APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Kehidupan damai Minah bersama Eliza dan Agung seketika sirna setelah putri bungsunya itu pergi merantau. Terpaksa menumpang di kediaman putra sulungnya, Edo, Minah justru harus menghadapi siksaan batin akibat kekejaman sang menantu. Hari tua yang malang membawa Minah ke sebuah panti jompo, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya. Hingga ajal menjemput, ia meninggal dalam kesepian yang mendalam, tanpa didampingi oleh anak-anak kandungnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Brug!

Ketika Eliza baru mendekat ke kamar Minah, membawakan makan siang untuk ibunya itu, terdengar seperti sesosok tubuh yang jatuh menimpa lantai. Ia mempercepat gerak, membuka pintu dengan gegas. Dan, benar saja, Minah sudah tergeletak di sisi ranjangnya. Wajah tuanya terlihat meringis menahan sakit.

"Ya Allah, Bu. Ibu kenapa?" Eliza meletakkan nampan berisi makanan di meja kecil di depan jendela. Lalu segera membantu Minah bangkit.

Keadaan Minah sebenarnya sudah lumayan baik, daripada ketika ia pertama kali terkena stroke dulu. Ia sudah bisa bicara dengan lancar. Fisiknya pun sudah lebih kuat. Tetapi, untuk berjalan, Eliza masih harus memapah tubuhnya. Jika Minah masih bersikeras melakukannya sendiri, beginilah yang akan terjadi. Ujung-ujungnya Minah pasti akan terjatuh menimpa lantai.

Minah sudah didudukkan Eliza di tepian ranjang.

"Ibu mau kencing," bisiknya kemudian.

"Kalau mau kencing, ibu kan bisa panggil aku," jawab Eliza. "Lagipula, ibu pakai diapers koq. Nggak perlu bolak-balik ke kamar mandi." Ia bergerak ke arah piring makan Minah. "Ibu ngeyel terus sih, jadinya gini ...." Tangan Eliza mengaduk-aduk nasi ibunya yang sengaja dimasakkan sedikit lembek. Kata Minah, ia tidak selera lagi pada nasi yang keras. Seluruh gusinya sakit karena menguyah. Jadi Eliza harus memasakkan khusus untuknya makan.

"Ibu ndak mau merepotkanmu ...."

Eliza tidak menjawab. Ia masih terus mengaduk nasi yang sudah disiram kuah sayur itu. Sebagai penderita hipertensi, Minah harus menjaga betul asupan makanannya. Salah sedikit, tensinya akan segera melesat naik.

"Ibu ndak suka kencing di sini," tunjuknya ke arah selangkangan. "Gatal ...."

Eliza masih saja diam.

"Ibu tahu, kamu capek ngurus ibu. Belum lagi anakmu ...." Terdengar suara desahan keluar dari mulut Minah.

Tangan Eliza berhenti mengaduk. Ia mengangkat wajah, menatap ke arah Minah yang ternyata sedang menatapnya dengan matanya yang berkabut. Tidak biasanya, sang ibu berkata seperti itu. Eliza berpikir satu hal, Apa jangan-jangan ibunya mendengar pembicaraan di telepon dengan kakak-kakaknya tadi malam?

"Ibu nggak usah mikir macam-macam. Ayo, makan dulu ...." Eliza mengalihkan pembicaraan. Ia bergerak mendekat, lalu duduk di sisi kiri sang ibu. Tangannya mengaduk lagi, memastikan nasi itu tidak lagi panas. Satu sendok disodorkan ke mulut Minah.

Minah membuka mulutnya, menerima suapan dari Eliza dengan hati yang gamang. Matanya tidak henti menatap pada anak bungsunya itu. Setelah isi mulutnya habis ditelan, Minah ingin bersuara lagi. Banyak hal yang berhimpitan dalam kepalanya.

Sudah lebih dari tiga tahun, ia harus bergantung sepenuhnya pada Eliza. Ia tidak lagi bisa melakukan apapun, setelah pingsan di kamar mandi pagi itu. Dokter memvonisnya terkena stroke.

Hanya Eliza yang bersedia merawatnya. Padahal kala itu, Eliza sudah punya anak berusia tiga tahun. Dua anaknya yang lain, menolak untuk melakukannya. Ada dua alasan yang berbeda dari Eva dan Edo. Mungkin Eva dan Edo tidak menyangka, Minah mendengar apa yang mereka bicarakan kala itu. Hati Minah sakit mendengar penolakan anaknya. Walaupun sebenarnya ia enggan meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu.

Minah sangat nyaman berada dalam perawatan Eliza. Eliza merawatnya dengan sangat baik. Apalagi Agung, menantunya, juga tidak mempermasalahkan waktu Eliza yang juga terkuras untuk mengurus segala keperluannya.

Tetapi, akhir-akhir ini, Minah menjadi kasihan pada Eliza. Anaknya itu terlihat lelah dan seperti dibebani rasa stres. Ia dihinggapi rasa bersalah yang menyelubungi sebagian hatinya. Seharusnya, di masa-masa seperti ini, Minah bisa lebih berharga bagi anak-anak dan cucunya. Menjadi seorang nenek yang bisa dijadikan teman bermain bagi cucu-cucunya. Akan tetapi, gara-gara penyakit yang ia derita, masa indah itu terlewatkan begitu saja. Namun, mau apa lagi? Takdir Allah yang menjadikannya begini.

"Apa ada panti jompo yang gratis, Nduk? Tanpa bayar gitu?"

Eliza mengerutkan kening, mendengar pertanyaan ibunya. Hal apa yang membuat ibunya bertanya soal panti jompo?

"Kenapa ibu nanyain itu?"

Minah menghela napas panjang. Tatapannya kosong ke arah jendela yang terbuka. Gorden tipis berwarna putih tulang itu bergoyang ditiup semilir angin dari balik jendela.

"Ibu kasian padamu, Nduk. Kamu pasti lelah ngurus ibu bertahun-tahun. Apalagi, saat ini, cucu-cucu ibu semakin aktif, dan pasti menguras seluruh energimu." Lagi, Minah kembali menghela napas. "Lebih baik, carikan saja ibu panti jompo yang gratis, El. Dari yayasan contohnya. Pasti ada ...."

Hati Eliza bagai diremas, mendengar perkataaan ibunya yang pelan, tapi ulu jantung yang ditujunya. Ingin rasanya Eliza menangis. Akan tetapi, ia berupaya untuk tenang, dan menetralkan rona wajah. Rasa bersalah menyeruak dari rongga dada Eliza yang terdalam. Segala bentuk keluhan dan sikap-sikap Eliza yang penuh emosi, mungkin berbentuk menjadi luka di hati ibunya. Pasti saja begitu kondisinya. Tidak mungkin rasanya, ibunya bisa tiba-tiba berpikiran seperti ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Padahal selama ini, ibunya terlihat nyaman-nyaman saja tinggal bersama Eliza dan keluarganya.

"Ibu punya tiga anak. Panti jompo hanya untuk orang-orang yang sebatang kara. Nggak punya keluarga, jadi memang nggak ada yang bisa mengurusnya," pungkas Eliza.

"Tapi, Nduk ...."

"Udah, Bu. Jangan mengada-ada. Lebih baik, ibu lanjutkan makannya ya .... El mau liat Zaydan dulu."

Eliza berlalu, tanpa menunggu jawaban ibunya. Sebenarnya, ia berusaha menghindar dari Minah, hanya tidak ingin Minah melihat rasa bersalah yang tampak dalam matanya. Tidak seharusnya ia begini, melampiaskan rasa lelah dan stres pada segala hal. Hingga rasa tidak nyaman itu terasa oleh ibunya yang sudah menderita karena sakit.

Seharusnya ia bisa menjaga diri dan emosi. Kalaupun sesak cukup menghimpit dada, ia masih bisa menahan diri. Setidaknya di hadapan ibunya itu. Hanya dia seorang tempat sang ibu bergantung. Jika ia terus begini, apa bedanya ia dengan Eva dan Edo? Bisa jadi ia lebih buruk dari kedua kakaknya itu, yang jelas-jelas memberikan penolakan. Ia seperti menjadi manusia yang munafik.

---

Zaydan, Anak bungsunya, tadi Eliza tinggal sedang tidur di kamar. Pun begitu dengan kakaknya, Zea. Keduanya terlihat begitu lelap, sehingga Eliza tidak ragu untuk meninggalkan mereka, sementara ia menyiapkan makan siang untuk ibunya.

Betapa terkejutnya Eliza, ketika ia sampai di kamar, hanya ada Zea yang berbaring di matras yang sengaja ia gelar tanpa ranjang itu. Zaydan tidak ada di sana. Eliza terkesiap. Dimana Zaydan? Langkahnya gegas ke arah kamar mandi, satu-satunya tempat yang paling ia takutkan untuk dimasuki Zaydan. Tetapi, satu-satunya kamar mandi di rumah mereka itu kosong. Tubuh Eliza gemetar. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak dua tahun yang belum mengerti akan bahaya itu.

Awalnya Eliza berpikiran kalau Zaydan bisa saja keluar rumah. Seperti kebiasaannya yang selalu kabur jika ada kesempatan untuk bermain ke luar. Tetapi, hati Eliza sedikit tenang. Pintu depan tertutup rapat. Pun begitu dengan pintu samping, yang menyatu dengan dapur. Satu-satunya tempat yang belum diperiksa Eliza adalah kamarnya sendiri.

Dan, benar saja. Anak itu sedang ada di sana. Di sisi ranjangnya, dengan tumpukkan peralatan kosmetik Eliza, yang nyaris membuat sang ibu histeris karenanya. Tiga buah lipstik miliknya sudah nyaris hancur, setelah meninggalkan beberapa coretan di dinding dan juga lantai. Bedak dan krim-krim milik Eliza juga sudah berhamburan memenuhi lantai.

"Ya Allah, Nak!" teriak Eliza.

Karena kaget, Zaydan spontan melempar botol parfum berbentuk bulat telur yang ada di tangannya. Dan ....

Braaakkk ....

Botol kaca itu pecah!

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan yang Pertama
8.4
Zaina Rahayu kehilangan orang tuanya akibat kelalaian seorang sosialita, yang kemudian menjanjikannya menjadi menantu sebagai bentuk penebusan dosa. Namun, sikap dingin sang calon suami dan bayang-bayang masa lalunya yang belum selesai membuat Zaina memilih mundur dari perjodohan ini. Zaina mencoba menjauh, tetapi takdir terus mendekatkannya kembali dengan pria galak itu. Mampukah gadis polos ini bertahan saat benih cinta mulai tumbuh di tengah rumitnya masa lalu sang pria?
Sampul Novel Dangerous Feeling
8.4
Elaine Natalie kembali mengejar mimpi masa lalunya, namun ia malah terjerat obsesi Saga Revander. Sebagai kakak tiri sekaligus senior yang keras kepala, Raven memperlakukan Elaine layaknya seorang kekasih tanpa peduli hubungan keluarga mereka. Dominasi Raven mulai mengguncang perasaan Elaine kepada Damian. Di tengah kebimbangan yang mendalam ini, Elaine harus memilih: tetap setia pada Damian atau menyerah pada cinta lamanya yang bersemi kembali bersama Raven.
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi merebut warisan sang ibu, Erina terpaksa menikahi programmer sederhana berparas tampan. Namun, misteri masa lalu perlahan terungkap usai tiga tahun berlalu sejak ia kehilangan dua bayi kembarnya. Meski tak pernah berhubungan dengan pria lain, Erina mendadak hamil lagi dan mendapati anak-anaknya ternyata masih hidup. Siapa sebenarnya sosok sang suami? Mengapa pria yang dianggap miskin itu sangat serupa dengan miliarder terkenal di televisi?
Sampul Novel Istri Yang Dilupakan CEO
8.1
Noel menganggap pernikahannya dengan Bianca tak lebih dari sekadar alat pelancar bisnis perusahaan. Sejak awal, ia mengabaikan sang istri dan bersiap menceraikannya begitu ada kesempatan. Namun, saat momen perpisahan itu akhirnya tiba, perubahan besar terjadi pada sikap Noel. Ia secara mengejutkan menolak melepaskan Bianca. Di tengah dinginnya pernikahan mereka, Noel justru berkeras mempertahankan hubungan yang dahulu dianggapnya tidak berharga.
Sampul Novel Ketika Suami Tak Peduli
8.9
Selina Arista menjalani kehidupan pernikahan tanpa kehangatan bersama Nathaniel Astor, seorang pengusaha yang terobsesi pada nama baik. Di tengah kesepiannya, ia kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya, Dr. Adrian Vaughn. Walau Adrian telah beristrikan Katherine, pertemuan ini menyalakan kembali perasaan masa lalu mereka. Terjebak dalam rahasia dan pengkhianatan, mereka kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengejar cinta terlarang atau terus terkunci dalam duka.
Sampul Novel Luka Karena CINTA
8.6
Diandra, gadis desa jelita, terobsesi pada Robert hingga terjebak toxic relationship. Meski diselingkuhi dan dikasari saat LDR, ia sempat depresi dan memohon Robert kembali sebelum pria itu akhirnya kena karma. Di tengah kepedihan, hadir Louis, pemuda Jerman penyabar yang tulus mendekatinya. Mampukah Diandra melupakan masa lalunya demi bahagia bersama Louis?