APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kepentok Cinta Sang Idol

Kepentok Cinta Sang Idol

Nasib malang menimpa jurnalis bernama Adara. Ia dituduh menyebarkan gosip miring tentang aktor populer, Benard. Fitnah tersebut tak hanya membuat sang bintang murka, tetapi juga menyudutkan posisi Adara. Di tengah ketegangan konflik itu, getaran asmara perlahan tumbuh di antara keduanya secara tak terduga. Kini, Adara terjebak dalam dilema besar yang menguji profesionalitasnya: ia harus memilih antara mempertahankan karier jurnalistiknya atau mengikuti kata hatinya untuk mencintai Benard.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menjadi Idol bukanlah hal yang sangat mudah. Seperti yang dilakukan oleh Benard Djaya Aditya yang kini berprofesi sebagai Artis solo di agency MC Entertainment. Agency ini adalah salah satu perusahaan hiburan Seoul-Korea Selatan yang dibentuk oleh Robert Chan. Di sana terdapat beberapa artis solo dan grup, salah satunya adalah Benard yang lolos tanpa mengikuti audisi di beberapa kota. Itu semua tentunya membuat banyak yang mengaguminya.

Benard diambil Agency tersebut dari sekolahannya dikarenakan dia memiliki suara emas sejak kecil dan juga dirinya sering disorot di televisi sejak berusia 19 tahun. Maka dari itu, pihak Agency menyeret Benard untuk ikut debut.

Bukan hanya itu Benard juga mempunyai bakat, terutama tentang music. Wajahnya juga terlihat tampan dan mempunyai visual, alasan itu juga Agency menyukai pria tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Benard dijuluki penggemarnya dengan Raja Beruang, yang diambil dari namanya Benard-Bear.

Tap Tap Tap

Suara derap langkah mereka terdengar nyaring di lobi bandara. Saking sepinya, sampai-sampai dia merasakan kalau dirinya ini sendirian saja di bandara ini. Padahal tidak, dia sekarang bersama dengan Asisten Pribadinya yang bernama Ronald.

Langkahnya terhenti ketika terdengar suara teriakan dari sebrang sana. Sontak membuat Benard menoleh ke belakang, ternyata dugaannya benar banyak penggemar dan wartawan di belakangnya. 

"Benard!"

"Astaga," gumamnya. Penyamarannya sepertinya tidak ada gunanya.

Jujur saja, dirinya ingin bebas sehari saja dari serbuan dari penggemar dan juga wartawan. But it's free,

"Sehari saja mau sendiri bisa tidak sih?" gumamnya, dirinya langsung berlari keluar dari area bandara tersebut.

Kadang, dirinya merasa tertekan karena ulah sasaeng yang menurutnya sangat berlebihan. Dari menguntit ke dormnya sampai mengikuti sampai kamar mandi bahkan ke rumahnya sendiri.

"H-hei! Benard! Kau gila!" pekik Ronald spontan, melihat Benard yang berlari terlebih dahulu.

Benard terus berlari tidak peduli apa yang dikatakan Ronald barusan, dia terus mencari celah untuk bersembunyi dari penggemarnya itu. 

***

Seorang gadis yang berparas cantik dan memiliki tubuh kecil serta berambut pendek itu melangkah keluar dari restoran setelah selesai membeli makanan buat Ibunya pada siang hari itu. 

Adara menghentikan langkahnya, ketika melihat seorang pria tampan di seberang sana dengan berpakaian tertutup berlarian dari serbuan orang di belakang sana. 

Mata gadis itu dipicingkan, pria itu ternyata sedang dikejar sama kerumunan wartawan dan beberapa perempuan.

Adara sempat mengerutkan kening dan mengumpat, dia berpikiran kalau semua perempuan itu adalah kekasih atau mantan pria itu. Pikiran yang tidak masuk akal. "Apa mereka kekasihnya semua?"

"Ah, apa yang kau pikirkan Adara!" Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan hal-hal yang jelek.

Adara tidak ingin berpikir panjang, menaikkan bahunya, karena itu juga bukan masalahnya juga. Segera ia melanjutkan perjalanan pulang. 

Ternyata pria itu menyebrang ke arah Adara. Dan masih berlarian karena menghindar dari wartawan yang berada di belakangnya. 

Pria itu tidak melihat di depannya ada gadis yang sedang berjalan. Matanya membulat ketika ia akan menabrak perempuan itu.

"Awas!" teriak seorang pria tersebut dengan suara nyaringnya.

Adara menoleh ke belakang, matanya membulat ketika pria itu sudah akan dekat dengannya. Bagaimana pria itu sudah di belakangnya?

Brukk!!

"Aww!" pekiknya.

Adara terpental ke bawah sembari meringis kecil, sambil mengusap pantatnya yang sudah mendarat bebas di tanah sana.

"Ugh! Kalau jalan pakai mata dong! Tidak tau apa ada orang besar di depannya!" omel Adara dengan nada cepat, sambil berdiri pelan. Padahal tadi dia sudah menghindar, tapi pria itu tetap saja menabraknya, sangat menyebalkan. 

"Apa kau tidak punya mata hah!?"

"Ah maaf, aku dikejar tadi. A-ku buru-buru."

"Tidak mau, kau harus bertanggung jawab!"

"Hah! Ta--" 

"Benard!!!"

Ucapan pria itu terpotong saat ada salah satu penggemarnya memanggil namanya. Sontak pria itu menoleh ke belakang. Tentunya membuat pria itu sangat shock.

"Sial! Mereka masih mengejarku," umpat pria tersebut, lalu menatap Adara yang kini menatap tajam seakan dia mau berbicara. 

Tanpa berkata apapun Benard menarik lengan Adara untuk bersembunyi dari serbuan wartawan dan penggemar-nya itu, alhasil gadis itu mengikutinya.

"A--ah! Mau bawa ke mana, lepaskan tidak!" Adara terus memberontak, namun nihil kekuatan pria itu lebih kuat darinya.

"Hei! Kau salah bawa orang!" lanjutnya, sesekali melirik ke belakang.

"Diam, cerewet banget sih!" katanya sambil berlari. Adara yang tadinya memberontak kini terdiam saat melihat ke arah belakang.

Ternyata mereka masih mengikuti pria ini. 

Terus, apa masalahnya denganku? batin Adara sambil melirik pria yang lari bersama dengannya dengan penuh tanda tanya.

Padahal dia tidak saling mengenal. Nama, alamat, ah sudahlah mungkin dia cuma modus saja dengannya.

Tidak menghabiskan waktu lama, akhirnya dia terhenti di tempat yang jauh dari sana. Nafas mereka tidak beraturan, terlihat sangat jelas wajah kelelahan apalagi Adara. Karingat juga mulai keluar dari keningnya, mereka seperti baru lari marathon.

"Gila, itu kekasihmu semua," ucap Adara spontan, menunduk sekilas dengan nada polosnya. Adara melirik tangannya yang kini masih dicekal oleh pria tersebut.

"Lepas?!" 

"Hei! Enak saja. Mereka bukan kekasihku." Napas pria tersebut tersenggal-senggal. Lalu, melepaskan tangan gadis itu. "Sorry."

"Hei! Dikira aku gadis murahan gitu? kamu cuma minta maaf begitu saja?" Adara asal bicara begitu saat saat mendengar permintaan maaf dari Benard. Lalu menatap pria tersebut dengan tajam. 

Benard memicingkan matanya heran.

"Ya, terus? Lagipula cuma dipegang saja kan? Tidak akan hamil juga kan? Untuk apa aku harus bertanggung jawab!?" Benard meringis kecil, lalu memutarkan bola matanya.

Adara memicingkan matanya dengan wajah geli.

Dengan cepat dia menarik masker yang menutup wajahnya, dan topi yang dikenakan. Karena menurut dia seperti orang yang sok misterius.

"E-ehh!" Benard sontak shock saat Adara membukanya. 

"Kau mau mati ditangan mereka hah!" ucap Benard dengan nada tinggi. Adara terdiam sepertinya dia pernah melihat wajah ini? Tetapi dimana. Sedari tadi dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia masih bertanya-tanya dibenaknya.

"Kau saja, aku tidak!?" ucapnya dengan nada tidak santai. 

"Hei!" Benard memukul kening Adara dengan keras.

"Aws!"

"Apa yang kau pikirkan sekarang?"

"Ah ya, pasti kau berpikiran kalau aku tampan? Atau kau juga salah satu penggemarku yang--" ucap Benard sambil menunjuk kening Adara dengan sangat percaya diri. "Mengikutiku diam-diam?" cicitnya.

Adara membulatkan matanya saat pria itu menunjuk kening mulusnya, lalu dia melirik tangannya yang berada di dahinya.

"Hah? Apa kau bilang coba? aku tidak mendengar perkataanmu tadi," ucap Adara sambil mendekatkan telinganya. 

Benard melihat tingkah Adara langsung menahan pipinya dengan jari telunjuknya dan mendorongnya dengan cepat.

"Kau tuli ya?"

Adera membulatkan matanya lagi, ketika Benard berbicara seperti itu. 

Sial, batin Adara, ia tidak terima ketika Pria itu berbicara seperti itu. 

Sesekali melirik kaki milik Benard, tanpa disadari dia mendekat kearah Benard dengan memasang wajah sok manis. 

Benard yang mengetahui gerak-gerik Adara, lalu bertanya. "Mau apa? Benar kan perkataanku?" tebak Benard dengan sangat percaya diri. Adara tidak merespon. 

Lalu~

"Argh! Bodoh! Kakiku! Damn!" sontak Benard menjerit kesakitan saat kaki gadis itu melayang di kakinya. 

"Mampus!"

"Bagaimana rasanya enak kan? Heum?" tanya Adara sambil menjejerkan gigi putihnya. 

Tangannya dilipat di depan dadanya. Dia menaikkan kepalanya-sombong.

Benard menatap Adara tajam, tersenyum masam-lalu melangkah mendekatinya. Dia sangat gemas dengan gadis ini, tidak biasanya gadis diluar sana bertingkah seperti ini padanya.

"Lebih enak lagi kalau ...." Benard mendekati Adara dengan wajah jail. Sontak membuat gadis itu membulatkan matanya ketika Benard mendekatkan wajahnya. Tangan Adara mengepal menaikan ke atas untuk bersiap-siap menonjok wajah tampan Benard.

"Mau apa kau, hah!" tanya Adara dengan nada tinggi. Dia shock melihat pria tersebut mendekatinya tanpa alasan. Namun, Benard hanya menyunggingkan senyuman jahilnya.

"Melangkah sekali lagi, aku akan menendang masa depanmu," ancam Adara, kali ini dia sangat panik dan juga bingung harus melakukan apa. Tubuhnya sudah terpojokan di tembok, dia melirik ke samping lalu menatap Benard dengan tatapan was-was. 

Adara menegukkan ludahnya, dia berpikir aneh-aneh dengan pria misterius ini. 

Tangan Benard kini sudah berada di samping kepalanya. Wajah Benard sudah terpampang jelas di depan mata Adara.

"Kau penggemarku bukan? Atau seseorang sasaeng yang menyamar?" Benard menaikkan sudut bibirnya miris.

Beberapa kali, Adara menegukkan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan polos. Tidak hanya itu saja, dia juga menetralkan jantungnya saat Benard berada tepat di depannya.

"Are you serious? Jangan bercanda!" 

"Astaga, ini orang sudah gila ya?" batin Adara.

"Kau berpura-pura bodoh di depanku kan?" lanjutnya. 

"Aku tidak bercanda, aku ...."

"Aku bahkan tidak mengenalmu!"

"..."

"Eh, sebentar. Diam!"

"Kau mirip dengan--?" ucapan Adara menggantung, matanya dipincingkan, ia melihat wajah Benard dengan jelas. Ia masih ingat waktu pertama kali ia masuk ke kantor, dan kemungkinan Benard adalah orang yang sama.

"Ceo di perusahaan Satria Garuda bukan?! Kau sudah menolakku waktu itu."

Benard terdiam dia memikirkan apa yang dikatakan sama wanita ini. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Adara. Memang dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Apa maksud dia? batin Benard.

"Tidak mau mengaku juga heum?!" Adara menunjuk-nunjuk wajah Benard, benard tidak merespon gadis itu lalu menepis tangan Adara.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelum ini," ucap Benard dengan desisan, sesekali melirik ke sekitar untuk melihat keadaannya. 

"Aish, kau amnesia atau bagaimana hah?"

"Sepertinya kau salah orang," ujar Benard.

Benard membenarkan posisinya dengan berdiri dengan benar. Dia menghela nafasnya dengan lega, lalu memutarkan bola matanya dengan jengah. Bagaimana bisa dia bertemu dengan gadis bodoh seperti Adara. 

"Tidak, aku tidak salah orang! memang iya aku pernah bertemu denganmu sebelum ini." Adara tidak mau kalah, karena ia benar-benar pernah melihat pria ini di kantor yang pernah ia masuki, tapi ditolak karena penulisan Cv kurang tepat itu saja, kecewa sudah pasti tapi bagaimana lagi.

Benard mengepal tangannya dengan gemas. "Terserah kau, intinya aku tidak pernah bertemu denganmu," ucap Benard, diiringi dengan senyuman tipisnya lalu meninggalkannya gadis itu sendirian di sana. 

Adara berkedip polos, pipinya digembungkan seperti ikan.

"Sepertinya salah orang, tapi memang dia kemarin ih!" sorot mata Adara masih ke arah punggung Benard yang semakin lama semakin menghilang. 

"Siapa namanya?" gumamnya.

Saat Adara melangkah, tidak sengaja melihat dompet yang tergeletak tidak jauh dari tempat tadi, dia menautkan alisnya. Tidak apa apapun kecuali ATM dan juga kartu namanya.

"Dompet?" Adara memutuskan mengambil dan mengecek isi yang ada di dalam dompetnya. 

"Benard Djaya Aditya. Oh ... orang tadi. Eh hei! Kamu meninggalkan dom--" Adara mau berteriak. Namun nihil, pria sudah terlalu jauh. Adara berdecak pelan, lalu memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dompet dilain waktu.

***

Sesampai di rumahnya, Adara terus memandangi Dompet tersebut. Bukan hanya ATM dan juga tanda pengenalnya, akan tetapi ada gambar waktu pria itu masih kecil. 

"Lucunya, apa ini kecilnya pria tadi? Hish, beda sekali dengan gambar di kartunya."

"Adara! Ayo kita makan!" teriak Ibunya dari luar, menata makanan yang sudah di belikan oleh Adara. 

"Iya, Bu! Adara keluar." Adara menyimpan dompet tersebut di laci kamarnya, lalu beranjak keluar dari kamarnya. 

"Kenapa lama sekali tadi? Ada masalah di jalanan heum?" tanya Ibu Lastri selaku Ibu angkat Adara, disela-sela makannya. 

Adara menoleh ke Ibunya itu, lalu menduduki kursi di samping Ibunya. "Tidak Ibu, Adara tadi menunggu pesanan. Ramai di sana, mau tidak mau ya harus menunggu," jawab Adara dengan kekehan kecilnya di sela makannya.

Ibu Lastri mengangguk kecil. "Terus, bagaimana dengan pekerjaanmu heum? Apa diterima di kantor yang kau maksud kemarin?"

Adara terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Aku tidak diterima di sana," gumamnya sambil mencebikkan bibirnya. 

Ibu Lastri sempat terkekeh melihat tingkah Anak angkatnya ini. 

"Kau jangan lemas gini dong, semangat! Mungkin belum rezekinya juga."

Adara menganggukkan kepalanya. "Siap Bu Bos!"

Jujur saja Adara sangat beruntung mempunyai Ibu yang menyayanginya. Meskipun Ibu Lastri adalah bukan Ibu kandungnya. Senyuman Adara melebar, menatap Ibunya itu dengan dalam. 

Ibu selalu beri semangat aku, terimakasih Ibu. Panjang umur selalu, batinnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU
8.0
Kehancuran rumah tangga kerap kali dipicu oleh sosok yang tak pernah dicurigai. Dalam kisah ini, orang yang dipercaya mengurus urusan domestik justru menjadi duri dalam pernikahan. Pengkhianatan menyakitkan pun terjadi di dalam rumah sendiri, melibatkan sang suami dan orang terdekat tersebut. Menghadapi kenyataan pahit ini, sebuah rencana disusun untuk memberikan pembalasan yang setara atas luka yang telah digoreskan.
Sampul Novel Ilusi Cinta: Mengungkap Topeng Kekasihku yang Licik
8.9
Karlee dikhianati oleh sang tunangan. Di tengah rasa hancur, ia bertemu Brian Olson yang memikat. Pertemuan semalam membawa mereka pada pernikahan kontrak yang terburu-buru. Brian terlihat sangat tulus, tetapi itu semua hanyalah tipu muslihat yang direncanakan. Begitu tahu dirinya mengandung, Karlee yang murka menuntut perceraian. Brian kini didera penyesalan mendalam dan memohon kesempatan kedua agar mereka tidak terpisahkan selamanya.
Sampul Novel My Dearest One
8.9
Terbangun tanpa ingatan di tempat asing, Danessa didera sakit kepala hebat tiap kali mencoba mengingat masa lalunya. Begitu kepingan memori mulai terkuak, ia terkejut mendapati fakta bahwa dirinya dahulu adalah sosok buruk yang tidak layak dicintai. Kini, Nessa didera dilema batin yang besar. Apakah ia harus kembali menjadi wanita penuh cela seperti dulu, atau tetap menjalani hidup dengan kepribadian barunya yang kini begitu lembut serta dicintai banyak orang?
Sampul Novel SENTUH HATIKU DENGAN CINTAMU
8.7
Dilema asmara membayangi Ratu saat Kenzo menyatakan cinta tulusnya. Ratu yang curiga merasa Kenzo hanya terobsesi pada penampilan fisiknya semata. Guna menguji kesungguhan tersebut, Ratu meminta kebebasan penuh sebagai bukti nyata. Kenzo pun terjebak dalam pilihan sulit. Ia harus menghadapi kenyataan pahit tentang cinta tanpa kepemilikan, sebuah keputusan emosional yang pada akhirnya menyisakan luka batin mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Setelah Kita Bercerai
9.4
Pernikahan Vina dan Radit kandas akibat campur tangan ibu mertua yang membencinya. Kecewa pada sikap lemah Radit, perempuan berusia 22 tahun ini tidak tinggal diam setelah diceraikan. Selama ini ia kerap direndahkan karena dianggap hanya anak janda miskin. Vina pun merancang rencana pembalasan dendam yang sempurna. Saat Radit menggelar pernikahan barunya, Vina hadir untuk mengungkap identitas aslinya yang sesungguhnya demi membungkam semua orang.
Sampul Novel Warisan Pacar 3 Bulan
8.6
Kehidupan Donny berbalik arah setelah kekasihnya tewas dalam kecelakaan tragis. Meski baru berkencan tiga bulan, ia diwarisi tanggung jawab besar untuk merawat Morin, anak perempuan mendiang pacarnya yang berumur delapan tahun. Sebagai bujangan, Donny kesulitan menjadi figur ayah, apalagi Morin sering bertingkah ganjil. Misteri jati diri bocah itu pun mulai tersingkap, memicu berbagai kecelakaan janggal yang kini mengancam keselamatan mereka berdua.