APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Keyakinan Cinta

Keyakinan Cinta

Adelle Collin Nicholas, pewaris konglomerat keturunan Prancis-Australia, terbiasa dengan kemewahan. Namun, hidupnya berubah saat bertemu Farhan, pemuda muslim sederhana yang saleh dan aktif di masjid dekat gereja Adelle. Perbedaan status sosial dan agama yang mencolok tidak menghalangi tumbuhnya rasa cinta di antara mereka. Kini, hubungan tulus tersebut harus menghadapi rintangan besar. Mampukah mereka mempertahankan cinta di tengah jurang perbedaan yang nyata?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Haryanto siapa Abi? teman Abi kah?" cetus Farhan.

"Haryanto itu lho tetangga kita yang bapaknya mantan pegawai kelurahan. Masa kamu gak kenal sih?" sahut Abi.

"Bentar-bentar anaknya pak Rahmat kan?" sahut Umi Fatihah.

"Betul itu. Tuh Umi tahu," kata Abi.

"Emang Haryanto sekarang ngutang-ngutangin kerajaannya?" kata Umi Fatihah.

"Abi uda bilang kalau temannya yang memberi pinjaman," kata Abi.

"Oh ya lupa. Maaflah namanya juga sudah tua," ucap Umi Fatihah tersipu malu.

"Uda Farhan ini uangnya. Selesaikan urusan mu sama tuh orang," kata Abi.

"Baik Abi, Terima kasih." Farhan memeluk Abi dengan perasaan haru.

Farhan langsung menelpon Adelle mengajak ketemuan untuk mengganti rugi kerusakan mobil. Saat hendak menelpon Farhan tidak menjumpai id card milik Adelle. Ternyata Id card yang pernah dikasih itu sempat ditaruh di dalam saku baju. Masih untung baju itu belum masuk ke rendaman baju.

"Assalamualaikum," sapa Farhan.

"Iya, ini siapa ya?" tanya Adelle.

"Ini saya Farhan yang pas itu tidak sengaja sempat nabrak mobil Mbaknya waktu di perpustakaan. Masih ingat kah?" jawab Farhan.

"Masih-masih, ada apa telpon aku? uangnya sudah ada kah?" sahut Adelle.

"Alhamdulillah sudah ada Mbak. Kalau bisa dan waktu senggang boleh kah saya ke rumah Mbaknya?" kata Farhan.

"Yeeess, asyik aku bakal ketemu sama cowok manis kayak dia lagi. Eitssz aku kok jadi deg-degan gini ya tapi kalau aku bolehin dia datang ke rumah ntar dia bisa GR lagi," batin Adelle memikirkan cara.

"Halo Mbak. Apakah masih di sana. Maaf nih kalau ganggu," cetus Farhan sedari tadi terdiam menunggu jawaban Adelle.

"Oke, kita ketemuan di resto. Ntar aku whatshapp. Punya whatshapp kan?" lontar Adelle.

"Iya Mbak saya punya. Akan saya tunggu kiriman alamatnya," kata Farhan.

Triitt ... (bunyi pesan masuk dari Adelle)

"Aku tunggu kedatangannya di resto ikatan cinta dekat pantai besok jam 10 pagi. Kamu gak usah khawatir saya sudah pesankan tempatnya," tulis Adelle dengan emoticon smile.

"Iya insya Allah saya akan datang menemui Mbaknya," balas Reyhan datar.

Adelle sangat sekali akan berjumpa dengan Farhan. Dia nampak sibuk memilah baju yang ada di lemari. Namanya juga orang kaya sudah pasti memiliki lemari banyak berukuran besar. Baju yang dia miliki berjumlah ratusan biji.

"Haduuh ... aku besok harus pakai baju apa? masa iya sih aku pakai pakaian minim gini," keluh Adelle menghela nafas.

"Ya ampun Sayang, ini kenapa baju mesti diobrak-abrik sih. Emang kamu mau cari apa?" sontak Mamanya mengangkat baju yang tercecer.

"Adelle kesal Ma, bajunya gak ada yang bagus," dengus Adelle memutar bola matanya.

"Hah? emang baju seperti apa yang kamu mau? ini baju bagus-bagus semua lho. Ini lagi masih baru kemarin beli di Paris kan?" ucap Adelle.

"Aduuhh Mama. Mama gak tahu sih," jawab Adelle malas.

"Terserah deh Mama pusing sama kamu. Oh ya datang ke sini cuman mau bilang besok jam 9 pagi ada janji dinner bareng rekan bisnis Papa mu," ujar Mamanya Adelle.

"Jangan lupa dandan yang cantik. Ingat jam 9 pagi uda siap. Boboknya jangan larut malam ntar besok bisa molor lagi," imbuh Mamanya Adelle.

"Tapi Ma,- ucap Adelle terputus keburu bayangan Mamanya sudah hilang.

"Tuh kan Mama main seenaknya sendiri," ucap Adelle memanyunkan bibirnya.

Semalaman Adelle gak bisa tidur dan terus memikirkan rencana untuk bisa kabur dari acara dinner itu. Kalau tidak kabur Mamanya sudah pasti maksa untuk ikut terlebih lagi Papanya yang keras kepala tidak mau menerima alasan Adelle. Dia dari malam hari sudah memasang alarm jam 6 pagi agar besok bisa langsung keluar rumah.

***

Pagi hari pun tiba alarm terus berdering mengusik tidur Adelle. Sebenarnya Adelle yang mempunyai kebiasaan bangun siang sulit sekali buat bangun pagi. Badannya terasa berat sekali saat bangun.

"Huwaaa ...." Adelle menguap, menggeliat dan terus mengacak rambutnya.

"Masih ngantuk nih," lirih Adelle bermain ponselnya dengan tujuan menghilangkan rasa kantuknya.

Keluarga Nicholas memiliki rutinitas kebiasaan bangun 7 pagi. Kesibukan masing-masing anggota keluarganya sangat sulit bagi mereka untuk memantau kegiatan mereka tersendiri.

Dari pemberitaan media televisi dikabarkan bahwa kondisi waktu itu kota berada pada suhu -19 derajat Celcius membuat dirinya tidak bisa berendam busa di bathtub. Dia hanya mandi biasa menggunakan air hangat.

"Aduuhh ini uda jam berapa nih?" Adelle melirik ke arah jam weker sembari mengeringkan rambutnya hair dryer.

Setelah kemarin melakukan seleksi pemilihan baju maka pilihannya jatuh pada model baju tunik. Butuh waktu 1/2 jam Adelle sudah siap tampil cantik.

"Aku mesti buru-buru nih. Bentar lagi papa mama bangun. Bisa kena investigasi keluarga nanti," gumam Adelle berjalan pelan menuruni anak tangga.

"Non, pagi begini mau ke mana," celetuk ART.

"Huh, Bibi bikin kaget aku aja. Sini kamu," timpal Adelle.

"Iya Non," jawab ART.

"Adelle mau minta tolong sama bibi," kata Adelle.

"Minta tolong apa nih Non?" tanya ART.

"Gini Bibi saya ini ada janji sama teman di luar rumah. Saya minta sama Bibi jika papa mama tanya bilang saja bibi pagi ini tidak melihat saya keluar kamar," bisik Adelle.

"Tapi Non, saya tidak berani takut dimarahin Tuan," kata ART.

"Ayok dong Bibi tolong Adelle kali ini. Ini ada uang buat bibi anggap saja sebagai tip karena sudah menolong saya," pinta Adelle memasang wajah melas.

ART Adelle sudah berkerja di rumah itu sejak Adelle berumur 2 tahun. Kedekatan antara Adelle dengan ART tidak ada celah sedikitpun. Adelle telah menganggap ART itu seperti anggota keluarganya. Saat sedih Adelle terkadang tidak sungkan buat curhat. Walau terdapat perbedaan status sosial tapi tidak lantas membuat Adelle membedakan.

"Iya deh Non tapi benar ya ini yang terakhir nyuruh bibi buat bohongi mama papa," lontar ART tidak kuasa menolak.

"Oke Bibi beres itu urusan gampang. See you Bibi," ucap Adelle melepas senyum.

"Ya Allah Gusti maafkan hamba telah banyak berbohong," kata ART.

Namanya juga orang kaya apapun selalu diawasi. Sampai gerbang keluar rumah aja sudah ada secruty yang mulai melontarkan pertanyaan.

"Maaf Non, pagi ini saya ditugaskan Tuan mencegat Non saat keluar rumah. Beliau juga bilang kalau Non hari ini mulai boleh keluar hanya dengan keluarga Non," kata Security.

Adelle sebagai majikan telah hafal betul karakter masing-masing bawahannya. Pak security penjaga gerbang memiliki karakter sulit dibujuk dengan apapun bahkan dia tidak segan melapor tingkah laku Adelle.

"Ide apa lagi ya? ini bapak-bapak sulit banget disuap," batin Adelle mulai tidak tenang.

"Aaahhaa ... aku punya ide mending aku pura-pura suruh ambil aja minuman di dapur. Tuh bapak-bapak pasti gak berani nolak majikan. Kalau nolak mau minta dipecat apa," batin Adelle.

"Bapak security saya mau minta tolong dong ambilkan aku minuman. Saya capek harus bolak-balik ke dapur," perintah Adelle.

"Siap laksanakan!" seru security seraya hormat.

"Yes, akhirnya tuh security pergi juga," ungkap Adelle lega.

"Giliran ambil kunci. Mana ya," kata Adelle mencari di pos satpam.

Banyak kunci yang digandeng menjadi satu dengan kunci lain membuat Adelle merasa kesulitan. Dengan kecerdasan yang dia miliki dimanfaatkan untuk memikirkan kunci mana yang kira-kira cocok.

"Wahai kunci gerbang utama tunjukkan pesona mu!" seru Adelle layaknya membaca mantra.

Kreekk .... (pintu gerbang terbuka secara perlahan)

Adelle mengendap seperti maling demi lolos dari rumah. Eh tidak tahunya malah melihat kakak laki-laki nya pulang dari joging pagi. Dia baru ingat ternyata hari ini weekend.

"Mampus deh aku!" cicit Adelle menutup wajahnya dengan daun.

Adelle berjalan melewati kakaknya. Kakaknya ternyata melihatnya lalu memperhatikan tingkah aneh perempuan yang ternyata adiknya.

"Mbak hello Mbak emang lagi hujan ya pakai ditutupi segala atau wajahnya lagi kurapan," ledek Kakak Adelle.

"Sial tuh Kakak kalau saat ini aku gak nyamar udah pasti aku tonjok," gumam Adelle.

Adelle langsung bergegas pergi menunggu taksi di depan komplek perumahannya.

"Eh Mbak tunggu, kita kan belum sempat kenalan," ucap Kakak Adelle terdengar samar di telinga Adelle tapi dia tetap menoleh sampai sedikit pun menoleh.

Jalan di ibu kota jakarta sangatlah padat terutama pada hari weekend. Banyak masyarakat yang pergi berlibur ke luar kota bahkan ke puncak. Taksi yang ditumpangi Adelle mau tidak mau harus menunggu sampai kondisi jalan renggang.

"Maaf ini Mbak kayaknya macetnya bakal lama. Gimana Mbaknya mau tetap nunggu di taksi atau mau cari ojek? terserah Mbak aja enaknya gimana," ujar sopir taksi.

"Kira-kira bisa nyampe berapa jam Pak?" tanya Adelle.

"Kurang tahu itu Mbak. Pas itu paling cepat 1/2 jam udah jalan," jawab sopir taksi.

"Ya udah deh aku tunggu saja lagian ini belum jam 09.30," lontar Adelle.

Lama Adelle menunggu di dalam taksi membuat dia menjadi boring.

"Pak sebenarnya di depan lagi ada apa sih? tumben macet parah banget gini. Apa gak ada jalan alternatif lain?" cerca Adelle menahan sumpek.

"Lho Mbaknya gak tau tho kalau pagi ini ada konser akbar band dari artis ibu kota," kata sopir taksi.

"Oohh pantesan," lirih Adelle menarik kaca mobil.

Dari jendela mobil Adelle melihat anggota keluarga yang miris banget bahkan diantara ada anak kecil yang seharusnya menikmati masa bermainnya malah mengemis di jalan. Tidak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.

Seiring berjalannya jam perjalanan macetnya bisa menghantarkan Adelle ke tempat ketemuannya dengan Farhan. Farhan yang naik motor membuat dirinya nyampe duluan ke sana.

"Hey, kamu Farhan kan?" sapa Adelle.

"Iya betul. Pasti Mbaknya Adelle," sahut Farhan.

"Hmmm." Adelle mengagukkan kepala.

"Maaf ya telat datang soalnya di jalan macet," kata Adelle.

"Gapapa. Oh ya Mbak langsung saja ini saya mau mengantarkan uang ganti rugi," ujar Farhan.

Adelle yang melihat kesungguhan Farhan mengembalikan uang sebanyak itu membuat Adelle menjadi sosok pendiam.

"Ayok Mbak diambil. Kenapa masih bengong saja," ucap Farhan.

"Baik, tapi saya sekarang kayaknya sudah gak butuh uang ganti rugi ini," jawab Adelle.

"Kenapa Mbak bukannya waktu itu Mbak ngotot pingin minta ganti rugi," kata Farhan.

"Iya soalnya mobil saya ternyata waktu perbaikan gak nyampai segitu. Maafkan saya kalau waktu itu terkesan meras," ucap Adelle.

"Oohh ya udah deh, terima kasih Mbak sebelumnya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa gunakan buat keperluan lain yang lebih penting," ceplos Farhan.

"Keperluan penting apa maksudnya?" tanya Adelle.

Farhan lantas tidak menjawabnya dan langsung pergi. Di sisi lain Adelle dibikin penasaran dengan uang itu yang akan dibawa ke mana oleh Farhan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arwah Istri Sah
9.1
Demi membalas penderitaan selingkuhannya yang sempat terjebak di dalam mobil, seorang suami miliarder tega menghukum istri sahnya dengan sangat kejam. Tanpa memedulikan jeritan dan penjelasan sang istri, ia mengurungnya di dalam peti kayu yang dipaku rapat. Ditinggal berlibur selama seminggu bersama wanita idaman lain, sang suami tidak pernah menduga bahwa hukuman sadis itu akan berakhir fatal. Saat peti akhirnya dibuka kembali, sang istri telah kehilangan nyawa dalam kondisi mengenaskan, meninggalkan jasad dingin yang penuh luka.
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Kehidupan damai Tasya seketika sirna sejak Revan hadir menjadi bagian dari hari-harinya. Revan, sang CEO baru yang kini memimpin perusahaan setelah menggantikan ayahnya, terus-menerus bertingkah menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya. Dinamika kerja antara bos dan karyawan ini pun dipenuhi berbagai momen menjengkelkan. Tasya dibuat kewalahan dan sulit bernapas lega karena sang atasan tiada hentinya mengejar serta mengganggu dirinya.
Sampul Novel Duet Maut Janda dan CEO Badass
8.2
Pasca bercerai, Vina Pryanika (29) terjepit kesulitan finansial. Di bawah pengaruh alkohol, ia tidak sengaja menampar Eros Gaharu, seorang CEO teknologi yang terkenal kejam dan pemarah. Sebagai bentuk balasan, Eros meniduri Vina yang tidak berdaya. Di tengah konflik ini, Vina bertekad menghancurkan keluarga mantan suaminya. Keduanya pun bersekutu dalam kolaborasi mematikan demi menuntaskan dendam masing-masing. Akankah kemitraan ini menumbuhkan rasa yang tak terduga?
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi melunasi utang dan biaya medis ibunya, Maudy terpaksa mengambil pekerjaan misterius berbayar tinggi. Keputusan ini menyeretnya ke dunia malam kota Alka, tempat ia harus bertahan hidup di sebuah lokalisasi. Tak disangka, Maudy justru jatuh cinta pada seorang pria kaya yang ternyata pemilik tempat tersebut. Hubungan asmara mereka pun harus menghadapi berbagai rintangan berat yang tak terduga.
Sampul Novel Membebaskan Diri: Cinta CEO yang Hilang
8.8
Miley menyerah pada pernikahan dinginnya dengan Harold, yang ternyata mendambakan perempuan lain. Di saat publik mengira Miley akan hancur begitu cinta sejati suaminya kembali, ia justru memilih pergi dan menyodorkan surat cerai. Harold murka dan menuntut jawaban, tetapi Miley dengan tenang mengungkap rencana pernikahan barunya. Terungkap bahwa selama ini Harold bukanlah pria yang dicintai Miley; ada sosok lain yang diam-diam bertahta di hatinya.
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur setelah tahu pernikahannya dengan Daza, CEO yang sangat angkuh, cuma kedok demi harta warisan kakeknya. Kepedihan itu kian perih karena sang suami masih mencintai Lora, kekasihnya. Sempat berniat berjuang demi mewujudkan rumah tangga yang bahagia, usaha Lavendra sia-sia. Kehadiran Lora yang terus mengusik ditambah sikap dingin Daza membuat batinnya lelah. Kini, ia terjebak dalam keputusasaan dan meratapi kenaifannya yang mendambakan cinta sejati.