APKDock Logo
Sampul Novel Ketika Suami Mulai Bosan

Ketika Suami Mulai Bosan

8.7 / 10.0
Dalam pernikahan, cinta tidak selalu berjalan mulus. Kejenuhan kerap hadir dan mengikis kehangatan hubungan hingga menyisakan kehampaan. Saat dihadapkan pada pilihan sulit antara bertahan atau berpisah, perjuangan mengembalikan rasa yang hilang menjadi ujian yang sangat berat. Melalui doa dan usaha tanpa henti untuk merajut kembali kasih sayang yang pudar, mereka berharap mukjizat Tuhan dapat menyatukan kembali hati mereka sebelum semuanya terlambat.

Ketika Suami Mulai Bosan Bab 1

“Dik, memangnya enggak bisa kalau rumah sehari saja enggak berantakan?” Rasanya kepalaku ingin pecah setiap kali pulang ke rumah. Selalu saja disuguhkan pemandangan seisi rumah yang porak-poranda seperti diterjang angin puting beliung. Mainan gelas plastik semuanya tercecer di lantai. Darahku pun rasanya ikut naik ke kepala. Lagi-lagi harus menahan emosi mati-matian agar tidak sampai meledak. Mengingat anak-anakku yang pasti akan ikut menangis kalau sampai itu terjadi. Bukannya menyelesaikan masalah malah kepalaku bertambah pening mendengar tangisan mereka yang tidak pernah usai hingga larut malam.

“Maaf nanti adik bereskan ya, mau makan Bang?” tawar Nisa, istriku.

“Maulah pakai tanya!” sungutku kesal. Hari ini rasanya kesabaranku telah habis melihat penampilannya yang acak-acakan di tambah bau pesing yang menyeruak masuk ke indra penciuman, membuatku tidak lagi bisa menahan emosi yang terlanjur naik.

“Astaghfirrullah Bang,” lirih Nisa pelan. Namun, masih sampai ke pendengaran. Dia menatap nanar, tetapi aku mengabaikannya begitu saja memilih meneruskan langkah menuju sofa empuk di ruang tamu kami. Kulemparkan tas kerjaku dengan kasar ke meja hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Nisa tampak mengusap dadanya perlahan. Ketika pandangan kami bertemu dia paksakan bibirnya untuk tersenyum menyambutku sedang aku hanya tersenyum kecut ke arahnya. Sampai aku menyadari raut mukanya tiba-tiba berubah sendu, ada kesedihan di sana. Mungkin selama ini aku terlalu memanjakannya sehingga baru sedikit membentak, dia bisa terlihat begitu menyedihkan. Rasanya muak. Istriku yang dulu menarik hati kenapa sekarang begitu membuatku kesal hingga tidak betah lama-lama di rumah?

Kuhempaskan bobot tubuh di kursi, meraup wajahku dengan kasar, mencoba menstabilkan amarah yang mulai memuncak. Aku bosan. Rumah tangga yang kujalani selama 15 tahun terakhir ini kenapa rasanya hampa? Tidak ada lagi gairah. Tidak pernah kurasakan lagi sesuatu yang berdenyut di dalam hati. Apa lagi sejak Nisa melahirkan Khalid dia tidak pernah mau kusentuh selalu saja beralasan belum siap padahal masa nifasnya pun sudah selesai. Pernah kupaksakan meminta hakku, yang terjadi dia malah merintih di bibir ranjang, seolah aku ini orang asing yang berusaha menjamah tubuhnya, padahal aku belum menyentuhnya sama sekali. Tidak sampai hati aku melakukannya melihat Nisa yang ketakutan hingga wajahnya memucat membuat hasratku lenyap seketika. 

“Mas ayo makan!” Suara Nisa kembali terdengar seolah menarikku kembali pada kenyataan.

“Ya sudah siapkanlah sana!” sungutku kasar. Tidak ada jawaban hanya rautnya yang berubah sendu.

“Itu makanannya sudah di meja.” Benarkah? Gegas kulirik meja di depanku. Benar, di situ ada piring lengkap dengan lauk pauknya. Nisa masih saja berdiri mematung di tempatnya, membuatku kesal saja.

“Ya sudah sana, beresin mainannya!” Nisa sedikit tersentak mungkin karena nada bicaraku yang mulai meninggi. Hingga anak-anak yang sedari tadi berteriak berebut mainan pun mendadak diam. Pandangan mereka kini beralih padaku. Melihat ekspresi mereka yang ketakutan. Kupaksakan tersenyum pada Reina dan Raina meskipun jengkel di hatiku terus menjalar.

“Mamah!” teriak anak-anak. Mereka menjerit sembari berlarian ke sana ke mari. Sayangnya karena mainan yang berserakan di lantai akhirnya membuat Kembar terjatuh. Nisa berlari membangunkan dua balita yang menangis kencang. Dua-duanya meminta untuk digendong. Bobot mereka yang lumayan berat tentu saja membuat Nisa kewalahan. Kutinggalkan piring makan yang tentu belum sempat tersentuh sama sekali. Kuangkat Reina ke dalam gendongan, tangisnya mulai mereda perlahan begitu pun dengan Raina. Mereka kembali melanjutkan aktivitasnya bermain. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi mereka belum juga lelah padahal aku yakin Kembar telah bermain sejak pagi.

“Apa sih yang kamu lakukan seharian? Sudah ada asisten rumah tangga pun rumah masih saja berantakan."

“Khalid lagi rewel.”

“Ah Khalid terus yang kamu pikirkan. Ya sudah sana bereskan! Jangan sampai anak-anakmu yang lain enggak terurus cuma gara-gara Khalid.”

“Astaghfirrullah, dia juga anak kita. Wajar kalau perhatianku lebih banyak ke Khalid. Dia masih bayi.”

“Ya sudah terserah!” Aku bergegas pergi ke lantai atas ingin segera membaringkan tubuh yang dari tadi sudah berteriak minta diistirahatkan. Mengabaikan Nisa dan anak-anak yang masih sibuk dengan mainannya.

~

Keesokan harinya aku pergi ke kantor seperti biasa. kebetulan sepulang kerja ada acara makan-makan. Salah satu staf ada yang baru diangkat karyawan karenanya kami semua di traktir Cafe Lavanda. Jaraknya tidak jauh dari rumahku jadi sekalian saja aku ikut serta. Sebenarnya aku tidak terbiasa pergi ke acara seperti ini. Bagiku hanya buang-buang waktu tetapi tidak ada salahnya juga kalau kucoba kali ini. Dari pada pulang ke rumah yang hanya membuatku naik darah.

“Eh liat Si Santi anak magang yang baru, cantik ya?” Fredi memulai percakapan di antara kami.

“Lumayan, mau enggak ya jadi bini ke dua.” Haris ikut menimpali sembari terkekeh kecil.

Santi, memang cantik tetapi dia terlalu muda bukan seleraku juga. Aku hanya diam menyaksikan rekan kerjaku yang beradu argumen.

“Gila, mana mau sama aki-aki bau tanah." timpal Fredi.

“Walaupun begini gue masih bugar. Kalau dilihat-lihat Santi enggak alim-alim amat. Gue sering lihat kalau lagi digoda sama Haikal, langsung salah tingkah," ujar Haris.

“Jeli juga mata lu, Ris.”

“Lihat saja pakaiannya. Kucing dikasih ikan ya dimakan,” ucap Haris seraya tertawa cukup keras. Tawa kami pun pecah. Seakan-akan kami semua ikut terpapar virus tengil yang dibawa Haris. Saat itu pakaian Santi memang terbilang cukup berani. Setelan kemeja dengan rok ketat di atas lutut. Tentu saja mampu menghipnotis pria hidung belang macam dua temanku ini.

“Dia masih jomblo loh, Bos Wan,” tawar Haris padaku.

“Iya itu Bos, kasih ceramah dikit pasti boleh poligami,” tambah Fredi. Belum juga kujawab tawaran Haris dia sudah menyambar lebih dahulu.

“Gila lu Fred, jangan bawa-bawa agamalah enggak lucu.'' Haris langsung menunjukkan ekspresi tidak sukanya.

“Bukan selera gue.” jawabku asal. Meski aku atasan mereka tapi di luar kantor kami sudah terbiasa mengobrol seperti ini. Haris dan Fredi seangkatan denganku. Nasib baik lebih berpihak padaku. Tiga tahun lalu aku diangkat menjadi kepala cabang.

“Munafik lu, coba perhatikan baik-baik.”  Bukannya kapok Fredi malah tambah nekat. Aku pun refleks memutar bola mata. Seketika pandangan mata kami bertemu. Santi tiba-tiba melempar senyum sedang aku hanya mengangguk canggung.

“Yakin enggak mau?” tawar Fredi lagi.

“Cantik sih,” lirihku. Entah masih terdengar oleh mereka atau tidak.

“Cewek kayak begitu biasanya agresif. Dijamin enggak bakal bosan. Percaya sama gue!”

“Beda sama Nisa yang enggak punya inisiatif.” Astaga aku malah kelepasan mengatakan itu.

“Bagaimana maksudnya, Nisa membosankan begitu?” Haris sepertinya cukup terkejut. Matanya membelalak.

“Ya begitulah. Gue mulai jenuh. Sudah enggak pandai merawat diri, rumah pun selalu berantakan bikin enggak betah.”

“Ya sudah jadikanlah itu Santi bini muda!” Si Fredi ini lagi-lagi menyuruhku mendekati Santi. Kembali pandanganku beralih pada Santi. Gadis ini, entah kenapa aku merasa dia terus memperhatikanku. Dia terus saja tersenyum membuat dadaku berdebar tidak karuan.

“Jangan begitu Bos, ingat Nisa baru saja melahirkan. Wajarlah menurut gue. Apalagi Si Kembar masih kecil-kecil.” Nada bicara Haris terdengar lebih serius.

“Di rumah sudah disediakan Asisten Rumah Tangga masa iya masih kewalahan?”

“Biarkan saja, pasti maulah dimadu secara Nisa kan salihah.” Fredi kali ini memainkan alisnya seolah meminta pembenaran atas pendapatnya. Nisa memang istri yang sempurna. Namun benarkah dia mau jika dipoligami?

“Enggak usah ikut-ikutan Fredi Bos, kasihan Nisa,” ucap Haris sembari menepuk pelan pundakku.

“Bukan itu saja masalahnya Ris, selera Nisa itu kuno banget anak-anak saja sampai ikutan ketinggalan jaman.”

“Lu itu cuma bosan Bos. Ajak istri jalan-jalan bukan malah cari yang baru,” ucap Haris yang malah menasihatiku.

“Ah enggak asyik lu, Ris.” Fredi pun langsung berlalu dari hadapan kami.

Hari semakin larut anak-anak masih belum juga mau pulang. Selesai makan-makan malah mau lanjut karaoke. Sungguh aku tidak terbiasa berada dalam keramaian seperti ini. Bagiku sepi dan senyap adalah tempat ternyaman untuk tinggal. Keramaian seperti ini hanya mendatangkan kesenangan sesaat. Berbeda dengan kesunyian hadirnya mampu menenangkan jiwa selamanya. Kuputuskan untuk pulang lebih dulu. Tidak enak juga dengan Nisa takut dia menungguku, karena terlalu asyik aku sampai lupa memberinya kabar.

Niat hati ingin sedikit berdamai dengan Nisa. Baru saja membuka pintu sudah disambut dengan kondisi rumah yang seperti kapal pecah. Apa Nisa juga tidak sempat menyalakan lampu. Sudah selarut ini dibiarkan gelap gulita. Kutekan saklar lampu hingga seketika membuat ruangan menjadi terang benderang. Mataku terbelalak menatap keadaan kamar yang sedikit berbeda. Ada tulisan “SELAMAT ULANG TAHUN PAPAH TERSAYANG” terpampang di tembok serta banyak balon berbentuk hati di mana-mana.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ketika Suami Mulai Bosan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang
8.8
Astri selalu bingung dengan kebencian mertuanya pada Ruslan, padahal wajah mereka sangat mirip. Selama ini, sang suami memilih bersabar menghadapi perlakuan tidak adil keluarganya. Namun, di balik kemiskinan yang terlihat, pasangan ini sebenarnya menyimpan kekayaan melimpah. Ketika sebuah peristiwa akhirnya melewati batas kesabaran Astri, ia memutuskan bertindak. Didukung penuh oleh Ruslan, Astri siap membongkar rahasia besar mereka demi memberi pelajaran pada mertua yang pilih kasih.
Sampul Novel Pria Yang Disimpan
9.7
Nadia menderita dalam pernikahan dengan Robin, yang merahasiakan penyakitnya hingga Nadia terus disalahkan oleh mertua. Sementara itu, Riska merasa kesepian karena Alvin, suaminya yang berprofesi sebagai kapten kapal, jarang pulang ke rumah, ditambah tekanan dari ibu mertuanya yang terus membayangi. Di tengah badai konflik ini, hadir Arfan, sosok pria penuh trauma yang perlahan mulai membuka hati. Takdir pun kini mempertemukan dan menguji kesetiaan serta cinta mereka.
Sampul Novel Saat Kupergi, Bunga Bermekaran
8.0
Kehamilan dari program bayi tabung keenam seharusnya menjadi kado terindah di tahun kedelapan pernikahan dengan Renaldo Santoso. Namun, bukti perselingkuhan Renaldo dengan teman masa kecilnya yang juga hamil menghancurkan segalanya. Sadar dikhianati oleh seluruh keluarga suaminya, sang istri memutuskan pergi tepat di hari jadi mereka, meninggalkan janji kebun mawar yang diingkari. Kini, saat Renaldo menyesal, mencari ke seluruh dunia, dan memohonnya kembali, semuanya telah terlambat.
Sampul Novel Second Chance
7.9
Demi menjaga hatinya yang terluka, Sarah sengaja mengasingkan diri dari cinta. Namun, kedamaian hidup yang ia pertahankan seketika goyah sewaktu bayangan masa lalu kembali hadir dan berusaha mendekatinya lagi. Kini, ia terjebak dalam pergolakan batin yang hebat. Sarah dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menutup diri atau memberanikan diri mengambil risiko terluka lagi demi cinta yang baru. Inilah kisah perjuangan dewasa mengatasi trauma masa lalu.
Sampul Novel Terjerat Gairah Sang Lady Boss
9.6
Jesslyn Margaretha Amber, pengusaha sukses asal New York berjuluk Lady Boss, mengalami kehancuran hati akibat dikhianati kekasihnya. Di ambang keputusasaan, ia memacu mobilnya dengan liar hingga dikejar oleh polisi lalu lintas bernama Louis Damian. Kejadian tak terduga itu justru memicu aksi nekat Jesslyn. Ia mendadak mencium Louis dan langsung mengajukan lamaran pernikahan. Akankah Louis bersedia menerima ajakan gila dari wanita asing yang baru saja ia temui di jalanan tersebut?
Sampul Novel The Tears I Shed
9.4
Orlando Atmanegara, polisi senior, ditugaskan melindungi Candramaya Daniswara. Maya, mantan istri pengusaha yang dulu berwatak buruk, mengalami amnesia setelah lolos dari upaya pembunuhan. Ingatannya yang hilang mengubahnya menjadi sosok lembut bak malaikat. Perubahan drastis ini membingungkan Orlando, sekaligus memicu penyesalan sang mantan suami, Nayaka Bratadikara, yang jatuh cinta lagi. Di tengah ancaman yang mengintai, Maya kini berjuang menjaga kehormatan dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan