APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Aku Menjadi Ibu Susuan Profesional

Ketika Aku Menjadi Ibu Susuan Profesional

Memiliki produksi ASI yang berlebih membawa berkah sekaligus perubahan besar dalam hidup seorang wanita. Ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai seorang ibu susuan profesional. Pada awalnya, ia mengira tanggung jawabnya hanya sebatas memberikan ASI dan menyusui bayi yang membutuhkan. Namun, kenyataan yang ia hadapi di lapangan ternyata jauh lebih rumit dan tidak sesederhana bayangannya. Berbagai rahasia dan dinamika hubungan baru mulai mengubah arah hidupnya secara tidak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Entah karena kecewa, aku mulai memandangi Dimas lebih saksama.

Dia mengenakan setelan jas mewah model slimfit buatan desainer ternama, menonjolkan tubuh atletisnya, dengan garis otot yang jelas terlihat hasil dari latihan rutin bertahun-tahun. Ditambah sikapnya yang hangat dan sopan, setiap gerak-geriknya memancarkan aura kemewahan. Belum lagi, matanya yang dalam dan wajahnya yang tampan…

Tiba-tiba, bayangan suamiku muncul di benakku…

Suamiku pemarah dan tidak sabaran. Sejak punya anak, dia hampir tak pernah di rumah seharian. Kalau pulang, tubuhnya selalu bau alkohol. Tiap kami bercinta, perutnya yang buncit selalu jadi penghalang di antara kami.

Jika dibandingkan, kami bak langit dan bumi.

Saat itu, aku mulai bertanya-tanya, apa yang membuatku dulu jatuh cinta pada Ragil?

Aku menghela napas panjang dan berkata, “Pak Dimas, boleh aku tahu di mana bayinya?”

“Mari ikut aku,” jawabnya. Suaranya seperti magnet, begitu menggoda!

Wajahku memerah. Aku mengikuti Dimas dari belakang. Mataku tertuju pada tubuhnya yang berbentuk “V” sempurna. Tanpa sadar, aku menelan ludah, lagi-lagi kagum betapa sempurnanya dia.

Pikiranku melayang, terlintas imajinasi liar, membayangkan sensasi saat dia menindihku di ranjang dan menggila bersamaku sekali saja.

Dimas membawaku ke kamar bayi. Di dalam, bayi itu digendong pengasuh, dibujuk dengan suara lembut, tapi tetap menangis kencang. Rupanya dia sangat lapar.

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, lalu tersenyum sambil menggendong bayi itu.

“Halo, aku ibu susuannya. Berikan dia padaku.”

Mungkin karena mencium aroma ASI dariku, si bayi terus membuka mulutnya dan meronta-ronta ke arah dadaku. Ketika aku melihat Dimas, pipiku langsung memerah.

“Silakan, aku akan tunggu di ruang tamu.”

Mungkin melihat kecanggungan di wajahku, Dimas tersenyum dan berbalik pergi. Sikapnya itu membuat kesanku padanya semakin baik.

Aku duduk di kursi sambil menggendong bayi, menurunkan kerah untuk memperlihatkan payudara yang penuh, lalu mulai menyusui. ASI-ku melimpah meskipun sudah terpakai untuk anakku sendiri.

Melihat bayi itu menyusu dengan lahap, dengan ujung mulutnya yang masih tersisa sedikit cairan putih, rasa sakit di payudaraku perlahan menghilang. Payudara yang tadinya keras, kini terasa lembut. Akhirnya aku merasa nyaman...

Namun entah kenapa, saat menyusui, aku terus merasa ada tatapan panas ke arahku. Aku menoleh ke pintu beberapa kali, tapi tak melihat siapapun yang mengintip. Aku mengerutkan kening, bingung. Apa aku hanya berhalusinasi?

Setelah kenyang, bayi itu pun tidur nyenyak. Aku membaringkannya perlahan di ranjang bayi.

“Maaf, apa sudah selesai?” Suara Dimas terdengar dari pintu saat aku baru saja merapikan kerah baju.

Aku mengangguk pelan, lalu menjawab, “Silakan masuk, Pak Dimas.”

Dimas melangkah masuk. Dia menatap si kecil yang pulas, lalu tersenyum.

“Terima kasih, kalau bukan karena kamu, entah bagaimana jadinya si kecil tadi.”

Aku tersipu, menggelengkan kepala.

“Nggak masalah, Pak Dimas. Memang sudah menjadi tugasku.”

“Baik, aku akan kasih bayaran hari ini terlebih dahulu,” ucap Dimas sambil membuka ponselnya dan men-transfer uang enam ratus ribu kepadaku.

“Kita bertemu lagi besok, di waktu yang sama, ya.”

“Terima kasih, Pak!” ucapku dengan tulus.

Dimas tak hanya berwibawa dan menawan, tapi juga murah hati. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Itu sudah hakmu. Bukannya kita sudah sepakat soal harga di awal?”

Aku mengangguk kuat. Namun, payudaraku yang lembut ikut bergetar. Dua ujung payudara yang kencang membuat kemejaku membentuk lengkungan indah. Saat ujung payudaraku menggesek kemeja, tubuhku bereaksi tiba-tiba.

Sensasi itu datang lagi!

“Ehm... Pak Dimas, kalau nggak ada urusan lain, aku mau pamit.”

Untuk menutupi rasa malu, aku sengaja buru-buru pergi.

Belum sempat aku selesai memakai sepatu, tubuhku terhuyung dan jatuh ke dalam pelukan yang kuat dan hangat.

Tanpa kusadari, tanganku menyentuh sesuatu yang panas melalui celana tipisnya.

“Pak Dimas… Bapak…” Aku kaget menatapnya.

Dimas hanya menatap lembah di antara dadaku. Wajah tampannya yang tegas tampak dingin namun memikat. Dia menelan ludah, tatapannya penuh nafsu. Aku merasa canggung, menundukkan leherku sebentar.

Aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, tapi perbedaan kekuatan antara pria dan wanita membuat usahaku tampak seperti menolak, sekaligus menggoda. Satu tangannya melingkari pinggangku, sementara tangan yang lain menyentuh dadaku yang berisi.

Gawat… celana dalamku sepertinya sudah basah...

Aku panik dan berusaha bangkit.

“Jangan, Pak Dimas! Aku… pekerjaanku cuma menyusui anak Bapak…”

Aku tergagap, tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh pun. Saking gugupnya, aku sampai bisa mendengar detak jantung sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
7.9
Demi membersihkan nama baik sang adik yang tewas dalam fitnah, Aldian menyelidiki seorang guru bereputasi bersih yang ternyata menyimpan rahasia kelam. Di tengah misi balas dendam itu, ia bertemu Aluna, putri guru tersebut yang hidupnya tertekan oleh ambisi sang ibu. Meski awalnya berniat memanfaatkan Aluna, Aldian menyadari gadis itu juga memendam luka yang sama. Kini, ia bimbang antara menuntaskan dendamnya atau memilih cinta yang tumbuh di tengah kebenaran pahit.
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
8.9
Pernikahan rahasia Risa selama delapan tahun kandas setelah Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan pergi dari restoran mereka. Dengan angkuh, Teguh mengusir Risa dan Heru, adiknya, demi sang selingkuhan. Namun, kehancuran bisnis akibat ulah Selia memaksa Teguh menyusul Risa ke Swiss demi mengemis maaf. Kini, Risa yang telah bangkit siap membongkar kebenaran pahit masa lalu dan membiarkan Teguh tenggelam dalam penyesalan.
Sampul Novel Not Friend's With Benefit
8.3
Dua tahun lamanya Fernanda menjalani hubungan fisik tanpa status cinta dengan Daniel. Meski Daniel tulus mengasihinya, trauma akibat kegagalan tunangan masa lalu membuat Fernanda menutup rapat hatinya. Di bawah tekanan sosial dan ambisi menyenangkan orang tua, ia terus mengabaikan ketulusan Daniel. Namun, sebuah konflik pelik akhirnya menyadarkan Fernanda akan arti penting pria itu. Ini kisah perjuangan menyembuhkan luka batin demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Sang Taipan Berdarah Dingin
7.9
Setelah tujuh tahun menjalani latihan keras, Arabella kembali untuk membalas dendam. Kemarahannya memuncak saat melihat bibinya bergelimang harta sementara kembarannya menderita. Mengandalkan kecerdasan luar biasa, ia menghancurkan bisnis sang bibi dan melindungi saudaranya dari perundungan. Sempat dipandang sebelah mata, jati dirinya terungkap ketika keluarga elite dan laboratorium nasional menyanjungnya. Asher, taipan kejam, justru terpikat dan mulai mengejar cinta si jenius.
Sampul Novel Shalawat Cinta
9.5
Demi menikahi lelaki idaman, Alisa nekat menolak perjodohan. Malangnya, pernikahan itu hancur karena obsesi adik ipar yang mencintai suaminya. Tragedi memilukan tersebut bahkan merenggut satu kaki Alisa saat persalinan. Di masa terpuruknya, hadirlah Dewa yang senantiasa mendampingi dengan setia. Kisah ini mengulas perjuangan penuh air mata saat cinta sirna, sekaligus upaya menyatukan kembali sisa-sisa kasih yang tersisa.
Sampul Novel Terlalu Lelah Untuk Bertahan
7.9
Demi menyambung hidup anaknya, Liana terpaksa mengais sisa makanan di pasar. Alih-alih dibantu, ia malah diberi nasi basi oleh Nina, sang mertua yang kejam. Penderitaannya kian lengkap akibat sikap dingin Damar, suaminya yang justru menuduhnya sebagai penyebab masalah keuangan keluarga. Di tengah kelaparan dan kepedihan mendalam, Liana sadar harus keluar dari lingkaran ini. Rasa lelahnya kini berubah menjadi tekad kuat untuk bangkit demi masa depan sang buah hati.