APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku

Ketua Geng Itu Suamiku

Ayu, siswi pintar penerima beasiswa di SMA Garuda, terpaksa menikah muda dengan Bin, ketua geng motor Garuda Steel yang penuh masalah. Kehidupan tenang Ayu seketika runtuh usai melihat langsung pertarungan mematikan suaminya. Sembari berusaha keras untuk lulus sekolah, Ayu didera kebimbangan karena kepedulian yang ditunjukkan Iky, sahabat suaminya sendiri. Kini, mereka harus bersatu melawan musuh bersama sekaligus menyelesaikan cinta segitiga yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Gue masih ngerasa kayak lagi di mimpi buruk ketika akhirnya gue duduk di depan penghulu. Nggak ada pesta pernikahan. Nggak ada resepsi. Cuma akad sederhana di ruang tamu rumah gue, disaksikan sama keluarga gue dan keluarga Bin. Semua ini terjadi begitu cepat, dan gue sama sekali nggak siap.

"Dengan mas kawin tersebut, apakah kamu, Ayu Renjana, bersedia menikah dengan Arbinata Moon...?"

Nama panjangnya terdengar asing di telinga gue. Arbinata Moon? Itu nama asli Bin? Gue baru tahu hari ini, setelah bertahun-tahun cuma manggil dia "Bin," yang gue kira nama panggilan berandalan sekolah biasa. Ternyata dia punya nama seaneh itu. Dan gue sama sekali nggak nyangka kalau Bin ternyata beda kelas, baik secara akademis maupun latar belakang keluarga.

Gue sempat ngelirik ke arah Bin yang duduk di samping gue. Wajahnya datar, nggak ada ekspresi apa-apa. Kayak dia nggak peduli sama apa yang terjadi di sekitarnya. Gue nggak tau apa yang ada di pikirannya, tapi gue tahu satu hal, gue nggak mau ada di sini. Gue nggak mau menikah sama dia.

"Bersedia," jawab gue dengan suara pelan, setengah terpaksa. Nggak ada pilihan lain. Gue nggak bisa ngelawan keputusan orang tua, dan lebih buruk lagi, gue nggak sempat membela diri di depan mereka tadi.

Setelah itu, semuanya berlangsung begitu cepat. Surat pernikahan ditandatangani, dan sebelum gue sadar, gue udah resmi jadi istrinya Arbinata Moon.

**

Gue lagi duduk di sofa rumah yang sekarang jadi tempat tinggal gue dan Bin. Rumah ini dikasih sama keluarga Bin, katanya buat kami tinggal berdua setelah menikah. Rumahnya gede banget, jauh dari apa yang gue bayangin buat seorang berandalan kayak Bin. Gue kira dia bakalan tinggal di tempat sempit dan kotor, tapi ternyata gue salah besar.

Baru tadi gue tahu kalau ayah Bin itu seorang pejabat besar. Orang kaya yang punya pengaruh di kota ini. Rasanya makin aneh aja. Gimana bisa anak pejabat yang punya segalanya malah jadi berandalan sekolah dan menurut rumornya sih dia juga punya geng kayak si Jeni.

Bin sendiri dari tadi nggak banyak ngomong. Dia cuma ngasih gue tatapan cuek dan langsung naik ke lantai atas setelah kami tiba di rumah ini. Gue cuma bisa bengong, nggak tahu harus ngapain.

"Lo nggak bakal ngomong apa-apa?" tanya gue pelan, meski gue tahu Bin udah nggak di sekitar. Pertanyaan itu lebih ke diri gue sendiri.

Gue masih nggak ngerti kenapa hidup gue tiba-tiba berubah drastis kayak gini. Seorang murid berprestasi, penerima beasiswa, yang sekarang malah terjebak dalam pernikahan yang nggak pernah gue inginkan, apalagi sama orang yang gue benci.

Gue pikir setelah menikah, mungkin ada sedikit perubahan, atau paling nggak, ada penyesuaian antara gue dan Bin. Tapi ternyata gue salah besar. Hidup sama Bin itu kayak neraka. Kami berdua nggak pernah berhenti bertengkar, dari pagi sampai malam. Kayak kucing dan anjing yang nggak pernah bisa akur.

"Bin, lo serius nih? Ini udah tiga hari sampahnya nggak lo buang. Gue udah bersihin dapur, kamar, bahkan kamar mandi. Tapi lo malah nambahin berantakan lagi!" Gue ngomel sambil nunjuk ke arah tumpukan baju kotor yang berserakan di ruang tamu.

Bin, yang lagi rebahan di sofa sambil main handphone, cuma ngelirik sekilas dengan muka datar. "Santai aja, Yu. Besok gue buang, kok."

Besok? Gue udah denger kalimat itu berkali-kali, tapi 'besok' versi Bin tuh kayak nggak pernah datang.

"Nggak bisa gitu, Bin! Gue nggak bisa hidup di rumah yang jorok gini!" Gue mulai frustrasi, nggak tahan sama kebiasaan Bin yang berantakan dan nggak peduli sama kebersihan rumah.

Bin malah ngangkat bahu. "Ya udah, kalau lo nggak tahan, lo yang buang aja. Gue capek abis sekolah, ya wajar lah mau istirahat bentar."

Gue bisa ngerasain darah gue mendidih. Bin itu bener-bener nggak bisa diatur! Selalu cuek, nggak peduli sama apa yang gue lakukan buat bikin rumah ini nyaman. Gue udah bersihin hampir semua sudut rumah, tapi dia malah nambahin kerjaan dengan barang-barang yang berserakan di mana-mana.

"Lo pikir gue robot apa, ngurusin rumah sendirian?" Gue melotot ke arahnya, tapi Bin cuma menghela napas panjang, seakan-akan gue yang salah di sini.

"Lagian, ngapain sih lo repot-repot? Rumah ini emang gede, nggak usah lo beresin tiap hari juga nggak apa-apa," jawabnya santai.

Gue bener-bener nggak tahan lagi. Gue ngerasa kayak cuma gue yang berusaha bikin hubungan ini berjalan, sementara Bin nggak peduli sama sekali. Rasanya capek, terus-terusan berantem tentang hal yang sama, tapi nggak pernah ada perubahan.

Akhirnya, gue cuma bisa ngeluh dalam hati, sambil masuk ke kamar gue. Ya, kamar gue. Gue dan Bin masih tidur terpisah. Itu pun untungnya buat gue, karena kalau kami harus tidur sekamar, gue nggak tahu gimana caranya bisa tidur tenang setiap malam dengan berantem kayak gini terus.

Hidup sama Bin bener-bener ujian kesabaran. Setiap hari ada aja yang bikin gue kesel. Dan satu hal yang paling nyebelin? Dia selalu nyuruh-nyuruh gue buat masakin dia mie instan.

"Yu, bikinin mie dong. Gue laper," serunya dari ruang tamu sambil nonton TV. Padahal dia tinggal bangun, ke dapur, dan masak sendiri. Tapi kayaknya males itu udah jadi nama tengahnya.

Gue ngelirik dia dari dapur dengan muka sebel. "Lo kan bisa masak sendiri, Bin. Gampang banget bikin mie doang."

"Ya tapi gue lagi capek, abis motoran sama anak-anak," jawabnya dengan nada santai, seakan-akan itu alasan yang cukup buat nyuruh-nyuruh gue.

"Gue bukan pembantu lo, Bin," gue ngomong tegas, berusaha nahan emosi. Bener-bener nggak adil, dia cuma duduk leha-leha, sementara gue harus ngurus rumah, masak, dan segala macam.

Dia langsung ngelirik ke gue dengan tatapan tajam. "Kalau lo nggak mau bikinin, lo bisa cabut dari sini sekarang juga."

Ancaman itu bikin jantung gue berdegup kencang. Gue bener-bener nggak nyangka dia akan ngomong kayak gitu. Diusir? Gue sempat mikir buat kabur aja dari rumah ini, balik ke rumah orang tua gue. Tapi terus gue kepikiran, kalau gue pulang, pasti mereka bakal khawatir banget anak semata wayangnya ini di perlakukan gak adil. Nanti nyokap gue ngadu lagi ke bokapnya Bin, panjang lagi masalahnya nggak kelar-kelar!

Jadi, dengan berat hati, gue cuma bisa menunduk dan ngikutin perintahnya. Gue bikin mie instan buat dia, walaupun hati gue rasanya kayak diperas. Bukan karena gue nggak bisa masak, tapi karena gue ngerasa nggak ada harga diri lagi. Ini rumah gue juga, tapi Bin memperlakukan gue seolah-olah gue cuma penumpang.

Sambil nunggu mie mateng, gue cuma bisa ngelamun, mikirin gimana caranya bertahan dalam situasi ini. Gue tahu kalau gue pulang, masalah bakal tambah rumit. Jadi, lebih baik gue turutin aja dulu kemauan Bin, setidaknya sampai gue nemu cara buat keluar dari situasi ini.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakmu Bukan Anakku
8.0
Edwin Yogaswara tak berkutik saat dipaksa Gunadi menikahi putrinya, Melati Anastasia. Amarahnya meledak begitu menyadari perempuan sombong itu tengah mengandung lima bulan. Merasa dijebak dalam pernikahan penuh tekanan ini, Edwin menjalani hari dengan kekecewaan mendalam. Di tengah ego mereka yang sama-sama tinggi, akankah benih cinta tumbuh, ataukah rumah tangga ini justru hancur akibat pengkhianatan? Simak kisah pelik mereka.
Sampul Novel Derita Cinta Sang Pelakor
8.7
Via tega meninggalkan Jason demi mengejar kemewahan bersama Dimas, seorang miliarder yang telah beristri. Meski Dimas berdalih pernikahannya tanpa cinta, ia tetap panik saat Via menuntut kejelasan hubungan. Rumitnya jalinan asmara terlarang ini kian memuncak ketika sebuah rahasia besar terbongkar: Dimas ternyata kakak ipar Via sendiri. Kenyataan pahit ini memicu pergolakan batin hebat yang siap menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Dilamar Tuan Duda
8.8
Kehidupan Sea, seorang siswi SMA, mendadak berubah sejak kehadiran Rain. Pria duda tersebut baru saja kehilangan istrinya, Hanna, yang tewas akibat dibunuh secara tragis. Tanpa alasan yang jelas, Rain tiba-tiba mendesak Sea yang baru dikenalnya itu untuk segera menikah dengannya. Ada misteri besar di balik kematian Hanna yang memicu keputusan ganjil ini. Mengapa Rain begitu terburu-buru? Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sang duda dari Sea?
Sampul Novel Penyesalan Selalu Datang Terlambat
8.4
Di saat ketulusan cintanya memuncak, dia justru harus menyaksikan Stevan Nicolas memberikan seluruh kehangatan dan kasih sayangnya kepada wanita lain. Diabaikan dalam dinginnya malam yang berselimut hujan deras, ia dicap sebagai sosok yang terlalu manja hingga sang pria enggan menemuinya lagi. Namun, di balik penolakan kejam itu, Stevan tidak pernah menyadari bahwa waktu wanita yang tulus mencintainya ini sudah hampir habis, dan ajal akan segera memisahkan mereka untuk selamanya.
Sampul Novel Tak Ada yang Kedua
8.3
Pernikahan lima tahun dengan Anto hancur setelah perselingkuhannya dengan Vior terungkap. Di kehidupan lalu, penolakanku untuk bercerai berujung depresi berat, fitnah perselingkuhan yang dirancang Anto, hingga aku mengakhiri hidup. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Saat Anto kembali menyodorkan surat cerai demi melindungi Vior dengan dalih membalas budi mendiang profesornya, aku tidak lagi menangis atau memohon. Tanpa ragu, aku langsung menandatangani kesepakatan cerai tersebut.
Sampul Novel Wanita Kedua Tuan Alex
9.1
Demi mencukupi kebutuhan finansial sang ibu yang serakah, Bianca terpaksa bekerja sebagai biduan kafe. Takdir mempertemukannya dengan Alex, seorang pria dari kalangan bangsawan yang sebenarnya telah memiliki istri. Pertemuan itu memicu ketertarikan instan hingga berujung pada malam penuh gairah. Kini, Bianca terjebak dalam pusaran cinta segitiga yang rumit. Ia pun harus berjuang mengatasi dilema batinnya demi merebut posisi utama di hati Alex dari sang istri sah.