APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketagihan Ibu Tiri

Ketagihan Ibu Tiri

Kisah romansa modern khusus pembaca dewasa ini menyajikan narasi mendalam yang penuh emosi dan intrik. Alur ceritanya secara berani mengeksplorasi kompleksitas serta gairah dalam dinamika hubungan kontemporer. Melalui konflik yang memikat dan penggambaran karakter yang kuat, pembaca akan diajak menyelami sisi lain dari sebuah ikatan yang tidak terduga. Sebuah karya fiksi yang emosional sekaligus menantang.
Bab
Bagikan

Bab 3

Lalu aku tarik pinggang Tito dan meraihnya ke atas tempat tidur, sementara tanganku tetap memegang penis tegang dan hangat ini. Supaya leluasa, kutanggalkan celana dalamku, kemudian kusuruh Tito pun melepaskan celana dalamnya.

Dalam keadaan sudah sama-sama telanjang bulat ini, tiada lagi rahasia di antara fisik kami. Lalu aku merebahkan diri, menelentang sambil tersenyum kepada anak tiriku yang tampak masih sangat canggung itu. Dan kuraih badannya ke atas dadaku sambil berkata, “Ayolah... katanya ingin mencium bibir mami.”

Tito yang sudah telungkup di atas dadaku spontan menjawab dengan tindakan. Dengan ganas ia mencium bibirku dan kusambut dengan lumatan dan pelukan bergairah.

Dan penis Tito yang sudah tegang itu terasa menempel ke kemaluanku. Ini membuatku bergairah untuk memegangnya. Aah...benar-benar dahsyat batang kemaluan anak tiriku ini. Membuat napsuku makin menggila. Rasanya ini penis yang sangat aduhai. Panjang besar, ereksinya pun sempurna. Benar-benar keras, tidak seperti penis ayahnya. Maklum ayahnya sudah tua, sementara Tito masih sangat muda.

Dan aku tak sabar lagi. Aku ingin segera menikmati gesekan penis yang sempurna ereksinya ini.

Maka diam-diam kutarik penis Tito, sampai agak membenam ke liang vaginaku yang sudah membasah ini. Lalu kataku, “Kalau mau ngemut vagina mami nanti aja di rumah ya. Supaya kamu bisa sepuasnya menjilati vagina mami. Sekarang dorong aja penisnya biar masuk.”

“I...iya Mam....” sahut Tito dengan napas memburu. Lalu terasa batang kemaluan aduhai itu mendesak kuat ke dalam liang vaginaku yang sudah licin oleh lendir birahiku ini.

“Ooooh... sudah masuk sedikit To.... iiiiyaaaa.... dorong lagi.... ooooh......” desahku sambil memeluk leher anak tiriku.

Benar-benar mantap....batang kemaluan yang sangat tegang dan gagah ini sudah masuk setengahnya. Membuat desir birahiku makin menggila. Bukan main rasanya baru dibenamkan separuh saja sudah menimbulkan nikmat yang begini dahsyatnya.

Spontan saja pahaku membuka selebar-lebarnya, seolah mengucapkan selamat datang buat sebentuk penis perkasa yang siap memuasi hasrat birahiku.

“Iya...ayun dikit-dikit...” bisikku.

“Ayun?” Tito tampak bingung.

“Iya, masukin dikit-dikit nanti lama-lama juga masuk semua,” bisikku sambil memeluk pinggang Tito.

“I...iya Mam...” sahutnya sambil melakukan perintahku.

Awalnya seperti ragu-ragu menggerak-gerakkan penisnya. Tapi akhirnya ia mulai mengayun penisnya dengan benar. Maju mundur, maju mundur, maju mundur...dan makin lama penisnya makin dalam membenam ke dalam liang kemaluanku.

Disusul dengan suara Tito yang tersendat-sendat dan bergetar, “Duuuh...Maaaam.... duuuuuuh....enak banget Mam....”

Kusambut dengan pelukan erat di pinggang Tito, dengan kecupan-kecupan penuh nafsu di pipinya, di bibirnya...aaah....tahukah dia bahwa sebenarnya aku pun tengah merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa saat ini?

Namun sayangnya, baru sebentar Tito mengayun penisnya, tiba-tiba ia menahan napasnya, lalu mendengus...dan terasa penisnya menyemprot-nyemprotkan cairan hangatnya. Aaah...dia sudah ejakulasi. Padahal aku belum apa-apa.

Tapi aku memakluminya. Yah, maklum ia belum berpengalaman. Dan mungkin tadi ia terlalu bernafsu, sehingga tak kuasa mengontrol diri lagi. Biarlah...aku yakin ia bisa dengan cepat dibangkitkan lagi.

Aku tak mau protes dengan ejakulasi prematurnya Tito. Takut nanti jadi beban negatif baginya. Tapi aku belum puas. Tadi baru pemanasan dan belum mencapai orgasme satu kali pun. Maka dengan cara yang terlatih, kugenggam penis Tito dan kuremas-remas dengan lembut.

Sesekali kuelus moncongnya…mulai menegang lagi sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku ingin mengulum dan menyelomotinya. Tapi aku takut terkesan seperti wanita nakal. Terutama karena cowok yang sedang bersamaku ini adalah anak tiriku sendiri.

Lagian cowok seremaja Tito tak perlu "terapi" yang terlalu ekstrim. Dengan elusan dan remasan pun sudah tegang lagi.

2. Ketagihan

"Barusan cepat sekali ya Mam," kata Tito waktu kudorong dadanya sampai terlentang. Dan aku berjongkok dengan kaki di kanan-kiri pinggul Tito.

"Biasa… yang pertama mah biasanya begitu. Tapi kan kita bisa lanjutkan ke ronde kedua, ketiga dan seterusnya," sahutku sambil tersenyum.

Sementara tanganku memegang penis Tito yang sudah ngaceng berat, moncongnya kuarahkan ke mulut vaginaku. Tito diam saja. Aku pun menurunkan pantatku, sehingga penis Tito mulai terbenam lagi di dalam liang kewanitaanku.

Sekarang aku yang aktif, menaik turunkan pinggulku, sehingga kenikmatan pun kurasakan lagi, kenikmatan pergeseran penis Tito dengan dinding liang kewanitaanku. Tapi aku tak mau aktif sambil jongkok begini. Lalu aku menjatuhkan dadaku ke atas dada Tito dan melanjutkan gerakan vaginaku sambil merangkul leher anak tiriku yang tampan ini.

Tito tampak keenakan dengan aktivitasku. Bahkan ia mulai aktif juga. Pada waktu vaginaku maju, ia pun mendesakkan penis gagahnya. Dan pada waktu vaginaku mundur, ia pun menarik penisnya. Aaaah…tak kusangka akan mengalami semuanya ini. Sesuatu yang indah sekali, yang sulit kudapatkan dari suamiku.

Ketika bibirku bersentuhan dengan bibir Tito, reaksinya pun spontan. Ia bahkan melumat bibirku dengan mesranya. Sementara kedua tangannya melingkar di pinggangku, memelukku dengan erat dan mesranya.

Kali ini Tito mulai terasa tangguh. Sudah setengah jaman aku mengayun vaginaku di atas perutnya, belum juga terlihat tanda-tanda ia mau ngecrot. Malah keringatku mulai membasahi leher dan pipiku.

"Duuuh….gantian kamu yang di atas lagi ya," kataku sambil menggulingkan tubuh ke samping dan berusaha agar penis Tito jangan sampai terlepas dari jepitan vaginaku.

"Ayo…sekarang kamu yang genjot lagi," kataku setelah aku terlentang dan Tito berada di atas dadaku.

"Iya Mam…" sahut Tito dengan penuh semangat.

Tito sudah mulai lancar menggauliku. Batang kemaluannya mulai mantap memompa liang kewanitaanku. Aku pun sengaja merentangkan kedua pahaku selebar mungkin, supaya batang kemaluan Tito bisa membenam sedalam mungkin.

Bahkan terasa berkali-kali moncong penisnya menyundul-nyundul mulut rahimku. Ini membuatku terpejam-pejam dalam nikmat, membuatku tiada hentinya merintih-rintih lirih sambil meremas-remas rambut anak tiriku yang tampan ini.

Tak lama kemudian aku merasa akan mencapai titik orgasme. Lalu kubisiki telinga Tito,

"Cepetin gerakannya…. iya…. iya… nah gitu…. Mami mau nyampe nih…. ayo… genjot terus sayang… Tito… oooh….Mami sayang sama kamu, Titooo….. ooooh… ooooooh…."

Akhirnya sekujur tubuhku mengejang. Aku menahan napas sambil menggeliat. Dan…. oooh… akhirnya aku mencapai puncak kenikmatanku…. yang membuat liang kewanitaanku mengedut-ngedut, lalu basah dengan lendir kenikmatanku.

Tito masih asyik mengayun batang kemaluannya, bermaju-mundur di dalam liang kewanitaanku yang sudah mencapai kepuasan. Kubiarkan saja dia aktif sendiri, sambil menghayati kenikmatan yang baru saja kurasakan.

Tapi beberapa menit kemudian gairahku bergejolak lagi. Aku seperti berpacu dengan waktu, ingin merasakan orgasme yang kedua. Selama ini apa yang kunikmati bersama Tito ini adalah sesuatu yang langka dalam hidupku.

Maka ketika Tito sedang lancar-lancarnya mengayun penisnya, aku pun mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dengan gerakan yang meliuk-liuk dan menghentak-hentak. Dengan sendirinya liang kewanitaanku seperti memilin-milin dan membesot-besot batang kemaluan anak tiriku. Sedangkan aku sendiri bertujuan agar clitorisku bisa bergesekan dengan kejantanan Tito.

Dan ini nikmat sekali rasanya. Keringat Tito pun semakin bercucuran bergalau dengan keringatku. Belasan menit kemudian kurasakan seperti mau orgasme lagi. Maka dengan terengah kuminta Tito mempercepat gerakan penisnya.

"Biar kita bisa meletus bareng-bareng…. pasti enak banget," kataku. Lalu kami seperti sepasang manusia kesurupan. Saling cengkram. Saling lumat bibir. Sampai akhirnya Tito merintih, "Aduh…Maaam….kayaknya mau ngecrot nih…."

"Iya sayang…" sahutku tersengal juga sambil mempergila goyangan pinggulku, karena aku tak mau sampai terlambat mencapai orgasme.

Lalu Tito mendesakkan batang penisnya sampai terasa mendorong ujung liang vaginaku. Dan saat itulah kami menggelepar bersamaan, menahan napas bersamaan kemudian sama-sama mendengus meledak di puncak kenikmatan yang tiada taranya.

“O, puasnya aku….”

Ketika mengenakan kembali pakaianku, Tito pun keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berpakaian lengkap. Dengan mesra kupeluk anak tiriku dan kutanya perlahan, "Enak?"

Malu-malu Tito menyahut lugu, "Sangat-sangat enak, Mam."

Maka kucium bibirnya mesra. Kataku, "Nanti di rumah kalau masih mau, Mami kasih."

"Bener Mam?" Tito tersenyum ceria.

"Iya sayang, mau berapa kali pun mami kasih. Sekarang kita pulang dulu yu. Bahaya rumah ditinggalin kosong malem-malem gini."

Tito mengangguk dan meraih kunci mobil dari meja kecil. Dalam perjalanan pulang, ketika Tito nyetir di tengah gelapnya malam, suasana perasaanku jadi jauh berbeda dengan sebelumnya. Tanganku tiada bosannya mengelus pahanya yang sudah ditutupi celana jeans. Bahkan terkadang kukecup pipinya dengan mesra.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
8.8
Setelah tiga tahun membina rumah tangga, pernikahan mereka justru berakhir di ambang kehancuran. Sang istri yang kini telah mencapai puncak kesuksesan memilih untuk mengajukan gugatan cerai. Dia memandang suaminya sebagai pria malas yang tidak berguna dan tidak lagi sepadan dengannya. Namun, wanita itu sama sekali tidak menyadari sebuah kenyataan besar bahwa seluruh pencapaian, kekayaan, dan kesuksesan yang ia banggakan saat ini sebenarnya adalah pemberian rahasia dari suaminya sendiri.
Sampul Novel Godaan Desah Majikan
8.1
Mengusung romansa modern yang provokatif, kisah dewasa ini sangat cocok bagi mereka yang pernah dikhianati dalam cinta. Alur emosionalnya menyoroti hubungan gelap antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi konflik utama. Cerita ini mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit diredam di tengah komitmen yang seharusnya dijaga erat.
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci demi menyatukan dua klan besar Jakarta hancur setelah aku memergokinya bermesraan dengan Angelia, gadis yatim yang diklaim sebagai adiknya. Menyadari diri ini hanya alat kekuasaan sementara cinta Marco milik wanita lain, aku memilih berontak. Kubatalkan pertunangan kami, lalu kuputuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami. Aliansi baru yang tak terduga kini resmi dimulai.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
8.0
Silvia Rahman, seorang wanita difabel, menyadari ketulusan Dion Kurniawan hanyalah dusta. Begitu pendengarannya pulih, ia mengetahui fakta keji bahwa Dion sengaja menghalangi kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Setelah dihina Dion di sebuah pesta dan nyaris tewas akibat tabrak lari oleh Arini, Silvia bertekad membalas dendam. Pada hari pernikahan mereka, ia menyiapkan rencana mematikan untuk membongkar kebusukan Dion sebelum menghilang dengan identitas baru.
Sampul Novel Menikahlah Denganku, Pak!
9.4
Dua kali gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi membuat Hanifa, seorang gadis dari keluarga terpandang, merasa sangat putus asa. Di tengah situasi sulit ini, ia mengambil langkah nekat dengan mengajak guru les privatnya menikah. Walau lamaran tak biasa itu langsung ditolak dan dianggap sebagai lelucon belaka, Hanifa tetap teguh pada pendiriannya. Akankah keputusan impulsif ini berujung manis, atau justru menjadi babak kegagalan baru dalam hidup Hanifa?