APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesepakatan Hati: Ibu Pengganti Untuk Anak CEO

Kesepakatan Hati: Ibu Pengganti Untuk Anak CEO

Kesulitan finansial untuk pengobatan langka sang ibu mendesak Kanaya mengambil langkah ekstrem. Ia sepakat menjadi ibu pengganti bagi keluarga kaya dengan imbalan besar. Meski berhasil menyelamatkan ibunya, Kanaya justru terjerat dalam asmara rahasia bersama Bastian, pria yang menyewa rahimnya. Menghadapi dilema batin atas anak yang dikandungnya, Kanaya harus mengambil keputusan besar yang mengubah takdirnya. Akankah hubungan rumit ini berakhir bahagia atau justru berujung perpisahan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kandidat Ibu Biologis

"Selamat Kanaya, kamu dinyatakan lolos seleksi Ibu pengganti."

Dokter Indra Wibisono, seorang Dokter endokrin dan fertilitas menjabat tangan Kanaya dengan senyum lebar di wajahnya.

"Terima kasih Dokter!"

Sejak dua minggu yang lalu, Kanaya telah menjalani serangkaian tes untuk menjadi ibu pengganti. Dan mendengar hasil tes itu, Kanaya merasa sangat senang.

Berita itu bagaikan embun yang turun di padang pasir, memberinya semangat dan harapan baru untuk kesembuhan ibunya.

"Sama-sama, Kanaya. Kami senang kamu mendaftar ke klinik kami. Sudah lama kami mencari seseorang dengan kriteria sepertimu," balas Dokter Indra dengan menghembuskan nafas lega.

"Namun ada satu hal yang saya ingin sampaikan terkait program bayi tabung ini, dan saya mengharapkan persetujuan darimu, Kanaya." Dokter Indra berkata dengan nada serius.

Persetujuan? Kanaya merasa ada hal lain yang ingin disampaikan oleh dokter itu.

"Apa ada masalah? Apa ini ada kaitannya dengan uang kompensasi yang saya minta?" Kanaya merasa was-was.

Apakah orang itu keberatan dengan uang dua puluh miliar yang ia minta?

"Begini Kanaya. Ada sedikit perubahan dalam kesepakatan kita." Dokter Indra menatap Kanaya dengan perhatian penuh.

Perubahan dalam kesepakatan? Perubahan apa?

"Untuk proses bayi tabung ini, bayi yang akan kamu kandung nanti bukan berasal dari sel telur orang lain.”

“Maksud Dokter, dari sel telur saya sendiri?” Kanaya membelalakkan matanya dengan terkejut.

Dokter Indra mengangguk. “Benar, Kanaya.”

“Tapi, kenapa?” Kanaya merasa heran.

Jika menggunakan sel telur miliknya, bukankah secara biologis anak itu adalah anak kandungnya dan bukan anak biologis orang yang membayarnya?

"Memang biasanya sel telur yang digunakan adalah milik orang yang menitipkan. Tetapi kali ini, hal itu tidak dimungkinkan. Yah, katakanlah sel telur orang tersebut tidak cukup kuat untuk melalui serangkaian proses ini.”

“Itu sebabnya, saya meminta persetujuan kamu, Kanaya. Jika kamu setuju, kita akan langsung memproses segala sesuatunya," papar Dokter Indra dengan cara yang lugas.

Kanaya menggigit bibirnya memikirkan perubahan kesepakatan itu.

Anak yang harus ia berikan kepada orang lain adalah anak kandungnya sendiri?

Dokter itu menarik nafas panjang sebelum berkata, "Mengenai kompensasi yang kamu minta,” ia menjeda.

“Mereka tidak keberatan. Asalkan, kamu setuju dengan kesepakatan ini,” sambungnya dengan tatapan penuh arti.

Kanaya balas menatap Dokter itu dengan bimbang dan ragu.

Mengapa ia merasa sangat berat memutuskan hal itu? Bukankah seharusnya ia merasa senang tujuannya bisa tercapai?

“Saya tahu apa yang kamu pikirkan dan kenapa kamu merasa berat menyetujuinya,” Dokter itu berkata setelah memberi Kanaya waktu untuk berpikir.

“Menyetujui hal ini, bukan berarti kamu menukar anakmu dengan uang. Sama sekali bukan,” Dokter Indra memberi tatapan dalam, meminta Kanaya untuk mencerna ucapannya.

“Cobalah berpikir dengan cara ini. Bahwa dengan melakukan ini kamu tidak hanya menolong ibumu, namun kamu juga menolong orang lain yang sangat mendambakan keturunan.”

Kanaya masih menatap dokter itu, ia masih membutuhkan sesuatu untuk meyakinkannya. Bagaimana dengan anak itu?

Seakan mengerti keresahan Kanaya, Dokter itu menjelaskan.

“Saya bisa memastikan. Anak itu akan hidup serba berkecukupan. Dia tidak akan kekurangan apa pun bahkan kasih sayang dari orang tua.”

Tatapan Dokter itu begitu meyakinkan seakan dia tahu persis bagaimana kedua orang suami istri itu akan membesarkan anaknya nanti.

“Siapa mereka?”

“Saya tidak bisa memberitahukanmu mengenai identitas mereka. Tetapi percayalah, mereka berasal dari keluarga yang baik dan berkecukupan. Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan.”

Mengamati tatapan mata dokter itu, Kanaya merasa dia tidak berbohong dengan ucapannya.

“Tidak mengetahui hal ini adalah jalan terbaik, demi kebaikanmu sendiri,” tambah Dokter itu dengan tatapan penuh arti.

Kanaya mengerti apa yang dokter itu maksudkan. Dengan tidak mengetahui identitas mereka, akan lebih mudah bagi Kanaya untuk memutuskan ikatan batin dengan anak yang ia lahirkan nantinya.

Setelah berpikir selama beberapa hari, Kanaya akhirnya menyetujui kesepakatan itu.

Kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Dan mungkin inilah satu-satunya harapan untuk kesembuhan ibunya.

Kanaya mulai menjalani proses awal mempersiapkan indung telurnya hari ini.

Ia harus menjalani serangkaian induksi hormon untuk meningkatkan kualitas sel telur miliknya.

Dokter Indra sendiri yang menanganinya langsung.

"Setelah ini langsung pulang dan beristirahat. Makan makanan yang bergizi dan jangan tidur terlalu malam. Boleh melakukan olahraga yang ringan, tetapi hindari melakukan aktifitas yang melelahkan," pesan Dokter Indra setelah mereka selesai dengan proses induksi pertamanya hari itu.

Kanaya mengangguk, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh dokter itu. "Terima kasih, Dokter."

Kanaya berjalan keluar dari klinik menuju sebuah gedung apartemen yang terletak hanya beberapa ratus meter saja.

Apartemen itu adalah fasilitas yang disediakan oleh klinik untuknya agar memudahkan tim medis program bayi tabung untuk memonitor perkembangan kesehatannya setiap saat.

Sebelum pindah ke apartemen, Kanaya sudah menitipkan ibunya ke rumah Bude Laila, kakak kandung ibunya.

Kanaya tidak menceritakan kepada siapapun jika ia menjadi ibu pengganti. Selain harus menjaga kerahasiaan program itu, ia juga tidak ingin menjadi beban pikiran ibunya.

Ia beralasan mendapat pekerjaan baru di luar kota dan meminta tolong kepada Budenya untuk menjaga ibunya selama ia tidak ada.

Tidak sampai sepuluh menit berjalan, Kanaya sampai di apartemennya.

Ia ingin mandi dan segera beristirahat, menghilangkan rasa letih dan penatnya setelah berbagai proses yang dilaluinya hari ini.

Baru saja Kanaya masuk ke dalam apartemen, ia merasa gatal-gatal. Rasa gatal itu seakan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Semakin ia menggaruknya, semakin ia merasa gatal.

"Aduh, kenapa gatal sekali? Ada apa ini?” Kanaya terus menggaruk bagian tubuhnya. Rasa gatal itu tidak tertahankan.

Keheranan Kanaya semakin bertambah tatkala melihat bercak kemerahan di lengannya yang sebelumnya tidak ada.

Merasa ada sesuatu yang tidak wajar, ia pun berjalan ke arah cermin.

"Ya ampun, kenapa ini?" pekik Kanaya dengan mata membelalak ketika mendapati kulit wajahnya memerah dengan ruam, dan bibirnya tampak membengkak.

Kanaya meremas dadanya, mulai merasakan sesak nafas. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?

Ia berusaha fokus menganalisa apa yang ia rasakan. Semua gejala ini… apakah— alergi?

Obat itu! Mungkinlah ia alergi pada obat yang disuntikkan padanya?

Hanya ada satu cara mengetahuinya.

Dengan susah payah ia meraih telepon genggamnya dan menghubungi Dokter Indra.

"Halo Kanaya?"

"Dok-ter…"

"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" suara Dokter Indra yang berada di ujung sambungan telepon itu terdengar khawatir.

Di ruangan kantornya di klinik Life's Blessing, Dokter itu menghentikan apa yang sedang ia kerjakan.

"Dok-ter sepertinya… saya… alergi…" Dengan nafas tersenggal-senggak ia mencoba memberitahu dokter itu.

Pikirannya mulai tidak fokus, pandangan matanya pun mulai terasa kabur dan nafasnya semakin terasa berat.

"Apa? Kamu yakin?”

"Dok-ter to--long sa-ya"

Kanaya merasa sulit sekali bernafas. Apakah ini saat terakhirnya? Lalu bagaimana dengan ibunya?

“Bertahanlah Kanaya! Bertahanlah!” Terdengar derap langkah cepat dan nafas Dokter indra yang memburu, sebelum telepon genggam itu terlepas dari tangannya yang gemetar.

Berkelebat wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit

Tidak! Ibu…

Aku tidak boleh mati! Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu?

Bertahanlah Kanaya, bertahanlah!

Bruk! Samar Kanaya mendengar suara pintu didobtak dengan kencang, lalu derap suara langkah kaki-kaki yang berlari semakin jelas terdengar.

"Kanaya? Kanaya!!"

Dokter Indra? Pandangan mata Kanaya kabur, namun ia melihat dua titik bergerak cepat ke arahnya.

"Dokter, to--long saya..." ucap Kanaya dengan suara yang tak lagi terdengar jelas.

Ia menggapaikan tangannya. Namun saat ia merasa seseorang telah meraihnya, pandangan matanya menjadi gelap. Gulita.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Yang Merebut Suami dan Anakku
9.4
Setelah delapan tahun pernikahan, sang suami nekat membawa selingkuhannya, Maudy, yang mengaku sakit kanker ke rumah. Sang istri dituntut menerima Maudy, bahkan putranya sendiri mengancam akan memutus hubungan jika ia menolak. Merasa dikhianati, ia memilih bercerai dan kembali merintis karier di industri desain hingga sukses. Ketika kebohongan penyakit Maudy terbongkar, mantan suami dan anaknya datang memohon dimaafkan, namun ia mengabaikan mereka demi prestasinya.
Sampul Novel Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
9.5
Hari pernikahan berubah kelam saat sang ibu wafat akibat syok melihat Ezra mengganti mempelai wanita dengan mitra bisnisnya, Naila. Di tengah duka, Ezra tetap memaksa prosesi berjalan dan menyuruhnya memasangkan cincin ke jari Naila. Menolak patuh, ia pergi membawa jasad ibunya. Ketika Ezra dan Naila merayakan pernikahan mereka di media sosial dengan sindiran, ia hanya membalas dingin. Namun, saat pulang membawa abu ibunya, ia mendapati keduanya tengah bermesraan di sofa rumah barunya.
Sampul Novel JANGAN NGAKU CANTIK
8.9
Kehidupan Flower Violetta, ibu tunggal menawan dari si kembar Alana dan Alena, mendadak rumit. Ia terjebak dalam hubungan gelap bersama dua pria, Andra dan Martin. Cinta segitiga ini memicu konflik besar, bahkan Flower harus menghadapi kemarahan para istri pelanggannya, termasuk Puspitasari. Di tengah kemelut perselingkuhan yang membara ini, Flower kini harus memilih siapa di antara Andra atau Martin yang paling layak menjadi sosok ayah bagi kedua putrinya.
Sampul Novel Lama-lama Jadi Cinta
9.5
Akibat perjodohan mendadak oleh orang tuanya, Rini Zaskia Putri terpaksa membina rumah tangga bersama Muhammad Andre. Di sisi lain, hatinya masih terpikat pada Bagaskara Agam, mantan kekasih yang dahulu terhalang restu keluarga. Kini Rini berada di persimpangan jalan, bimbang antara menjalankan bakti sebagai istri Andre atau terus memikirkan masa lalunya. Akankah ia berhasil melupakan Agam demi membuka hati untuk suaminya, ataukah perasaan lamanya justru takkan pernah pudar?
Sampul Novel Terjebak Cinta Bu Guru
8.2
Penyesalan membayangi Ryuga Daksa selama tiga bulan setelah melewatkan malam bersama Claudia di sebuah pesta. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Ryuga mengantar Aruna ke sekolah dan mendapati Claudia mengajar di sana. Namun, jalan Ryuga tidak mulus. Ia harus menghadapi rivalitas dari Dirga Disastra, murid Claudia yang juga jatuh cinta padanya. Siapakah yang akan dipilih Claudia, pria dari masa lalunya ataukah sang murid yang gigih?
Sampul Novel Warisan Rahasia Ayahku
7.8
Dunia Ravina Aleysha Pratama, dokter muda putri mantan Menteri Kesehatan, runtuh akibat kasus korupsi sang ayah. Di masa sulit ini, ia berhadapan dengan Darian Mahendra Arsatama, direktur rumah sakitnya yang kaku dan menuntut kesempurnaan. Interaksi penuh konflik di antara mereka berubah selamanya setelah sebuah malam impulsif terjadi. Kini, rahasia kelam keluarga mereka mulai terkuak, mengubah rasa benci menjadi jalinan asmara yang rumit.