
Keunikan Panti Pijat
Bab 2
Entah kenapa aku merasa seluruh tubuhku tidak nyaman, terutama bagian atas tubuhku yang makin tegang.
Aku juga tahu bahwa aku tidak bisa menolak, harus bekerja sama, tetapi aku memang tidak bisa meyakinkan diriku sendiri dari dalam hati.
Terutama saat harus telanjang di hadapan pria lain. Hal itu membuatku makin panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
Untungnya, kesabaran Guru Raka sangat baik. Gerakan awalnya sangat lembut, tidak hanya menekan area kecil, tetapi juga terus-menerus menenangkan dan memberi aku keyakinan.
Setelah beberapa saat, di bawah ketenangan yang diberikan Guru Raka, hati aku menjadi tenang.
"Nyonya Rika, selanjutnya aku akan menekan bagian depan tubuhmu. Kekuatannya akan lebih berat dan titik akupunkturnya akan lebih sensitif. Kamu jangan melawan."
Aku mengangguk sedikit, dan perlahan membalikkan badan dengan selimut yang melilit tubuhku.
Melihat aku berbalik, Guru Raka mengambil penutup mata tipis dan menutupi kedua mataku. "Dengan begini, kamu tidak akan merasa malu jika melihatku."
Tidak disangka terapis ini cukup perhatian. Benar saja, setelah mataku tertutup, aku merasa jauh lebih rileks dari hati, dan tidak lagi menolak gerakan selanjutnya.
Setelah itu, Guru Raka dengan lembut menekan kedua sisi tulang belikatku dengan ujung jarinya. Seiring dengan peningkatan kekuatan, arah tekanannya juga makin ke bawah.
Dalam setiap usapan, aku merasakan sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhku, mati rasa dan pegal, seperti tersengat listrik.
Rasanya tidak hanya nyaman, tetapi juga membuatku malu.
Namun, sensasi yang begitu merangsang ini anehnya tidak ingin kuhentikan, bahkan aku ingin dia melakukannya lebih keras dan lebih keras lagi.
Aku memejamkan mata menikmati pijatan Guru Raka di tubuhku saat itu, tetapi pada saat inilah aku merasakan sesuatu yang sedikit aneh.
Saat ini, tangan Guru Raka hampir sepenuhnya membungkus dadaku. Saat dia menekan, dia membungkuk makin dekat ke bagian paling sensitif dari kedua payudaraku.
Aku tanpa sadar sedikit menggerakkan tubuhku, tetapi dihentikan oleh tekanan kuat dari Guru Raka yang sedang memijatku.
Dalam remasan yang terus-menerus, aku tanpa sadar menggigit bibirku, dan napasku pun berangsur-angsur menjadi lebih berat.
Setelah mendengar napasku yang berat, Guru Raka menghentikan gerakannya dan beralih ke bagian bawah pinggangku.
Melalui penutup mata yang tipis, aku melihat dia saat ini sedang menunduk serius mengoleskan cairan dari dalam kaleng di bawah tubuhku.
Mungkin karena menyentuh area sensitif di kakiku, gelombang hangat yang naik dari telapak kakiku langsung melesat ke puncak, membuatku tanpa sadar mendesah dua kali.
"Guru Raka, ma... masih berapa lama?" tanyaku dengan sedikit gemetar dan tak bisa menahan diri.
"Sebentar lagi, nanti masih ada aromaterapi," kata Guru Raka sambil berbisik di telingaku, "Jika kamu ingin berteriak, teriak saja. Pijatan di area sensitif memang untuk menstimulasi indramu."
Setelah selesai bicara, dia kembali ke bagian bawah tubuhku, menggunakan telapak tangannya untuk perlahan-lahan mendorong cairan licin di tubuhku.
Cairan membasahi paha dalamku. Dia dengan lembut menekan cairan itu sedikit demi sedikit ke titik-titik akupunkturku menggunakan ujung jarinya yang lembut.
"Ah..."
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang, disertai sedikit rasa sakit dan gatal.
Seiring sensasi sakit, kaku, dan geli itu makin intens, tubuhku mulai bergetar sedikit di luar kendali.
Aku menggertakkan gigi, mengepalkan kedua tangan, menahan setiap tekanan yang dia berikan pada titik akupunktur yang membuat seluruh darah dalam tubuhku berdesir.
Rasanya sangat nyaman, sangat merangsang, aku benar-benar ingin berteriak keras.
Tepat pada saat itu, Guru Raka menghentikan gerakannya, menyatukan kedua kakiku, dan menyelimuti tubuhku dengan seprai tipis.
"Nyonya Rika, pijatannya sudah selesai."
Akhirnya selesai. Aku menghela napas lega, meraba pipiku yang merah dan terasa panas.
Saat itu aku bahkan bisa merasakan keanehan di bagian bawah tubuhku. Dia pasti melihatnya karena dia begitu dekat denganku tadi.
Guru Raka mengambil kotak di sampingnya, lalu melepaskan penutup mata tipis dari mataku. Aku bisa melihat tatapannya melembut.
Aku segera membuang pandangan, takut dia akan melihat rasa maluku.
"Terima kasih, Guru Raka." Setelah mengatakan itu, aku mengulurkan tangan untuk mengambil pakaianku.
Akan tetapi, Guru Raka langsung menghentikanku. "Belum selesai, kita masih ada moksibusi, untuk menguatkan pijatan tadi."
"Moksibusi?"
Aku terdiam menatapnya selama dua detik, sepertinya dalam ingatanku tidak ada metode moksibusi ini.
Namun, begitu teringat suamiku yang masih menunggu di luar, aku menggigit gigiku dan kembali berbaring telentang.
Melihatku berbaring, Guru Raka mengambil batang moksibusi di sampingnya dan perlahan mendekatkannya ke area yang baru saja dia pijat.
Setiap kali dia mendekatkan sedikit batang moksibusi, jarinya menekan lebih dalam, dan di titik akupunktur itu aku merasa hangat dan gatal.
Sebenarnya tubuhku tidak terlalu terbuka, sentuhan dari orang yang tidak dekat akan menghasilkan tingkat rangsangan yang berbeda.
Karena titik rangsangku rendah, sedikit saja provokasi membuat seluruh tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar kencang.
Sekarang, diasapi oleh batang moksibusi Guru Raka, hatiku makin gelisah, dan di benakku bahkan muncul bayangan saat aku sedang bersenang-senang. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memejamkan mata karena malu.
Harus kuakui, keahlian Guru Raka sangat hebat. Sentuhan dan tekanan tangannya membuatku ingin makin mendekat.
Terutama saat ini, saat moksibusi. Rasanya jauh lebih nyaman di seluruh tubuhku dibandingkan pijatan tadi.
Aku ingin mengeluarkan desahan pelan, tetapi aku mengepalkan tanganku erat-erat, seolah-olah kukuku akan menancap dalam ke dagingku di detik berikutnya.
Namun, rasa sakit yang menyengat ini pun tidak bisa sepenuhnya menekan hasrat di dalam diriku.
Aku tidak boleh berteriak. Suamiku masih menungguku di luar. Kalau dia sampai mendengar, entah apa yang akan dia pikirkan tentangku.
Akan tetapi, sifat manusia memang begitu. Makin ditahan, makin kuat hasrat di dalam hati.
Seiring dengan tekanan kuat Guru Raka, tubuhku tanpa sadar meringkuk.
Desahan rendah terus keluar dari mulutku. Wajahku memerah, mataku menyipit, dan seluruh tubuhku bergetar tanpa kendali. Akan tetapi, tepat pada saat itu, aku melihat Guru Raka perlahan naik ke tempat tidur.
Secara naluriah aku membuka mataku lebar-lebar, menarik selimut tipis, dan berteriak padanya.
"Kamu mau apa?!"
Dalam teriakan pelan, aku mencengkeram erat selimut tipis di tubuhku, menatap pria di depanku dengan wajah penuh ketakutan.
Anda Mungkin Juga Suka





