APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kisahku Berakhir Di Pusara

Kisahku Berakhir Di Pusara

Hubungan hangat dua orang yang masih sekeluarga mendadak retak setelah rencana perjodohan muncul. Salah satu pihak memilih berkhianat demi mengejar cinta yang lain. Meski didera cobaan berat, upaya menemukan kebahagiaan sejati tidak pernah berhenti. Namun, tepat saat hati mereka kembali menyatu, sebuah tragedi besar justru datang menghantam. Berangkat dari kisah nyata yang sarat kepedihan, akankah takdir mempersatukan mereka, ataukah maut di pusara yang menjadi akhir segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kak Dewi tak terima, menurutnya bahwa dengan adanya perjodohan itu, berarti kami sekeluarga tidak menganggap ia sebagai keluarga sendiri, seperti apa yang selalu aby ucapkan padanya.

Aby dan ummi, mencoba memberi pengertian dan alasan, mengapa perjodohan itu terjadi. Menurut aby, aby tak mau hubungan kekeluargaan antara kami dan kak Dewi, terputus. Karena ayah kak Dewi bukanlah berdarah Arab, tapi berdarah Bugis.

"Abah jahat, tega-teganya abah jodohin Dewi, dengan Alfa!" protes kak Dewi saat itu.

Kak dewi memanggil aby dengan sebutan abah, untuk aby dan memanggil ummi untuk ummiku, atas permintaan aby dan ummi dulunya.

"Abah hanya mau hubungan tali kekeluargaan kita, tidak semakin jauh, Dewi!" jawab aby sabar.

"Tapi tidak juga dengan memaksa Dewi dan Alfa menikah 'kan, bah!" ucap kak Dewi dengan mata berkaca-kaca.

Aku yang saat itu belum mengetahuai tentang apa permasalahan yang terjadi, hanya diam memperhatikan perdebatan itu di samping mbak Nisa.

"Emang apa sih Mbak, yang diributin?" tanyaku pada mbak Nisa.

"Udah....! Kamu jangan mau tau, itu urusan orang dewasa!" jawab mbak Nisa, sambil menutup telingaku dengan telapak tangannya.

"Jadi kak Dewi udah dewasa ya, Mbak?" tanyaku lagi semakin penasaran.

Mungkin karena tak mau bicara banyak, mbak Nisa membawaku ke kamar.

"Nanti juga kamu tau, Al! Kita ke kamar aja, yuk!" bujuk mbak Nisa padaku.

Aku, yang memang tipe anak yang penurut, mengikuti saja ajakan mbak Nisa, tanpa bertanya lagi.

Tapi baru saja kakiku sampai di ujung tangga lantai dua rumahku, aku mendengar suara tamparan.

"Plak.....!"

"Dasar anak pelacur...!"

Aku mendengar jelas itu suara aby. Tapi siapa yang dimaksud aby anak pelacur? Aku nggak tau, bahkan pelacur itu apa, aku juga nggak tau.

Tapi saat aku ingin melihat ke bawah, mbak Nisa langung menutup mataku, dengan telapak tangannya.

"Udah jangan dilihat, buruan masuk kamar!" ucap mbak Nisa.

Sambil gegas mendorong tubuhku, aku merasakan kegugupan dari mbak Nisa, karena telapak tangannya yang menutupi mataku terasa dingin saat itu.

Aku duduk di balkon kamar, dalam kebingungan. Selama ini, aku tidak pernah melihat perdebatan atau pertengkaran dalam keluarga kami. Dan ini, adalah kali pertama aku mendengarnya, dan itu antara aby dan kak Dewi.

"Apa harus begitu ya, kalau udah dewasa?" batinku. Tapi sudahlah, nanti juga aku akan tau sendiri, apa itu arti dewasa.

Pov Dewi....

Awalnya aku sangat bahagia bisa diterima baik oleh keluarga dari ibuku, bahkan aku memanggil mereka dengan panggilan abah dan ummi.

Bukan aku kekurangan kasih sayang dari orangtuaku, tapi aku hanya seolah merasa tak dianggap saudara se ayah, dari anak ayah yang dari istri, pertamanya.

Awalnya aku sedih diperlakukan beda oleh semua, saudaraku. Tapi seiring bertambah usia, aku mulai mengetahui jika kami ternyata tak satu ibu, membuat aku sadar diri, dan tak lagi menuntut untuk disamakan.

Aku terlahir dari istri ke-dua ayah, dan aku adalah anak satu-satunya. Tapi, sejak kecil aku dirawat oleh ibu. Walau bukan ibu kandungku, tapi aku bersyukur, ibu sangat menyayangiku.

Mungkin itu yang menjadi alasan semua saudaraku, membenciku, pikirku.

Ah biar sajalah, yang penting ayah sama ibu tak membedakan.

Apabila liburan sekolah, aku pergi ke rumah abah di kota P. Sementara ayahku tinggl di kota S. Di sana, aku seperti punya saudara kandung yang lengkap.

Abah memiliki dua anak, satu anak gadis yang tiga tahun lebih tua dariku, bernama Nisa. Wajahnya turunan dari abah, dengan mata belo dan hidung mancung, dan berkulit kuning langsat, membuat ia menjelma jadi gadis cantik, yang banyak diincar para siswa cowok, di sekolahnya.

Dengan hadirnya mbak Nisa, membuat aku merasa mempunyai seorang kakak, dan bisa merasakan menjadi seorang adik. Hal yang tak pernah aku rasakan dari saudara, se-ayahku.

Dan abah juga punya anak laki-laki, bernama Alfa. Dengan wajah yang turun dari ummi, yang otomatis berwajah tampan berkulit putih, namun memiliki tatapan yang tegas seperti abah.

Usia Alfa lebih muda dariku tiga tahun, tapi karena tubuhnya yang bongsor, menjadikan ia tak seperti anak seusianya.

Dengannya, aku merasakan menjadi seorang kakak, karena dengan saudaraku se ayah, aku jadi anak bungsu. Jadi dengan Alfa lah, aku merasa harus menjadi contoh yang baik buat adikku.

Kebetulan hobiku pencak silat, olahraga yang identik digemari para cowok pada masa itu, membuat Alfa lebih dekat denganku, ketimbang dengan mbak Nisa yang notabene adalah saudara kandungnya.

Hal terburuk yang pernah aku alamai adalah, aku pernah mengalami pelecehan, di saat usiku dua belas tahun, oleh saudara se ayah.

Hari itu...

"Dewi... malam ini, Ayah sama Ibu mau pergi ke Rumah Sakit! Kalau kamu malas di rumah sendirian, lebih baik kamu nginap di rumah Abangmu!" ucap ibu sambil berkemas.

"Memangnya nginap, Yah?" tanyaku.

"Iya, mungkin besok baru pulang! Kamu nginap tempat Abang aja, ya? Biar Ibu gak kepikiran, saat kamu sendirian di rumah!" lanjut ibuku.

Awalnya aku malas nginap di rumah abangku, karena aku tau bagaimana sinis dan bencinya ia padaku, tapi karena tak ingin membuat ayah dan ibu kepikiran, aku akhirnya menyetujui saran ibu.

"Iya Bu, Dewi nanti nginap di tempat Abang, kok! Tapi berangkatnya nanti ya, Bu. Habis maghrib, aja?" usulku meminimalisir pertemuanku dengan abangku.

"Iya... tapi jangan terlalu malam ya, Wi!" pesan ibu lagi.

"Siap, Nyonya.....!" ucapku sambil mengangkat tangan dengan gaya hormat.

Ibu tersenyum melihat tingkahku.Ya....Hanya sama ibu dan ayah, aku bisa menjadi anak pada, usiaku! Manja dan merengek jika meminta sesuatu. Tapi jika ada abang-abang atau kakakku, aku seperti anak yang tak punya keinginan.

Lepas sholat isya, aku berangkat ke rumah abangku, yang hanya berjarak limaratus meter dari rumah ayah.

Sampai di sana, tak ada yang istimewa, terlalu malas bagiku untuk bercengkerama, dengan anak dan istri abang.

Aku langsung pamit ke kamar, pada kakak iparku. Kutinggalkan Abang dan keluarganya, yang masih menikmati tontonan dari televisi, karena saat itu belum ada handphone seperti saat ini, maka hiburan satu-satunya adalah televisi.

Entah berapa lama aku tertidur, saat aku merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhku, dan terasa ada yang mengerayangi tubuhku. Aku sontak bangun. Dan alangkah kagetnya aku, saat melihat jika ternyata, abangku lah yang berada di atasku, sambil tangannya mengerayangi tubuhku.

Aku panik dan langsung menjerit, namun mulutku segera disumpal dengan selimut. Aku tak putus asa, aku masih berusaha meloloskan diri dari kungkungnnya, namun dengan tenaga yang pas-pasan, tak mungkin bagiku meloloskan diri.

Dengan tekad, dan ditambah dengan kebencian dalam hati, membuat aku akhirnya punya akal, dengan sekuat tenaga aku menendang selangkangannya, dan ternyata caraku berhasil.

Abangku terjengkang dan berguling di sampingku, sambil meringis memegang harta pusakanya, memandang tajam padaku.

"Sial...!" ucapnya memaki.

Abangku mungkin tak memperkirakan apa yang akan aku lakukan padanya, maka dia berani mengambil tindakan itu.

Dia pikir, dengan tubuhnya yang besar, dia bisa menyampaikan keinginan

iblisnya, biadab.

Bisa dibayangkan, bagaimana kuatnya tenaganya, sedangkan aku yang saat itu masih duduk ke bangku sekolah menengah pertama, jelas mudah untuk ia intimidasi.

Beruntung aku punya dasar beladiri, jadi walaupun aku masih terbilang kecil, aku masih bisa meloloskan diri, dari kebejatan saudara laki-lakiku.

Aku berlari dari kejaran abangku, karena saat kejadian sekitar tengah malam, aku tak mungkin menggedor rumah tetangga, apalagi pulang ke rumah ayah.

Aku yakin, jika aku pulang ke rumah ayah, maka ia akan dengan mudah menemukanku. Karena saking takutnya pada kejaran abang, membuat aku memberanikan diri, tidur di komplek pemakaman.

Karena, orang mati tidak mungkin punya nafsu duniawi lagi, seperti orang hidup. Berbeda dengan mausia yang masih hidup, ia bisa berubah jadi iblis, bahkan lebih kejam dari iblis.

Malam itu kulalui di tengah jejeran kayu nisan. Tak jauh dari tempatku duduk, ada sebuah payung hitam, di salah satu kuburan yang nampaknya masih baru. Tapi aku tak peduli "Wahai pemilik payung, aku pinjam payungnya ya, jangan marah!" ucapku memberanikan diri.

Tak berapa lama, turun hujan, aku berteduh dengan payung, yang kupinjam dari penghuni di bawah sana.Walau tak mampu menutupi seluruh tubuhku, tapi lumayan untuk mengurangi bagian tubuhku, dari kebasahan.

Aku bukanlah anak pemberani dari hal-hal gaib seperti hantu dan sanak familinya. Tapi karena takut dengan kebejatan saudaraku sendiri, membuat aku jadi anak pemberani, malam itu. Esoknya jam enam pagi, aku terbangun. Aku langsung pulang ke rumah ayah, dengan pakaian yang penuh dengan tanah kuning, ciri khas tanah kuburan.

Pandangan heran para warga yang melihatku, tak kuhiraukan. Pikirku, kalian belum tentu bisa membantu, jika aku menceritakan masalahku.

Sore hari ayah dan ibu pulang, bersamaan dengan kedatangan semua saudaraku yang berkunjung ke rumah ayah, hal yang biasa mereka lakukan.

Dari awal kedatangan mereka, mereka selalu memandangku dengan tatapan sinis. Lebih-lebih abangku yang ingin menodaiku. Dari awal datang, pandangannya tak beranjak dariku, mungkin ia takut aku akan melaporkan apa yang telah ia lakukan pada ayah.

"Tadi malam kamu nginap di rumah Abang, 'kan Wi?" tanya ayah sambil mengusap rambut panjangku.

"Iya, Yah!" jawabku berusaha tersenyum.

"Apa Abangmu, nggak marah-marah?" tanya ayah lagi. Karena ayahku tau, bagaimana kelakuan anak-anaknya, padaku.

Sebelum aku menjawab ayah, aku melihat tatapan dari dua abangku yang sama-sama sudah berkeluarga, seperti ingin menelanku bulat-bulat.

Aku menelan ludahku, untuk membasahi tenggorokan ini, yang terasa serat "Nggak kok, Yah!" jawabku.

Jawabanku yang berbohong, membuat pandangan abangku sedikit melunak.

"Syukurlah..!" jawab ayah lega.

Setelah hari itu, aku tak pernah lagi mau menginap di rumah saudara-saudaraku. Cukup sudah satu kali, aku mengalami mimpi buruk dalam hidupku, pikirku.

Tapi ternyata, kejadian itu kembali terulang, saat aku berusia tujuh belasan.

Pov berakhir......

Cerita ini sengaja aku buat beralur lambat, agar pembaca lebih memahami peran dan karakter pemerannya... Sabar ya, walau alur lambat, tapi tetap punya cerita yang tak kalah seru kok.....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
9.8
Tujuh tahun mendampingi Damian Crestfall, pewaris takhta Crestfall Group, hidup Alira Evangeline Moore hancur seketika saat sang kekasih menolak menikahinya. Di tengah kondisi mengandung, Alira dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi cinta atau menyelamatkan janinnya. Merasa dikhianati janji manis Damian, ia memilih pergi selamanya. Alira bertekad melindungi calon bayinya, meninggalkan Damian, dan memulai lembaran baru yang mandiri.
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming memercayai Diandra, putri piatu dari asisten rumah tangganya, sebagai reinkarnasi Perempuan Naga. Sejak kecil, ia memperlihatkan tanda spiritual kuat selaku titisan Dewi Kesayangan Langit. Diandra pun harus menghadapi rintangan berat serta tragedi hidup demi menggapai keberhasilan. Perjalanan takdirnya yang penuh liku diwarnai oleh kisah cinta yang mendalam serta sisi erotis yang membara.
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Madona terpaksa menjebak seorang pengacara bernama Ardan demi mendapatkan uang 500 juta rupiah untuk melunasi utang orang tuanya pada mucikari. Sialnya, rencana itu berujung petaka ketika video skandal mereka justru menjerat Madona dalam masalah baru yang rumit. Bukannya membawa pulang uang, ia malah disekap di rumah Ardan. Di balik kungkungan sang pengacara, akankah muncul perasaan cinta di antara mereka, atau justru kebencian mendalam yang akan selamanya bertahan?
Sampul Novel Ikatan Suci
8.8
Mona, janda dari pahlawan negara, terpaksa menuruti kehendak ayahnya, Jenderal Handoko, untuk menikah dengan Galih. Pernikahan ini memicu kontroversi karena status Galih sebagai mantan narapidana kasus narkoba. Di tengah keraguan, Mona bertekad menyelidiki motif asli di balik kesediaan Galih menerimanya. Kini, dua sosok yang sama-sama terluka ini terikat pernikahan, siap berkorban demi mengungkap misteri di balik persatuan mereka.
Sampul Novel Istri yang Terabaikan
9.7
Lima tahun pernikahan kulalui tanpa kehadiran suami di hari ulang tahunku, yang selalu mengganti kehadirannya dengan uang. Ironisnya, ia justru sibuk menyiapkan pesta untuk Fiona dengan alasan hanya dialah yang Fiona miliki. Saat melihat kemesraan mereka di media sosial pascatragedi kebakaran yang menyisakan trauma mendalam, batasan sabarku habis. Aku pun menuliskan komentar tegas bahwa kini aku merelakan pria tak berguna itu sepenuhnya untuk Fiona.
Sampul Novel Kebohongan Manis Sang Tunangan Setia
9.7
Menjelang hari pernikahan, Habib meminta Lea mengizinkannya menghamili adik angkatnya yang sakit, Hanan, atas nama balas budi. Namun, Lea justru menemukan bukti bahwa Hanan telah mengandung selama dua bulan. Saat kedoknya terbongkar, Hanan memfitnah Lea hingga membuat Habib murka dan mencaci Lea. Sadar cintanya dikhianati demi menutupi aib, Lea membatalkan pernikahan mereka. Ia pun memilih pergi ke Singapura demi memulai lembaran baru dan meninggalkan sang tunangan yang culas.