APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Memilihku

Ketika Cinta Tak Memilihku

Dua saudara yang bertetangga menghadapi kenyataan pahit setelah pasangan masing-masing kembali dari ibu kota. Awalnya, kedekatan antara suami sang adik dan istri sang kakak dianggap biasa. Namun, kejanggalan mulai terasa seiring sikap mereka yang kian intim. Kecurigaan pun tumbuh di antara kedua bersaudara ini. Kini, mereka harus berhadapan dengan teka-teki pengkhianatan yang mengancam keutuhan rumah tangga keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kenapa Mas Tirta harus menjauh dariku ketika mengangkat telepon darinya? Jika hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dari jakarta mereka sudah satu kendaraan? Karena rasa penasaran, badan ini bangkit hendak memastikan apa yang dibicarakan.

Aku pikir, Mas Tirta akan mengangkat telepon di depan pintu. Ternyata salah, ia duduk di pojokan teras rumah. Berbicara dengan suara lirih, tak dapat terjangkau oleh pendengaran ini. Rasa penasaran telah menuntunku berada di ambang pintu, berdiri di sini, menatap penuh tanya ke arah suami yang sedang asyik berbincang dengan seseorang di seberang telepon.

Mas Tirta mengakhiri pembahasannya, ketika melihatku berada di sini. Wajahnya cukup kaget, tetapi segera ditutup dengan senyuman manis yang selalu membuat wajah ini berbinar. Ah, aku memang wanita tak bisa tegas dengan perasaan.

"Telepon dari siapa, Mas?" Tanyaku ketika ia menghampiri dan menggandeng bahuku, mengajak masuk kembali ke dalam rumah.

"Teman kerja. Tanya sudah sampai rumah apa belum gitu," Jawab Mas Tirta santai. Meski aku berusaha menemukan sesuatu di balik wajah tenang itu, tetapi tak dapat. Kalah oleh tatapan teduh yang bagiku selalu menghujani untaian cinta.

Cinta? Iya. Menurutku memang begitu. Meski berulang kali ia membuat hati ini menjerit perih, tetapi satu kali senyumannya mampu meluluhkan segalanya. Apakah aku terlalu gampang mendapat rayuan? Entahlah.

Mas Tirta membimbingku duduk di sofa panjang depan TV, dekat Bagas yang sedang sibuk dengan mainan barunya. Anak itu jika sudah punya barang baru pasti tak peduli apapun. Bahkan kadang makan pun bisa lupa jika tidak disuapi.

"Sayang, kamu masak yang spesial ya buat makan malam kita nanti. Aku kangen banget sama masakan kamu," Pinta Mas Tirta sambil mengerling manja di depanku. Selalu menjadikan diri ini tak kuasa menolak apapun permintaannya.

"Iya, Mas. Mas temenin Bagas main, ya," Aku menyarankan sebelum beranjak, lalu tersenyum ketika Mas Tirta mengacungkan jempolnya. Tanda persetujuan. Aku segera berjalan ke dapur dengan perasaan senang tiada tara.

Benar, kan? Wanita mana yang tak senang, suami yang ditunggu telah pulang. Membawa cinta, membawa uang, membawa oleh-oleh untuk kami. Ah, rasanya sore ini aku menjadi wanita paling bahagia.

Sambil mengeksekusi bahan sayur, sesekali netra ini melirik ke arah ruang TV yang memang terlihat dari sini. Kedua lelaki ayah dan anak itu saling sibuk. Bagas sibuk dengan mainannya, dan Mas Tirta sibuk dengan gawai di tangan. Dapat terlihat jelas dari sini, sesekali wajah tampan itu senyam-senyum sendiri seperti orang jatuh hati.

Di sinilah kami sekarang, berkumpul di depan meja makan. Menikmati makan malam yang menurutku paling enak. Bukan karena makanannya, tetapi suasana yang membuat semua terasa nikmat. Sambil menyuapi Bagas, aku mendengarkan celoteh riang bocah itu berbicara dengan ayahnya.

Sesekali terbahak sambil bertepuk tangan, sesekali beradu tos dengan ayahnya karena alur pembahasan yang sejalan. Inilah yang membuatku merasa seperti di surga. Melihat mereka, orang-orang tercinta bercanda tawa dengan senyum ceria. Seolah tak ingin momen ini segera berakhir.

Malam ini, Bagas juga berbeda. Jika biasanya harus dibujuk agar mau makan, harus diikuti kesana-kemari agar mau makan. Bahkan sambil bermain kemanapun, itu saja tak banyak nasi yang masuk dalam perut kecilnya. Malam ini, tanpa bujukan apapun Bagas melahap cepat suapan demi suapan yang kuberikan.

Menambah keyakinan, bahwa bukan hanya aku yang merasa bahagia, tetapi juga Bagas. Terlihat jelas dari binar wajahnya itu, juga antusiasnya dalam berceloteh tentang sesuatu yang menurutnya menarik.

"Yah, Ayah di sini aja, ya. Nggak usah pergi lagi, kerja di sini aja," Bagas meminta dengan wajahnya yang polos.

Harapan sama seperti yang membumbung tinggi dalam angan ini. Tetapi semua itu tergantung Mas Tirta. Dulu aku pernah menyarankan agar bekerja di sini saja, namun ia menolak mentah-mentah. Katanya bekerja di sini tidak menghasilkan apapun, selain capek yang didapat.

Memang benar, karena selama ia berada di Malaysia, kehidupan kami berangsur membaik. Rumah peninggalan Bapak ini juga telah berubah menjadi bangunan minimalis, meski dengan ukuran kecil.

"Sayang, Ayah kan kerja di sana. Cari duit buat Bagas," Ucap Mas Tirta lembut.

" Kerja di sini apa nggak bisa, Yah?" Netra polos itu menatap sang Ayah tanpa kedip, penuh harapan tinggi. Jika saja aku yang ditatap seperti itu pasti sudah tak bisa berkutik. Tanpa pertimbangan apapun pasti akan langsung memenuhi keinginannya.

"Bisa, tapi kan uangnya nggak banyak kayak yang di sana," Wajah Bagas mengerucut lucu, "jadi Ayah cuma bentar di rumah?" Tanyanya.

"Enggak, sayang. Kali ini Ayah akan lama di rumah,"

"Yei!" Teriak Bagas dengan merentangkan kedua tangan ke atas kepala.

Mas Tirta masa kontraknya memang sudah habis, ia telah bekerja di sana sejak sebelum kami saling kenal. Hingga saat ini, masa kontraknya telah genap sepuluh tahun. Kepulangannya kali ini adalah untuk mengurus masa perpanjangan, juga ijin kerja selama dua tahun.

Dua tahun? Iya. Membayangkan saja sudah membuatku mengulum senyum. Tak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan suami tercinta. Dia tahun itu jika dilewati penuh rasa senang, bukanlah waktu lama.

Usai makan malam, aku menemani Bagas di kamarnya, membelai lembut rambut tipisnya. Sambil membacakan cerita adalah kebiasaan menjelang tidur. Tangan mungilnya selalu memeluk leher ini, jika sudah mengendur itu tandanya ia telah lelap dalam tidurnya.

Aku bangkit perlahan, sambil menutup badan kecil itu menggunakan selimut hingga di lehernya. Lalu mengecup kening sebelum meninggalkannya menuju kamarku sendiri. Mas Tirta yang sudah berada di atas ranjang itu meletakkan gawai ke atas meja ketika aku membuka pintu kamar. Memasang senyum menggoda ketika badan ini menyusul di sebelahnya.

Tangan kokoh itu langsung merengkuh badan ini, membawanya dalam hangatnya dada bidang yang selalu kurindukan siang dan malam.

"Sudah berapa lama, sayang?" Suara Mas Tirta terdengar tepat di telinga ini, hingga terasa hembusan nafasnya yang dingin meniup ujung rambut.

"Apa kamu nggak kangen?" Suaranya kembali terdengar syahdu, membuat darah ini berdesir. Serta menjadikan sesuatu di dalam sana terasa membuncah, kehilangan kata untuk menjawabnya. Kepala ini hanya bisa mengangguk pelan.

Wanita mana yang bisa tahan dengan kondisi seperti ini. Apalagi bersama kekasih halal yang baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah oleh jarak.

"Hm, aku pasti lupa gimana caranya. Ingetin lagi, ya,"

"Apaan, sih?"

Ia tertawa renyah, sebelum akhirnya membimbing diri ini menumpahkan segala rindu. Terendap lama hingga membeku. Tangan kokoh yang pandai bergerak liar itu yang selalu membuat diri ini tak mampu berpaling kemanapun.

Kami berdua melewati malam panjang dengan saling menumpahkan segala rasa yang terpendam selama sekian tahun. Merasakan bulir-bulir cinta meretas melalui aliran keringat membasahi badan menyatu. Mengikis jarak tanpa sekat apapun.

Hanya ada rasa indah tiada berkesudahan. Seperti mengepak sayap tak kasat mata, membumbung tinggi ke atas awan. Melayang-layang di atas sana, menikmati hawa sejuk menyegarkan badan. Lalu perlahan terhempas. Pasrah terkulai.

Mas Tirta bangkit karena gawainya berdering meraung.

"Aku Terima telepon dulu, ya," Ucapnya tanpa menunggu jawaban, melangkah keluar kamar hanya dengan sarung membalut badannya.

Hampir satu jam, bahkan ketika aku telah selesai membersihkan badan. Belum nampak Mas Tirta kembali kemari. Dimana dia menerima telepon itu? Aku melangkah melewati pintu kamar, di depannya tidak ada orang sama sekali.

Lalu menuju ruang TV yang juga kosong, disebelahnya ada ruang tamu. Kosong. Hanya pintu depan nampak sedikit terbuka, netra ini mengernyit melihatnya. Melangkah terendap sambil berjinjit, meraih gagang pintu dan membuka lebar.

Mas Tirta? Kenapa dia menerima telepon di sini? Tanyaku dalam hati.

"Oke. Selamat malam, ya," Ucapnya lembut sebelum menutup sambungan telepon. Hanya itu saja yang terdengar dalam telinga ini.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Pesona fisik yang menawan dan tubuh proporsional justru membawa petaka bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Walau telah membina rumah tangga masing-masing, pernikahan mereka tak luput dari cobaan yang menerpa. Keindahan rupa mereka malah memicu konflik pelik yang mengoyak keharmonisan keluarga. Sanggupkah tiga saudara perempuan ini bertahan melewati badai rintangan yang terus menguji kesetiaan dan kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan, pebisnis dingin tanpa ampun, terusik saat Yezi kembali ke hidupnya. Merasa diabaikan oleh wanita blasteran Jepang-Indonesia itu, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal pada ayah Yezi. Tak gentar, Yezi membalas ancaman tersebut menggunakan rekaman rahasia dari tiga tahun lalu. Di balik arogansi dan persaingan bisnis yang sengit, ada rahasia besar masa lalu yang mengikat mereka berdua.
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahan kontraknya dengan Jordan Wijaya akan selesai lewat perceraian. Namun, sikap dingin Jordan lenyap setelah menikah, berubah menjadi sangat posesif dan suka memanjakannya. Sanny terjebak ketika Jordan melanggar kesepakatan dengan menuntut hubungan intim hingga dirinya hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang telah dirobek, Jordan menolak keras untuk melepaskan istri yang kini sangat ia pertahankan.
Sampul Novel Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik
7.9
Setelah menuntaskan aksi balas dendam terhadap mantan kekasih dan sahabat yang mengkhianatinya, Diva Gantari justru terjebak dalam situasi rumit. Akibat salah masuk toilet pria, ia bertemu dengan Elvan Sabil, seorang CEO berkuasa dari perusahaan multinasional raksasa. Meski Elvan menyelamatkan Diva dari kekacauan tersebut, bantuan itu tidaklah gratis. Sang konglomerat menuntut Diva membayar jasanya dengan cara yang tidak terduga, yaitu bersedia menjadi tunangannya.