APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KETIKA DENTING CINTA MENYAPA

KETIKA DENTING CINTA MENYAPA

Zefki dan Raceh tak pernah menduga perjodohan dari orang tua mereka akan menumbuhkan perasaan cinta. Takdir ini mengubah hidup mereka sepenuhnya, terutama karena kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Zefki merupakan pria yang dingin, angkuh, dan gampang emosi, sedangkan Raceh justru sosok gadis pendiam yang pemalu. Di tengah benturan karakter yang begitu kontras, akankah kekuatan cinta sanggup menyatukan mereka dalam sebuah komitmen yang tulus?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari ini hari Sabtu, seperti yang Nyonya Santi katakan. Jika hari ini, mereka akan kembali pulang ke rumah.

"Ra, jam berapa Papi dan Mami nyampai ke rumah?" Tanya, Grace.

"Mungkin agak siangan sih, Kak. Lho, Kakak kok sudah berpakaian rapi gitu. Memangnya kakak mau ke mana? kemarin kakak nangis-nangis. Karena kangen sama Mami dan Papi, ini kok kakak malah, pergi?" Tanya, Raceh.

Lalu, Grace menyahut,

"Itulah, Ra. Kakak hari ini ada acara kantor di Bogor. Kakak jadi perwakilan dari kantor. Yah mau nggak mau, kakak harus mengikuti acara itu. Tapi Kakak sudah kasi tahu Mami sih, Ra. Tadi subuh, melalui chat."

Saat Grace berpamitan untuk pergi ke BogorRaceh pun menuju ke dapur untuk melihat apa saja menu yang sudah dimasak oleh Bik Tina, asisten rumah tangga di rumahnya.

Raceh pun membantu asisten rumah tangganya di dapur menyiapkan bahan makanan untuk makan siang nanti. 

"Bibik, apa semua udah kelar masaknya?" Tanya Raceh, kepada Bik Tina.

"Masih belum, Non. Bibik bingung mau masak apa." Sela, Bik Tina.

"Ya, sudah. Aku bantuan bibik memasak, ya?" Ucap, Raceh.

 "Wah terima kasih, Non." Tukas, Bik Tina.

Hari ini hari Sabtu, kantor tempat kerja Raceh libur, tiap weekend. Jadi hari ini, Raceh di rumah saja dan membantu Bik Tina, memasak.

Satu jam berkutat di dapur. Akhirnya semua masakan terhidang di meja. Raceh merasa puas dengan hasil masakannya bersama, Bik Tina.

Raceh sejak kecil, menyukai waktu untuk memasak. Dia sering menonton channel memasak dan mencoba resep-resep baru. Oleh karena itu, Raceh sudah sangat terbiasa memasak.

Berbeda jauh dengan Grace yang paling tidak suka hal-hal yang berbau dapur dan sejenisnya.

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Itu artinya sekitar setengah jam lagi kedua orang tuanya, bersama tamu tersebut akan tiba di rumahnya.

Raceh pun pamit kepada Bik Tina untuk membersihkan dirinya ke kamar pribadinya untuk mandi.

Sehari sebelumnya,

"Pokoknya Mami nggak mau tahu kamu harus ikut ke rumah kolega Papi!" Ucap Nyonya Clement, kepada putranya, Zefki.

 "Tapi, Mi. Besok aku ada banyak pekerjaan yang deadline. Masa Mami maksain aku harus ikut?" 

Ketika itu, Tuan Kenan masuk ke dalam kamar anaknya. Karena mendengar perdebatan istrinya dan sang putra.

Lalu sang ayah berkata,.

 "Papi mau, kamu ikut ke rumah Om Fidel."

"Apa-apan sih, Papi! Besok aku sangat sibuk, Pi."

"Tunda semuanya. Ini demi masa depanmu juga!" Tegas sang ayah, lagi.

 "Jangan menyusahkan, Mamimu!" Setelah berkata begitu, Tuan Kenan pun berlalu keluar dari kamar anaknya. Sambil mengedipkan satu mata kepada istrinya dan dibalas dengan Nyonya Clement yang mengacungkan kedua jari jempolnya. Menandakan jika rencana mereka berhasil.

"Mami sangat senang. Kamu jadi patuh begitu." Tukas, sang ibu.

Zefki hanya terdiam. Dia lalu merasakan tiba-tiba perutnya, sakit. Dirinya pun, berkata, "Mi ... tolong bilangin Bik Yati untuk memasak nasi goreng dan membawanya ke kamar. Aku lapar banget." Seru Zefki, sambil mengusap perutnya.

" Baiklah Zefki. Jangan lupa ya kamu setel alarm jangan sampai telat bangun, besok."

Kediaman Pratista,

Pukul setengah satu siang, kedua orang tua Raceh, berserta Tuan dan Nyonya Harol sampai di kediaman koleganya.

 Mereka dipersilahkan masuk oleh Bik Tina. Sedangkan Raceh masih berada di dalam kamarnya.

Mereka pun masuk dan berbincang-bincang di ruang keluarga, sambil meneguk teh.

"Kenan, saya sangat berterima kasih atas bantuan mu pada perusahaan saya. Tanpa campur tanganmu, saya pasti tidak bisa melewati masa-masa sulit ini." Seru, Tuan Fidel. 

"Tidak masalah, Fidel. Kan sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga, kamu tidak perlu sungkan begitu." Sela, Tuan Kenan.

"Ngomong-ngomong, Nak Zefki ke mana?" Tanya Nyonya Santi.

"Iya nih, Jeng. Tadi tiba-tiba Zefki langsung ditelepon oleh temannya katanya penting. Tapi setelah itu, dia akan menyusul ke sini kok, tadi saya sudah memberi tahu alamat ini." Tutur, Nyonya Clement.

"Mi, anak-anak di mana kok nggak kelihatan?" Seru Tuan Fidel, kepada istrinya.

 "Iya nih, Pi. Tadi pagi Grace chat Mami katanya dia ada kerjaan kantor." Seru, Nyonya Santi. 

"Oh iya, Jeng. Grace itu, anak sulung kami. Dia berumur dua puluh lima tahun, dan Si bungsu, Raceh berumur dua puluh tiga tahun. Raceh lagi di kamar. Tukas Nyonya Santi, kepada Nyonya Clement.

Lalu dari arah samping Raceh datang dengan setengah berlari, 

"Mami ... Papi kapan datang? Aku kangen." Raceh segera memeluk ibunya dan juga ayahnya. Raceh tidak sadar, jika ada orang lain di situ. 

Lalu ayahnya berkata, 

"Hei, kamu ini udah kangen banget rupanya sampai nggak tahu ada Om dan Tante juga di sini."

 "Eh maaf ... Mi, Pi." Seru Raceh dan dia pun memberi salam kepada, Tuan dan Nyonya Harold.

"Apa kabar Om dan Tante?" Sapa, Raceh.

Tuan dan Nyonya Harold, sangat kagum dgn paras Raceh yang cantik dan juga terkesan ramah.

Lalu Nyonya Clement berkata,

"Apa kabar Raceh, kamu sangat cantik sekali."

"Baik ... Tante. Terima kasih." Seru Raceh, sambil tersenyum.

 Lalu Tuan Fidel menimpali,

 "Karena sudah siang baiklah, mari kita makan."

Lalu mereka pun menuju ke ruang makan, di sana semua telah tersedia, hidangan khas Indonesia.

Raceh melayani mereka di meja makan. Nyonya Clement seakan terkagum-kag dengan sikap dan gerak-gerik Raceh, menjamu mereka. 

"Wah-wah sepertinya makanan kita sangat lezat. Ini yang masak siapa?" Tanya, Tuan Kenan.

"Sa-ya, Om."  Jawab, Raceh.

"Raceh, kamu pinter memasak?" Tanya, Nyonya Clement.

 "Masih belajar, Tante." jawab Raceh, merendah sambil tersenyum.

"Iya, Jeng. Raceh memang jago memasak. Semua hasil masakannya pasti enak." Seru, Nyonya Santi. 

"Kalau begitu, Raceh mau yah jadi calon mantu, Tante? Itu lho anak Tante lagi cari-cari jodoh," Raceh pun seakan kaget, dengan ucapan Nyonya Clement.

"Sudah-sudah nanti ngobrol lagi, mari kita santap hidangan ini, dulu." Seru, Tuan Kenan. 

Raceh pun kembali tersenyum dan bertanya-tanya di dalam hatinya, maksud perkataan Nyonya Clement.

Hanny seakan ingat perkataan ibunya, tentang keadaan perusahaan ayahnya dan ada seseorang yang ingin membantu ayahnya. Akan tetapi dengan syarat salah satu dari mereka, Grace atau Raceh akan dijodohkan dengan anak dari orang itu.

"Raceh, kamu kok nggak bareng makan, Nak?" Perkataan Nyonya Clement, seakan menyentaknya dari lamunannya, tentang perjodohan itu. 

"Iya ... Tante. Jangan sungkan, tadi aku sudah duluan makan." Jawabnya.

Setelah acara makan selesai, mereka kembali berbincang di ruang keluarga membahas tentang kerja sama bisnis. Lalu tiba-tiba telepon genggam Nyonya Clement berbunyi dan tertera nama putranya.

Zefki : "Mamiku,  Sayang. Sepertinya aku tidak bisa ke sana. Maaf ya, Mi. Aku ada urusan penting saat ini."

Lalu Nyonya Clement membalas pesan dari anaknya,

Mami Clement : "Mami nggak mau tahu jam tujuh malam kamu harus sudah sampai di rumah!"

Nyonya Clement terus menunggu balasan pesan dari putranya. Tapi tidak kunjung datang.

"Duh ... anak ini!" Keluh Nyonya Clement.

"kenapa, Mi?" Seru Tuan Kenan, setengah berbisik.

 Nyonya Clement lalu berkata kepada suaminya. Jika putra mereka, tidak akan ke sini. Tuan Kenan menjadi geram mendengarnya.

"Gini lho, Jeng. Sepertinya, Zefki berhalangan datang, dia tiba-tiba ada meeting penting dengan rekannya." Nyonya Clement terpaksa berbohong, saat ini.

"Iya nggak apa-apa, Jeng. Lain kali, Nak Zefki, bisa main ke sini." Seru Nyonya Santi, dengan nada setengah kecewa. Karena dalam hatinya, juga menginginkan Zefki, menjadi menantunya.

"Tapi, Jeng. Bisa nggak nasi goreng yang kita makan tadi saya bawa pulang sebagian? Soalnya,  putra kami, sangat menyukai nasi goreng." Tukas, Nyonya Clement.

"Bisa kok, Jeng. Nanti saya suruh Raceh untuk membungkusnya." Jawab, Nyonya Santi.

Di dapur, Raceh terlihat  sedang sibuk menyiapkan nasi goreng untuk dibawa pulang oleh Nyonya Clement.

Pukul empat sore suami istri itu pun berpamitan kepada Tuan dan Nyonya Pratista. Begitu juga dengan Raceh, turut mengantar mereka pulang sampai ke pintu depan.

Nyonya Clement tidak pernah lepas melirik kearah Raceh. Yang sontak membuat gadis itu merasa sedikit risih dan hanya membalasnya dengan tersenyum ramah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ambil Kembali Hatiku
9.7
Hari ulang tahun Sena yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam ketika sang ibu mengembuskan napas terakhir. Namun, kepedihan Sena kian berlipat ganda karena sikap dingin suaminya. Pria itu tidak hanya mengabaikan hari lahir Sena, tetapi juga memilih absen dari upacara pemakaman ibu mertunya. Sang suami justru melangkah pergi ke bandara demi menjemput wanita yang selama ini menjadi dambaan hatinya, meninggalkan Sena dalam kesendirian dan luka batin yang mendalam.
Sampul Novel Cinta yang Tak Sempat Kudengar
8.9
Setelah tunangannya memilih menikahi kakaknya, ia menerima lamaran Twinkle, pria dingin yang mengaku tulus mencintainya. Tiga tahun pernikahan mereka berjalan sempurna tanpa cela. Namun, kebenaran pahit terungkap saat ia mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah kepalsuan demi melindungi wanita bernama Amelie. Menyadari dirinya hanya tameng dan pengganti, ia memutuskan menghapus identitasnya dan merancang kematian palsu untuk lepas sepenuhnya dari Twinkle.
Sampul Novel Gairah panas my Daddy
8.6
Meskipun telah memasuki usia matang untuk berkeluarga, Aldo Bimantara tetap tampil menawan dan awet muda. Sebagai putra dari keluarga konglomerat yang sangat terpandang, pria sukses ini memimpin dua cabang restoran besar di Semarang dan Medan. Di tengah gemerlap kariernya yang gemilang, ia harus berjuang keras menyeimbangkan tuntutan hidupnya. Kisah ini menyoroti perjalanan sang pengusaha kaya raya dalam mengarungi dinamika percintaan modern yang penuh warna.
Sampul Novel Miliki Mu
8.9
Demi menyelamatkan bisnis sang ayah yang kolaps dan membiayai pengobatan ibunya, Cherly terpaksa menyetujui rencana Hartono. Tugasnya adalah mendekati Edward, cucu Hartono yang berhati dingin, untuk memberikan seorang penerus. Di usia 33 tahun, Edward masih dilingkupi kesedihan mendalam akibat kepergian Yuni, tunangannya yang wafat lima tahun lalu. Ia pun sangat membenci Cherly yang dianggap licik dan murahan. Akankah kehangatan Cherly mampu mencairkan dinginnya hati Edward?
Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Sebelum pernikahan resmi mereka, Ellen berteriak histeris begitu menyadari tindakan Reyhan Saputra. Sambil menutupi badannya, ia memaki pria itu. Bukannya marah, Reyhan malah tertawa gemas. Setelah mematikan kompor, ia mendekat hingga membuat Ellen terdesak ke dinding. Ellen merasa geli sekaligus tegang saat Reyhan memegang tengkuknya. Dengan seringai nakal, Reyhan pun menawarkan diri untuk mempraktikkan langsung contoh perbuatan tersebut.
Sampul Novel Sebatas Harapan
8.9
Bagi saya yang berusia dua puluh satu tahun, hidup adalah tentang merayakan kebebasan mutlak. Saya menikmati kesenangan tanpa memedulikan gender, usia, ataupun status sosial pasangan. Walau gaya hidup bebas ini kerap menuai pandangan negatif, saya menganggapnya sebagai bentuk tertinggi dalam mencintai diri sendiri. Setiap kepuasan duniawi yang dirasakan menjadi energi yang memulihkan jiwa, bukan sekadar pemuas nafsu. Inilah kisah saya mengejar arti kebahagiaan yang sesungguhnya.