan tas di pinggir jalan raya Taman Kota, Bumi Serpong Damai. Tas warna hitam yang diletakkan dekat ban mobil Avanza yang terparkir di bawah pohon. Sesuai persis dengan pembicaraan lewat panggilan telepon tanpa nama, sehari sebelumnya.

Sedangkan sisa yang 200 juta, akan diterimanya apabila misi selesai tanpa cacat. Tidak sulit baginya, itu hanya pekerjaan receh dengan hasil maksimal.

***

Santoso mempelajari gambar-gambar yang masuk dari pengirim tanpa nama. Seperti perjanjian dengan wanita merekrutnya, dirinya hanya menunggu instruksi, tidak boleh bertanya, kerjakan saja. Santoso kembali mengamati gambar gadis cantik berambut panjang, berkulit putih itu. Usianya sekitar 28 tahun, tampak sangat menggoda.

"Cantik sekali!" Santoso mendengkus.

Wanita cantik itu tinggal di sebuah rumah dua lantai di Kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Rumah bercat putih itu dihuninya bersama seorang assisten rumah tangga.

Sehari-hari, wanita itu bekerja di sebuah kantor Leasing di Ibukota. Berangkat pagi pulang sore. Semua rute yang dilewatinya, sudah dikuasai dengan baik oleh Santoso. Beberapa kali kesempatan baik datang, tapi belum ada instruksi, Santoso masih harus menunggu.

[Hari ini, di lokasi.]

Pesan itu singkat, tapi Santoso sudah tau artinya. Dirinya bergegas menuju kediaman wanita itu bersama Amir, menjelang malam. Tidak mau gegabah, mereka memarkir mobil agak jauh dari rumah itu lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.

Wanita itu tampak tertidur lelah di sofa ruang tamu dengan koper masih ada di sebelahnya. Baru satu jam lalu, wanita itu sampai, setelah perjalanan macet dari Bandara menuju rumah. Terlihat jelas dari raut wajahnya, sisa-sisa bahagia yang baru saja dinikmatinya.

Santoso masih mengintai dari balik lemari besar di ruang tamu. Sementara Amir berjaga di sekitar halaman. CCTV sudah dirusak sejak dua hari lalu, saat Amir menyamar sebagai tukang service AC. Bi Sri—assisten rumah tangga—menurut saja saat Amir mengatakan bahwa dirinya mendapat perintah dari bos-nya. Kesempatan itulah yang digunakannya untuk merusak seluruh jaringan CCTV.

Setelah memastikan ART nya sedang berada di lantai dua, secepatnya Santoso beraksi.

Wanita itu menjerit tertahan, saat Santoso dengan cepat membekap mulutnya menggunakan kain yang sudah diolesi obat bius. Dengan sigap dirinya membopong wanita mungil itu ke luar rumah dan memasukkan tubuhnya ke mobil yang telah diambil Amir dua menit sebelumnya. Hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah melaju bersama wanita yang pingsan di jok belakang menuju kontrakan keduanya di daerah Serpong.

Sebuah kertas bertulis tangan yang dibuat mirip tulisan tangan wanita itu, sengaja ditinggalkan Santoso di meja tamu. Kertas yang sudah disiapkannya sejak dari kontrakan. Santoso membalut tangannya menggunakan syal wanita itu—yang diambil Amir dua hari lalu—ketika menuliskannya, agar tidak ada jejak dirinya tertinggal.

[Bi Sri, saya berangkat buru-buru sekarang ke Surabaya, papa kecelakaan. Mungkin agak lama, sekalian udah lama nggak pulang.] Begitu isi tulisan itu.

Aman, Art-nya tidak akan curiga.

***

Sepanjang malam wanita itu pingsan, tetapi Santoso masih harus menunggu instruksi.

"Waktunya harus tepat, beberapa jam sebelum B datang!" Perintah terakhir yang diingat Santoso. Bayangan uang banyak akan segera diterimanya, menguatkan tekad untuk melaksanakan tugas dengan sempurna.

Menjelang jam lima pagi, wanita itu siuman. Santoso sudah mengikat tangan dan melakban mulutnya, hingga tidak mungkin teriakannya terdengar tetangga kontrakan.

Tidak ada belas kasihan di hati keduanya, walau wanita itu tampak menyedihkan. Ia meronta dengan suara tertahan namun saat ini hati nurani Santoso telah mati. Lagipula, ini bukanlah pekerjaan pertama. Sebelumnya selalu sukses, dan mereka bebas melanglang buana hingga kini.

Jam enam pagi. Sebuah text dari pengirim tanpa nama, kembali masuk.

[Sekarang!]

Saat itulah Santoso membenturkan kepala wanita cantik itu ke tembok berkali-kali. Teriakan kesakitan dari mulut tertutup itu, tidak dipedulikannya. Hingga tidak tampak adanya nadi berdenyut di lehernya. Santoso memastikan berkali-kali sebelum menjadikan tubuh indah itu menjadi bagian per bagian.

"Aah, sayang sekali. Ckk!" Amir bersuara.

"Fokus, jangan ada jejak tertinggal."

"Tapi sayang, dilewatin."

"Ingat, kita profesional, lakukan tugas utama sesuai perintah. Jangan sampai napsu sesaat, menggiringmu ke penjara!"

Amir tidak membantah lagi. Santoso memang tegas dan hati-hati dalam pekerjaannya. Dan itulah kunci lolosnya mereka dalam setiap proyek yang ditangani.

Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai melakukan tugas paling berat. Santoso membersihkannya, lalu membungkus mayat wanita itu menggunakan kertas wrapping dan memasukkannya ke dalam koper.

Koper besar warna hitam, yang dibeli seminggu sebelumnya.

Sementara Amir membersihkan seluruh bagian rumah yang terkena darah. Walau mereka hanya tinggal berdua di rumah itu, tetap saja harus berjaga-jaga.

Setelah semua rapi, bergegas mereka menuju bandara, dan menunggu momen yang tepat untuk menukar koper itu. Informasi tentang kedatangan Barry terus masuk dari penelepon misterius. Kali ini suara laki-laki.

"Sebentar lagi sampai. Jangan sampai kelewat. Waktu kalian tidak lebih dari 60 detik."

Sudah satu jam, Amir berdiri dengan koper hitamnya di pintu kedatangan. Sementara Santoso berdiri di seberang jalan dekat mobil-mobil yang diparkir. Mereka saling berpandangan dari jauh.

Orang-orang berlalu lalang, tidak ada yang menperhatikannya. Maklum saja, semua orang yang lewat juga dengan penampakan yang sama. Berpakaian rapi mendorong atau menarik koper.

Waktu yang ditunggu tiba.

Terlihat Barry ke luar melewati pintu, lalu berhenti sejenak. Membuka tas kerja dan seperti mencari sesuatu. Tangan kirinya tidak lepas dari koper hitamnya.

Santoso segera menginstruksikan Sofyan yang berada di Jakarta Pusat—temannya—agar menghubungi nomor ponsel Barry. Berpura-pura sebagai agen asuransi yang menawarkan produk.

Hanya 60 detik. Ya mereka hanya perlu 60 detik.

Beruntung, Barry langsung mengangkat panggilan telepon masuk dan menjawab beberapa pertanyaan dari Sofyan. Saat itulah, Santoso menyeberang jalan dengan cepat dan tergesa-gesa menubruk bahu Barry seakan tanpa sengaja. Santoso meminta maaf dan berlalu ke arah kanan. Saat itu, pegangan tangan Barry pada koper terlepas, dan secepatnya Amir yang ada di posisi kiri Barry, menukar koper itu dengan koper berisi tubuh wanita itu.

*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam kini mengancam pernikahan bahagia Rhido dan Lisda. Kehamilan sang istri diwarnai teror mistis yang menyakitkan setiap kali mereka bermesraan. Bertekad setia, Rhido menahan diri hingga tuntutan kerja mengirimnya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di tengah perjalanan, berbagai godaan hasrat menguji imannya. Mampukah mantan berandalan ini bertahan, ataukah kutukan masa lalu akan menghancurkan keselamatan istri dan calon bayinya?
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi hampir meregang nyawa akibat syok anafilaksis karena diabaikan oleh suaminya, Bram, yang lebih mementingkan Clara. Penderitaannya kian mendalam saat putra mereka, Leo, tewas tertabrak ketika berusaha mencari pertolongan. Ajaibnya, takdir membawa Nindi kembali ke masa lalu sebelum tragedi itu terjadi. Berbekal memori kelam tentang pengkhianatan suami dan kematian tragis anaknya, ia bertekad melindungi Leo sekaligus membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER
7.9
Teror mengerikan kini menghantui hidup Tedi setelah ia mendapati sebuah kantong plastik hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkas rumahnya. Tanpa melibatkan polisi, ia mengambil keputusan nekat untuk menyembunyikan temuan keji tersebut. Tedi memilih bergerak sendiri demi memburu dalang di balik peristiwa sadis ini. Apakah ia berhasil membongkar kedok pelaku sebelum terlambat? Ikuti kisah penyelidikan mandiri yang penuh ketegangan dan misteri kelam.
Sampul Novel My Beloved Bastard
9.3
Kehidupan Cullen Kyleer, pria arogan yang bertindak semena-mena, berubah total sejak mengenal Jasmeen, seorang penulis novel gore. Sayangnya, Jasmeen malah terperangkap dalam obsesi kelam Cullen yang sangat posesif dan mesum. Cullen terus memaksa Jasmeen memuaskan hasratnya dan mengancam akan membunuh pria lain yang berani mendekat. Jasmeen pun terjebak dalam hubungan penuh kekerasan fisik dan seksual, terikat gairah berbahaya yang tak terkendali di bawah kendali Cullen.