APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Memilihku

Ketika Cinta Tak Memilihku

Dua saudara yang bertetangga menghadapi kenyataan pahit setelah pasangan masing-masing kembali dari ibu kota. Awalnya, kedekatan antara suami sang adik dan istri sang kakak dianggap biasa. Namun, kejanggalan mulai terasa seiring sikap mereka yang kian intim. Kecurigaan pun tumbuh di antara kedua bersaudara ini. Kini, mereka harus berhadapan dengan teka-teki pengkhianatan yang mengancam keutuhan rumah tangga keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mas Tirta? Kenapa dia menerima telepon di sini? Tanyaku dalam hati.

"Oke. Selamat malam, ya," Ucapnya lembut sebelum menutup sambungan telepon. Hanya itu saja yang terdengar dalam telinga ini.

Aku berbalik sebelum ia sempat melihat, buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Berusaha menguasai diri untuk bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apapun. Meski rasa penasaran mengalun deras di dasar hati.

Wajah tampan itu kembali dengan membawa senyum lebih lebar dari sebelumnya. Aku menyambut, meski benak mulai bertanya. Apa penyebab senyum lebar itu? Diriku, atau hasil dari ujung telepon tadi?

Mas Tirta masuk ke kamar mandi tanpa meletakkan gawainya terlebih dahulu. Semakin menguatkan pikiran negatif ini, sejak kapan ia berubah jadi selalu mementingkan gawai saat di rumah?

Untuk mengurangi perasan tak nyaman ini, tanganku iseng membuka gawai yang sejak sore tadi tergeletak begitu saja di atas meja. Menggulirkan layar ke atas dan ke bawah, tetap saja tak ada yang menarik.

Jemari ini kembali iseng, tak sadar membuka akun WhatsApp Mas Tirta, di bawah foto profil itu tertera tulisan, online. Apa? Aku mendelik, segera keluar dari akunya, dan kukembalikan lagi. Tetap masih online.

Apa yang dilakukan Mas Tirta di dalam kamar mandi sana? Mengapa ada tanda online pada akun WhatsAppnya? Pertanyaan ini, menggiringku untuk membuka akun lain. Mbak Kirana, wanita itu juga sedang online. Lalu, Mas Catra. Ia juga online. Apa yang sedang mereka lakukan?

Aku terkesiap dan mengembalikan gawai ke atas meja, ketika pintu kamar mandi tebuka, dan Mas Tirta keluar dengan wajah lebih segar. Ia mendekat dan menyusul naik ke atas pembaringan yang mendadak terasa kurang nyaman.

Mas Tirta mengulum senyum tipis sebelum membentangkan selimut untuk menutupi badan kami. Netra ini menatap awas pada wajah berbias bahagia itu, membuat benak ini kembali bertanya. Sebahagia itukah ia berkumpul denganku dan Bagas?

Tatapan ini terus mengiringi wajah mendekat, lalu hidung mancung itu menyentuh lembut kening ini. Aku terkesiap, ia kembali tersenyum ketika mengangkat wajahnya.

"Udah malem, tidur yuk," Ucapnya. Lantas membawa bahu yang masih bersandar di ujung ranjang, untuk ikut bersamanya.

Ia melekatkan tangan kanannya pada pinggang ini, sementara aku terlentang. Menatap nanar ke atas yang tak terlihat jelas karena lampu tidur redup kebiruan. Mas Tirta sebenarnya masih sama. Masih bersikap hangat. Hanya saja entah mengapa benak ini disergap rasa curiga?

Hembusan nafasnya terasa meniup dingin di dekat keningku. Semakin lama, deru nafas itu semakin bergerak teratur. Mas Tirta telah terbuai di alam mimpi.

***

"Mas, makanan udah siap. Sarapan, yuk," Aku membuka pintu kamar, menatap penuh tanya pada Mas Tirta yang sudah rapi. Ia tersenyum melihatku di sini, berjalan mendekatinya.

"Mas udah rapi. Mau kemana?" Tanyaku penasaran.

"Aku ke Pacitan bentar, ya. Ada urusan mendadak," Jawabnya sambil merangkul pundak ini, berjalan melewati pintu menuju dapur.

"Kamu masak apa? Wah, nasi goreng. Enak banget nih, kayaknya," Celoteh Mas Tirta ketika kami sudah berdiri di depan meja makan. Wajahnya berbinar memandangi tiga piring nasi goreng yang masih diselimuti asap. Sengaja pagi ini aku membuatkan menu kesukaannya. Bibir ini hanya menyunggingkan senyum tipis menanggapi ucapannya barusan.

"Bagas belum bangun?" Tanya Mas Tirta sambil menarik kursi, siap di depan piringnya.

"Udah tadi. Aku panggil dulu, ya," Ia mengangguk. Sebelum aku berbalik arah untuk melangkah, sempat terlihat tangan Mas Tirta mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya.

Tak ingin terlihat ingin tahu, aku melanjutkan langkah menuju kamar Bagas. Bocah tiga tahun itu masih meringkuk memeluk guling dengan botol susu memenuhi mulut mungilnya. Kebiasaannya selama ini, sejak disapih dari ASI, teman tidurnya adalah botol susu.

Kubelai rambut hitam lurus turunan Mas Tirta itu, lalu menciumi keningnya. Bocah polos itu hanya menggeliat tanpa melepas botol susunya. "Makan, yuk," Ajakku.

Ia hanya melirik sekilas, tetapi ada binar ingin tahu dari wajah tenangnya. "Aku dimasakin apa?" Tanya Bagas tak jelas karena mulutnya masih dijejali botol. Membuatku tersenyum lucu sambil menggeleng samar.

"Nasi goreng sosis kesukaan Bagas. Tuh, Ayah udah nungguin di sana,"

Bagas mendongak, melepas botol dan dilempar ke arah sembarangan di atas kasurnya. Lalu duduk dengan cepat, "Ayah?" Ia berseru, seperti baru tersadar bahwa Bapaknya sudah berada di rumah sejak kemarin sore.

Aku mengangguk cepat, lalu menyusul bagas yang sudah meloncat, berlari keluar kamar menuju dapur. "Ayah!" Masih kudengar teriakannya ketika sudah berada di dapur.

"Hai, jagoan Ayah," Balas Mas Tirta meletakkan gawai di atas meja, ketika aku menyusul mereka duduk di depan meja.

Bagas sudah merangkul leher bapaknya, cekikikan geli akibat diciumi oleh sang Bapak. Mengembun mata ini melihat pemandangan langka yang tersaji di pagi hari. Jika saja pemandangan indah ini bisa kulihat setiap pagi. Ah, tetapi lagi-lagi desakan ekonomi yang tidak mengizinkannya.

"Makan, yuk. Ayah yang suapin ya?" Bagas nampak manggut-manggut dengan wajah berbinar. Lalu membuka mulutnya lebar-lebar ketika sendok di tangan Mas Tirta mendekatinya. Namun, berteriak melengking sambil menggoyangkan kaki, ketika sendok itu ditarik lagi oleh Bapaknya.

Bagas kembali membuka lebar mulutnya, dan kejadian tadi terulang lagi. Ia berteriak kencang akibat dikerjai Bapaknya, "Ayah, jadi nyuapin nggak, sih?" Bocah itu bergumam kesal.

Tak lama, mereka tertawa-tawa sambil suap-suapan. Aku tersenyum bahagia melihat kedua jagoan terpenting dalam hidup itu. Pagi ini, kami hanyut oleh suasana sarapan yang langka. Tak mesti bisa dilakukan setahun sekali.

Mas Tirta dan Bagas selesai makannya hampir bersamaan. Usai meminum air putih, nampaknya bocah itu baru menyadari penampilan Bapaknya yang hendak kepergian.

"Ayah mau kemana?" Tanya Bagas dengan wajah polosnya.

"Hari ini Ayah mau ke Pacitan bentar, ya. Bagas di rumah aja temenin Ibuk. Nanti Bagas pengen dibelikan apa?" Mas Tirta membujuk. Setelah agak tertegun karena mendengar bapaknya yang hendak pergi, wajah itu kembali cerah ketika ditanya ingin dibelikan apa.

"Es krim, Yah, " Ia berseru sambil mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi.

"Sip!" Mas Tirta mengacungkan jempolnya, lalu mencolek hidung bangir milik Bagas yang kemudian tergelak.

"Nanti Ayah bawain yang jumbo. Tapi Bagas harus di rumah ya, temenin Ibuk,"

"Siyyaap!" Bocah itu berseru dengan berhormat, entah menirukan siapa.

"Tos dulu, dong,"

Ketika kedua telapak tangan berbeda ukuran itu beradu, gawai Mas Tirta yang ada di atas meja meraung keras. Ia menoleh, segera meraih benda pipih itu dan menempelkan di telinga.

"Iya," Sapaan Mas Tirta pada seseorang di seberang telepon. Tak terdengar suara apapun, meski telinga ini berusaha mempertajam pendengaran. Entah ia berbicara dengan siapa.

"Iya. Aku akan segera ke sana," Ia menjauhkan gawai dari telinganya. Lalu kembali tersenyum pada anak semata wayangnya itu.

"Ya udah. Ayah berangkat dulu, ya," Bocah itu mengangguk menjawab ucapan dari bapaknya. Mas Tirta berjalan menuju pintu dan kami mengantarkan hingga di teras depan.

Ia menyalakan motor yang biasa kugunakan untuk pergi kemana-mana. Lalu bergerak keluar pekarangan rumah. Ketika kami hendak berbalik masuk ke dalam rumah, ada motor lagi yang berhenti di halaman.

"Mas Catra?" Sapaku pada sosok yang baru datang itu. Ia membawa wajah semrawut mendekati kami di depan pintu.

"Suamimu tadi mau pergi kemana?" Tanya Mas Catra tanpa basa-basi. Tak ada senyum sama sekali di wajah teduh dan penyabar itu. Aku yang semula mendelik dengan pertanyaannya, segera tersenyum. Mungkin mereka tadi sempat berpapasan di tengah jalan.

"Mas Tirta mau ke Pacitan Mas, ada urusan mendadak katanya," Jawabku enteng. Namun, wajah Mas Catra nampak semakin tak enak di lihat. Membuat benak ini terlintasi pikiran aneh.

"Sama siapa dia?"

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Pesona fisik yang menawan dan tubuh proporsional justru membawa petaka bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Walau telah membina rumah tangga masing-masing, pernikahan mereka tak luput dari cobaan yang menerpa. Keindahan rupa mereka malah memicu konflik pelik yang mengoyak keharmonisan keluarga. Sanggupkah tiga saudara perempuan ini bertahan melewati badai rintangan yang terus menguji kesetiaan dan kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan, pebisnis dingin tanpa ampun, terusik saat Yezi kembali ke hidupnya. Merasa diabaikan oleh wanita blasteran Jepang-Indonesia itu, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal pada ayah Yezi. Tak gentar, Yezi membalas ancaman tersebut menggunakan rekaman rahasia dari tiga tahun lalu. Di balik arogansi dan persaingan bisnis yang sengit, ada rahasia besar masa lalu yang mengikat mereka berdua.
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahan kontraknya dengan Jordan Wijaya akan selesai lewat perceraian. Namun, sikap dingin Jordan lenyap setelah menikah, berubah menjadi sangat posesif dan suka memanjakannya. Sanny terjebak ketika Jordan melanggar kesepakatan dengan menuntut hubungan intim hingga dirinya hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang telah dirobek, Jordan menolak keras untuk melepaskan istri yang kini sangat ia pertahankan.
Sampul Novel Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik
7.9
Setelah menuntaskan aksi balas dendam terhadap mantan kekasih dan sahabat yang mengkhianatinya, Diva Gantari justru terjebak dalam situasi rumit. Akibat salah masuk toilet pria, ia bertemu dengan Elvan Sabil, seorang CEO berkuasa dari perusahaan multinasional raksasa. Meski Elvan menyelamatkan Diva dari kekacauan tersebut, bantuan itu tidaklah gratis. Sang konglomerat menuntut Diva membayar jasanya dengan cara yang tidak terduga, yaitu bersedia menjadi tunangannya.